|
Allah mementingkan keluarga. Allah sendiri yang menyusun keluarga
dan telah membela penyusunannya sebagai dasar pertumbuhan manusia
dan pembaharuan di sepanjang sejarah. Tidak saja memulai peristiwa-
peristiwa dunia dengan satu keluarga, Dia juga berusaha
menyelamatkan dunia dari dosa dengan mengirim Anak-Nya untuk lahir,
hidup, dan bertumbuh dalam satu keluarga.
Fakta bahwa Allah menganggap penting keluarga juga diikuti kenyataan
bahwa perangai dan keadaan seseorang pada waktu dewasa terbentuk
dari pengaruh kehidupan keluarganya. Para ahli ilmu jiwa menyetujui
bahwa sebagian besar pola kehidupan dibentuk pada lima tahun pertama
kehidupan anak itu. Selama masa itu pengaruh orang tua sangat besar.
Secara sadar maupun tidak, orang tua mengajarkan kelakuan dan sikap-
sikap yang mereka harapkan kepada anak. Pada waktu anak itu
menanggapi, ia diberi hadiah atau dihukum menurut kesesuaian antara
perbuatannya dengan pengharapan orang tuanya. Akhirnya, patokan-
patokan itu diteguhkan dalam perangainya dan anak itu membawa pola
kelakuan itu sampai masa remaja dan masa dewasa.
Persoalan guru sekolah Minggu sudah jelas. Jika orang tua tidak
pernah berdoa sebelum makan atau tidak membaca Alkitab di rumah,
atau mengikutsertakan anak mereka dalam ibadah keluarga, bagaimana
guru itu dapat meyakinkan pelajar itu bahwa Alkitab dapat dipercaya
atau bahwa doa itu perlu dan bermanfaat?
Kita dapat mengatasi persoalan ini pada waktu kita bekerja sesuai
dengan hukum-hukum Allah. Yang pertama adalah keluarga sebagai unit
dasar organisasi-Nya. Jika Allah menetapkan keluarga sebagai
pengaruh yang terutama atas perkembangan anak, sebagai guru kita
harus berusaha mengadakan hubungan yang erat dengan keluarga anak
itu. Mempersiapkan pelajaran dan mengajarkannya dengan efektif pada
hari Minggu pagi ternyata masih belum cukup.
Untuk mendapatkan kerja sama dari orang tua murid, para guru harus
terlebih dahulu bersedia mengunjungi rumah murid-muridnya. Sikap
guru terhadap kunjungan dapat membangun atau menghancurkan sebuah
kelas sekolah Minggu. Suatu kunjungan rumah tidak saja memberi
kesempatan kepada guru untuk menjumpai orang tua, tetapi juga
memberi kesempatan untuk melihat hubungan pelajar itu dengan orang
tua dan saudara-saudaranya.
Hasil dari kunjungan itu banyak, tetapi hampir selalu berupa
terbentuknya satu ikatan segitiga antara orang tua, guru, dan anak.
Beberapa tahun lalu, ketika pindah ke rumah kami yang sekarang, anak
kami yang terkecil berusia lima tahun. Salah satu di antara
pengunjung-pengunjung pertama ke rumah kami adalah guru sekolah
Minggunya. Rasa persaudaraan terhadap guru itu timbul dalam hati
saya selama kami membicarakan kebenaran-kebenaran rohani pada waktu
itu. Setiap membawa anak saya ke kelas sekolah Minggu, saya dapat
lebih menaruh perhatian dan juga lebih bersyukur atas pekerjaan yang
sedang dilakukan olehnya.
Saya juga melihat bahwa kunjungan sangat berguna bagi guru. Pada
suatu waktu saya mempunyai seorang murid yang kurang terbuka. Dia
sering membuat ribut di kelas dan menolak untuk menanggapi
pelajaran atau keramahan gurunya sampai saya mengunjungi rumahnya.
Pada suatu hari Sabtu sore saya hanya mampir di rumahnya. Dia sedang
bermain-main di pekarangan tetangganya pada waktu saya tiba di situ,
tetapi ketika didengarnya saya ada cepat-cepat dia pulang. Dia
tinggal dalam ruang itu dengan ibunya dan saya; walaupun dia tidak
duduk bersama-sama, dia mendengarkan percakapan kami.
Setelah itu, sebuah pintu seolah-olah terbuka dalam hidupnya. Dia
sendiri mulai berbicara kepada saya dengan menceritakan pengalaman-
pengalamannya, dan pada suatu Minggu dibawanya bunga untuk saya.
Kunjungan ke rumahnya merupakan satu langkah yang besar sekali untuk
mengadakan hubungan di antara dia dengan guru sekolah Minggunya.
Satu peraturan sederhana yang perlu ditetapkan oleh setiap guru bagi
dirinya sendiri adalah mengunjungi setiap pelajar di rumahnya
sekurang-kurangnya sekali setahun, dan lebih sering jika pelajar
maupun guru memperoleh manfaat daripadanya. Hubungan guru dengan
murid di tempat lain tidak dapat menggantikan hal ini karena kesan
yang diterima pelajar itu dari suatu kunjungan ke rumahnya adalah
bahwa dia, secara pribadi, cukup penting bagi guru sehingga guru
menyediakan waktu dan tenaga untuk dia.
Selain kunjungan, beberapa kegiatan-kegiatan lain dapat dilakukan
oleh seorang guru untuk mengikutsertakan pelajar dan orang tua.
Salah satu di antaranya adalah seperti yang dilakukan oleh guru anak
saya yang duduk di kelas tiga SD, yakni mengadakan suatu pertemuan
para orang tua. Ketika saya mulai mengajar sebuah kelas Tunas Remaja
untuk anak-anak perempuan di sekolah Minggu, saya mengundang baik
pemudi-pemudi itu maupun ibunya ke rumah saya pada suatu hari Minggu
sore. Kebanyakan pemudi-pemudi dan ibunya datang. Sementara pemudi-
pemudi itu bercakap-cakap dengan sesama mereka, saya berbicara
dengan ibu-ibu mereka. Kami membahas sifat-sifat umur Tunas Remaja
itu, keperluan-keperluan rohaninya, beberapa rencana pelajaran, dan
gagasan-gagasan untuk kegiatan-kegiatan istimewa. Saya diganjar
dengan perasaan bahwa saya memperoleh kerja sama yang penuh dari
setiap ibu yang hadir, dan berulang kali selama tahun itu, dalam
satu atau lain cara, keyakinan itu meringankan kesukaran-kesukaran
yang saya alami.
Gagasan lain yang patut diperhatikan adalah mengadakan kegiatan
sosial bagi para pelajar yang memberi kesempatan kepada mereka
untuk membawa orang tuanya.
Apapun metode yang digunakan atau kegiatan yang direncanakan, para
guru akan mengajar dengan lebih berhasil pada waktu orang tua ikut
serta secara aktif dalam perkembangan rohani anak-anak mereka.
Sumber: Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 1, , BabDi Luar Ruang Kelas, halaman 185 - 187, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1997.
|