|
Kebaktian padang telah menjadi satu program kegiatan yang wajib ada
dalam kegiatan sekolah Minggu. Paling tidak, mungkin hampir semua
sekolah Minggu yang ada di Indonesia ini sudah pernah mengadakan
kebaktian padang. Mengapa acara ini selalu ada, bahkan jika
memungkinkan harus selalu ada dalam satu periode program sekolah
Minggu?
Umumnya, anak-anak menyukai kegiatan di luar ruangan. Kegiatan
sekolah Minggu yang selalu di dalam kelas suatu waktu akan
menimbulkan kejenuhan, sehingga sesekali ibadah di luar perlu
diadakan. Tetapi sebenarnya, bukan alasan-alasan tersebut saja yang
menjadikan kebaktian padang harus dilakukan. Satu alasan utama
adalah karena Yesus juga melakukan kebaktian/pengajaran di alam
terbuka sebagai bagian pelayanan-Nya selama di dunia ini, pelayanan-
Nya di luar tembok Bait Allah.
KEBAKTIAN PADANG YESUS
Dalam Alkitab kita melihat bagaimana di sepanjang perjalanan
pelayanan-Nya Yesus mengajar dan berkhotbah tidak hanya di ruangan
tertutup, tapi seringkali juga di udara terbuka. Di sini ingin
dinyatakan bahwa suasana yang khidmat dan dekat dengan Allah tidak
harus di sebuah ruangan tertutup, yang sepi, tenang, dengan aturan-
aturan tertentu. Justru di udara terbuka dengan suasana yang lebih
santai itulah Yesus bisa dekat dengan mereka yang hadir dalam
"kebaktian padang" yang diselenggarakan-Nya. Tidak ada aturan yang
membatasi sehingga dengan perasaan tenang dan tanpa beban orang
banyak yang mendengarkan khotbah-Nya bisa lebih menikmatinya.
Di ruangan terbuka yang tanpa batasan itu siapa saja boleh dekat
dengan Dia. Kisah anak-anak yang ingin mendekati-Nya menunjukkan
bagaimana Yesus menyambut, memeluk, dan memangku mereka. Jika Yesus
selalu melayani di bait Allah atau di rumah-rumah, kemungkinan besar
anak-anak kecil itu tidak akan pernah merasakan sentuhan kasih-Nya
(Matius 19:13-15; Markus 10:13-16). Dengan mengajar di tempat
terbuka, mujizat Yesus dapat dirasakan oleh lebih banyak orang.
Jika Dia selalu berada dalam Bait Allah, hanya orang tertentu yang
dapat merasakan mujizat-Nya. Hanya sedikit saja yang bisa mendengar
kabar baik yang disampaikan-Nya. Dengan mengadakan pelayanan di alam
terbuka, Yesus memberikan kesempatan yang tidak terbatas bagi setiap
orang untuk mendapat jamahan dan kabar baik dari-Nya. Bahkan saat
Dia berjalan pun orang yang hanya menjamah jubah-Nya bisa sembuh
(Matius 9:20; Matius 14:36.).
Jika dalam Bait Allah Yesus banyak mengajar dari kitab-kitab, di
luar ruangan Yesus banyak mengajar menggunakan perumpamaan dari alam
sekitar. Yesus juga bisa mengambil banyak ilustrasi untuk setiap
pengajaran atau khotbah yang Ia sampaikan di udara terbuka. Apa saja
yang Yesus lihat dalam pelayanan di luar tembok Bait Allah bisa Dia
gunakan sebagai perumpamaan. Orang yang mengikuti-Nya pun bisa
melihat langsung apa yang Dia maksudkan. Dia memberikan perumpamaan
mengenai penabur benih, biji sesawi, ikan-ikan yang dijaring, pokok
anggur, kebun anggur, dll. Semua itu bukanlah hal yang sulit untuk
dilihat orang yang sedang berada di luar ruangan.
Dari uraian di atas dapat ditarik tiga alasan mengapa Yesus juga
melakukan pelayanan/mengajar di udara terbuka.
- Tanpa adanya batasan tembok dan aturan-aturan yang mengikat,
akan lebih banyak orang yang bisa mendengarkan ajaran-Nya.
Siapa saja dapat mendengarkan, termasuk orang Yahudi maupun non
Yahudi. Kabar baik itu bisa dinyatakan untuk semua orang.
- Mujizat-mujizat kesembuhan pun dapat dialami oleh banyak orang
sehingga semakin banyaklah orang yang bisa percaya bahwa sungguh
Dialah Mesias. Dia juga bisa menyatakan kepada lebih banyak orang
bahwa dosa mereka sudah diampuni. Jika berada di dalam tembok
Bait Allah atau suatu gedung, orang banyak yang merindukan
jamahan kesembuhan dari Yesus akan sulit mendapatkan kesembuhan
mereka. Seperti orang lumpuh yang terpaksa dimasukkan dari atap
karena sesaknya tempat Yesus mengajar (Markus 2:2-4).
- Di udara terbuka Yesus dapat mengambil banyak ilustrasi yang
dengan mudah dimengerti oleh orang-orang yang mendengar
pengajaran-Nya, bahkan untuk para murid-Nya sekalipun. Dengan
perumpamaan tersebut, hal-hal seperti Kerajaan Allah, iman,
ketaatan, dll. dapat lebih mudah dipahami oleh orang banyak.
KEBAKTIAN PADANG SEKOLAH MINGGU
Mungkin masih ada banyak lagi alasan mengapa Yesus lebih banyak
mengajar di luar tembok Bait Allah atau suatu gedung yang tidak
tertuang dalam tulisan ini. Tetapi paling tidak kini kita bisa
melihat pentingnya pelayanan di luar tembok gereja atau ruang kelas
sekolah Minggu yang dapat kita wujudkan dengan kebaktian padang.
Dengan melihat kebaktian padang yang sudah terlebih dahulu Yesus
teladankan pada kita, mungkin kita bisa menambahkan pula hal yang
paling penting dalam kebaktian padang selain alasan yang ada selama
ini.
Saat mengadakan kebaktian padang, bukan tidak mungkin orang banyak
yang ada di sekitar kita juga dapat melihat bagaimana anak-anak
Tuhan memuji, menyembah, dan memuliakan Tuhan. Sukacita anak-anak
sekolah Minggu dan para peserta kebaktian padang bisa menular pula
kepada mereka yang melihatnya. Apalagi saat firman Tuhan
disampaikan, karenanya pemberitaan firman Tuhan tidak boleh
direncanakan hanya untuk didengar peserta saja. Bisa saja
pemberitaan itu dipakai Tuhan untuk menjadi berkat bagi siapa saja
yang mendengarnya.
Alam menyimpan banyak kesaksian mengenai kebesaran Tuhan. Dengan
mengadakan kebaktian di luar tembok kelas sekolah Minggu, secara
langsung kita bisa memperkenalkan karya Allah, mewartakan kebesaran
Allah kepada anak-anak. Melalui tanah, rumput, pasir, air, kupu-
kupu, dan lain-lain yang hanya bisa disentuh langsung di luar ruang
kelas, anak-anak bisa merasa lebih dekat lagi dengan Pencipta
semesta ini. Mereka bisa mengungkapkan syukur mereka minimal untuk
satu hal yang ada di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana Yesus
menggunakan alam sebagai bahan perumpamaan saat Dia mengajar, guru
sekolah Minggu pun bisa mengembangkan alat peraga yang ada di ruang
terbuka, yang tidak mungkin dilakukan di ruang tertutup.
Kebaktian padang yang dilaksanakan dalam keadaan santai dan penuh
keakraban bisa menambah dekat hubungan antara guru dengan anak,
maupun guru dengan orang tua. Kesempatan seperti itu bisa kita
manfaatkan untuk berbincang-bincang tanpa beban dengan mereka. Kita
juga bisa mengevaluasi kehidupan rohani dan sosial mereka.
Satu hal yang harus diperhatikan ialah bahwa kita harus membedakan
kegiatan kebaktian padang ini dengan kegiatan rekreasi. Jika
kegiatan rekreasi lebih ditujukan untuk bersantai dan refreshing,
kebaktian padang lebih banyak diisi dengan kegiatan ibadah. Oleh
karena itu, aktivitas yang hendak dilakukan sebaiknya lebih banyak
diarahkan pada kegiatan yang ditujukan untuk mengenal Allah dan
kebenaran-Nya.
Aktivitas-aktivitas yang bisa dilakukan antara lain puji-pujian,
kesaksian dari para peserta, penyampaian firman Tuhan, pemahaman
Alkitab, kuis Alkitab, permainan rohani, dan pengakraban. Kebaktian
padang sekolah Minggu juga tidak harus diadakan di taman hiburan
atau tempat rekreasi. Kebaktian ini bisa dilakukan di lapangan
rumput, di halaman rumah seorang murid sekolah Minggu, di pinggir
sungai suatu desa, di taman bunga kota, dll.
Oleh: Davida
|