SITUS INI ADALAH SITUS PEPAK VERSI LAMA.
SEJAK 1 JUNI 2008 KAMI MENGGUNAKAN SITUS BARU.
KLIK DI SINI
UNTUK BERKUNJUNG KE SITUS PEPAK VERSI BARU.

 
PEPAK PEPAK
Senin 8 September 2008   
    Utama | Pustaka | e-BinaAnak | e-BinaGuru  
         Pustaka  
  Utama > Pustaka > Makna Doa Bagi Seorang Anak  

Cari di Pustaka Cari di Pustaka
   

Topik TOPIK
  Pelayanan Anak Umum (98)
Pelayanan Sekolah Minggu (74)
Guru - Pendidik (148)
Anak - Murid (170)
Metode dan Cara Mengajar (160)
Kurikulum - Pedoman Mengajar (15)
Fasilitas Pelayanan Anak (15)
Penginjilan Anak - Misi Anak (55)
Pengajaran - Doktrin (277)
Doa - Musik - Ibadah (80)
Program Khusus Anak (43)
Perayaan Hari Raya Kristen (186)
Aktivitas dan Ketrampilan Anak (110)
Literatur untuk Anak (11)
Organisasi Pelayanan Anak (4)
Sudut untuk Anak (27)
Kesaksian Guru (48)
Humor (10)

Total 1448 tulisan dalam 18 topik.
 

Frequently Asked Questions FAQ
  Bagaimana cara berpartisipasi dalam pelayanan di Situs PEPAK? jawabannya  

Subscribe e-BinaAnak / e-BinaGuru Berlangganan
e-BinaAnak / e-BinaGuru

Makna Doa Bagi Seorang Anak

Tanggal terbit:
30-3-2006

Topik:
Doa - Musik - Ibadah

Tipe Bahan:
Artikel

Tulisan ini pernah dimuat di:
e-BinaAnak edisi 273
Tampilan cetak
Beri tahu teman Anda
Kirim tulisan ini ke email Anda


"Allah Bapa, terima kasih atas mama dan papa dan Carol dan Don dan Tippy. Tolong aku untuk menjadi seorang penolong yang baik kalau kami memotong rumput besok."

Doa Billy menunjukkan pengertian seorang anak yang mengagumkan tentang realitas Allah. Ia mengungkapkan kepedulian terhadap orang- orang yang berarti dalam hidupnya dengan menyebutkan nama mereka satu per satu di dalam doanya. Kadang-kadang ia membuat daftar doa tentang hal-hal yang ia inginkan untuk dirinya sendiri. Ia menyukai doa, karena doa memberinya rasa aman dan perasaan mampu. Rasa aman timbul dari pengertian bahwa Allah mendengarnya bila ia berdoa dan bahwa segala sesuatu pasti berjalan dengan baik. Perasaan mampu timbul karena ia dapat berbicara langsung kepada Pribadi yang begitu penting dan tahu bahwa Dia akan melakukan yang terbaik baginya.

Namun, anak memiliki kesadaran yang sangat minim tentang arti doa. Jeffrey, berusia empat tahun, memahami doa seperti peristiwa- peristiwa yang terjadi secara harfiah, "Dan kemudian angin datang, menghembuskan doa-doa ke surga tempat Allah berada." Anna, berusia lima tahun, percaya bahwa kegagalan untuk memperoleh jawaban yang diharapkan adalah karena kesalahan transmisi pada dirinya. "Kamu harus tahu kata-kata yang tepat agar doamu dikabulkan."

Seorang gadis kecil tak mau lagi berdoa sebelum tidur sejak keluarganya pindah ke rumah baru. Orang tuanya akhirnya mengerti bahwa dulu ketika mereka tinggal tak jauh dari gereja, Melanie tidak mengalami kesulitan untuk percaya bahwa Allah sungguh-sungguh mendengar doanya. Tetapi saat pindah ke kota lain, ia sulit percaya bahwa doanya masih dapat didengar, karena letak "rumah Allah" jauh dari rumahnya.

Pernyataan-pernyataan tentang doa seperti ini sering diutarakan anak-anak dan hal tersebut menggambarkan dilema ganda yang disebabkan oleh pemahaman anak yang kabur tentang makna doa, ditambah lagi dengan kepastian yang kuat bahwa pengertiannya, apa pun isinya, adalah benar. Pengertian anak tentang doa amat diwarnai oleh pengertiannya tentang Allah. Dan hal ini tergantung pada sejauh mana pemahamannya tentang Allah. Jika Allah merupakan makhluk yang dapat dilihat secara fisik, dan tinggal entah di gedung gereja atau di atas awan yang tebal, menyampaikan pesan kepada-Nya lewat doa dapat menjadi tantangan yang besar.

Bahkan jika anak menerima gagasan bahwa Allah mendengar doa kita, doa seorang anak juga mencerminkan dimensi lain dari tingkat pemikiran anak tersebut. Oleh sebab itu, wajarlah jika sebagian besar proporsi doa-doanya berpusat pada diri sendiri, sesuai dengan pandangan dasar egosentris anak. Jika anak berdoa untuk orang lain, permintaan seringkali diungkapkan dari segi hubungan orang itu dengan dirinya. Misalnya, Dina yang berusia lima tahun berdoa, "Dan saya mohon tolonglah agar Mama dan Papa mengasihi saya." Karena hubungan kasih sayang merupakan hal yang paling menyenangkan dalam hidup Dina, maka sangatlah wajar jika ia menaikkan doa semacam ini. Ia belum menyadari bahwa orang tuanya dan dirinya merupakan pribadi- pribadi yang terpisah, yang terkadang melakukan hal-hal yang tak berhubungan dengannya. Pengertian ini baru akan muncul beberapa tahun kemudian, setelah ia semakin lama menjalani hidup bersama orang tuanya.

Hampir sama dengan itu, anak-anak lebih tertarik pada doa-doa mereka sendiri daripada doa-doa orang lain. Karena kebanyakan doa-doa orang dewasa yang diamati anak-anak, khususnya di gereja, agak panjang (amat panjang menurut anak-anak), dan karena itu, agak membosankan (amat membosankan menurut anak-anak). Doa-doa orang lain cenderung kurang diminati anak.

Secara umum, anak-anak di bawah usia tujuh tahun biasanya memandang doa sebagai bentuk pemahaman akan Allah untuk hal-hal tertentu. Mereka cenderung berasumsi bahwa Allah memiliki kewajiban untuk melakukan apa yang mereka minta, dan tidak pada tempatnya untuk marah kepada Allah jika doa mereka tidak dijawab. Pada usia tujuh sampai sembilan tahun, anak-anak mulai memandang doa sebagai komunikasi dengan Allah, bukan sekadar meminta. Namun, permintaan masih cukup mendominasi isi doa anak-anak usia ini, meskipun banyak di antara isi doanya yang ditujukan demi kepentingan orang lain, termasuk binatang-binatang peliharaannya. Anak tidak marah kepada Allah jika doanya tidak terjawab. Sebaliknya, anak seusia ini cenderung mempertanyakan apakah doanya sudah diucapkan dengan kata- kata yang benar dan cukup tulus.

Mungkin karena konsep anak tentang doa begitu samar, kebanyakan perasaan, pikiran, dan apa yang dilakukan anak berkenaan dengan doa ditentukan oleh contoh doa orang dewasa yang ia amati. Jika contoh- contoh doa yang mereka amati berupa rangkaian kata-kata panjang dan formal kepada Allah, anak cenderung menyimpulkan bahwa doa itu membosankan. Jika doa itu ringkas, informal dan dengan masalah- masalah yang berkenaan dengan anak, doa akan dipandang sebagai suatu hal yang positif.

Sumber:
  • Mengenalkan Allah Kepada Anak (Terjemahan dari Teaching Your Child About God), Wes Haystead, , BabAnak dan Doa, halaman 109 - 111, Yayasan Gloria, Yogyakarta, 1996.


  • Berikut ini beberapa tulisan yang bertopik sama:
  • Mengajarkan Hal Berdoa kepada Anak
    27-6-2007 | Tips
  • Mengucapkan Doa -- Atau Berdoa?
    27-6-2007 | Artikel
  • Membangun Kecerdasan Lewat Musik
    29-1-2007 | Artikel
  • Musik dalam Alkitab
    29-1-2007 | Artikel
  • Bernyanyi Bersama Anak Sekolah Minggu
    27-9-2006 |
  • Kreasi Pujian di Sekolah Minggu
    27-9-2006 |
  • Musik di Sekolah Minggu
    27-9-2006 | Artikel
  • Untuk Apakah Doa Itu?
    30-3-2006 | Bahan Mengajar
  • Mendidik Anak Berdoa Kapan dan di Mana Saja
    30-3-2006 | Tips
  • Proyek Mempraktikkan Doa
    30-3-2006 | Tips

  • Tentang Kami | Kontak Kami | Buku Tamu | Promo | Situs YLSA | Links | FAQ | Sumber | Info Anda
     

    SITUS INI ADALAH SITUS PEPAK VERSI LAMA.
    SEJAK 1 JUNI 2008 KAMI MENGGUNAKAN SITUS BARU.
    KLIK DI SINI UNTUK BERKUNJUNG KE SITUS PEPAK VERSI BARU.

     
    Disclaimer | © 2008 Yayasan Lembaga SABDA | Email: pepaksabda.org |Laporan Masalah/Saran

    ^ Ke Atas