"Allah Bapa, terima kasih atas mama dan papa dan Carol dan Don dan
Tippy. Tolong aku untuk menjadi seorang penolong yang baik kalau
kami memotong rumput besok."
Doa Billy menunjukkan pengertian seorang anak yang mengagumkan
tentang realitas Allah. Ia mengungkapkan kepedulian terhadap orang-
orang yang berarti dalam hidupnya dengan menyebutkan nama mereka
satu per satu di dalam doanya. Kadang-kadang ia membuat daftar doa
tentang hal-hal yang ia inginkan untuk dirinya sendiri. Ia menyukai
doa, karena doa memberinya rasa aman dan perasaan mampu. Rasa aman
timbul dari pengertian bahwa Allah mendengarnya bila ia berdoa dan
bahwa segala sesuatu pasti berjalan dengan baik. Perasaan mampu
timbul karena ia dapat berbicara langsung kepada Pribadi yang begitu
penting dan tahu bahwa Dia akan melakukan yang terbaik baginya.
Namun, anak memiliki kesadaran yang sangat minim tentang arti doa.
Jeffrey, berusia empat tahun, memahami doa seperti peristiwa-
peristiwa yang terjadi secara harfiah, "Dan kemudian angin datang,
menghembuskan doa-doa ke surga tempat Allah berada." Anna, berusia
lima tahun, percaya bahwa kegagalan untuk memperoleh jawaban yang
diharapkan adalah karena kesalahan transmisi pada dirinya. "Kamu
harus tahu kata-kata yang tepat agar doamu dikabulkan."
Seorang gadis kecil tak mau lagi berdoa sebelum tidur sejak
keluarganya pindah ke rumah baru. Orang tuanya akhirnya mengerti
bahwa dulu ketika mereka tinggal tak jauh dari gereja, Melanie tidak
mengalami kesulitan untuk percaya bahwa Allah sungguh-sungguh
mendengar doanya. Tetapi saat pindah ke kota lain, ia sulit percaya
bahwa doanya masih dapat didengar, karena letak "rumah Allah" jauh
dari rumahnya.
Pernyataan-pernyataan tentang doa seperti ini sering diutarakan
anak-anak dan hal tersebut menggambarkan dilema ganda yang
disebabkan oleh pemahaman anak yang kabur tentang makna doa,
ditambah lagi dengan kepastian yang kuat bahwa pengertiannya, apa
pun isinya, adalah benar. Pengertian anak tentang doa amat diwarnai
oleh pengertiannya tentang Allah. Dan hal ini tergantung pada sejauh
mana pemahamannya tentang Allah. Jika Allah merupakan makhluk yang
dapat dilihat secara fisik, dan tinggal entah di gedung gereja atau
di atas awan yang tebal, menyampaikan pesan kepada-Nya lewat doa
dapat menjadi tantangan yang besar.
Bahkan jika anak menerima gagasan bahwa Allah mendengar doa kita,
doa seorang anak juga mencerminkan dimensi lain dari tingkat
pemikiran anak tersebut. Oleh sebab itu, wajarlah jika sebagian
besar proporsi doa-doanya berpusat pada diri sendiri, sesuai dengan
pandangan dasar egosentris anak. Jika anak berdoa untuk orang lain,
permintaan seringkali diungkapkan dari segi hubungan orang itu
dengan dirinya. Misalnya, Dina yang berusia lima tahun berdoa, "Dan
saya mohon tolonglah agar Mama dan Papa mengasihi saya." Karena
hubungan kasih sayang merupakan hal yang paling menyenangkan dalam
hidup Dina, maka sangatlah wajar jika ia menaikkan doa semacam ini.
Ia belum menyadari bahwa orang tuanya dan dirinya merupakan pribadi-
pribadi yang terpisah, yang terkadang melakukan hal-hal yang tak
berhubungan dengannya. Pengertian ini baru akan muncul beberapa
tahun kemudian, setelah ia semakin lama menjalani hidup bersama
orang tuanya.
Hampir sama dengan itu, anak-anak lebih tertarik pada doa-doa mereka
sendiri daripada doa-doa orang lain. Karena kebanyakan doa-doa orang
dewasa yang diamati anak-anak, khususnya di gereja, agak panjang
(amat panjang menurut anak-anak), dan karena itu, agak membosankan
(amat membosankan menurut anak-anak). Doa-doa orang lain cenderung
kurang diminati anak.
Secara umum, anak-anak di bawah usia tujuh tahun biasanya memandang
doa sebagai bentuk pemahaman akan Allah untuk hal-hal tertentu.
Mereka cenderung berasumsi bahwa Allah memiliki kewajiban untuk
melakukan apa yang mereka minta, dan tidak pada tempatnya untuk
marah kepada Allah jika doa mereka tidak dijawab. Pada usia tujuh
sampai sembilan tahun, anak-anak mulai memandang doa sebagai
komunikasi dengan Allah, bukan sekadar meminta. Namun, permintaan
masih cukup mendominasi isi doa anak-anak usia ini, meskipun banyak
di antara isi doanya yang ditujukan demi kepentingan orang lain,
termasuk binatang-binatang peliharaannya. Anak tidak marah kepada
Allah jika doanya tidak terjawab. Sebaliknya, anak seusia ini
cenderung mempertanyakan apakah doanya sudah diucapkan dengan kata-
kata yang benar dan cukup tulus.
Mungkin karena konsep anak tentang doa begitu samar, kebanyakan
perasaan, pikiran, dan apa yang dilakukan anak berkenaan dengan doa
ditentukan oleh contoh doa orang dewasa yang ia amati. Jika contoh-
contoh doa yang mereka amati berupa rangkaian kata-kata panjang dan
formal kepada Allah, anak cenderung menyimpulkan bahwa doa itu
membosankan. Jika doa itu ringkas, informal dan dengan masalah-
masalah yang berkenaan dengan anak, doa akan dipandang sebagai suatu
hal yang positif.
Sumber: Mengenalkan Allah Kepada Anak (Terjemahan dari Teaching Your Child About God), Wes Haystead, , BabAnak dan Doa, halaman 109 - 111, Yayasan Gloria, Yogyakarta, 1996.
|