|
(B.S. Sidjabat)
Pengantar
Disiplin merupakan salah satu kebutuhan dasar anak, dalam rangka
pembentukan dan pengembangan wataknya secara sehat. Tujuannya ialah
agar anak dapat secara kreatif dan dinamis mengembangkan hidupnya
di kemudian hari. Kalau orangtua mengasihi anaknya maka mereka juga
harus mendisiplinnya. Kasih dan disiplin harus berjalan bersama-sama
secara seimbang. Dalam perkataan lain, kasih tanpa disiplin mengakibatkan
munculnya rasa sentimen dan ketidak pedulian. Sebaliknya, disiplin
tanpa kasih merupakan tindakan kejam (tirani).
Banyak orangtua, karena berbagai alasan termasuk kesibukan, tidak
mempunyai pemahaman dan pengertian, mengabaikan kebutuhan anak dalam
disiplin ini. Akibatnya di kemudian hari anak memberontak, sulit
dikendalikan, mencari perhatian secara berlebihan. Orangtua demikian
tentu akan mengalami konflik berkesinambungan dengan anaknya, bahkan
tidak jarang yang mengalami kekecewaan dan perasaan terluka. Oleh karena
itulah bahasan kita mengenai disiplin ini amat perlu, selain menjadi
masukan dalam pelayanan juga menjadi alat refleksi bagi diri kita
sendiri.
Dasar Teologis Disiplin
Pentingnya disiplin orangtua bagi anaknya bukan saja karena alasan
sosiologis dan psikologis, tetapi juga karena pemahaman teologis.
Keterangan singkat berikut ini akan menjadi pertimbangan bagi kita.
- Allah Bapa senantiasa mendisiplin manusia ciptaanNya baik secara
individual maupun secara kelompok. Cara Tuhan mendisiplin umatNya sama
dengan cara ayah mendisiplin anaknya (Ul 8:5); Mzm 6:2; 38:2-3) Tujuan
Allah mendisiplin manusia adalah agar mereka bertaat, hormat dan takut
kepadaNya. Karena itu Tuhan memberikan pengajaran, memberikan teguran,
menyatakan nasehat, dan jika perlu mengijinkan terjadinya penderitaan
seperti sakit penyakit, kerugian, bahkan pembuangan ke tempat atau
negeri lain. Sejarah Israel menyatakan umat kerajaan Israel utara
terbuang selama 40 tahun ke Asyur dan umat Yehuda ke negeri Babilonia
selama 70 tahun.
Dalam Perjanjian Baru, Penulis kitab Ibrani menyatakan bahwa Allah
mendisiplin umatNya agar bertaat kepadaNya. Ia menyatakan disiplin
sebagai bukti kasihNya (12:5, 6) meskipun pada mulanya mendatangkan
dukacita (12:10, 11)
- Tuhan Yesus Kristus pun menegakkan disiplin bagi murid-muridNya,
dengan memberikan contoh seperti dalam segi-segi bagaimana menggunakan
waktu, menggunakan uang, hidup berdoa secara tekun. Dia pun menyatakan
bahwa kepentingan orang lain mesti didahulukan sebagaimana tampak dalam
hal Yesus melayani orang yang datang kepadaNya meskipun seringkali
belum sempat (bd. Mrk 3:20-21). Bilamana murid-muridNya degil, seringkali
Ia berterus-terang menegur mereka dengan keras (bd. Mrk 8:14-21).
Bilamana murid-murid ingin membalas kejahatan dengan kejahatan, Dia
menyatakan sikap mengasihi dan mengalihkan perhatian mereka kepada
Tugas lain (bd. Luk 9:51-56)
Yesus pun menyatakan agar murid-muridNya belajar hidup secara
tertib dalam arti memelihara kesucian hidup agar senantiasa merasakan
kehadiran Allah (bd. Mat 5:8). Bagi Yesus, orang dewasa harus
mendisiplin anggota tubuhnya -- tangan, kaki, mata -- agar tidak membawa
keburukan bagi orang lain terutama "menyesatkan" anak-anak di bawah
asuhan mereka (Mat 18:8-10). Sebab dia sendiri melarang murid-murid
mengabaikan atau meremehkan anak-anak kecil (Mat 19:13-15). Tidak
jarang pula Yesus menyatakan bahwa Dia tetap mengasihi murid-muridNya
sekalipun mereka kurang cepat menangkap ajaran Sang Guru (Yoh 13,15)
- Alkitab mengajarkan bahwa Roh Kudus datang untuk menyatakan
kebenaran Ilahi bagi orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Dia hadir
ke dunia untuk membuat orang insyaf akan dosa dan kejahatannya lalu
berbalik kepada Sang Kebenaran yang memerdekakan yaitu Yesus Kristus
(Yoh 16:6-8, 11-13). Roh Kudus juga datang membuat orang memiliki
hikmat hidup dan kekuatan batiniah agar dapat hidup sesuai kehendak ALlah.
(Ef 1:16, 17; 3:16-18). Roh Kudus pun datang ke dalam hidup dan persekutuan
orang-orang percaya guna memberikan kekuatan di dalam mengatasi kelemahan
(Roma 8:2-6) serta buah kehidupan (Gal 5:22-23)
Dalam Kisah Para Rasul tampak sekali bagaimana sikap dan tindakan
Roh Kudus dalam menegakkan disiplin. Ingatlah kasus Ananias dan Safira
karena ingin "mencari nama dan muka" lalu berdusta kepada rasul Petrus
(Kisah Para Rasul 5). Ingat pula kasus Simon tukang sihir di Samaria yang ingin
terkenal lalu hendak membeli kuasa Roh Kudus dengan uang (Kisah Para Rasul 8).
Rupanya Roh Kudus tidak menginginkan sikap pura-pura terjadi terjadi
dalam kehidupan anak-anak Tuhan.
Surat Paulus kepada jemaat di Korintus cukup banyak menyinggung
masalah disiplin hidup, agar mereka tertib dalam kehidupan bersama,
kehidupan persekutuan, kehidupan memelihara tubuh dan sejenisnya.
Dia mengajak jemaat untuk terus sadar bahwa Roh Kudus mendiami mereka
sehingga mereka menghindarkan diri dari segala godaan mencemarkan diri
(3:16; 6:19-20). Mereka harus menertibkan cara berpikir mereka sendiri
agar tetap memelihara suara hati yang jernih di dalam mengambil keputusan
dalam hidup bersamaan dengan orang lain (8:1-3). Mereka harus
mengendalikan diri dalam ibadah agar tidak menonjolkan diri, mencari
kemuliaan diri sendiri sehingga firman Allah tidak diberitakan sebagai
mana mestinya (12-14).
Tugas orangtua
Paul Meier (1982) menegaskan bahwa karena pentingnya disiplin bagi
anak, Kitab Amsal saja menuliskan beberapa nats mengenai tugas orangtua
untuk mendisiplin anaknya (13:24; 19:18; 22:6; 22:15;23:13; 29:15, 17).
Ditambahkan pula oleh Meier bahwa ayah harus mendapat tempat sebagai
kepala rumah tangga; dan ibu sebagai pendampingnya (bd Kej 2:18). Kalau
ayah tidak berperan sebagai kepala dalam rumah tangga, maka anak tidak
memiliki idola yang jelas, tidak mempunyai konsep otoritas secara jelas
dan benar pula. Akhirnya keadaan demikian dapat menimbulkan gangguan
kepribadian pada anak seperti timbulnya pemberontakan terhadap orangtua
dan orang lain.
Rasul Paulus juga menyatakan tekanan yang sama dalam surat
kirimannya (Ef 6:4; Kol 3:21). Tugas orangtua ialah mendidik anak dalam
ajaran dan nasehat Tuhan, sehingga anak terhindar dari "sakit hati" dan
"tawar hati". Betapa kecewanya anak dikemudian hari karena orangtua
tidak pernah menegakkan ketertiban; tidak membantu anak mengerti mana
yang baik dan mana yang buruk; dan tidak menolong mereka mengatasi
tantangan dan kejahatan serta bagaimana melakukan kebaikan. Sikap
otoriter justru menimbulkan rasa takut dan keinginan balas dendam pada
diri anak. Sikap mengekang orangtua justru menimbulkan kepasifan dan
tiadanya kreatifitas dan inisiatif pada kehidupan anak di kemudian hari.
Dalam hal apa sajakah orangtua membantu anak hidup tertib, teratur
dan memiliki rasa tanggung jawab? Jawabnya, dalam segala aspek kehidupan,
antara lain:
- Pola dan waktu minum dan makan serta istirahat.
- Buang air (toilet tranning) dan buang sampah.
- Kehidupan iman, rohani, ibadah, doa pribadi dan bersama.
- Mengurus diri sendiri --- mandi, berpakaian, memelihara "mainan"
atau barang pribadi lainnya.
- Belajar --- mengerjakan PR, persiapan ujian, dll.
- Membantu pengurusan kebersihan rumah serta lingkungan.
- Dalam hal berelasi serta berkomunikasi secara sopan, memberitahukan
kepada orangtua rencana-rencana kerja atau kegiatan di sekolah dan
diluarnya.
- Menepati janji atau ucapan, termasuk mengembalikan barang pinjaman
dari teman.
Disiplin dengan tegas dan kasih sayang
James Dobson merupakan tokoh pendidikan anak yang terkenal dalam
mengemukakan berbagai prinsip efektif bagi orangtua di dalam
mendisiplinkan anak. Buku-bukunya yang mengemukakan gagasan disiplin ini
ialah "Dare To Disciplin" (Berani Mendisiplin) (1970) dan "Disiplin
With Love (1983). Menurut Dobson, tujuan disiplin bagi anak ialah agar
mereka dapat belajar bagaimana cara hidup bertanggung jawab. Prinsip
Dobson yang dituangkan dalam karyanya "The New Dare to Disciplin" (1992)
adalah sebagai berikut:
- Orangtua harus mengembangkan rasa hormat dalam diri anak
terhadap orangtuanya sendiri. Rasa hormat itu harus ditumbuhkan melalui
komunikasi yang akrab, lalu dikembangkan dan dipelihara dengan penyediaan
waktu dalam menjawab pertanyaan anak. Dengan begitu anak belajar mengenai
otoritas secara benar dan tepat.
- Orangtua harus menghukum anak atas tingkah lakunya yang jelas
memberontak atau menentang orangtua; melawan terhadap aturan yang sudah
diterangkan dan ditetapkan atau disetujui sebelumnya. Hukuman fisik harus
dikenakan bagi anak, pada bagian "pantat" (spanking). Orangtua harus
memberitahukan mengapa ia melakukannya; dan jangan dilakukan hukuman
jauh setelah anak melupakan pelanggaran yang dibuatnya.
Menurut Dobson, kalau anak sudah berusia sembilan tahun tidak tepat
lagi memukulnya dibagian pantat, atau mengenakan hukuman fisik pada
bagian tubuh lainnya, tetapi paling-paling menekan bagian tertentu dari
bahunya untuk menyadarkan dirinya bahwa ia bersalah.
- Orangtua harus mengendalikan diri agar tidak menyimpan amarah
berkepanjangan. Jangan pula ia menyimpan emosi benci terhadap anak
manakala menghukumnya secara fisik. Sebelum melakukan hukuman fisik
orangtua harus menghitung dalam hatinya angka satu hingga sepuluh guna
meredakan emosinya.
- Orangtua tidak memberikan sogokan kepada anak, berupa benda,
agar ia berlaku tertib. Hal ini dapat menumbuhkan akar materialisme
.
Sekalipun demikian Dobson juga mengemukakan bahwa untuk mendisiplin
anak, kita dapat memperkuat sikap dan perilaku positif dengan jalan
menghargainya. Kalau ada hal positif, yang patut dipuji yang diperbuat
anak, ia patut mendapat sanjungan orangtua. Prinsip ini disebut
"reiforcement". Hal ini dilakukan dengan memberikan hadiah karena ia
berbuat baik. Prinsipnya antara lain adalah sebagai berikut:
- Hadiah harus sesegera mungkin.
- Hadiah tidak selalu berupa benda, bisa juga pujian, kata yang
membangun (Ef 4:29).
- Kalau tingkah laku yang diharapkan terbentuk maka perbuatan
memberi hadiah dihentikan saja.
Perkara lain yang harus diperhatikan dalam membangun sikap disiplin
pada diri anak ialah prinsip kerjasama. Untuk menimbulkan rasa
tanggungjawab dalam diri anak, orangtua perlu menyatakan keinginannya
kepada anak. Bahwa orangtua meminta pendapat atau meminta tolong kepada
anak tidak salah, justru dapat membuat anak merasa berharga. Apalagi
kalau anak itu sudah berusia diatas lima tahun (TK atau SD).
Kemudian orangtua dapat mengajak anaknya melakukan apa yang
direncanakan bersama-sama. Dengan begitu orangtua memberikan contoh
dihadapan anaknya. Selanjutnya, orangtua perlu memberikan tugas bagi
anak, agar ia mengerjakannya. Jika ada kesalahan, orangtua memberikan
koreksi dan kesempatan kedua. Jika anak berhasil maka anak layak mendapat
pujian dan penghargaan. Bisa melalui hadiah material dan bisa pula
dengan pujian bahwa anak itu hebat, pintar, dan sejenisnya. Hal ini dapat
diterapkan dalam kegiatan belajar, kegiatan ibadah dan doa, kegiatan
membersihkan rumah, mencuci piring, pakaian, dll. (Parents & Children,
ed. Jay Kesler, 1986; The Enycyclopedia of Parenting, 1982).
Masalah nilai budaya
Salah satu persoalan yang tidak biasa kita pungkiri ialah pengaruh
nilai budaya terhadap kehidupan orangtua yang selanjutnya memberi dampak
bagi pendisiplinan anaknya. Biasanya pengaruh dan gaya disiplin yang
diperoleh orangtua dari keluarga asalnya (family of origin) ikut serta
terefleksi dalam pendidikan dan pembinaan anaknya.
1. Boleh saja (permisif). Ada orangtua yang tidak mendisiplin
anaknya, sehingga di rumah anak bebas melakukan apa saja, tanpa peraturan
dan pedoman atau batasan (boundary) yang jelas. Hal demikian terjadi
karena orangtua sibuk, lemah dan kurang pemahaman mengenai pendidikan
anak secara baik.
2. Kekuasaan. Ada orangtua yang amat menekankan sikap otoriter
terhadap anaknya; banyak larangan; sehingga anak takut dan merasa tidak
bebas untuk berkreasi; takut berbuat kesalahan dan mencoba memperbaikinya.
Anak yang diancam oleh orangtua namun tidak pernah terlaksana ancaman itu,
bisa membuat anak memandang rendah wibawa mereka. Bisa saja anak memandang
orangtuanya sebagai "pembohong".
3. Hierarkhis. Ada orangtua yang takut mendisiplin anaknya karena
kehadiran nenek atau kakek. Campur tangan kakek atau nenek dalam
mendisiplin anak pada dasarnya menghambat anak memiliki konsep yang benar
mengenai ayah atau bapak. Anak demikian akan manja, tidak punya pendirian
yang baik. Sebaliknya pengaruh kakek atau nenek bagi anak harus
diminimalkan oleh kehadiran ayah dan ibu di tengah-tengah rumah tangga.
4. Penumbuhan rasa malu dan takut. Ada orangtua yang terus
mengumandangkan istilah "Kamu nggak tahu malu!?" bagi anaknya yang
berlaku tidak sopan. Ada pula yang menakut-nakuti anak agar berperilaku
baik seperti takut kepada polisi, dokter, dll. Model demikian cukup
sering kita temukan ditengah-tengah masyarakat. Disamping membawa hasil
baik, hal demikian tentu saja membawa pengaruh negatif. Anak kurang
diajak berpikir rasional.
5. Pengaruh pembantu rumah tangga. Di perkotaan sudah banyak
orangtua yang karena sibuk maka pembinaan anak ditangani oleh pembantu
rumah tangga. Banyak pembantu rumah tangga tidak mempunyai ketrampilan
dalam pembinaan dan disiplin anak, disamping mempunyai motif ekonomis
saja dalam menunaikan tugasnya. Pada umumnya anak yang diasuh dan
dibesarkan oleh pembantu cenderung nakal, tidak tertib kerena pembantu
rumah tangga tidak mampu mengendalikan secara kreatif.
Bahan bacaan:
Drehner, John
1992 Tujuh Kebutuhan Anak. Jakarta:BPK
Dobson, James
1992 New Dare To Discipline. Baker.
1997 Kendalikan Selagi Mampu (Terj.) Bandung: Kalam Hidup.
Kesler, Jay
1986 Parents & Children. Victor Books.
Meier, Paul D.
1977 Christian Child-Rearing and Personality Development.
Baker.
|