|
Sebelum, sesudah, atau pada saat Anda menceritakan kisah ini, ajak
anak-anak untuk mengekspresikan kesabaran mereka dengan cara
menyusun balok-balok kayu atau karton menjadi sebuah menara yang
tinggi. Minta mereka menyusun balok-balok itu setinggi dan sebagus
mungkin. Kegiatan ekspresif ini akan sangat membantu mereka dalam
hal kesabaran dan ketelatenan mereka. Selamat mengajar!
AMARAH DAN MENARA YANG ROBOH
Andi telah mencoba menyusun balok-balok mainan itu enam kali, tetapi
setiap kali ia mencobanya, menara itu selalu roboh.
Pada waktu menara yang disusunnya itu roboh untuk yang ketujuh
kalinya, Andi berguling-guling di lantai. Ia memukul-mukul lantai
dengan tinjunya. Dan ia mengucapkan kata-kata yang tidak pantas
diucapkan oleh seorang pembangun menara yang baik.
"Hmm," kata nenek. "Kelihatannya pembangun menara yang seorang ini
seperti menaranya yang rapuh dan tidak kokoh."
Andi berhenti berguling-guling di lantai. Ia tidak meneruskan
ucapan-ucapannya yang tidak pantas itu.
"Apa maksud Nenek?" tanya Andi.
"Dalam Alkitab diceritakan tentang menaramu dan juga dirimu. Di situ
tertulis tentang apa yang terjadi dengan menaramu dan dirimu," kata
nenek.
Andi tampak terkejut. "Apakah itu benar, Nek? Apakah yang dikatakan
Alkitab tentang saya dan menara saya?" tanyanya.
Renungan Singkat tentang Amarah:
- Pernahkah kamu marah sekali? Apakah yang terjadi?
Apakah yang kamu rasakan setelah kamu mengalami hal ini?
- Apakah akibat dari sifat pemarah?
Mengapa anak laki-laki dan anak perempuan tidak boleh memiliki
sifat seperti itu?
- Seandainya kamu adalah nenek, apakah yang akan kamu katakan
kepada Andi tentang sifat pemarah itu?
"Dalam Amsal 25:28 tertulis tentang dirimu dan menaramu," kata
nenek. "Ayat ini menyatakan bahwa orang yang tidak dapat
mengendalikan dirinya sama seperti sebuah kota yang temboknya roboh.
Inilah cara lain untuk menyatakan bahwa anak laki-laki yang tidak
dapat mengendalikan dirinya sama seperti menaranya yang roboh."
Andi memperhatikan menaranya yang sudah roboh. Menara itu kini
berantakan. Ia telah berusaha keras untuk memperbaikinya, tetapi
sekarang hampir semua balok itu berantakan. Menara itu sama sekali
tidak sama dengan menara yang telah direncanakannya dengan sangat
hati-hati.
"Saya tidak mau seperti menara yang berantakan itu," kata Andi.
"Saya ingin lebih seperti menara yang utuh, yang tidak roboh. Saya
akan meminta Tuhan Yesus menolong saya mengendalikan sifat pemarah
saya mulai dari sekarang."
Renungan Singkat tentang Tuhan Yesus dan Kamu:
- Mengapa Andi tidak mau seperti menaranya yang berantakan?
Maukah kamu juga seperti itu?
- Apakah yang diinginkan Andi agar Tuhan Yesus menolong dia
melakukannya?
Apakah kamu ingin Tuhan Yesus menolongmu mengendalikan sifat
pemarahmu?
Mengapa kamu tidak meminta kepada-Nya sekarang juga?
Bacaan Alkitab:
Amsal 25:28
Kebenaran Alkitab:
Orang yang tidak dapat mengendalikan sifat pemarahnya, seperti kota
yang roboh temboknya. (Baca: Amsal 25:28)
Doa:
Ya Tuhan Yesus, saya tidak ingin seperti sebuah tembok yang roboh.
Saya tidak ingin seperti sebuah menara yang roboh. Tolonglah saya
mengendalikan sifat saya sesuai dengan yang Engkau kehendaki. Amin.
Sumber: 100 Renungan Singkat untuk Anak-anak, V. Gilbert Beers, , halaman 198 - 199, Yayasan Kalam Hidup, Bandung.
|