|
1. Kebutuhan untuk dipelihara dan dirawat
Bila anak-anak merasa bahwa ia bukanlah yang penting dalam
keluarganya, dan orangtuanya lebih mengarahkan perhatian kepada
pekerjaan mereka semata-mata, maka ia merasa kehadirannya tidak
diharapkan. Seringkali kita jumpai orangtua hanya mementingkan
diri sendiri, tidak memperhatikan kewajibannya sebagai ayah dan
ibu. Dengan hati pedih, terpaksa harus diakui bahwa di sekitar
kita masih ada ayah yang lebih mementingkan kesenangan pribadi,
daripada memelihara anak-anaknya, lebih suka membawa uangnya ke
meja judi daripada membeli beras untuk memelihara isteri dan
anaknya. Lebih suka membeli satu pak rokok, daripada memberi
sarapan bagi anaknya, dan membiarkan anak itu berjalan ke sekolah
dengan perut kosong.
Menurut peribahasa "kasih ibu adalah kasih sepanjang jalan",
tetapi dengan pedih hati kita masih juga mendengar dan membaca
berita bahwa ada juga ibu-ibu yang menyerahkan anak gadisnya ke
lokalisasi demi mendapat sejumlah uang, atau menjual gadisnya
dengan harga yang mahal kepada laki-laki hidung belang. Bila
Allah memberi kepada kita kepercayaan untuk mengasuh anak kita,
ingatlah bahwa itu adalah suatu anugerah yang besar karena
kejadian anak itu dahsyat dan ajaib.
2. Kebutuhan untuk diterima dan dicintai
Setiap anak membutuhkan suatu keyakinan bahwa ia diterima dan
dicintai, sehingga ia mampu mempercayai orang-orang di sekitarnya
dan juga dirinya sendiri. Anak-anak yang diasuh tanpa orangtua
mereka, apalagi bila lingkungan tempat ia tinggal tidak
memperhatikan dia dengan penuh kasih, akan cenderung berkembang
lebih lambat dari mereka yang tinggal bersama orangtua yang
mengasihi mereka.
Peran orangtua adalah menjadikan suasana rumah menjadi cukup
kondusif, dimana kasih dan disiplin serta pertumbuhan fisik,
intelektual, sosial dapat berkembang secara seimbang.
3. Kebutuhan untuk pendidikan dalam keluarga
Kehidupan keluarga Kristen memang tidak diharapkan diperintah
dengan cara otoriter, tetapi orangtua harus dapat memegang
kendali keluarga dengan baik.
Anak-anak akan sangat menghargai bila ada rambu-rambu yang
membatasi mereka. Pendidikan dalam keluarga yang konsisten akan
membantu seorang anak untuk mematuhi juga aturan-aturan di luar
keluarga mereka sendiri, peraturan lalu lintas, peraturan
pemerintah, dll.
4. Kebutuhan teladan non verbal
Kegagalan pendidikan keluarga sering disebabkan karena orangtua
tidak mampu memberikan teladan non verbal (teladan bukan dari
kata-kata). Anak-anak memperhatikan hidup orangtuanya, sehingga
dapat dikatakan bahwa penyebab utama dari kenakalan remaja
sebenarnya adalah "kenakalan orangtua".
Bagaimana kita dapat menyuruh mereka berdoa, ketika mereka
melihat kita tidak pernah berdoa. Bagaimana mereka didorong untuk
beribadah kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh, ketika mereka
melihat kita sendiri hidup dalam kemunafikan.
Timotius menjadi penginjil yang setia karena pengaruh ibu dan
neneknya Eunika dan Lois, yang bukan hanya membesarkan Timotius
tetapi juga berhasil mewariskan iman kepadanya.
5. Kebutuhan untuk ibadah dalam keluarga
Keluarga Yusuf dan Maria pergi ke Yerusalem dari Nasaret, jarak
yang cukup jauh untuk merayakan Paskah. Kerelaan untuk menempuh
jarak yang cukup jauh itu mewakili keseriusan sikap mereka
terhadap ibadah.
Dengan adanya kerinduan tiap anggota keluarga untuk mengalami
kasih Allah, maka tiap anggota akan bertumbuh saling
menguatkan. Bila Yesus adalah pusat dari keluarga, Ia akan
memberi kepada kita kasih-Nya, kebijaksaan-Nya dan kuasa-Nya.
Sumber: Buletin Sinode GUPDI, , Edisi III/02 oleh Pdt. Debora Estefanus, S.Th., halaman 34 - 35, Sinode GUPDI, Surakarta, 2002.
|