|
Pertanyaan yang sering diungkapkan oleh orang-orang yang terlibat
dalam pendidikan Kristen, termasuk di sini adalah para Guru Sekolah
Minggu, adalah: "Seperti apakah kurikulum yang baik itu? Kurikulum
yang bagaimana yang sebaiknya dipakai dalam Sekolah Minggu di gereja
kita?"
Sebenarnya tidak ada satu jawaban yang persis sama bagi setiap
penanya, karena masing-masing gereja dan Sekolah Minggu memiliki
keunikan dan tantangannya sendiri. Ada gereja dan orang-orang
tertentu yang kurang setuju dengan penggunaan kurikulum. Mereka
berpendapat bahwa wewenang tertinggi seharusnya ada pada Alkitab
itu sendiri dan bukan pada "pandangan" si Penulis kurikulum. Bisa
dimengerti bahwa ada kekuatiran yang timbul, dimana para guru
akhirnya akan lebih "bersandar" dan "mengandalkan" materi kurikulum
yang siap pakai daripada menggalinya sendiri dari Alkitab.
Sebenarnya, kurikulum dibuat untuk menolong para guru. Pekerjaan
menyusun sebuah kurikulum bukanlah pekerjaan yang mudah. Ini
membutuhkan kerjasama tim ahli, baik dari bidang teologia maupun
pendidikan. Para pekerja awam, termasuk Guru Sekolah Minggu, jelas
akan menemui banyak kesulitan bila dituntut untuk membuat kurikulum
pengajarannya sendiri.
Mengingat bahwa wewenang tertinggi tetap ada pada Alkitab itu
sendiri, maka tiap-tiap orang Kristen secara pribadi bertangung
jawab untuk menyelidiki Alkitab dan melihat kalau-kalau apa yang
disampaikan dalam materi kurikulum yang digunakan ternyata tidak
sesuai dengan ajaran Firman Tuhan.
A. Arti Kurikulum
Menurut Dr. D. Campbell Wyckoff, dalam bukunya Theory and Design
of Christian Education Curriculum:
Kurikulum adalah alat komunikasi yang direncanakan
dengan sangat hati-hati, yang digunakan oleh gereja
dalam bidang pengajarannya agar iman dan hidup
Kristen dapat dikenal, diterima dan hidup.
Disebutkan di atas bahwa "Kurikulum direncanakan dengan sangat
hati-hati" maksudnya bahwa Penyusun Kurikulum akan menghabiskan
waktu dan tenaganya untuk berfikir, merancang dan merencanakan
segala sesuatu yang perlu agar kurikulum tersusun dengan baik.
"Alat komunikasi" mengandung maksud bahwa kurikulum melibatkan
dialog antar satu orang dengan yang lainnya.
"Digunakan oleh gereja" ini menunjuk gereja secara menyeluruh,
semua anggotanya, gereja sebagai tubuh Kristus yang hidup.
"Dalam bidang pengajarannya" meliputi semua kegiatan dan program
yang mengutamakan pengajaran dan pengasuhan sebagai bagian penting
dalam usaha memperlengkapi setiap orang menjadi pelayan Allah dan
murid Yesus Kristus.
"Agar iman dan hidup kekristenan dapat dikenal, diterima dan hidup"
menggambarkan isi dan tujuan pengajaran gereja. Ini bukan sekedar
mempelajari beberapa informasi mengenai Tuhan Yesus Kristus, tidak
juga sekedar menyatakan apa yang dipercayai seseorang. Namun lebih
dari pada itu, hal ini melibatkan praktek dan hidup seseorang
sebagai ungkapan pengetahuan dan kepercayaannya.
Pandangan mengenai kurikulum ini sama cocoknya bagi gereja besar
maupun kecil.
Dalam konteks Sekolah Minggu, kurikulum adalah susunan bahan Alkitab
yang mencakup materi/isi Alkitab, media mengajar, aktivitas belajar,
tujuan pembelajaran bagi kegiatan belajar mengajar di Sekolah Minggu.
B. Manfaat Kurikulum
Menggunakan atau tidak menggunakan kurikulum, toh Firman Tuhan tetap
diajarkan di Sekolah Minggu. Benar! Tapi, ada manfaat yang lebih
bila Sekolah Minggu menggunakan kurikulum, antara lain:
1. Kurikulum memungkinkan adanya pendekatan khusus yang cocok / sesuai
dengan ciri-ciri perkembangan usia anak.
Kurikulum yang baik menyediakan materi pelajaran secara bertahap
menurut keperluan, minat, kemampuan dan perkembangan anak. Beberapa
cerita atau pelajaran Alkitab akan terlalu sukar dimengerti oleh
anak-anak yang masih kecil. Penggunaan kurikulum dapat menolong guru
merangkaikan bagian-bagian Alkitab yang akan diajarkannya sekaligus
memberikan panduan mengenai cara pendekatan yang sesuai untuk
tiap-tiap kelompok usia anak.
Adanya kurikulum juga memungkinkan terjadinya perencanaan pelajaran
yang menyeluruh, yang disusun secara teratur untuk tiap-tiap kelompok
umur dalam satu masa periode tertentu.
2. Di dalam kurikulum biasanya termuat berbagai ide dan teknik
belajar-mengajar, alat peraga, dan perlengkapan mengajar lainnya.
Para pekerja awam atau Guru Sekolah Minggu, sepandai-pandainya dia
mengajar, tentulah kemampuan dan ketrampilan yang dimilikinya
terbatas juga. Sementara dunia pendidikan terus maju dengan hadirnya
berbagai teknik dan cara pengajaran yang baru, berbagai alat peraga
dan perlengkapan mengajar yang canggih, serta munculnya ide-ide baru
dalam konsep pendidikan itu sendiri, jelas para pekerja awam tidak
sanggup mengikuti semua perkembangan itu dengan baik.
Tetapi, para Penyusun Kurikulum justru mampu memberi masukan yang
berharga untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan guru.
3. Kurikulum menolong guru mencapai sasaran yang jelas dalam
mengajar, menyediakan pelajaran yang seimbang dan sistematis.
Saat seorang guru Sekolah Minggu mulai mengajar, kemungkinan ia
dapat menggunakan beberapa persedian cerita Alkitab yang ia sukai.
Namun ada saatnya persediaan cerita yang dia miliki akan habis.
Mungkin untuk mengatasi hal tersebut dia akan memulai dari permulaan
Alkitab, namun dengan berjalannya waktu dia akan menemui kesulitan
juga, karena mengajar menurut urutan Alkitab tidaklah mudah. Selain
itu, "main comot" kisah ini itu dari Alkitab tidak akan membawa arah
yang jelas dalam pengajaran Firman Tuhan.
Untuk itulah kurikulum yang berisi susunan materi / isi Alkitab yang
seimbang dan sistematis diperlukan untuk memudahkan tugas guru itu
sendiri dalam menyampaikan Firman Tuhan pada anak-anak.
Nilai penting sebuah kurikulum dapat diibaratkan sebagai menu
makanan yang disusun oleh seorang ibu rumah tangga yang baik. Jika
makanan yang disajikan selalu sama, tentu akan membosankan seisi
rumah. Karena secara rohani anak membutuhkan "makanan yang bergizi"
dan bervariasi, sesuai dengan tingkat umur dan pemahaman serta pola
pikir yang telah mereka capai, kehadiran kurikulum memungkinkan
penyusunan menu makan yang sehat dan seimbang tersebut. Melaluinya,
'nafsu makan' anak dipelihara dan mereka dapat bertumbuh secara
rohani. Inilah tujuan sebuah kurikulum.
Sumber: Mengajarkan Alkitab Secara Kreatif, Lawrence O. Richards, , BabMemilih dan Menggunakan Kurikulum (Bag.II no.12), halaman 192 - 195, Yayasan Kalam Hidup, Bandung. Christian Education in The Small Church, Donald L. Griggs & Judy McKay Walter, , halaman 75 - 77, Judson Press Valley Forge, 1988.
|