Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Pengadilan dan Penyaliban Yesus


Jenis Bahan PEPAK: Bahan Mengajar

Persiapan GSM

I. Bahan Pelajaran

  1. Ayat Alkitab: Lukas 3:21-22; Lukas 22:63-71; Lukas 23:1-12, Lukas 23:24-33; dan Yohanes 1:29.

  2. Tujuan: menolong anak-anak untuk:

    1. mengetahui: Bahwa pengorbanan Yesus yang dilakukan-Nya dengan rela itu adalah demi keselamatan mereka,

    2. mengerti: Bahwa Yesus berkorban sedemikian karena sangat mengasihi mereka, dan

    3. bersikap dan berbuat: Mengasihi Tuhan yang telah lebih dahulu mengasihi mereka.

  3. Latar belakang alkitabiah:

  4. Pada masa hidup Yesus, pemerintahan Israel dilakukan oleh Sanhedrin, yaitu dewan majelis, di bawah pengawasan Herodes dan kemudian di bawah wakil pemerintah Romawi. Sanhedrin dalam Alkitab disebut dengan bermacam-macam nama. Kadang-kadang disebut "Mahkamah Agama" (Markus 14:55, demikian pula dalam Matius 5:22), tetapi juga "Majelis Tua-Tua" (Kis. 22:5).

    Badan itu terdiri atas 71 anggota, yakni Imam Besar yang menjadi ketua, dan 70 orang lagi yang terkemuka. Dari orang-orang yang terkemuka itu, banyak yang berasal dari keluarga-keluarga imam yang ternama. Dalam Perjanjian Baru mereka sering disebut "imam-imam kepala", yaitu imam-imam yang dianggap penting, karena termasuk juga beberapa orang ahli Taurat yang terkemuka dalam Sanhedrin. Sanhedrin itulah yang mengawasi persembahan untuk Bait Suci, dan harus membicarakan serta mengurus berbagai soal keagamaan. Dan akhirnya badan itu diserahi tugas pengadilan. Dalam soal-soal penting dapat pula memberi putusan. Hanya kalau seseorang dijatuhi hukuman mati, haruslah putusan hukuman itu disampaikan dulu kepada wakil pemerintah Romawi untuk disahkan.

  5. Untuk dipikirkan dan didoakan GSM:

  6. Yohanes Pembaptis yang pertama mengerti, bahwa Yesus adalah Imam dan bahwa Ia akan mengorbankan diri-Nya sampai mati. Dialah Anak Domba Allah, seperti yang dikatakan Yesaya, "Yang dibawa ke pembantaian", dan "penyakit kitalah yang ditanggungnya." (Yesaya 53:7; Yesaya 53:40)

    Di surga kelak kita akan memuji Anak Domba Allah dengan penuh kesadaran akan kuasa, kasih, dan rahmat-Nya (Wahyu 7:9-17). Bagaimanakah dengan puji-pujian kita sekarang?

II. Bahan Penunjang

  1. Ayat hafalan:

  2. 1 Petrus 3:18: "Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah..."

  3. Nyanyian: lagu-lagu tentang peristiwa kematian Yesus.

III. Dalam Kebaktian

  1. Pengarahan:

    1. Ayat hafalan.

    2. Anak-anak mencoba membaca tulisan ayat hafalan di papan tulis. Ayat ini panjang, akan tetapi sangat penting karena merupakan suatu pernyataan iman Kristen yang mendasar. Renungkanlah.

      Untuk memudahkan menghafalnya, bagilah ayat hafalan tersebut dalam tiga bagian, lalu hafalkanlah bagian demi bagian.

    3. Penjelasan singkat untuk GSM.

    4. Berikut ini akan disampaikan cerita penyaliban Kristus. Supaya kita dapat menghayati peristiwa itu dengan lebih baik, maka kita akan melihatnya dari sudut orang banyak, yang diwakili oleh seorang tokoh khayali, yaitu seorang nenek Yahudi.

    5. Inti Pelajaran.

    6. Hari masih pagi, baru kira-kira pukul 09.00 (oleh orang Yahudi waktu itu disebut pukul 15.00)

      Laki-laki itu masuk ke rumahnya dengan tergesa-gesa. "Bu, Ibu. Lihatlah hari ini ada arak-arakan lagi ke Golgota. Kuatkanlah hati Ibu. Sebentar lagi orang itu akan disalibkan," katanya sambil terengah-engah. Keringat membasahi wajahnya yang murung.

      "Siapakah orang hukuman itu? Pembunuhkah?" tanya nenek, ibu pemuda itu.

      "Bukan, Bu. Orang itu ... Yesus."

      Bergetarlah hati nenek itu. "Yesus ...," terdengar bisiknya lemah.

      Sejak mereka tinggal di Yerusalem, sudah beberapa kali mereka menyaksikan arak-arakan serupa itu. Rumah mereka memang terletak di tepi jalan yang menuju ke Golgota. Setiap peristiwa penyaliban membuat nenek itu merasa ngeri. Betapa kejamnya pemerintah penjajah! Dan sekarang, Yesuslah yang menjadi korban.

      Tiga tahun yang lalu, nenek itu mendengar kabar tentang pembaptisan Dia di sungai Yordan. Waktu itu Yohanes Pembaptis berseru tentang Dia, "Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia." Kemudian ketika Yesus naik dari sungai itu, terdengarlah suara dari surga yang mengatakan, "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan." Sejak itu, tersebarlah berbagai cerita tentang Dia. Ada sebagian orang yang menyukai Dia, ada pula yang membenci Dia. Nenek itu sendiri merasa tertarik kepada-Nya dan selalu bertanya-tanya tentang pengajaran-Nya.

      "Sebentar lagi mereka akan lewat di depan rumah kita," suara pemuda itu mengganggu renungan si nenek.

      "Dari mana kau tahu itu?" tanya nenek.

      "Aku baru saja kembali dari halaman istana Pilatus," kata pemuda itu sambil melangkah menuju jendela.

      "Tapi ... mengapa Ia harus disalibkan?"

      "Kata orang, Ia menyebut diri-Nya Anak Allah, Raja orang Yahudi."

      "Aneh sekali," sahut si nenek.

      "Ya, memang aneh. Seorang Yahudi yang sederhana berani menyebut dirinya raja."

      "Bukan. Bukan itu maksudku. Aku katakan aneh kalau orang dapat disalibkan hanya karena menyebut dirinya raja."

      "Ah, Ibu tidak mengerti. Bukankah itu berarti bahwa Ia menyamakan diri-Nya dengan Kaisar? Lagi pula, aku dengar pemimpin-pemimpin kita telah lama merencanakan pembunuhan ini," kata anaknya lagi.

      "Mengapa begitu kejam? Apa sebabnya?" tanya si nenek sambil menoleh kepada anaknya yang masih berdiri dekat jendela.

      "Begini, Bu," kata anaknya. Sementara di luar terdengar suara orang yang makin gaduh. "Sebaiknya kita keluar saja supaya kita melihatnya dengan jelas."

      "Baiklah," suara nenek itu bergetar. Mereka keluar, lalu berdiri di tangga. Nenek itu memegang tangan anaknya erat-erat.

      Si pemuda memulai ceritanya, "Semalam aku mendengar suara ribut-ribut di luar. Aku mengintip dari celah pintu. Jalan gelap sekali, tapi karena cahaya obor aku dapat melihat tentara-tentara Romawi sedang menggiring seorang laki-laki berjanggut. `Bawa ke Sanhedrin! Ke Sanhedrin!` orang banyak berteriak-teriak. `Ah, pasti pencuri,` pikirku. Aku segera keluar dan menyelinap di antara orang banyak. Aku ingin tahu siapa orang itu dan apa kesalahannya. Sesampainya di Sanhedrin, aku melihat orang itu yang ternyata Yesus sedang ditanyai oleh para pemimpin kita. Mereka bertanya apakah benar Dia adalah Mesias yang dijanjikan Allah. Tapi Yesus diam saja. Ia tidak mau menerangkan apa pun."

      "Mengapa? Seharusnya Ia membela diri!" kata si nenek.

      "Karena Ia tahu bahwa para pemimpin kita tidak akan memercayai kata-kata-Nya," sahut anaknya. "Hanya pada akhirnya Ia berkata, `Mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Allah.` Mendengar ucapan itu, bukan main marahnya para pemimpin kita yang hadir di situ. Mereka ingin segera membunuh Yesus, tapi mereka ingat bahwa mereka tidak berwewenang untuk menjatuhkan hukuman mati."

      "Aku tidak mengerti soal wewenang seperti itu Nak," kata si nenek.

      "Kita berada di bawah penjajahan kekaisaran Romawi. Menurut peraturan yang berlaku, hanya kaisar yang dapat menjatuhkan hukuman mati. Oleh karena itulah, mereka membawa-Nya ke hadapan Gubernur Pilatus. Tetapi Pilatus pun tidak dapat menemukan kesalahan Yesus dan karena Dia berasal dari Galilea, maka Pilatus menyerahkan perkara Yesus kepada Herodes."

      Cerita pemuda itu terputus karena tibanya rombongan di dekat rumah mereka.

      "Ada apa, ada apa?" terdengar teriakan orang yang makin banyak berdatangan.

      "Ibu, lihatlah itu," kata anaknya sambil menunjuk ke jalan. Mereka akan segera lewat." Ibu dan anak itu meninggalkan rumah, ikut berdesakan dengan orang ramai.

      "Ke pinggir! Ke pinggir! Beri jalan!" perintah seorang tentara Romawi. Beberapa orang tentara lainnya mendorong orang-orang yang ingin menonton Yesus dari dekat. Tombak dan pedang dihunus untuk menyingkirkan mereka yang menghalangi jalan. Yesus berjalan perlahan sekali. Wajahnya yang pucat berlumuran darah yang mengucur dari kening-Nya.

      Nenek itu tidak tahan melihat Yesus yang begitu menderita. Beberapa orang wanita mengiring-Nya. Mereka menangis dan mencoba menahan Yesus sambil meratap. Yesus berpaling kepada mereka dan berkata, "Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu!"

      Mendengar kata-kata yang begitu lembut, perasaan sejuk menyelinap di hati si nenek.

      "Tarrr!" terdengar cambuk tentara Romawi yang mendarat di punggung Yesus. "Jalan terus! Cepat! Rombongan tidak boleh berhenti!" Komandan tentara itu berteriak bengis. Tubuh Yesus menggeliat sedikit. Ia berusaha menahan rasa perih-Nya karena cambukan itu.

      Dengan tidak disadarinya nenek itu menarik tangan anaknya dan ikut terbawa arus arak-arakan itu. Terus ke Golgota. Ia ingin sekali mengetahui siapa Yesus yang dihukum itu sebenarnya.

      Setelah sampai di Golgota, para prajurit memakukan Yesus ke kayu salib, lalu memancangkan salib itu.

      Tak jauh dari situ, beberapa orang wanita terisak-isak menangisi Yesus. Nenek itu seorang dari antara mereka.

      Tiba-tiba terasa bumi yang dipijak bergetar. Matahari tertutup awan tebal. Cuaca menjadi gelap. Guruh menggelegar dan kilat menyambar-nyambar. Saat itu Yesus berseru, "Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku."

      Teringat lagi oleh ibu tua itu kata-kata yang berulang kali ia renungkan,: "Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia," dan "Inilah Anak Domba yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."

    7. Penerapan firman Tuhan.

    8. "Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia." Ketika Yohanes Pembaptis mengucapkan kata-kata itu, ia menunjuk kepada kejadian di Golgota hari itu. Sejak zaman Musa, anak-anak domba selalu dikorbankan untuk menghapus dosa orang yang mempersembahkannya. Sekarang Anak Allah sendiri datang dan memberi diri menjadi korban untuk semua orang. Satu persembahan yang sempurna dan cukup untuk semua manusia, angkatan demi angkatan.

      Maukah kamu mengucap syukur atas Domba-Nya itu serta pengampunan dosa yang kamu peroleh karena-Nya?

    9. Aktivitas setelah pelajaran.

    10. Anak-anak mengerjakan aktivitas dengan cara merekatkan batang-batang korek api atau tusuk gigi pada selembar karton. Susunlah sedemikian rupa agar membentuk sebuah salib.

    11. Doa penutup.

    12. Bersyukur atas pengorbanan Yesus di kayu salib untuk anak-anak serta memuji nama-Nya. (Diucapkan oleh seorang anak.)

Diambil dan disunting dari:

Judul buku : Suluh Sekolah Minggu
Judul artikel : Pengadilan dan Penyaliban
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Seksi Kurikulum Komisi Anak Sinode GKI Jabar, Bandung 1984
Halaman : 79 -- 86

Kategori Bahan PEPAK: Perayaan Hari Raya Kristen

Komentar