Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Pemecahan Masalah Kurangnya Pekerja Sekolah Minggu


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Mendapat dan membuat para pekerja sekolah minggu bertahan dalam pelayanan adalah salah satu masalah yang paling sering disebutkan oleh pengurus sekolah minggu. Akan tetapi, sebagian besar masalah itu terjadi karena kelalaian para pengurus. Sering kali, program pendidikan tidak dilaksanakan atau sangat lemah. Kebanyakan mereka tidak pernah mencari tenaga yang baru untuk dipakai di dalam program pendidikan gereja mereka. Beberapa gereja memakai pekerja-pekerja yang sama dari tahun ke tahun untuk mengajar

Mendapat dan membuat para pekerja sekolah minggu bertahan dalam pelayanan adalah salah satu masalah yang paling sering disebutkan oleh pengurus sekolah minggu. Akan tetapi, sebagian besar masalah itu terjadi karena kelalaian para pengurus. Sering kali, program pendidikan tidak dilaksanakan atau sangat lemah. Kebanyakan mereka tidak pernah mencari tenaga yang baru untuk dipakai di dalam program pendidikan gereja mereka.

Beberapa gereja memakai pekerja-pekerja yang sama dari tahun ke tahun untuk mengajar sekolah minggu, membantu dalam usaha penginjilan anak-anak, memimpin kelompok kaum muda, dsb.. Kebanyakan pekerja ini setia, tetapi mereka hampir kehabisan ide-ide dan cara-cara baru.

Bahan-bahan rapat pengerjaan bulanan dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi pekerja, namun mereka bekerja keras dengan susah payah, serta menggunakan bahan-bahan dan cara-cara yang sama yang telah digunakan selama beberapa tahun. Mereka merasa senang dengan peranan mereka. Sekalipun demikian, mereka tidak lagi merasakan kepuasan yang pernah mereka rasakan dari pekerjaan mereka, dan mereka pun tidak melihat hasil yang sedang mereka cari.

Yang berikut adalah keadaan yang khas. Selama 5 tahun yang lalu, lima puluh orang anggota baru telah ditambahkan pada daftar gereja. Sejumlah 80% dari anggota baru ini berumur 25 -- 40 tahun. Walaupun demikian, sekolah minggu hanya memakai lima orang pekerja baru dalam jangka waktu yng sama. Tiga orang dari mereka itu telah menjadi anggota gereja lebih dari 10 tahun.

Adakah kita mengikutsertakan anggota-anggota baru dalam pelayanan gereja? Apakah kaum muda diminta untuk mengambil bagian dalam pekerjaan yang penting ini? Adakah orang-orang diundang dan diberi semangat untuk ikut serta?

Di kebanyakan gereja dewasa ini, "orang luar" menjadi orang asing di tengah-tengah jemaat. Mungkin pendeta memberi selamat datang dan mungkin namanya diperkenalkan pada kebaktian pagi. Biasanya pada akhir kebaktian pendeta akan bersalaman dengannya dan mengatakan, "Saya berharap Saudara senang berbakti dengan kami. Datanglah lagi." Setelah kunjungan yang kedua atau ketiga, pendeta akan berkata, "Kami senang Saudara dapat berkunjung kembali." Setelah kunjungan yang keempat, dia telah mendapat status "pengikut tetap", namun dianggap sebagai "tamu" karena namanya belum tercantum pada daftar anggota gereja.

Masyarakat kita dewasa ini sering berpindah tempat tinggal. Banyak "anggota baru" pernah aktif di dalam gereja mereka yang dahulu. Mereka merasa kekurangan sesuatu karena tidak lagi menyanyi dalam koor, tidak lagi mengajar di sekolah minggu, dan tidak mengunjungi orang sakit. Mereka merasa apabila mereka duduk saja dan menunggu, mereka akan diminta mengambil bagian dalam sesuatu kegiatan, apa pun itu! Tetapi kerap kali tidak seorang pun yang mengajak mereka untuk ikut dalam suatu pelayanan. Bahkan mereka tidak ditanyakan apakah mereka ingin menggabungkan diri dengan mereka. Maka, apakah yang harus dilakukan oleh pendatang baru itu?

Sungguh mengecewakan bagi seorang "asing" bila ia hanya duduk, tanpa berbuat apa-apa, sambil melihat kebutuhan bagi para pekerja, dan merasa bahwa ia dapat mengisi kebutuhan itu, namun tidak pernah diminta oleh seseorang.

Selain itu, ada kaum muda di gereja Saudara, beberapa di antaranya yang sungguh-sungguh bosan atau kecewa dengan sekolah minggu. Mungkin mereka yang berasal dari rumah tangga Kristen dan mengikuti sekolah Kristen, muncul setiap minggu di sekolah minggu, di gereja, dan di kebaktian kaum muda. Mereka mendengar pelajaran dan khotbah sampai pada akhirnya mereka bosan karena ajaran itu tetap sama. Mereka memahami kebenaran-kebenaran Alkitab.

Akal mereka menyetujui kebenaran-kebenaran itu. Tetapi sekarang mereka harus membuktikan bahwa kebenaran itu dapat dipraktikkan dan bermanfaat di dalam kehidupan mereka sendiri. Adakah jalan yang lebih baik untuk menolong mereka menerapkan kebenaran itu daripada memberi mereka suatu kesempatan untuk mengajar orang-orang lain? Walaupun pada mulanya mereka mungkin segan untuk menjadi guru, biarkan mereka menjadi pembantu atau menolong dengan anak-anak yang lebih muda.

Mintalah mereka memainkan alat musik. Mintalah mereka memimpin doa, mengatur teka-teki Alkitab, membantu dalam merencanakan acara pembukaan, atau memimpin bagian puji-pujian. Berikan kepada mereka sesuatu untuk dilakukan. Keikutsertaan merupakan guru yang besar.

Ada juga orang-orang yang dengan setia menghadiri gereja Saudara selama bertahun-tahun, tetapi tidak pernah menawarkan bantuan mereka. Berikan kepada mereka kesempatan untuk menjadi tertarik dengan mengadakan kursus di sekolah minggu untuk orang-orang yang ingin menjadi guru. Propagandakanlah hal ini. Berilah kesempatan bagi mereka yang sudah memunyai tugas mengajar untuk bersaksi tentang pentingnya pelayanan itu dalam kehidupan mereka. Mintalah pendeta untuk mengumumkan dan memajukan kursus tersebut karena suatu pengumuman dari mimbar biasanya memeroleh hasil-hasil yang baik.

Apakah Saudara memerlukan pekerja-pekerja dalam program pendidikan Saudara? Sudahkah menggunakan tenaga-tenaga yang tersedia di gereja Saudara? Jangan melupakan orang-orang yang mungkin sedang menunggu undangan untuk melayani. Saudara mungkin kekurangan pekerja, namun di dalam gereja ada cukup banyak calon pekerja.

Kategori Bahan PEPAK: Pelayanan Sekolah Minggu

Sumber
Judul Buku: 
Buku Pintar Sekolah Minggu Jilid 1
Pengarang: 
Tidak dicantumkan
Halaman: 
187 -- 188
Penerbit: 
Yayasan Penerbit Gandum Mas
Kota: 
Malang
Tahun: 
1997

Komentar