Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Pasal XIV - Cara Menguasai Anak


Anak yang lincah adalah wajar, kecuali mereka sakit atau pendiam. Kebanyakan semua anak nakal-nakal, hati mereka mempunyai keinginan yang keras untuk mengetahui segala sesuatu dan daya khayal. Seringkali mereka tidak dapat menahan diri dan sewaktu-waktu mereka menyatakan keinginannya atau daya khayalnya dengan memakai perkataan atau gerak- gerik mereka. Pengajar harus memimpin ke aktifitas mereka secara wajar dan mengembangkan kesanggupan mereka ke arah yang benar, sehingga berguna. Pengajar sendirilah yang menjadikan dirinya `contoh` bagi anak-anak.

A. Menerima diri sendiri.

  1. Apakah saya mengajar secara sia-sia, sembarangan, kurang persiapan, sehingga tidak dapat memuaskan murid, bahkan murid-murid sudah kehilangan gairah lagi.
  2. Apakah saya sering terlambat, melanggar peraturan, sehingga murid-murid kehilangan ketertiban?
  3. Apakah saya cukup bertanggung-jawab, berdoa bagi mereka dan mengajar kasih sayang?
  4. Apakah karena perkataan atau sikap yang kasar, tidak menjadi teladan mereka, sehingga kehilangan penghargaan murid?
  5. Apakah pribadi saya tidak dipercayai murid? Misalnya tidak adil, tidak jujur, suka mencela orang, meremehkan, membohongi murid-murid atau perkatan dan perbuatan saya tidak sesuai? Pengajaran dan kelakuan saya senonoh?

B. Seorang pengajar harus mengerti hati anak-anak:

  1. Anak yang kehilangan kasih (diagrace) Anak-anak semacam ini merasa rendah dirinya, kekurangan dan sering dihinakan orang. Misalnya:
    1. Anak yang berpenyakit.
    2. Pertumbuhan badannya tidak normal.
    3. kehilangan ayah dan ibu.
    4. sangat teraniaya.
    5. berwajah aneh, terlalu buruk.

    Keadaan hati mereka: selalu sedih, terhina, rendah hati, dsb. Maka sering ia memakai perbuatan-perbuatan yang aneh-aneh atau mengacau supaya menarik perhatian orang lain, supaya orang memperhatikan dia. Sehingga dengan demikian pengajar harus memperhatikan dan bersimpati kepadanya. Jika hal-hal kecil bisa menyuruhnya untuk membantu sehingga ia merasakan bahwa ia berguna dan masih ada orang yang memperdulikan dia.

  2. Anak yang bersifat luar (extern)
  3. Gerak-gerik atau kenakalan anak-anak adalah wajar, bukan sengaja atau mengacau, melainkan pembawaan sejak lahir. Kita tidak boleh menindas perkembangan pembawaan ini. Seringkali anak ini senang membela diri. Kita harus mejelaskan kepada mereka, pada waktu apa harus diam, waktu apa boleh bergerak, jika dapat dalam waktu-waktu pengajaran beri mereka kesempatan untuk bergerak. Jangan di muka kelas menegur, hingga menyebabkan anak itu berbantah-bantah. (tegur bila perlu, jangan berulang-ulang kali)

  4. Anak yang kurang ajar. Anak macam ini kebanyakan anak-anak yang terlantar, tidak terdidik dengan baik oleh karena tidak mempunyai orang tua, yang dapat mendidik. Ibu mereka kurang bijaksana, tidak mengalami pendidikan rumah tangga, atau hidup dalam suasana yang kurang baik, sehingga segala keburukan menjadi kebiasaan-kebiasaan yang sifatnya kasar. Keadaan hati mereka sangat bebas, sewenang- wenang dan tidak mengenal peraturan. Menghadapi anak-anak semacam ini, kita tetap dengan pengasihan dan lemah-lembut menasehati supaya mereka tahu hal-hal yang mereka tidak mengerti dan memasuki pengertian; kewajiban moral, supaya berubah dan bertobat. Pengajar haruslah menjadi pembimbing dan teladan mereka dengan sikap dan karakter pengajaran yang baik.
  5. Anak-anak yang sengaja mengacau. Anak-anak semacam ini suka menguji gurunya, menguji kepandaian, kesabaran, dsb. Maka sikap pengajar harus teguh, tenang dan bijaksanan menghadapi/menguasai mereka. Jangan takut, jangan menakut-nakuti atau mengancam mereka. Jangan menampakkan diri kita tidak dapat berbuat apa-apa/tidak dapat bertindak pasti akan menyebabkan kita dihina.
  6. Ingatlah bahwa:
    1. Kita yang akan mau menguasai mereka, bukan sebaliknya.
    2. Kita adalah pengajar, mereka yang diajar.
    3. Kita yang memimpin mereka, bukan sebaliknya.
  7. Anak-anak yang mendadak gelisah (bukan biasanya)
  8. Mungkin karena anak itu sakit, atau perubahan hawa. Keadaan kelas yang kurang hawa, gelap, ruang sempit atau duduknya tidak teratur.

C. Prinsip untuk mengajar:

  1. Dengan kesucian dan kasih sebagai motif.
  2. Dengan pribadi yang baik sebagai teladan.
  3. Dengan kebijaksanaan sebagai cara menguasai.

Dalam mengajar harus diperhatikan:

  1. Dengan cara diam-diam menunjukkan segala macam dosa, dan akibatnya yaitu kejahatan-kejahatan, dan sebagainya.
  2. Dengan sering-sering bercakap-cakap secara pribadi mengetahui latar-belakang dan isi hati, kesukaran mereka.
  3. Dengan mendorong menasehatkan mereka, supaya mereka maju dan menuntut kesucian.
  4. Dengan cara jujur memuji kebaikan mereka, dengan kasih menegur segala kesalahan dan dosa-dosa mereka, karena inilah obat dari pada kesalahan mereka.
  5. Jangan dengan mudah menerima pengaduan mereka. Jika ada seseorang yang mengadu marahilah dia, kemudian menyelidiki sendiri dengan teliti.
  6. Boleh mempergunakan anak-anak nakal yang berbakat memimpin untuk menjaga ketertiban dan mengerjakan sesuatu.
  7. Harus memberitahukan mereka bahwa keselamatan yang diperolah dengan cuma-cuma dan untuk mencapai kemenangan harus berkorban. Masuk ke dalam pintu keselamatan hanya satu kali, menjalani dalam jalan keselamatan adalah seumur hidup. Hidup bersandar pada anugrah, kehidupan didasarkan atas kelakuan. Orang Kristen harus bersandar pada Kristus, setelah diselamatkan seumur hidup mengikut Tuhan dan berjalan dalam jalan yang suci sambil memikul salib.

D. Menguasai dengan keadilan dan kasih (harus seimbang)

Keteguhan dari kuasa dan kedudukan seseorang tergantung dari pengaduan tingkat keadilan dan kasihnya. Seseorang yang tidak adil dalam pekerjaannnya selamanya tidak mungkin dihormati orang. Seseorang yang tidak mempunyai kasih dalam ajarannya maka pelayanannya tidak akan berhasil. Keadilan adalah pengenalan yang dalam terhadap dosa, kasih adalah pengakuan yang luas bagi orang yang berdosa. Kedua hal ini harus berpadu pada satu oknum dan perpaduan ini menentukan besar/kecilnya kuasa seseorang. Allah dengan dasar keadilan dan kasihnya, menguasai semesta alam ini. 2Petrus 1:14 ... ada bagian di dalam sifat Ilahi. Melakukan pekerjaan yang suci harus memakai kuasa ini. Kita adalah wakil Allah dan setiap pekerjaan dan perbuatan yang kita lakukan adalah pesan dari Allah. Kesejahteraan berbuat dengan kasih dan keadilan akan menentukan berhasilnya atau gagalnya seorang hamba Tuhan. Kasih dan keadilan Allah telah berpadu di atas salib. Perkataan Yesus yang pertama di atas kayu salib menyatakan kasih Allah. Perkataan Yesus yang keempat di atas kayu salib menyatakan keadilan Allah yang dalam, dan menyatakan kasihNya yang dalam pula kepada manusia. 1Korintus 4:20 Karena kerajaan Allah itu bukannya berujud atas perkataan, melainkan atas kuasa. Ayat 21-- rotan: keadilan, hati yang lembut, kasih. Kekerasan dan kasih adalah prinsip dari pekerjaan pengajar. Jika hanya memberatkan kasih dan meringankan keadilan maka kasih akan berlebih-lebihan dan tidak berharga. Jika memberatkan keadilan dan meringankan kasih maka keadilan menjadi kekejaman, dan tidak berguna. Jika anak-anak mengasihi dan juga takut kepada kita, berarti bahwa kita menjadi pengajar yang sukses.

E. Fungsi kelebihan yang tidak seimbang:

  1. Jangan terlalu mengasihi.
    1. Terhadap anak yang baru, jangan cepat-cepat menyatakan kasih.
    2. Terhadap anak yang sudah diperingatkan jangan terlalu kasih.
    3. Terhadap anak yang perbuatannya disengaja dan melampui batas sehingga mempengaruhi anak.
    4. Terhadap anak yang sikapnya merusak, menghujat kebenaran.
    5. Terhadap anak yang mencobai pengajar.

  2. Akibat terlalu mengasihi.
    1. Anak mengira mempunyai kebaikan sehingga layak untuk dikasihi. Hal ini menyebabkan ia sangat memperhatikan kebaikannya, menjadi sombong dan tidak mengetahui kesalahannya.
    2. Anak menganggap guru mempunyai maksud apa-apa yang lain.
    3. anak akan mengira bahwa kebenaran adalah terlalu biasa, kemudian di dalam hati timbul keragu-raguan.
    4. Anak mengira guru takut kepadanya.

  3. Jangan Terlalu keras.
    1. Terhadap anak yang bersalah dengan tidak sengaja.
    2. Terhadap anak yang merasa rendah diri.
    3. Terhadap anak yang belum mengerti kesalahannya dan tidak sering bersalah.

  4. Akibat terlalu keras.
    1. Anak mengira semua perbuatannya salah, tidak berpengharapan tidak percaya pada diri sendiri.
    2. Anak menjadi bosan ke Sekolah Minggu, bosan juga akan Firman Tuhan.
    3. Anak itu menjadi terlalu diam, pasif dan penakut.
    4. Anak-anak akam menjadi nakal, bahkan semakin nakal.

Komentar