Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Pasal XI-Cara Memberi Pertanyaan


Cara memberi pertanyaan adalah cara pengajar yang tidak boleh dilalaikan. Cara memberi pertanyaan adalah untuk membangun pemikiran dan reaksi anak- anak. Untuk menguji apakah anak-anak mengerti akan pelajaran yang telah diajarkan dan faedah dari pelajaran tersebut. Juga untuk mengetahui gagal dan tidaknya diri si pengajar sendiri. Dengan memberi pertanyaan bukan hanya satu alat atau senjata dalam pengajaran, melainkan harus diberikan secara tepat. Dalam pengajaran Kristus, Tuhan ternyata adalah seorang ahli penanya. Dari pertanyaan-pertanyaan dalam pengajaran Yesus yang mempunyai nilai pembangunan yang tinggi. Jumlah pertanyaan Yesus banyak sekali. Sejak dari masa mudanya Yesus berada di Bait Allah, Ia telah memakai cara ini untuk menyelidiki, membangun, dan mengajar kebenaran. Di dalam catatan pekerjaannya yang singkat, pertanyaan-pertanyaan yang telah diajukan lebih dari 100 kali. Yesus setiap kali mengeluarkan pertanyaan, dan meliputi satu kebenaran. Hal ini untuk menyediakan pikiran dan hati yang baik dari manusia untuk menerima kebenaran dan pengajaran yang penting.

  1. Hasil dari memberi pertanyaan:

    1. Memusatkan pikiran. Pertanyaan yang bersifat menarik dapat dipakai untuk membuat pikiran murid yang tidak terpusat akan dapat terpusat kembali.
    2. Membangun pikiran. Pertanyaan yang menarik adalah seumpama umpan untuk menarik perhatian murid dan mudah pula untuk menghubungkan pikiran anak dengan pikiran si pengajar.
    3. Memimpin pikiran. Pertanyaan-pertanyaan yang mempunyai urutan dan hubungan satu dengan yang lain, dapat membawa pikiran murid pada jalan yang sebenarnya.
    4. Mengemukakan pikiran:
      1. Memberikan kesempatan pada anak untuk mendapat bagian dalam ceritera itu.
      2. Dapat mengetahui sampai di mana murid dapat menerima ceritera itu.
      3. Supaya si pengajar mengetahui berhasil atau tidaknya pelajaran itu.
  2. Macam-macam pertanyaan:
    1. Pertanyaan yang dapat menimbulkan kehausan. Pertanyaan ini untuk menyediakan hati anak-anak supaya rindu akan mengetahui jawabannya. Misalnya Markus 4:30 : "Bagaimanakah kerajaan surga dapat diibaratkan atau diumpamakan. Apa yang dapat diterangkan dalam hal ini?" Pertanyaan Yesus ini menyebabkan hati pendengarnya haus untuk mengetahui. Yohanes 6:5 "Dari manakah dapat kita membeli roti, supaya orang banyak dapat makan?" Yesus mengeluarkan pertanyaan ini bukan sebab Dia tidak mengetahui, tetapi supaya mereka mengetahui keadaannya.
    2. Pertanyaan yang bersifat menentang. Si pemberi pertanyaan harus mempunyai pengertian yang mutlak, dan keputusan yang mutalak tentang hal itu. Juga harus memunyai wibawa yang tidak boleh ditentang, sehingga orang yang mendengar mau tidak mau harus menurut. Yohanes 8:46 "Pernahkah orang memetik buah anggur dari pokok onak?" Matius 16:26 " Apakah untungnya kepada seseorang, jikalau ia beroleh segenap dunia, tetapi jiwanya binasa? Atau apakah yang patut diberi orang akan menebus jiwanya?
    3. Pertanyaan yang bersifat memutuskan sendiri. Supaya yang mendengar dapat mengadakan putusannya sendiri terhadap kebenaran. Dengan demikian meneguhkan pengetahuan dan imannya.
      • Matius 19:17 : Pertanyaan orang kaya.
      • Matius 17:25 : Dari hal membayar dirham untuk Bait Allah.
      • Matius 11:26 : memberi kebenaran dahulu baru bertanya.
    4. Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Matius 21:25; 22:17; 41-46; Yohanes 8:5-7 Dari ke empat hal tersebut bisa diketahui motif orang yang bertanya.
      1. Menurut kebenarankah?
      2. Membanggakan dirikah?
      3. Meminjam senjata untuk membunuh orangkah?
      4. Mempunyai motif yang tidak baik (mau mencobai).
  3. Pertanyaan yang tidak boleh dipakai
    1. Pertanyaan yang sudah dapat dimengerti.
    2. Pertanyaan yang sudah meliputi jawaban. Misalnya: Tuhan yang suci, apakah berdosa?
    3. Anak Allah Yesus Kristus apakah Allah? Pertanyaan yang jawabannya boleh ya dan tidak. Misalnya: Orang berdosa bolehkah masuk ke Surga?
    4. Apakah Yesus orang biasa? Pertanyaan yang perkataannya terlalu panjang. Pertanyaan yang meliputi beberapa jawaban. Misalnya:
    5. Waktu apa, mengapa, di mana Zakheus bertemu dengan Tuhan? Pertanyaan yang mengandung pertanyaan: Misalnya: Dapatkah kita mengetahui bahwa Yesus telah mengalahkan iblis?
    6. Pertanyaan yang terlalu luas. Misalnya: Apakah pekerjaan Yesus di dunia? Dalam 6 hari Allah menciptakan apa?
    7. Siapa penebus itu? Pertanyaan yang mempunyai pendangan yang salah. Misalnya: Mengapa iblis menyalibkan Yesus?
  4. Hal-hal yang harus diperhatikan waktu memberi pertanyaan:
    1. Tidak boleh mengulang-ulang pertanyaan yang sama.
    2. Jangan memanggil nama murid dulu baru memberi pertanyaan, sehingga yang lain tidak memperhatikan.
    3. Jangan membiarkan pertanyaan dijawab dua kali.
    4. Jangan bertanya menurut urutan murid tertentu.
  5. Keistimewaan dalam pertanyaan
    1. Seringkali dipakai kata: mengapa; dimana; kapan; apa; siapa?
    2. Perkataan dalam pertanyaan harus singkat.
    3. Jangan menghinan jawaban murid yang salah, sebaiknya harus menganjurkan supaya murid dapat memberi jawaban yang benar.
    4. Jangan memberi pertanyaan dari hal-hal yang belum diterangkan atau dari hal-hal yang murid-murid belum dapat dijawab.
    5. Jika dalam pelajaran ada pertanyaan yang belum diterangkan atau dari hal-hal yang murid-murid belum dapat menjawab, jangan tunggu jawaban melainkan teruskan berceritera. Lain kali kalau kita sudah tahu jawabannya haruslah dikatakan.
    6. Menghadapi pertanyaan murid-murid harus diperhatikan:
      1. Jangan meringankan pertanyaan anak-anak, melainkan dengan sikap yang mengindahkan dan memberi jawaban.
      2. Jangan sembarangan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak diketahui dengan jawabannya.
      3. Yang menjawab pertanyaan harus mempunyai pengetahuan yang jelas.

Adakalanya, dalam mengajar, pengajar dapat membacakan sedikit pembacaan Alkitab supaya mereka dapat dengar; menangkap susunan perkembangan ceritera, kemudian baru menguji perhatian penerimaan mereka, dengan cara memberi pertanyaan. Dapat pula menyuruh mereka membaca Alkitab sendiri, kemudian memberi pertanyaan kepada mereka. (Cara ini boleh dilakukan di kelas remaja.)

Komentar