Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Panggung Boneka dalam Sekolah Minggu


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Mengapa melayani menggunakan panggung boneka? Keith Loy mengusulkan tim panggung boneka kepada kelompok remajanya. Reaksi pertama mereka cenderung negatif dan ide tersebut dianggap buruk! Walaupun demikian, Keith berhasil meyakinkan organisasi wanita di gereja mereka agar membeli lima boneka panggung untuk kelompok remaja. Setelah melewati tes, tujuh anak kelas besar mulai berlatih untuk pementasan boneka panggung. Anak-anak sekolah minggu sangat senang ketika Keith menampilkan perlengkapan pentas yang berkualitas dan panggung yang bagus. Mereka melihat pementasan beberapa lagu dan cerita lucu oleh tim "panggung boneka" yang ditampilkan Keith. Jemaat dan remaja lainnya mulai bersemangat mendukung mereka. Kelompok kecil panggung boneka ini merekrut beberapa anggota remaja lainnya untuk bergabung dengan mereka. Kemudian, semua kelompok remaja ikut terlibat dalam pengaturan musik, panggung, dan boneka. Beberapa anggota tim mulai menciptakan naskah lucu panggung boneka untuk anak-anak, remaja, dan pemuda. Menurut para remaja, panggung boneka mengubah kelompok remaja mereka dari kelompok-kelompok individu menjadi satu tim. Kelebihan pertunjukan boneka adalah kegiatan tersebut dapat menjadi alat untuk memuridkan remaja yang tertarik mementaskan dan mengembangkan pelayanan dalam gereja dan komunitas mereka.

Siapa yang menjadi pemain dalam panggung boneka ini? Panggung boneka tidak seperti drama maupun koor, panggung boneka memakai remaja yang pemalu, tidak pandai berbicara, dan tidak pandai memainkan alat musik. Mereka dapat menemukan cara yang efektif dalam pelayanan sekaligus mengembangkan seni pementasan mereka. Tentu saja, remaja yang aktif juga bisa menikmati kegembiraan tersendiri saat melayani lewat panggung boneka.

Panggung boneka berfokus pada tiga ranah pelayanan jika dikemas dengan baik dan efektif, yaitu kelompok, gereja, dan komunitas.

1. Pelayanan Dalam Kelompok

Panggung boneka terdiri dari kelompok kecil. Tim panggung boneka yang berlatih secara rutin dapat menjadi sebagai wadah untuk saling membagikan pokok doa dan masalah pribadi agar mereka dapat belajar untuk lebih memerhatikan orang lain. Anak-anak mendapatkan rasa percaya diri, belajar menjangkau orang baru serta bertumbuh dalam pengertian akan diri mereka dan Allah.

2. Pelayanan Dalam Gereja

Panggung boneka merupakan alat yang efektif dalam melayani, mengajar dan menghibur semua usia. Anda perlu memilih naskah cerita, dan lagu yang sesuai dengan penonton yang Anda jangkau. Gunakanlah panggung boneka dalam kelas sekolah minggu, acara anak-anak sampai pesta pemuda, persekutuan kaum remaja, persekutuan setelah ibadah gereja, dan kegiatan lainnya.

3. Pelayanan Dalam Komunitas

Panggung boneka yang aktif biasanya mendapatkan lampu hijau untuk melayani di beberapa tempat yang biasanya tidak terbuka untuk jenis pelayanan lain. Pertunjukan panggung boneka biasanya diterima di sekolah negeri, organisasi masyarakat, dan tempat-tempat yang sukar ditembus oleh para penginjil atau kelompok drama Kristen.

Panggung boneka memiliki filsafat dalam pertunjukannya, yaitu adanya karakter khayal yang ajaib mengajak penonton dalam perjalanan ajaib ke dunia imajinasi. Kegembiraan adalah falsafah dasar mereka dan "membesar-besarkan" adalah alat dasar mereka. Namun untuk mencapai itu semua ada beberapa prinsip dasar, yaitu:

a. Boneka adalah karakter-karakter fantasi, tidak memunyai hati atau jiwa. Jadi, boneka hanya berfungsi memerankan seorang tokoh, boneka tersebut tidak seharusnya "menerima Yesus ke dalam hatinya" karena boneka tidak punya hati! Boneka juga tidak dapat "berdoa untuk meminta keselamatan" maupun "bertobat".

b. Panggung boneka tidak membenarkan sikap-sikap yang buruk, seperti menggunakan nama-nama panggilan yang menyakiti, pemukulan, atau penggunaan bahasa yang kotor.

c. Panggung boneka tidak menyalahgunakan humor. Humor memang perlu dalam panggung boneka, tapi jika terlalu berlebihan maka hilanglah efektivitas dari pelayanan.

Lalu bagaimana caranya menghidupkan karakter boneka dalam panggung? Hal ini bukanlah sesuatu yang mudah. Dalang boneka harus merelakan waktu untuk terus berlatih teknik dengan benar dan memerhatikan hal-hal detail hingga dapat memerankan sebuah karakter menggunakan boneka. Teknik-teknik yang dipakai dalam pertunjukan boneka adalah sebagai berikut.

1. Menjadi Pusat Perhatian

Gerakan dan posisi boneka berperan penting dalam kesuksesan suatu karakter. Ada beberapa teknik-teknik dasar manipulasi boneka yang harus dilatih para dalang boneka, antara lain:

a. Teknik masuk dan keluar panggung.

Saat Anda menginginkan boneka Anda masuk dan tampil di panggung, Anda perlu menghadapkan boneka ke panggung, dan dari samping kepala Anda "jalankanlah" boneka Anda menaiki empat atau lima tangga imajinasi menuju panggung. Dari sudut pandang penonton, boneka menaiki tangga menuju panggung dan masuk ke dalam panggung. Untuk keluar dari panggung, balikkan saja prosedurnya dengan mengarahkan punggung boneka ke panggung, menuruni tangga dengan gerak yang sama dan menghilang dari pandangan penonton.

b. Penempatan.

Tinggi boneka yang terlihat yang tepat adalah sebatas pusar -- jika boneka tersebut memiliki pusar, maka posisinya akan sejajar dengan bagian teratas panggung. Selain itu, mainkanlah boneka 20 cm di belakang panggung agar tangan dan dalang boneka bisa bergerak bebas. Tangan Anda juga menjulur dalam posisi lurus, karena jika tangan dalam posisi tertekuk tinggi boneka akan berubah-ubah dan tangan akan cepat lelah.

c. Keselarasan gerak bibir.

Boneka tangan membutuhkan manipulasi yang tepat agar gerakan mulut terkesan nyata. Biasanya mulut boneka dibuka setiap kali mengucapkan satu suku kata, dan ditutup di antara suku-suku kata yang diucapkan atau ketika boneka sedang tidak berbicara. Orang yang belum berpengalaman akan membuka dan menutup mulut boneka dengan cara menggerakkan bagian atas kepala boneka. Hal ini membuat boneka tersebut terlihat seperti mendongakkan kepala setiap kali mengucapkan sesuatu. Dengan latihan, dalang boneka dapat belajar untuk menggerakkan bagian bawah kepala boneka. Dengan demikian boneka selalu memiliki kontak mata dengan penonton. Kesalahan lain yang cukup umum adalah membuka mulut boneka selebar mungkin. Jika boneka itu sedang berbisik-bisik, bukalah mulutnya kecil saja. Jika sedang berbicara normal, bukalah sepertiga hingga setengah saja. Jika sedang menguap, berteriak, atau menyanyi dengan keras, baru mulutnya terbuka penuh.

2. Membuat Gerakan-Gerakan yang Tepat

Gerakan boneka yang ditampilkan harus benar. Untuk itu, dalang boneka harus bisa menempatkan boneka pada posisi berdiri dengan tinggi yang benar di panggung, menjaga kontak mata antara dengan penonton, dan menggerakkan mulut boneka sesuai dengan bunyi pemutar kaset.

3. Kostum Boneka

Kostum memunyai peranan yang penting dalam pementasan. Kostum dapat dengan ajaib membuat boneka menjadi hidup. Ada beberapa saran untuk membantu pertunjukan boneka Anda menjadi lebih menarik, yaitu dengan memakaikan topi pada boneka panggung Anda. Topi ini dapat berupa topi koboi, peci, serban, topi wanita, topi china, topi bulu Indian, topi polisi, topi pemadam kebakaran, topi pekerja bangunan, topi pemain tenis, semua topi dapat menunjukkan karakter dan suasana tertentu. Pakaian batita juga cocok untuk digunakan boneka panggung. Ketika Anda menggunakan kostum atau perlengkapan lainnya, pastikan mereka menempel dengan boneka, jangan sampai terlepas di tengah-tengah pertunjukan. Boneka dapat juga diberi selendang atau hiasan bando.

Membentuk Karakter Lewat Suara

Boneka adalah tokoh buatan sama dengan kartun dan suara yang dihasilkan boneka harus mencerminkan siapa mereka. Suara boneka harus bisa memikat penonton dan dapat dimengerti. Suara boneka dapat dikategorikan sebagai berikut.

1. Bisikan: Gunakan suara Anda sendiri, tambahkanlah bisikan yang cukup keras ketika Anda berbicara.

2. Nasal (suara hidung): Suara bunyi "n" dengan berlebihan di belakang semua kata dengan cara menghembuskan udara lewat hidung ketika Anda berbicara.

3. Suara Goofy: Nada suara yang rendah, tempo lambat seakan-akan berpikir "Duh, mana tahu."

4. Suara Sarau: Gunakan "r" di belakang semua kata Anda untuk menyatakan karakter yang keras atau ketika Anda membuat suara binatang seperti geraman anjing atau raungan singa.

5. Falseto: Berbicara dengan oktaf yang melebihi nada suara Anda.

6. Melodi: Nyanyikanlah sebagian besar kata, poleslah dengan vibrasi yang kaya. Berikanlah kata-kata Anda nuansa opera. Anda bisa membuat beberapa karakter dengan bereksperimen untuk menggabungkan ke enam suara dasar di atas dengan elemen-elemen suara lain, seperti nada (tinggi rendah suara), volume (lembut atau kerasnya suara), tempo (cepat atau lambat dalam berbicara), diksi (pelafalan kata-kata), dan pemilihan kata. (t/Uly)

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Kategori Bahan PEPAK: Pelayanan Sekolah Minggu

Sumber
Judul Artikel: 
(1): Why Puppet Ministry dan (2): Bringing Puppets to Life
Judul Buku: 
Puppets: Ministry Magic
Pengarang: 
Dale and Liz VonSeggen
Halaman: 
8-11 dan 31-36
Penerbit: 
Zondervan Bible Publisher
Kota: 
USA
Tahun: 
1990

Komentar