Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Mengevaluasi Kurikulum


Jenis Bahan PEPAK: Tips

Untuk melihat kurikulum dengan jelas, ada tiga faktor yang harus diperhatikan: mengapa, apa, dan siapa. Mengapa Mengevaluasi Kurikulum? Gereja-gereja pada umumnya memiliki tiga alasan penting untuk mengevaluasi kurikulum sekolah minggu. Ketidaknyamanan di antara guru. Masalah ini -- yang ditunjukkan oleh beberapa faktor, misalnya moral yang buruk, pengunduran diri, dan kurikulum alternatif yang digunakan -- merupakan alasan yang paling sering muncul. Tujuan pendidikan yang baru. Dengan tujuan baru,

Untuk melihat kurikulum dengan jelas, ada tiga faktor yang harus diperhatikan: mengapa, apa, dan siapa.

Mengapa Mengevaluasi Kurikulum?

Gereja-gereja pada umumnya memiliki tiga alasan penting untuk mengevaluasi kurikulum sekolah minggu.

  1. Ketidaknyamanan di antara guru. Masalah ini -- yang ditunjukkan oleh beberapa faktor, misalnya moral yang buruk, pengunduran diri, dan kurikulum alternatif yang digunakan -- merupakan alasan yang paling sering muncul.

  2. Tujuan pendidikan yang baru. Dengan tujuan baru, gereja sering kali memikirkan ulang bahan-bahan pengajarannya. Misalnya, mereka mungkin ingin menerapkan program-program yang lebih menarik bagi orang-orang non-Kristen, atau mereka ingin pandangan yang lebih konservatif tentang Alkitab.

  3. Keinginan untuk mendapatkan materi yang lebih baik. Ini mungkin adalah alasan yang paling diabaikan karena alasan ini tidak muncul dari asumsi bahwa perubahan memang diperlukan. Namun, gereja ingin memastikan tersedianya sumber yang terbaik bagi para guru, jadi mengevaluasi kualitas bahan-bahan yang digunakan setiap tiga sampai lima tahun sekali adalah ide yang baik.

Apa Bias Kita?

Faktor penting kedua untuk mengadakan evaluasi kurikulum yang jelas adalah pemahaman tentang bias pendidikan staf pengajar. Bila tidak, gereja mungkin malah mendapat bahan pilihan baru yang tidak tepat untuk para guru.

  1. Penerapan dalam Hidup Sehari- Hari

  2. Para guru sangat memerhatikan hal ini. Pertanyaan, "Lalu apa?" terus muncul. Bahan-bahan harus membantu anak-anak mempraktikkan iman mereka.

  3. Metodologi Pendidikan

  4. Beberapa guru yang memiliki bias ini merasa bahwa membuat murid-murid bosan adalah dosa, oleh sebab itu pelajaran harus fokus pada partisipasi murid, dan peramalan adalah sesuatu yang tidak diperbolehkan. Ruang kelas bisa meluas ke masyarakat, kadang dengan mengorbankan isi Alkitab dan aplikasi langsung dalam kehidupan.

  5. Penguasaan Isi Alkitab

  6. Para pendidik Kristen mengutuk tidak adanya pengetahuan yang alkitabiah. Mereka percaya bahwa anak-anak seharusnya tahu kebenaran, dan kebenaran akan membebaskan mereka untuk menerapkan ajaran alkitab.

Dengan demikian jelaslah bahwa bahan-bahan kurikulum seharusnya berlaku adil terhadap ketiga bias ini. Namun bila bidang pengajaran para guru nampaknya terlalu mudah, bahan- bahan tersebut sepertinya tidak akan mendapat dukungan sepenuhnya dari para guru.

Siapa yang Terlibat?

Fokus ketiga dalam suatu evaluasi kurikulum adalah rasa memiliki terhadap proses dan keputusan. Hal ini membawa kita pada pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

  1. Siapa yang Mengevaluasi?

  2. Penting untuk membuat kepemilikan yang luas dalam suatu kurikulum pembelajaran, dan konsep kuncinya adalah keseimbangan.

    Contoh, di divisi anak, ada tiga kelompok yang harus berpartisipasi, yaitu guru, orang tua, dan ahli pendidikan Kristen. Setiap kelompok seharusnya memiliki suara yang sama dalam proses, termasuk dalam pemilihan alat evaluasi dan kurikulum yang ditinjau ulang, dan penerapan evaluasi. Murid yang lebih tua bisa bergabung dalam proses itu untuk kelas yang lebih tinggi.

  3. Siapa yang Memutuskan?

  4. Ketika evaluasi membutuhkan rekomendasi- rekomendasi, seseorang perlu membuat keputusan. Kunci keberhasilannya adalah siapa pun yang memutuskan harus terlebih dahulu dihormati oleh jemaat.

    Biasanya majelis gereja atau komisi yang membuat keputusan ini, tetapi dalam kasus-kasus tertentu, anggota staf dapat mengambil keputusan. Di kasus yang lain, pengambil keputusan seharusnya adalah orang yang memiliki pengetahuan luas dalam pendidikan Kristen tetapi bisa pula orang-orang yang melakukan evaluasi ini. Hal ini mencegah para pengevaluasi menjadi terlalu mudah membuat keputusan, dan evaluasi ini memberi otoritas terhadap keputusan tersebut.

  5. Bagaimana Jika Gagal?

  6. Karena para guru mungkin merasa kurikulumnya tidak efektif, para pemimpin perlu mengumumkan bagaimana perubahan itu akan dievaluasi -- sebelum perubahan-perubahan itu dilaksanakan. Akan bijaksana untuk menggunakan kurikulum selama setahun untuk dapat melakukan cukup evaluasi, namun orang-orang perlu tahu bagaimana dan kapan efek dari perubahan itu akan dikritik.

Ketika kita terus mengingat poin-poin ini, kunjungan dari perwakilan kurikulum akan memberikan informasi dan dorongan yang dapat membentuk pelayanan kita tanpa memaksakan penggunaan pilihan kurikulum yang tergesa-gesa atau tidak tepat. (t/Ratri)

*) Referensi di publikasi e-BinaAnak yang membahas tentang evaluasi kurikulum:

==> http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/070/

-- Bergabunglah dalam: http://fb.sabda.org/binaanak --

Kategori Bahan PEPAK: Kurikulum - Pedoman Mengajar

Sumber
Judul Artikel: 
Choosing Curriculum
Judul Buku: 
Leadership Handbook or Outreach and Care
Pengarang: 
Mark H. Sebter III
Halaman: 
392 -- 393
Penerbit: 
Bakers Book
Kota: 
Michigan
Tahun: 
1994

Komentar