Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Mengembangkan Gaya Pengasuhan yang Efektif


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Gaya pengasuhan seperti apa yang dapat membentuk anak-anak menjadi dewasa dan menjadi seperti Yesus dalam segala hal? Penelitian terhadap anak-anak yang berhasil dan cakap melakukan berbagai keterampilan hidup (serta memiliki iman yang hidup) cenderung memiliki orang tua yang memiliki beberapa sifat di bawah ini:

1. Memupuk Kehangatan

Orang tua anak-anak yang kompeten cenderung menciptakan suasana keluarga yang hangat. Bagaimana Anda mendefinisikan kehangatan? Bagaimana Anda mengungkapkan cinta, perhatian, dan penegasan akan betapa berartinya seorang anak? Mereka menyediakan waktu untuk berbicara dari hati ke hati dengan anak sehingga anak memahami betapa dirinya sangat berarti, bukan hanya di mata orang tuanya, tetapi juga di mata Allah.

Ada seorang ibu yang menyediakan waktu untuk membicarakan pemikiran-pemikiran berikut dengan anaknya selama berbulan-bulan, sampai anaknya menyadari betapa pentingnya arti perkataan-perkataan tersebut bagi hidupnya. Ibu ini membagikan pemikirannya tersebut, juga untuk membantu setiap orang agar menyadari bahwa mereka berharga.

"Pemahaman kita akan siapa Allah dan kerinduan-Nya untuk memberkati kita akan diperkaya saat kita menyadari bahwa Dia selalu rindu melakukan yang baik bagi kita. Dalam firman Tuhan dikatakan, 'Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.' (Mazmur 23:6); 'Aku akan mengikat perjanjian kekal dengan mereka, bahwa Aku tidak akan membelakangi mereka, melainkan akan berbuat baik kepada mereka; Aku akan menaruh takut kepada-Ku ke dalam hati mereka, supaya mereka jangan menjauh dari pada-Ku. Aku akan bergirang karena mereka untuk berbuat baik kepada mereka dan Aku akan membuat mereka tumbuh di negeri ini dengan kesetiaan, dengan segenap hati-Ku dan dengan segenap jiwa-Ku.'" (Yeremia 32:40,41)

Beberapa tahun lalu, saya mendengar sebuah paduan suara menyanyikan lagu pujian yang diambil dari Zefanya 3:17. Saya belum pernah mendengar lagu itu sebelumnya. Kata-katanya dicetak dalam buletin gereja kami dan saya telah membacanya beberapa kali sejak saya mendapatkannya. Kata-kata itu menyemangati, memberi inspirasi, dan mengingatkan saya akan makna diri saya di hadapan Allah.

"Dan Allah Bapa akan menari karena engkau dalam sukacita! Dia akan bersuka atas orang yang dikasihi-Nya. Apakah itu paduan suara yang menaikkan pujian kepada Allah? Tidak, Tuhan Allah sendirilah yang bersukacita karenamu dalam pujian! Dan, Dia akan bergembira karenamu dalam pujian. Jiwaku akan bermegah di dalam Allah, karena Dia telah menjawab semua seruanku. Kesetiaan-Nya padaku sepasti mentari di hari yang baru. Bangunlah hai jiwaku dan nyanyilah! Biarlah rohku bersuka di dalam Allah! Bernyanyilah, oh putri Sion, dengan segenap hatimu! Singkirkan ketakutan karena kau telah dipulihkan! Kenakan jubah pujian seperti pada hari perayaan. Bergabunglah bersama Bapa dalam lagu gembira yang mulia."

2. Menjelaskan Peraturan-Peraturan

Seorang anak yang kompeten biasanya berasal dari keluarga yang memiliki peraturan khusus mengenai hal-hal penting. Anak harus dapat memahami peraturan-peraturan yang ada, mengetahui tujuannya, juga konsekuensi jika melanggarnya. Orang tua memberi anak kesempatan untuk berlatih dengan mendiskusikan pelanggaran yang terjadi dan juga tentang apa yang orang tua harapkan dari anak-anak pada masa depan. Simak apa yang dikatakan Jack dan Judith Balswick tentang pola pengasuhan ini.

"Ada beberapa pola pengasuhan yang mendorong pertumbuhan dan memberdayakan anak. Namun, ada pula beberapa pola lain yang menghambat atau menghalangi pertumbuhan, baik dengan memupuk ketergantungan atau menuntut sikap kemandirian yang terlalu dini."

Dengan memahami berbagai pola pengasuhan, orang tua akan tahu perbedaan antara pola pengasuhan yang mengizinkan anak melakukan segala sesuatu (permisif) dan yang membatasi (restriktif). Orang tua yang menyetujui pola pengasuhan permisif, tanpa menolak penerapan pendisiplinan terhadap anak, menekankan bahwa kebutuhan terbesar anak ialah kehangatan dan rasa aman. Mereka yang berpegang pada pola pengasuhan restriktif, tanpa mengabaikan kasih orang tua, menekankan bahwa kebutuhan utama anak ialah disiplin, tanggung jawab, dan penguasaan diri.

Dalam ratusan penelitian yang dilakukan terhadap pola pengasuhan selama tiga puluh tahun terakhir, ada dua faktor yang muncul sebagai unsur paling penting dalam pengasuhan yang baik, yakni kendali dan dukungan orang tua. Istilah kendali orang tua berarti Anda, selaku orang tua, secara aktif memberikan petunjuk, menentukan batasan, mengarahkan, dan juga mengarahkan kembali tingkah laku anak ke arah yang diharapkan. Istilah dukungan orang tua mengacu pada peneguhan, dorongan semangat, dan dukungan yang Anda berikan agar anak-anak merasa yakin bahwa mereka diterima dan diperhatikan.

Sebagian orang tua mengajarkan tingkah laku yang benar dengan sangat baik, tetapi tidak begitu baik dalam menerapkannya sendiri. Kenyataannya, mereka berkata kepada anak-anak mereka, "Lakukan apa yang kukatakan, bukan apa yang kulakukan." Anak-anak jelas akan merasa muak kalau orang tua mereka sendiri gagal menjalankan standar yang mereka 'khotbahkan'. Anak-anak yang melihat ketidaksesuaian ini dapat bersikap tidak hormat atau memberontak ketika orang tua menyampaikan tuntutan mereka.

Sebaliknya, orang tua yang memberi teladan hidup yang benar, tetapi tak pernah memberi penjelasan mengapa mereka memilih nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang mereka pegang, juga kurang baik. Orang tua perlu membimbing, memberikan sarana, dan juga dorongan pada anak-anak dengan menyediakan waktu untuk menjelaskan alasan suatu tindakan yang diharapkan dari mereka. Yang kita cari di sini ialah keseimbangan, yang mungkin paling baik digambarkan sebagai peran pendisiplinan.

Kadang kala, cara anak-anak kita memberi tanggapan dapat menjadi cerminan tentang apa yang kita ajarkan kepada mereka. Kita takkan pernah tahu sampai di mana tindakan kita dapat memengaruhi mereka.

Pada kebaktian Minggu, seorang pendeta menceritakan suatu kejadian saat ia memundurkan mobilnya keluar dari garasi dan mendengar suara benda patah. Ia berhenti dan mendapati pancing kesayangannya patah menjadi dua.

Ia berjalan masuk ke dalam rumah dan bertanya, "Siapa yang memakai pancing Ayah?"

"Saya, Yah," kata anak laki-lakinya yang berusia 5 tahun.

"Lihatlah sekarang," katanya sambil mengangkat kedua patahan pancing itu.

"Saya memakainya untuk bermain lalu menyandarkannya di pintu garasi. Saya lupa mengembalikannya."

Sang ayah sadar apa yang terjadi. Ia tidak senang dengan kondisi itu, tetapi ia tidak ingin menyesali nasi yang telah menjadi bubur, yakni patahnya pancing itu.

"Terima kasih, Nak. Kau telah mengaku pada Ayah," katanya dengan tenang sambil kembali ke mobilnya.

Lalu, pendeta itu berkata pada jemaatnya, "Saya tidak memikirkan hal itu lagi, tetapi dua hari kemudian, istri saya mengatakan bahwa ketika ia dan anak laki-laki kami pergi ke toko, anak saya berkata, 'Bu, aku harus membelikan Ayah alat pancing baru. Aku telah mematahkannya. Ini uangku.' Ia menyerahkan uang tabungannya sebesar 2 dolar kepada ibunya."

"Kau baik sekali mau mengganti alat pancing Ayah," kata ibunya. "Namun, kau tak perlu melakukannya."

"Aku ingin menggantinya, Bu," katanya. "Apalagi aku telah memahami satu hal. Aku sadar Ayah menyayangiku lebih dari ia menyayangi alat pancingnya." Orang tua seperti apakah Anda?

3. Ciptakan Suatu Konsistensi

Orang tua dari anak-anak yang kompeten punya tingkat daya tahan emosional yang sehat dan tak mudah terjerat. Konsistensi dari pihak orang tua merupakan faktor yang menentukan anak dapat mengharapkan orang tua menjalankan peraturan yang sama dan melaksanakan harapan mereka terhadap anak. Pola ini akan memberi kemantapan kepada anak.

4. Membuat Keputusan Secara Demokratis

Saya tidak tahu bagaimana perasaan Anda tentang proses pembuatan keputusan, tetapi telah ditemukan suatu penemuan yang konsisten pada penelitian tentang pola pengasuhan yang berhasil. Di situ terlihat bahwa pembuatan keputusan yang demokratis sangatlah efektif. Anak-anak diberi kesempatan untuk ikut memberikan pendapat dan didorong untuk memandang sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda. Hasilnya: anak-anak mampu berpikir sendiri.

Orang tua yang menahan diri untuk tidak sedikit-sedikit membantu anak-anak akan mendorong anak-anaknya menjadi mandiri. Caranya, anak-anak diberi tanggung jawab dalam hal pekerjaan rumah tangga sesuai usia mereka.

5. Mengajarkan Keterampilan-Keterampilan Sosial

Orang tua dari anak-anak yang kompeten memberi penekanan kuat dalam mengajarkan keterampilan-keterampilan sosial yang tepat kepada anak-anaknya. Mereka cukup tegas dalam mengajar dan membimbing anak-anak sejak dini. Rasa hormat, sopan santun, dan penguasaan diri terhadap amarah merupakan hal-hal yang harus diajarkan kepada anak. Interaksi antarsaudara tidak boleh melibatkan kata-kata maupun tindakan kasar satu sama lain.

6. Mendorong Perbedaan Pendapat

Unsur terakhir yang satu ini dijabarkan oleh Dr. Elizabeth Ellis.

"Akhirnya, keluarga yang terdiri dari orang tua dan anak-anak yang sehat merupakan keluarga yang mengembangkan perbedaan pendapat secara sehat. Apabila orang tua menekankan kemandirian, usaha memenuhi kebutuhan sendiri, dan pembuatan keputusan yang demokratis, anak-anak dapat bersikap sesuai kehendak mereka sendiri. Mungkin mereka akan sedikit memberontak di luar rumah atau menentang atasan mereka. Mungkin ada kalanya guru-guru mereka tidak senang akan hal ini karena acap kali mereka lebih pandai berimajinasi dan menyatakan gagasan-gagasan baru. Mereka tidak terlalu dipengaruhi oleh tekanan kelompok, tetapi lebih didorong oleh nilai-nilai dan prinsip-prinsip dalam diri mereka sendiri."

Diambil dan disunting dari:

Judul buku : Raising Kids to Love Jesus 2
Penulis : H. Norman Wright dan Gary J. Oliver
Penerjemah : Sri Indahwati dan M.B. Sri Sulistyowati
Penerbit : Gloria Graffa, Yogyakarta 2003
Halaman : 126 -- 134

Kategori Bahan PEPAK: Pelayanan Anak Umum

Komentar