Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Ketika Guru Kehilangan Panggilan, Visi, Dan Motivasinya


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Apakah hal-hal berikut sedang Anda rasakan? Tidak ada lagi sukacita melayani sebagai seorang guru. Melayani dengan perasaan beban sangat berat sehingga membuat frustrasi. Melayani tanpa gairah, banyak masalah dengan sesama guru, rasanya ingin berhenti menjadi guru sekolah minggu, seandainya ada yang mau menggantikan, pelayanan anak hanya melelahkan saja tidak ada hasilya, atau terpaksa masih menjadi guru sekolah minggu. Kreatif? Alat peraga? Kegiatan anak? Ah, pusing-pusing amat dengan semuanya itu.

Apakah hal-hal berikut sedang Anda rasakan? Tidak ada lagi sukacita melayani sebagai seorang guru. Melayani dengan perasaan beban sangat berat sehingga membuat frustrasi. Melayani tanpa gairah, banyak masalah dengan sesama guru, rasanya ingin berhenti menjadi guru sekolah minggu, seandainya ada yang mau menggantikan, pelayanan anak hanya melelahkan saja tidak ada hasilya, atau terpaksa masih menjadi guru sekolah minggu. Kreatif? Alat peraga? Kegiatan anak? Ah, pusing-pusing amat dengan semuanya itu. Asal setiap minggu masih ada sekolah minggu sajalah. Ini saja sudah beratnya minta ampun. Sudahlah tidak usah muluk-muluk sebagai guru.

Jika seorang guru merasakan seperti salah satu contoh perasaan di atas, ia perlu bertanya. Apakah saya masih menghayati panggilan sebagai guru sekolah minggu? Apakah visi dan motivasi saya sebagai guru sekolah minggu? Mungkinkah saya telah kehilangan panggilan, visi, dan motivasi sebagai guru sekolah minggu?

Jika Seseorang Kehilangan Panggilan Sebagai Guru

Jika seorang guru kehilangan panggilannya, maka salah satu hal berikut ini mungkin dapat terjadi.

  • Ia tidak mau lagi menjadi guru karena kehilangan panggilan itu.
  • Ia mungkin masih melayani, namun hanya merasa ingin menjadi guru bantu, merasa mangajar itu bukan panggilannya, bukan tanggung jawabnya! Pelayanan kurang berkualitas!
  • Ia mungkin aktif melayani, namun tidak menyadari bahwa ia dipanggil sebagai guru. Ia merasa hanya sekedar sebagai aktivis sekolah minggu/komisi anak. Ketidaksadaran akan sebagai guru ini membuat ia menjadi aktivis yang banyak bermasalah karena tidak mengerti panggilan seorang guru. Yang jelas, ia bukan guru yang patut diteladani sikap hidupnya. Orang semacam ini sering menjadi pembuat masalah di antara para guru.

Jika Seseorang Kehilangan Visinya Sebagai Guru

Beberapa hal berikut bisa terjadi.

  • Ia melayani tanpa tujuan, sehingga biasanya kurang serius melayani anak-anak, kurang bersemangat, asal mengikuti program/kegiatan yang diadakan oleh sesama rekan guru.
  • Ia melayani tanpa tujuan dari Tuhan. Ia mengarahkan pelayanan anak pada tujuan/kepentingan pribadi (biasanya pada pemuliaan pribadinya, agar ia dihargai, dihormati, dipuji, atau dianggap hebat).
  • Ia tidak efektif melayani karena asal mengikuti kebiasaan yang sudah ada, tidak ada sasaran yang jelas. Program kerjanya hanya mengikuti kebiasaan yang sudah ada, tidak ada sasaran yang jelas. Program kerjanya hanya mengikuti kebiasaan yang sudah ada, tidak efektif, dan membosankan. Ia berpikir, yang sudah biasanya dilakukan sudah berjalan dengan baik, jadi mau apa lagi?

Sebaliknya orang yang visinya kuat dalam pelayanan anak akan menjadi guru yang aktif memikirkan tujuan. Ia biasanya adalah seorang yang bersemangat dalam pelayanan, disiplin, kreatif, dan setia melayani anak-anak.

Jika Seorang Guru Kehilangan Motivasi Pelayanannya

Beberapa hal berikut ini bisa terjadi:

  • Kehilangan semangat mengajar, mengajar tanpa gairah.
  • Rutinitas pelayanan anak (sekolah minggu) menjadi begitu membosankan baginya dan berbeban berat dalam pelayanan.
  • Suka mengeluh dan biasanya suka "kecewa" dan meninggalkan pelayanan.
  • Ia hampir pasti adalah guru yang mesti dilayani guru yang lain, dan menjadi objek yang dilayani oleh para pengurus karena ia selalu bermasalah.
  • Tidak dapat diharapkan partisipasi aktifnya, apalagi kreativitasnya.
  • Suka membolos datang mengajar atau suka meninggalkan tugasnya.
  • Suka datang terlambat dengan tanpa beban/tanpa rasa bersalah.

Jadi sangat berbahaya jika seorang guru kehilangan panggilan, visi, dan motivasinya. Apakah Anda masih sangat meyakini panggilan, visi, dan motivasi Anda sebagai guru?

Rumuskan Panggilan Anda Sebagai Guru

  • Kapan Anda merasakan panggilan itu? Dapatkan Anda menjelaskan/menceritakan?
  • Dari manakah panggilan Anda sehingga Anda bersedia menjadi guru sekolah minggu? Melalui apa dan atau siapa panggilan itu dinyatakan kepada Anda?
  • Berapa kali atau berapa lama Tuhan meneguhkan (mengulang) panggilan-Nya kepada Anda?
  • Bagaimana perasaan Anda saat ini ketika sibuk dengan berbagai pelayanan sekolah minggu? Adakah sukacita?
  • Rumuskan tugas panggilan Anda sebagai seorang guru:

Rumuskan Visi Anda Sebagai Seorang Guru

  • Apa tujuan Bapa menjadikan Anda seorang guru?
  • Apa tujuan besar Bapa sehingga perlu banyak guru sekolah minggu?
  • Apakah Anda mau ikut mewujudkan tujuan Tuhan tersebut, dan apa yang sudah Anda lakukan untuk mewujudkan tujuan-Nya?
  • Apa tujuan pribadi Anda bagi setiap anak di kelas Anda?
  • Rumuskan tujuan Anda menjadi guru sekolah minggu:
  • Rumuskan tujuan komisi/departemen anak/sekolah minggu di gereja Anda:

Rumuskan Motivasi Anda Sebagai Guru

  • Apa (atau siapa) yang saat ini terus menyemangati Anda sehingga hari ini masih menjadi guru sekolah minggu?
  • Apa yang paling membuat Anda gembira ketika melayani sekolah minggu? Apakah acara dan pertemuan dengan sesama guru dan anak yang membuat gembira, atau Anda gembira karena sudah sesuai dengan harapan Anda?
  • Motivasi rohani apakah yang sudah Anda miliki? Sebutkan dan jelaskan:

Semua guru yang melayani dengan baik, setia, dan aktif biasanya telah memiliki dan menyadari ketiga hal di atas.

Apakah Anda sudah meyakini panggilan itu dari Tuhan sendiri? Visi dan motivasi apa yang telah menjadi pegangan pelayanan Anda saat ini?

"Jangan hendaklah kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan". (Roma 12:11)

Kategori Bahan PEPAK: Guru - Pendidik

Sumber
Judul Buku: 
Mereformasi Sekolah Minggu: 8 Kiat Praktis Menjadikan Sekolah Minggu Berpusat pada Anak
Pengarang: 
Paulus Lie
Halaman: 
88 -- 92
Penerbit: 
PBMR Andi
Kota: 
Yogyakarta
Tahun: 
2003

Komentar