Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Keterampilan Untuk Mengampuni


Jenis Bahan PEPAK: Tips

Salah satu karakter yang penting dimiliki adalah karakter pengampun. Relasi kita dengan Tuhan berpijak pada pengampunan yang dianugerahkan-Nya lewat pengorbanan-Nya di kayu salib. Itu sebabnya, Tuhan Yesus pernah mengatakan dengan tegas, bila kita tidak mengampuni orang, Bapa di surga juga tidak akan mengampuni kesalahan kita.

Apakah karakter pengampun merupakan karakter yang tumbuh begitu saja, tanpa keterlibatan peran manusia sama sekali? Karakter pengampun adalah karakter yang ditumbuhkan oleh Roh Kudus, baik secara internal (melalui firman Allah) maupun secara eksternal (melalui manusia). Dengan kata lain, Tuhan memakai kita untuk saling menumbuhkan karakter pengampun. Berikut ini adalah cara untuk menumbuhkan dan memiliki karakter pengampun:

  1. Masa terbaik untuk mempelajari karakter pengampun adalah masa kecil. Pada masa pertumbuhan, jiwa masih lunak dan mudah dibentuk. Selain itu, apa pun yang dipelajari pada masa kecil, cenderung bertahan sampai dewasa. Jadi, orang yang paling berkesempatan mengajarkannya adalah orang tua. Karena orang tua adalah orang yang paling terlibat dalam diri anak, orang tua adalah orang yang paling berpengaruh besar dalam pertumbuhan karakter anak.

  2. Salah satu cara yang mungkin paling efektif bagi orang tua dalam mengajarkan sifat pengampun kepada anak adalah melalui contoh langsung yang berkaitan dengan si anak sendiri. Misalnya, saat anak melakukan kesalahan, daripada langsung menghukumnya, orang tua dapat menanyakan dengan teliti apa yang terjadi dan mengapa sampai terjadi. Setelah itu, orang tua dapat menanyakan perasaan si anak. Jika anak menyatakan penyesalannya, orang tua dapat mengatakan bahwa kesalahannya diampuni dan ia tidak akan dihukum. Hal ini tidak berarti bahwa setiap kali anak berbuat kesalahan, orang tua terus membebaskannya dari penghukuman. Ada kalanya kita tetap harus memberinya sanksi supaya ia dapat mengembangkan sifat bertanggung jawab.

    Sewaktu mengajarkan tentang karakter pengampun, kita pun mesti menghubungkannya dengan kemarahan dan dendam. Ketika disakiti, kita bereaksi marah, dan ada kecenderungan alamiah untuk membalas menyakiti. Kita dapat menjelaskan bahwa reaksi ini merupakan reaksi wajar dan manusiawi. Jadi, langkah pertama yang perlu disampaikan kepada anak adalah bahwa mengampuni merupakan sikap mengakui rasa sakit dan marah yang timbul.

  3. Menahan diri untuk tidak membalas, sebagai wujud ketaatan kita kepada perintah Tuhan. Tuhan telah mengambil alih hak untuk membalas karena Ia adalah satu-satunya Hakim yang Adil. Dengan kata lain, hanya Tuhan yang dapat membalas dengan tepat. Tuhan pun meminta kita untuk menyerahkan masalah pembalasan ini kepada-Nya sebab Ia adalah Pembela kita. Ia tidak akan tinggal diam dan pasti akan bertindak.

  4. Berdoalah bagi orang yang telah menyakiti Anda. Tuhan Yesus memerintahkan, "Berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" (Matius 5:45). Kita perlu menjelaskan kepada anak bahwa berdoa merupakan awal, sekaligus kekuatan, untuk mengampuni.

  5. Miliki hati yang penuh kasih. Firman Tuhan mengingatkan tentang kasih Allah yang tak terbatas, "Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar." (Matius 5:45)

Kita harus menekankan kepada anak untuk tidak menyoroti kelemahan orang, melainkan lebih memfokuskan pada kebaikannya, tidak cepat marah terhadap sikap orang, melainkan berusaha untuk mengerti mengapa ia bersikap seperti itu, serta memberi kesempatan kepada orang untuk belajar dari kesalahannya. Sikap seperti ini akan memudahkan kita untuk mengampuni orang. Sebaliknya, bila hati cepat marah dan tersinggung, kritis terhadap kelemahan orang, serta menuntut orang untuk bersikap seperti yang kita inginkan, kita pun akan mengalami kesukaran untuk mengampuni.

Diambil dan disunting dari:

Nama situs : TELAGA
Alamat URL : http://www.telaga.org/
Penulis : Pdt. Paul Gunadi
Tanggal akses : 25 November 2013

Kategori Bahan PEPAK: Guru - Pendidik

Komentar