Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Kesetiaan Seorang Hamba


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Dalam bukunya, "The Christian Mind", Harry Blamires menulis sesuatu yang menarik tentang kesetiaan. Menurutnya, kesetiaan adalah "suatu kebajikan yang palsu yang sering dimanfaatkan untuk menutup-nutupi kegiatan yang tidak bermoral". Selanjutnya, ia mengemukakan bahwa kesetiaan itu dapat dikatakan buruk, dalam arti bahwa jika sesuatu kegiatan dibela atas dasar semata-mata kesetiaan saja, maka pembelaan itu sekali-kali tidak memunyai dasar rasional. Dengan kata lain, kesetiaan seperti yang sering

Dalam bukunya, "The Christian Mind", Harry Blamires menulis sesuatu yang menarik tentang kesetiaan. Menurutnya, kesetiaan adalah "suatu kebajikan yang palsu yang sering dimanfaatkan untuk menutup-nutupi kegiatan yang tidak bermoral". Selanjutnya, ia mengemukakan bahwa kesetiaan itu dapat dikatakan buruk, dalam arti bahwa jika sesuatu kegiatan dibela atas dasar semata-mata kesetiaan saja, maka pembelaan itu sekali-kali tidak memunyai dasar rasional. Dengan kata lain, kesetiaan seperti yang sering kita jumpai, sekali-kali bukan suatu kebajikan Kristen.

Apabila orang-orang menuntut sesuatu atas dasar kesetiaan, maka jelas bahwa apa yang dituntut itu adalah bertentangan dengan prinsip-prinsip etika: setia kepada perusahaan meskipun tahu bahwa perusahaan itu melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan; setia kepada kawan supaya kawan jangan mendapat malu; setia kepada negara meskipun itu berarti terlibat dalam suatu manipulasi yang rendah dalam dunia internasional; setia kepada bangsa meskipun itu berarti menindas bangsa-bangsa lain dan bertentangan dengan perintah Allah untuk mengasihi. Integritas adalah suatu kebajikan Kristen, tapi kesetiaan yang buta sekali-kali bukan.

Masalah ini istimewa dan menarik perhatian seseorang yang tinggal di Jepang. Di sana, kesetiaan itu disanjung secara berlebih-lebihan sebagai suatu kebajikan. Sejarah dan literatur penuh dengan kisah-kisah tentang kesetiaan sampai mati terhadap tuannya, meskipun kegunaannya tak bisa dipetiknya, sebab ia sudah telanjur mati.

Bagi orang luar, hal ini mengagumkan dan serentak agak tolol nampaknya. Tapi bagi orang Kristen yang berpikir lebih mendalam, kesetiaan semacam itu mirip suatu penyembahan kepada berhala. Tidak wajar bahwa manusia yang satu rela bunuh diri atau membunuh orang lain melulu berdasarkan kesetiaan kepada seorang manusia. Bagi pemikiran Kristen, kesetiaan itu baru suatu kebajikan kalau dihubungkan dengan pengabdian kepada Allah, dan kata-kata yang dipakai untuk menyatakannya ialah biasanya kata-kata seperti kebaktian, pemuliaan, dan ketaatan.

Menurut Harry Blamires, yang bukunya tadi disinggung, kesetiaan kepada seseorang, kepada partai, kepada negara, dan kepada suatu perjuangan tergantung dari pertanyaan apakah orang, partai, negara atau perjuangan itu berada dalam kebenaran pada saat kesetiaan itu dituntut. Apabila berada dalam kebenaran, maka kesetiaan itu tidak perlu lagi dituntut karena sudah semestinya. Tapi apabila kita berbicara tentang Allah, maka kita sadar bahwa Dia bukan sekadar benar dan baik, melainkan benar dan baik secara mutlak. Boleh jadi kita sewaktu-waktu mengalami cobaan dalam kesetiaan kita kepada Allah. Namun, pergumulan tersebut akan membawa kita pada sikap percaya dan mengandalkan Allah atau tidak. Pada akhirnya, kesetiaan itu akan merupakan ungkapan positif dari kepercayaan dan sikap mengandalkan Allah.

Kesetiaan Yesus ditantang oleh Iblis pada mulanya, tatkala Iblis menawarkan suatu jalan keluar yang mudah sekali untuk menghindari kematian di kayu salib: "jika Engkau sujud menyembah aku" (Mat. 4:9-10). Tuhan menjawab, "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (Kata Yunani di sini ialah "latreuo", artinya kebaktian agamawi.) Tapi kesetiaan Yesus nyata juga dalam kehidupan-Nya sehari-hari: "Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya" (yang dimaksud Sang Bapa, Yoh. 8:29). Puncak kesetiaan Yesus ialah seperti yang dinyatakan-Nya dalam kata-kata-Nya di Taman Getsemani, "Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." (Luk 22:42)

Tantangan akan kesetiaan kepada Allah ini secara gamblang dihadapkan kepada orang Kristen: "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon" (Mat. 6:24). Di sini jelas kita lihat bahwa seseorang tak mungkin menjadi hamba kepada dua tuan. Hal ini lebih nyata lagi dalam Lukas 16:13, di mana kata untuk "pelayan" ialah kata yang dipakai untuk "pelayan rumah tangga"; seseorang tak mungkin melayani dua rumah tangga pada saat yang bersamaan. Itulah masalahnya: apakah saya mutlak milik Tuhan dan rumah tangga-Nya atau tidak?

Hal ini dilihat dengan jelas oleh perwira itu: "Jika aku berkata ... kepada hambaku, kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya" (Mat. 8:9). Ia mengerti bahwa Yesus berdaulat atas segala hal. Apabila Yesus adalah Tuhan, maka saya harus mengakui kedaulatan-Nya secara mutlak. Keadaan saya tidak mengizinkan saya untuk memilih ini atau itu, memisahkan mana yang saya suka turuti dan mana tidak. Dari diri saya diminta suatu kesetiaan tanpa syarat terhadap perintah-perintah Yesus.

Tentu akan sering terjadi bahwa kita dihadapkan kepada konflik antara kesetiaan kita kepada keluarga sendiri dan kesetiaan kepada Kristus (Mat. 10:34-39). Dalam hal ini tentu tak ada keragu-raguan mana yang harus didahulukan. Ia memiliki prioritas yang tertinggi di atas sekalian handai tolan dan orang-orang yang kita kasihi. Pada dasarnya, jika kita mengasihi mereka, kita juga menyenangkan hati Tuhan, tapi ada kesempatan-kesempatan di mana kita harus menghadapi konflik, teristimewa kalau mereka yang kita kasihi itu bukan orang Kristen. Kita mungkin menghadapi konflik dalam hal kawin atau tidak dengan seorang penganut agama lain, dalam hal penggunaan hal libur, uang, dan sebagainya.

Konflik ini timbul juga dalam hubungan-hubungan yang lain. Apakah akan menonton pertandingan bola atau pergi ke gereja, apakah akan menggunakan waktu kebaktian untuk belajar menjelang ujian? Mana yang harus diutamakan? Pilihan itu mungkin antara giat secara aktif dalam gerakan mahasiswa Kristen atau pergi berpacaran, menghadiri malam penelaahan Alkitab atau pergi menikmati permainan musik grup luar negeri. Kristus menuntut prioritas atas segala hal. Pilihan antara yang baik dan yang lebih baik, adalah lebih sukar daripada pilihan antara yang baik dan yang buruk.

Kategori Bahan PEPAK: Guru - Pendidik

Sumber
Judul Artikel: 
Pertuanan atau Perhambaan?
Judul Buku: 
Ambillah Aku Melayani Engkau
Pengarang: 
Michael Griffiths
Halaman: 
34 -- 36
Penerbit: 
BPK Gunung Mulia
Kota: 
Jakarta
Tahun: 
1981

Komentar