Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Kesadaran Sosial


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Diringkas oleh: Christiana Ratri Yuliani "Tetapi dengan teguh (hidup kita, dalam segala hal, dalam berbicara, dalam berhubungan, dan menjalani hidup) berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala." (Efesus 4:15) Narcissus Kata Narcissus berasal kisah Narcissus, seorang tokoh mitos yang sangat tampan. Ketampanannya membuat dia terpesona pada dirinya sendiri dan akhirnya dia mati di tepi kolam karena tidak mampu meninggalkan

Diringkas oleh: Christiana Ratri Yuliani

"Tetapi dengan teguh (hidup kita, dalam segala hal, dalam berbicara, dalam berhubungan, dan menjalani hidup) berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala." (Efesus 4:15)

Narcissus

Kata Narcissus berasal kisah Narcissus, seorang tokoh mitos yang sangat tampan. Ketampanannya membuat dia terpesona pada dirinya sendiri dan akhirnya dia mati di tepi kolam karena tidak mampu meninggalkan kolam yang memantulkan bayangan ketampanannya itu. Demikian pula dengan orang yang terjerat dengan narsisme. Mereka tidak pernah belajar memerhatikan orang lain, dan tujuan mereka hanya untuk melindungi penampilan diri sendiri sehingga tidak bisa berempati pada orang lain.

Setiap orang setidaknya pernah mengalami satu tahap narsistik dalam hidupnya. Tahap narsistik pertama kali terjadi pada masa masih bayi, di mana mereka hanya peduli pada kebutuhannya sendiri. Ini merupakan bentuk narsisme yang "sehat". Tahap narsisme berikutnya adalah ketika masih remaja, di mana pusat kehidupan mereka adalah pada diri mereka sendiri, terutama pada bagaimana orang lain menilai penampilannya. Perlahan-lahan, tahap narsisme pada remaja ini akan berakhir seiring dengan masuknya mereka ke tahap dewasa muda, di mana mereka mulai fokus pada orang lain. Pada masa ini, tugas para orang tua adalah menolong mereka melepaskan diri dari perilaku masa remaja yang narsistik dan mengajari mereka untuk lebih mengarahkan pandangannya kepada orang lain.

Membaca Tanda-Tanda Sosial

Langkah awal untuk menjalin hubungan dengan orang lain adalah dengan menyadari perasaan mereka. Pengalaman-pengalaman pada masa lalu menunjukkan hal-hal apa saja yang boleh Anda lakukan dan yang tidak boleh Anda lakukan. Orang tua merupakan pelatih yang terbaik dalam hal ini. Kejadian sehari-hari, misalnya tentang kematian, bisa menjadi kesempatan bagi orang tua untuk mengajarkan hal-hal sosial dan menjalin komunikasi dengan anak-anak mereka. Sering kali, seorang anak usia empat tahun dengan polos mengungkapkan apa yang mereka lihat dan mengaitkannya dengan apa yang baru saja mereka pelajari. Kondisi seperti ini merupakan kesempatan yang berharga bagi orang tua untuk mengajarkan dan menanamkan kesadaran sosial sejak dini kepada anak-anak mereka.

Luangkan Waktu: Mengajar Anak Remaja

Untuk menanamkan kesadaran sosial diperlukan waktu untuk berinteraksi dengan anak-anak. Tak jarang, anak-anak mengungkapkan suatu kondisi dengan cara yang mungkin terdengar atau terlihat kasar. Tetapi sebagai orang tua, Anda bisa mengajarkan bagaimana mengungkapkan hal itu dengan cara yang lain. Pelajaran ini merupakan pelajaran seumur hidup. Jadi, gunakan baik-baik setiap peluang yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan sehari-hari juga merupakan peluang untuk menolong anak menyadari apa yang sedang terjadi di sekeliling mereka dan bagaimana perilaku mereka memengaruhi orang lain. Membaca tanda-tanda sosial hanyalah langkah awal agar anak memiliki kesadaran sosial terhadap sekeliling mereka.

Jika anak sudah bisa membaca tanda-tanda sosial itu, berarti anak sudah bisa membedakan dan mencari hubungan-hubungan yang sehat dengan orang lain. Mereka sudah siap mengarahkan pandangan mereka kepada orang lain. Kita bisa mengajarkan kepada mereka sikap-sikap dan ungkapan-ungkapan yang bisa menyuburkan hubungan dengan orang lain, misalnya dengan mengatakan terima kasih, maaf, apa kabar, dan lain-lain.

  1. Terima Kasih (Penghargaan)

    Jika kita tidak bisa menangkap tanda-tanda sosial dengan benar, itu berarti kita memisahkan diri dari orang lain dan menyakiti mereka. Umumnya, kita hidup dalam budaya yang menganggap bahwa kita berhak menikmati kesenangan. Akan tetapi bila kita memiliki sikap berhak atas sesuatu, maka penghargaan dan ucapan terima kasih tidak akan ada. Sikap berterima kasih selalu berkaitan dengan hubungan dengan orang lain. Orang yang bisa bersyukur dan berterima kasih akan terlihat bersinar di dunianya.

    Penting bagi orang tua untuk melatih anak-anak mereka mengucapkan terima kasih. Kebiasaan untuk mengucapkan terima kasih kepada seseorang ini lama-kelamaan bisa menjadi sifat kedua anak-anak. Beberapa cara yang bisa digunakan untuk melatih anak mengucapkan terima kasih, misalnya dengan mulai membiasakan anak-anak Anda menulis kartu-kartu ucapan terima kasih atas hadiah yang diterima. Awalnya, Anda bisa membantu menuliskannya, tetapi lama-kelamaan, biarkan mereka yang menulis dengan kata-kata karangan mereka sendiri. Orang yang menerima kartu buatan anak Anda ini tentu akan terharu saat membacanya.

    Cara lainnya adalah dengan menunjukkan sikap Anda dalam berterima kasih. Dengan memberikan contoh secara langsung, misalnya mengucapkan terima kasih kepada pelayan restoran, Anda menjadi teladan bagi anak-anak Anda. Telitilah kembali perilaku Anda, memberi teladan sikap berterima kasih kepada anak-anak akan menanamkan sikap positif dan menghargai orang lain dalam diri anak Anda.

  2. Maafkan Aku (Rekonsiliasi)

    Dalam hidup ini, kita selalu berpeluang untuk melukai orang lain yang berakibat pada retaknya hubungan kita dengan orang lain. Namun, Allah telah menyediakan cara untuk mengatasi atau memulihkan hubungan yang retak itu, yaitu "maafkan aku". Meskipun konsekuensi dari mengatakan "maafkan aku" ini seakan membuat Anda menjadi pihak yang lemah, tetapi bila Anda tidak melakukannya, justru akan mendorong terjadinya hal-hal yang lebih buruk, misalnya:

    • anggota keluarga saling bertengkar dan akhirnya tidak mau bertegur sapa;
    • pecahnya pernikahan;
    • hubungan anak dan orang tua menjadi masam;
    • persahabatan putus; dan
    • tempat kerja menjadi tempat yang tidak menyenangkan.

    Tumbuhkan kebiasaan meminta maaf dalam diri anak Anda. Biarkan anak-anak Anda melihat sendiri bahwa Anda pun tidak segan meminta maaf kepada mereka dan pasangan Anda. Jangan segan pula untuk mengakui kesalahan Anda kepada anak-anak Anda. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya akan belajar bahwa mereka tidak sempurna dan bisa melakukan suatu kesalahan, tetapi mereka juga akan belajar bahwa mereka punya cara untuk memperbaiki suatu kesalahan.

    Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang demikian akan memiliki lingkungan yang aman untuk mengakui kesalahan karena mereka telah mengalami pengampunan dan rekonsiliasi dari orang tua. Dengan demikian, mereka akan memiliki dasar untuk memahami pengampunan dan rekonsiliasi dari Allah. Sikap mau mengampuni adalah sangat penting bagi kesehatan rohani anak-anak.

    Beri teladan rekonsiliasi. Berikan contoh nyata kerendahan hati Anda untuk meminta maaf pada orang yang pernah Anda sakiti. Biarkan mereka melihat kuasa di balik kata "maafkan aku" tersebut.

    Mengajarkan rekonsiliasi. Saat anak-anak Anda sudah cukup besar dan bisa diajak berkomunikasi, ajarkan bahwa perbuatan mereka bisa menyakiti orang lain. Untuk itu, penting bagi mereka untuk meminta maaf bila melakukannya. Tuntunlah anak Anda dalam melewati proses meminta maaf. Agar anak-anak benar-benar mengerti makna meminta maaf, maka orang tua bisa memberi pengarahan apa dampak perbuatan yang dilakukan oleh anak. Bisa juga orang tua menanyakan mengapa mereka harus meminta maaf.

    Penyesalan yang sesungguhnya harus melibatkan perubahan dan komitmen untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Semakin cepat anak-anak menerapkan sikap menyesal, semakin baik karena mereka akan meminimalkan sikap menuntut hak dan menjadikan hubungan lebih aman dan kokoh. Bila anak sudah meminta maaf, menyesal, dan diampuni, maka sebagai orang tua, kita jangan mengungkit-ungkit lagi kesalahannya. Allah mengatakan bahwa Dia mengampuni dosa kita dan tidak lagi mengungkit-ungkit kesalahan kita. Demikian pula seharusnya kita sebagai orang tua.

Luangkan Waktu: Berlatihlah untuk Minta Maaf dan Pengampunan

Tinjaulah lagi tiga unsur dalam meminta maaf.

  1. Katakan "maafkan aku" atas suatu pelanggaran.
  2. Sadar bahwa hal itu menyakiti orang lain.
  3. Buat komitmen untuk tidak mengulanginya lagi.

Latihlah ketiga hal ini dalam diri Anda sehingga anak-anak Anda pun akan mengikuti teladan Anda. Berikan tuntunan bila mereka memerlukannya.

Latihlah juga pengampunan pada anak-anak Anda. Luangkan waktu untuk keluarga dapat mendiskusikan masalah pengampunan. Bacalah dan renungkan pengampunan yang Allah berikan dalam Ibrani 10. Doakan hati anak-anak Anda agar menjadi lembut untuk mengakui kesalahan, dan doakan hati Anda sendiri agar tidak mengingat kesalahan anak-anak Anda dan mampu mendorong anak-anak Anda dalam kasih dan perbuatan baik.

Apa Kabar (Memberi dan menerima)

"Apa kabar" adalah pertanyaan yang paling sering diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Jawaban yang paling sering muncul pun adalah "baik", jawaban yang mungkin saja hanya basa-basi. Padahal, pertanyaan ini sesungguhnya mengajak orang untuk keluar dari dirinya sendiri dan mulai memandang orang lain. Ini sangat penting untuk diajarkan kepada anak-anak. Keintiman emosi tidak bisa terjadi dalam hubungan di mana salah satu pihak tidak mau keluar dari dirinya. Keintiman emosi bisa terjalin bila masing-masing pihak benar-benar saling berkomunikasi dengan mendalam sehingga mengenal dan peduli pada pikiran dan perasaan pribadinya.

Bila anak-anak kita tidak mau keluar dari dirinya, maka mereka akan tersisih dari orang lain sehingga mengikis hubungan persahabatan, pernikahan, dan sesama rekan kerja mereka. Mereka juga tidak bisa memiliki pengenalan yang cukup tentang Allah dan tidak bisa menyembah dan memiliki keintiman dengan-Nya. Penting bagi orang tua untuk mengajarkan hubungan timbal balik -- saling memberi dan menerima -- kepada anak-anak sejak dini.

Memberi contoh hubungan timbal balik. Kebiasaan-kebiasaan Anda yang dilihat oleh anak-anak Anda, misalnya menanyakan kabar, menolong orang lain, mengirim kartu ucapan, atau perbuatan-perbuatan baik bagi orang lain, bisa menjadi contoh nyata bagi anak-anak Anda. Mereka akan belajar melakukan apa yang Anda lakukan dan bahwa dunia tidak hanya berputar mengelilingi mereka saja.

Ajakan untuk memberi dan menerima. Beberapa cara yang bisa digunakan untuk menolong anak tentang cara memberi dalam suatu hubungan, antara lain dengan memberinya dorongan untuk memberikan reaksi balik terhadap suasana tertentu, misalnya menyapa balik bila disapa orang lain, menjabat tangan orang lain, dll.. Kebiasaan memuji orang lain juga bisa menjadi contoh bagi anak untuk tidak segan memuji kelebihan orang lain. Pujian juga bisa menjadi cara untuk membuka percakapan dengan orang lain. Cara lain adalah dengan menanyakan sesuatu. Bantulah anak Anda untuk belajar menanyakan sesuatu, khususnya pertanyaan yang menggunakan kata "bagaimana".

Evaluasi hubungan. Keseimbangan dalam menjalin hubungan adalah penting. Perhatikan apakah anak-anak Anda terlalu banyak bicara atau justru sebaliknya. Tolonglah mereka untuk bisa mengevaluasinya. Bila anak Anda adalah anak yang pemalu, ajarkan kepada mereka cara memberi dan menerima dalam hubungan. Anak yang pemalu biasanya enggan untuk mengatakan apa yang mereka butuhkan dan inginkan. Akibatnya, keintiman emosi akan hilang bila tidak ada anak yang mengenal anak pemalu itu.

Luangkan Waktu: Suka dan Duka

Anda bisa menolong anak yang pemalu yang sudah agak besar dengan mengajak mereka mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka tentang suatu hubungan. Dengan bercerita secara bergiliran, anak-anak bisa saling mendoakan, bersyukur kepada Allah atas kesenangan dan pimpinan-Nya.

Untuk anak-anak yang masih kecil, cobalah dengan memberi pertanyaan, misalnya tentang apa yang mereka sukai atau kegiatan mereka hari itu. Kegiatan semacam ini melatih anak untuk memandang hari-hari mereka secara positif.

Kategori Bahan PEPAK: Pelayanan Anak Umum

Sumber
Judul Buku: 
7 Kecerdasan Emosional yang Dibutuhkan oleh Anak Anda
Pengarang: 
Pam Galbraith dan Rachel C. Hoyer
Halaman: 
169 -- 198
Penerbit: 
Gospel Press
Kota: 
Batam Centre
Tahun: 
2005

Komentar