Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Gereja dan Keluarga Campuran


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Sebagian orang menyebut mereka keluarga tiri. Sebagian lain menyebut mereka keluarga besar. Sebagian yang lain masih saja menyebutnya sebagai keluarga yang dibentuk atau disusun ulang. Terserah Anda mau memakai istilah yang mana, namun setiap hari terbentuk 1.300 keluarga yang demikian. Ketika jumlah keluarga campuran dan keluarga dengan orang tua tunggal digabungkan, jumlahnya sama dengan jumlah keluarga di mana suami dan istri tinggal bersama anak-anak kandung mereka. Keluarga campuran tidak

Sebagian orang menyebut mereka keluarga tiri. Sebagian lain menyebut mereka keluarga besar. Sebagian yang lain masih saja menyebutnya sebagai keluarga yang dibentuk atau disusun ulang. Terserah Anda mau memakai istilah yang mana, namun setiap hari terbentuk 1.300 keluarga yang demikian. Ketika jumlah keluarga campuran dan keluarga dengan orang tua tunggal digabungkan, jumlahnya sama dengan jumlah keluarga di mana suami dan istri tinggal bersama anak-anak kandung mereka.

Keluarga campuran tidak begitu kelihatan seperti keluarga dengan orang tua tunggal; keluarga ini merupakan campuran anggota keluarga yang lain. Kebanyakan anak-anak dari orang tua tunggal akan menjadi bagian dari keluarga campuran karena kebanyakan orang tua tunggal menikah lagi. Sering kali, keluarga campuran disambut dengan gembira oleh pengantin baru, sanak saudara, dan teman-teman mereka. Berdirinya hubungan keluarga yang baru melalui pernikahan kembali biasanya dipandang sebagai awal baru yang dapat menggantikan pengalaman kehilangan karena perceraian atau kematian.

Meskipun begitu, keluarga campuran menghadapi beberapa tantangan yang unik -- tantangan-tantangan yang secara praktis dapat dibantu oleh gereja.

Masalah-Masalah Khusus Keluarga Campuran

Keluarga campuran menghadapi semua tantangan dan masalah yang dihadapi oleh keluarga mana pun; menetapkan tujuan, manajemen rumah tangga dan pendapatannya, cara mendisiplin anak, pemecahan masalah, dll.. Namun untuk beberapa alasan, setiap masalah memiliki potensi yang lebih besar bagi terjadinya perpecahan dalam keluarga campuran, khususnya di tahun pertama.

  1. Orang tua angkat dan anak-anak cenderung memiliki harapan-harapan yang sangat kuat dan sering kali tidak realistis mengenai hal-hal yang akan terjadi. Beberapa orang tua menganggap bahwa anak-anak tiri mereka yang baru akan dengan sendirinya mencintai mereka. Beberapa anak takut kalau orang tua tiri mereka akan menjadi seseorang yang kejam (mitos Cinderella).

  2. Para anggota keluarga campuran tidak terlepas dari tradisi dan cara-cara melakukan sesuatu dari keluarga mereka sebelumnya.

    Seperti sepasang pengantin yang baru menikah yang membutuhkan waktu untuk saling menyesuaikan diri, seperti seorang ibu yang butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan bayinya yang baru lahir, begitu pula dengan anggota keluarga tiri yang membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan merasa nyaman satu dengan yang lain.

  3. Disiplin itu lebih sulit karena membutuhkan waktu untuk membangun pedoman yang dapat diterima oleh kedua belah pihak dalam hal berbagi pengasuhan anak.

  4. Anak-anak bisa saja terhimpit di antara keluarga, yang menciptakan tekanan yang terjadwal dan juga konflik antarpribadi serta gaya hidup.

Dari hasil hal-hal di atas dan ketidakpastian yang lain, tidaklah mengherankan jika anak-anak dari keluarga campuran ini menunjukkan perilaku tidak terduga, terkadang mereka menunjukkan kesulitan belajar, tindakan yang mengacaukan, reaksi menarik diri atau terlalu sensitif. Beberapa anak bisa saja tidak menunjukkan tanda-tanda adanya masalah, tetapi sebenarnya mereka mengalami ketakutan, kemarahan, atau kekhawatiran yang sangat besar.

Apa yang Dapat Dilakukan Guru untuk Menolong Anak dan Orang Tua

Guru-guru dapat membantu anak untuk secara positif menghadapi tantangan-tantangan dalam sebuah keluarga campuran.

  1. Berdoalah secara rutin untuk anak dan orang tuanya. Mintalah Tuhan supaya membantu Anda untuk menjadi teman yang mendukung.

  2. Perhatikanlah situasi-situasi baru, pikiran, serta perasaan yang dihadapi oleh anak dalam bulan-bulan seputar pernikahan kembali orang tua mereka.

  3. Perhatikanlah kegiatan-kegiatan yang terus-menerus dilakukan oleh anak yang terhimpit di antara dua keluarga itu di akhir pekan, hari raya, dan liburan. Berilah komentar untuk membangun ikatan saling pengertian: "Pasti sulit ketika ..." atau "Aku harap kamu menikmati waktumu ...".

  4. Dalam perbincangan, hindarilah pengandaian perihal kehidupan keluarga. Berikan referensi -- tanpa terdengar negatif -- untuk anak yang tinggal dalam keluarga campuran dan yang berkunjung ke orang tua mereka yang satunya.

  5. Rencanakan cara-cara yang spesifik untuk memberikan perhatian khusus pada anak itu dalam setiap sesi pelajaran. Berbincanglah dengan anak itu tentang aktivitas-aktivitas pada minggu-minggu sebelumnya. Gunakan nama anak itu. Berikan dukungan kepada anak itu untuk berusaha lebih keras lagi dan menyelesaikan tugas-tugasnya.

  6. Bersabarlah terhadap tantangan perilaku. Pahamilah bahwa anak tersebut mungkin sedang berusaha untuk mengatasi gangguan tertentu. Ini tidak berarti membiarkan anak itu mengamuk, tetapi ini berarti menunjukkan kasih dan penerimaan yang begitu besar.

  7. Jika seorang anak tidak dapat hadir secara rutin, kirimkan lembar kerja sekolah minggu dan/atau PR mereka, masukkan pula surat pribadi singkat untuk mereka. Jangan menyinggung tentang ketidakhadiran mereka; namun fokuskan perhatian Anda pada anak.

  8. Bekerjasamalah dengan orang lain di gereja Anda untuk merencanakan acara-acara keluarga -- permainan di malam hari, kemah semalam, menonton film di malam hari, piknik, pergi ke pantai, dan sebagainya. Kegiatan-kegiatan yang menyenangkan membantu keluarga campuran membentuk tradisi baru dan menciptakan kenangan-kenangan yang positif.

Apa yang Dapat Dilakukan Orang Tua untuk Membantu Anak dan Guru

Orang tua memegang peran penting dalam membantu anak-anak dari keluarga campuran untuk mengembangkan ikatan yang kuat di antara keluarga rohani dalam gereja.

  1. Bersabarlah dan bersikaplah fleksibel, baik dalam keluarga Anda maupun dalam mengarahkan interaksi keluarga Anda dengan orang lain.

  2. Jelaskanlah secara terbuka situasi Anda kepada guru anak Anda. Tunjukkan kerinduan Anda untuk membentuk kehadirannya serutin mungkin dan mintalah mereka menyumbang ide mengenai cara penyelesaiannya.

  3. Untuk menggantikan kehadiran anak yang jarang masuk, bantulah anak Anda untuk membangun persahabatan yang abadi dalam keluarga gereja. Undanglah guru anak Anda dan/atau teman-teman sekelas anak Anda berkumpul bersama. Contohnya:

    1. Seorang teman sekelasnya akan senang mampir ke rumah untuk bermain sepulang sekolah;

    2. Gurunya akan senang jika diundang untuk makan bersama keluarga Anda di sebuah restoran favorit; dan

    3. Seluruh kelas akan sangat senang bermain bola dan sarapan pagi panekuk di hari Sabtu dan kemudian menonton kartun bersama-sama.

  4. Terus informasikan kepada anak Anda akan rutinitas yang ada. Anak prasekolah butuh diingatkan terus atas apa yang akan terjadi -- tetapi jangan menginformasikan hal-hal yang masih lama/jauh terjadi. Namun, anak usia sekolah dasar perlu mengetahui rencana jangka panjang, misalnya, "Kamu akan masuk sekolah minggu setiap minggu pertama dan ketiga setiap bulannya."

  5. Bicarakanlah secara positif kepada anak Anda tentang mengapa gereja itu penting bagi Anda. Dan ingat, apa yang Anda contohkan akan berbicara lebih keras daripada apa yang Anda katakan!

Kata "step" diambil dari istilah bahasa Inggris kuno yang berarti "kehilangan" atau "menganggap hina". Maka tidaklah mengherankan bila "stepmother" (ibu tiri) atau "stepfather" (ayah tiri) mengandung perasaan negatif. (t/Hilda)

Kategori Bahan PEPAK: Pelayanan Anak Umum

Sumber
Judul Artikel: 
The Church and the Blended Family
Judul Buku: 
Sunday School Smart Pages
Halaman: 
157 -- 158
Penerbit: 
Gospel Light
Kota: 
Ventura
Tahun: 
1992

Komentar