Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

e-BinaAnak 493 - Anak Indonesia yang Cerdas dan Berprestasi


Anak Indonesia yang Cerdas dan Berprestasi

Sekolah Minggu Sebagai Pusat Pembelajaran

Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Apakah cara terbaik untuk mengajarkan anak kecil mengendarai sepeda? Perlukah seorang guru meminta anak itu duduk menghadap mejanya untuk mengajari cara bersepeda? Perlukah dia memperlihatkan gambar orang yang sedang mengendarai sepeda dengan benar? Perlukah guru itu naik sepeda dan menunjukkan tekniknya sendiri? Barangkali hal-hal ini dapat sedikit membantu, tetapi kita tidak mungkin berharap bahwa sesudah itu anak akan langsung bisa menaiki kendaraan beroda dua dan mengayuhnya. Metode yang paling

Kategori Bahan PEPAK: Pelayanan Sekolah Minggu

Sumber
Judul Artikel: 
Learning Centers
Judul Buku: 
The Complete Handbook for Children Ministry
Pengarang: 
Dr. Robert J. Choun dan Dr. Michael S. Lawson
Halaman: 
181 -- 184
Penerbit: 
Thomas Nelson Publisher

Cara Mengajar Dengan Menggunakan Kecerdasan Ganda

Jenis Bahan PEPAK: Tips

Kecerdasan Bahasa Aktivitas pengajaran: memberi kuliah atau ceramah, berkhotbah, diskusi, permainan kata, mendongeng/bercerita, menulis jurnal, dan membaca. Materi pengajaran: buku, alat perekam suara, mesin ketik, komputer, dan "earphone". Strategi pengajaran: menulis, membaca, membicarakan hal tertentu, berdiskusi, mendengarkan, mengajukkan pertanyaan, membuat rangkuman, dan mencatat kata kunci. Kecerdasan Logis-Matematis Aktivitas pengajaran: curah pendapat, pemecahan masalah, bereksperimen, kalkulasi

Kategori Bahan PEPAK: Pelayanan Sekolah Minggu

Sumber
Judul Artikel: 
Cara Mengajar dengan Menggunakan Kecerdasan Ganda
Judul Buku: 
Mengajar dengan Kreatif & Menarik
Pengarang: 
Pdt. Dra. Dien Sumiyatiningsih
Halaman: 
146 -- 148
Penerbit: 
ANDI
Kota: 
Yogyakarta
Tahun: 
2006

Setiap Anak Memiliki Kecerdasan Tersendiri

Edisi PEPAK: e-BinaAnak 493 - Anak Indonesia yang Cerdas dan Berprestasi

Shalom, Pada umumnya, program pendidikan "tradisional" dibatasi dalam dua fokus, yaitu kecerdasan linguistik dan kecerdasan matematis. Bentuk-bentuk kecerdasan yang lain kurang mendapatkan penghargaan yang setara. Akibatnya anak-anak yang kurang menunjukkan "kecerdasan akademis tradisional" di atas dianggap tidak cerdas atau gagal. Paradigma seperti ini harus diubah demi meraih anak Indonesia yang cerdas dan berprestasi. Setiap anak memiliki kecerdasannya sendiri dan jika guru maupun orang tua dapat

Komentar


Syndicate content