Salam dari Redaksi
Shalom,
Seorang anak berusia tiga tahun datang kepada guru sekolah minggunya
dan bertanya, "Kak, Tuhan Yesus ada di mana?" Pertanyaan ini cukup
membuat sang guru terdiam beberapa saat, sampai akhirnya dia
berkata, "Tuhan Yesus ada di hatimu."
Kisah di atas merupakan penggalan kisah dari seorang anak kecil yang
tidak dapat dengan langsung mengatakan bahwa dia sedang mencari
Tuhan, dia membutuhkan Tuhan, dan dia ingin mengenal Tuhan lebih
dalam lagi. Ketika Yesus menerima anak-anak kecil yang datang
kepada-Nya, Yesus tahu benar bahwa anak-anak itu ingin mengenal dan
ingin dekat dengan-Nya. Di balik rasa ingin tahunya, anak-anak itu
juga sadar bahwa Yesuslah yang mereka butuhkan, sosok yang selama
ini menghiasi hari-hari mereka karena telah menjadi buah bibir dan
menjadi kesaksian banyak orang di sekitar mereka. Setiap anak yang
pernah mendengar cerita, kisah, maupun kesaksian tentang Tuhan Yesus
pastinya memiliki kerinduan untuk mengenal-Nya. Kerinduan untuk
mengenal Tuhan Yesus itu karena mereka memiliki kebutuhan dasar,
yaitu kebutuhan akan Tuhan dalam hidupnya.
Jika dahulu, ketika anak-anak membutuhkan Tuhan, mereka dapat
langsung datang kepada Yesus, lantas bagaimana para pelayan anak
dapat menolong anak-anak saat ini dalam memenuhi kebutuhan tersebut?
Kami mengajak rekan-rekan sekalian menyimak seluruh sajian edisi
ini. Kenalkanlah Tuhan Yesus pada mereka, didiklah mereka dengan
hikmat dan bijaksana, lalu berikan pemahaman arti kelahiran baru di
dalam Tuhan. Dengan begitu, kita dapat menjadi perpanjangan tangan
Tuhan bagi mereka.
Selamat melayani anak-anak yang sangat Tuhan kasihi ini!
Pimpinan Redaksi e-BinaAnak,
Davida Welni Dana
"Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata:
"Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku,
dan jangan kamu menghalang-halangi mereka,
sebab orang-orang yang seperti itulah
yang empunya Kerajaan Allah." (Lukas 18:16)
ArtikelApakah Anak-Anak Kita Harus Mengenal Tuhan?
Ya, anak-anak kita perlu mengenal Tuhan secara pribadi dalam hidup
mereka. Ini berarti bahwa kita sendiri harus mengenal Tuhan karena
Tuhan bisa menjadi lebih nyata bagi mereka jika Tuhan sudah nyata
bagi kita. Ada orang-orang yang menyekolahkan anak-anaknya ke
sekolah Kristen karena mereka ingin anak-anak mereka memeroleh
pendidikan Kristen meskipun mereka sendiri bukan orang Kristen. Dulu
saya pernah mengirim sebuah e-mail berbau Kristen kepada orang
seperti itu -- dan e-mail itu dikembalikan kepada saya. Saya sangat
terkejut. Saya hanya berharap jika putrinya bersekolah di sekolah
Kristen, setidaknya ibu itu sendiri harus mau membuka diri terhadap
pesan-pesan kristiani. Ternyata saya salah. Saya rasa ini cukup
tragis.
Anak-anak membutuhkan lebih dari sekadar nilai-nilai Kristen.
"Mengkristenkan" mereka tidaklah cukup. Apa pun itu tidak akan
benar-benar cukup, kecuali pengalaman Kristen yang dialami secara
pribadi dan sungguh-sungguh. Mereka membutuhkan persekutuan dengan
Tuhan, Pribadi yang menciptakan mereka. Tuhan jauh lebih mengenal
dan mengasihi mereka daripada kita. Hal itu memang sulit dipahami
jika kita sangat mengasihi mereka -- tapi jika ada Pribadi yang
lebih mengasihi mereka, maka tentu saja mereka harus mengenal-Nya,
bukan?
Kita hidup di dunia yang begitu menakutkan. Ada banyak sekali
pengaruh-pengaruh buruk di luar sana yang dapat menghancurkan
anak-anak kita, baik secara fisik, mental, emosional, atau secara
spiritual. Ada banyak hal yang menakjubkan juga di dunia ini -- dan
semuanya berasal dari Tuhan, Pencipta segala yang baik. Cara yang
paling bisa diandalkan untuk melindungi anak-anak kita supaya tidak
menjadi sasaran pengaruh buruk dan supaya mereka memeroleh hal-hal
yang baik adalah dengan membimbing mereka kepada Pribadi yang akan
memberikan fondasi yang kuat dalam hidup mereka.
Amsal 3:6 menasihati kita untuk mengakui-Nya di dalam segala jalan
kita dan Dia akan mengarahkan jalan kita. Sudah pasti setiap orang
tua menginginkan anaknya bisa melewati dunia yang berbahaya ini
dengan bimbingan seorang Pribadi yang akan memimpin mereka ke segala
yang benar, baik, dan bermanfaat. Jika kita menginginkannya, kita
sendiri harus mengakui Tuhan di hadapan mereka sejak mereka masih
kanak-kanak. Sehingga kemungkinan besar mereka akan mengakui Tuhan
seiring mereka bertumbuh dewasa. Anak-anak yang paling manis dan
lugu pun dapat masuk ke jalan yang salah saat mereka melalui
masa-masa labil di usia remaja mereka. Jujur, saya akan sangat
takut mengambil risiko membesarkan anak pada masa-masa ini tanpa
mereka memiliki pengetahuan akan Tuhan dan rencana-rencana-Nya untuk
hidup mereka.
Selama bertahun-tahun, saya mengetahui banyak orang tua yang
membiarkan anaknya memutuskan sendiri saat mereka dewasa nanti
apakah mereka akan pergi ke gereja atau tidak. Hal ini hanyalah
usaha untuk menghindari kewajiban dan itu tidak akan berhasil.
Mungkin hanya ada sedikit anak yang tumbuh tanpa pengaruh Kristen
yang kemudian mencari Tuhan sendiri. Namun, Anda sama saja dengan
berjudi jika melakukan hal itu, pasalnya ada banyak kemungkinan yang
mungkin akan terjadi. Mereka membutuhkan peran orang tua untuk
menunjukkan jalannya. Bahkan, mengirim anak-anak Anda ke sekolah
minggu atau kegiatan-kegiatan gereja yang lain pun tidaklah cukup.
Mereka perlu tahu bahwa kekristenan adalah sesuatu yang Anda yakini
dan seriusi -- bahwa kekristenan adalah sesuatu yang bukan hanya
bermanfaat di masa kecil, tapi juga di sepanjang hidup seseorang.
Jika tidak, mereka hanya akan percaya pada Tuhan seperti halnya
mereka percaya pada sinterklas, kelinci Paskah, dan peri gigi.
Kita menemukan hikmat lagi di dalam kitab Amsal, di mana kita
diperintah untuk "mendidik orang muda menurut jalan yang patut
baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari
pada jalan itu" (Amsal 22:6).
Jelas, tidak ada kebijakan asuransi dalam mendidik anak. Kita tidak
dapat menjamin bahwa anak-anak kita tidak tersesat meski kita telah
dengan setia menuntun mereka di jalan yang benar. Akan tetapi,
kesempatan mereka untuk berjalan di jalan yang benar akan meningkat
tajam jika kita mau dengan konsisten menujukkan mereka jalan kepada
Tuhan dan mendorong mereka untuk menjadikan Allah sebagai Tuhan
dalam hidup mereka. Tuhan akan memberi mereka petunjuk hidup, makna,
dan pemenuhan hidup. Tanpa Tuhan, hidup akan menjadi sebuah jalan
simpang-siur yang mustahil untuk dilalui, yang terlalu membingungkan
sehingga anak-anak berjalan kian-kemari tanpa tujuan, dan dengan
mudahnya menjadi mangsa orang-orang yang berniat jahat, yaitu mereka
yang sudah tercengkeram dalam lingkaran musuh Allah.
Tanpa Tuhan juga, apa pun yang ditawarkan dunia seakan-akan hampa
dan tak berarti. Bahkan anak-anak yang sepertinya memiliki banyak
potensi dan masa depan yang cerah dapat merasakan adanya jurang
kehampaan yang besar dalam jiwa mereka. Ada sebuah kutipan yang
terkenal, yang saya yakini keluar dari mulut Pascal, yang mengatakan
bahwa ada kekosongan yang diciptakan Tuhan dalam jiwa manusia yang
hanya bisa diisi oleh Tuhan sendiri.
Jika Tuhan tidak disertakan dalam kehidupan anak-anak, mereka
mungkin mencoba mengisi hidup mereka dengan banyak hal -- baik dan
jahat -- dalam usaha untuk mencapai kepuasan atas kebutuhan mereka.
Tapi pada akhirnya, tidak ada yang lebih berarti daripada Tuhan yang
adalah pusat dari segalanya.
Mungkinkah itu yang menjadi alasan mengapa banyak anak muda pada
zaman ini sangat tidak bahagia, bahkan sangat tertekan? Mungkinkah
hal itu ada hubungannya dengan sikap mereka yang cenderung merusak
diri? Mungkinkah hal itu yang menjadi alasan mengapa bunuh diri
menjadi hal umum di kalangan para remaja dan muda dewasa?
Jika kita tidak berhasil memberikan makna paling pokok yang mereka
butuhkan dalam hidup mereka, berarti kita membiarkan mereka jatuh
terperosok, tak peduli seberapa banyak kesenangan duniawi,
pengetahuan, kesempatan, dan keberuntungan yang mungkin kita berikan
kepada mereka. Sudah menjadi tanggung jawab kita sendiri untuk
membuat anak-anak kita mengenal Tuhan. Dia adalah Batu Karang yang
teguh di mana semua kehidupan harus dibangun di atasnya supaya bisa
bertahan dari badai hidup dan menjadi cahaya yang memberi inspirasi
kepada sesama yang menjalani kehidupan di masa yang akan datang.
(t/Setyo)
Sumber: Helium, http://www.helium.com/items/794773-children-personally-their-lives, Artikel Should Our Children Know God? oleh Ruth Woodhouse.
ArtikelAktivitas untuk Belajar Tentang Allah
Pengaruh Kasih dan Disiplin
Orang-orang dewasa, yang mendambakan anak-anak memiliki model yang
positif akan sikap dan pemahaman mereka tentang Allah, harus
memberikan perhatian khusus terhadap dua hal yang menyangkut
hubungan mereka dengan anak, yaitu kasih dan disiplin. Bagaimana
kedua kebutuhan vital bagi anak ini dipenuhi.
Kasih
Mayoritas orang dewasa yang terjun dalam pelayanan anak-anak
mengklaim bahwa mereka mengasihi anak-anak. Namun, penganiayaan dan
penelantaran anak jarang, jika ada, yang dilakukan oleh orang yang
mengatakan mereka membenci anak-anak. Trauma penganiayaan yang
paling buruk bukanlah luka fisik, tetapi pengkhianatan orang yang
seharusnya menjadi pemelihara dan pelindung anak.
Masalahnya bukanlah pengakuan kasih orang dewasa, melainkan apakah
anak merasa sungguh-sungguh dikasihi? Kasih bagi anak bersifat
fisik. Pelukan dan belaian merupakan hal penting, baik bagi anak
laki-laki maupun perempuan, sehingga perlakuan seksual terhadap
anak-anak adalah sangat jahat karena tindakan ini mengkhianati
kebutuhan anak yang paling dalam. Kasih berarti adanya perhatian
dari orang dewasa dan peran serta mereka dalam hal-hal yang disukai
anak. Kasih juga membutuhkan ungkapan verbal. Kata-kata perlu
disertai pelukan, belaian, dan senyuman yang meneguhkan nilai serta
penghargaan dari orang dewasa.
Ekspresi kasih tidak boleh dibatasi oleh suasana hati orang dewasa
atau perilaku anak. Untuk menerima kasih, anak tidak boleh
tergantung pada usaha-usahanya untuk memerolehnya karena kasih
sangat rapuh. Jika kasih dapat diusahakan untuk diperoleh, kasih
juga dapat hilang. Rasa takut kehilangan kasih dari seseorang akan
menciptakan ketegangan, bukannya jaminan yang pasti.
Disiplin
Disiplin, yang mencakup lebih dari sekadar hukuman, merupakan proses
pembentukan sikap dan perilaku dengan cara yang hati-hati dan penuh
kasih. Metode yang keras dan tidak konsisten, bahkan dengan maksud
yang paling baik sekalipun, hanya menimbulkan keputusasaan dan
kemarahan -- seperti yang Paulus peringatkan untuk tidak dilakukan
oleh para orang tua: "Dan kamu bapa-bapa, janganlah bangkitkan
amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam
ajaran dan nasihat Tuhan." (Efesus 6:4) Disiplin yang berat adalah
tegas, tetapi penuh kesabaran. Sayangnya, Allah sering kali
diperkenalkan ke dalam disiplin anak kecil sebagai ancaman --
sungguh suatu kesalahan yang menyedihkan! Orang tua yang terus
mengancam anak dengan kata-kata "Allah tidak senang" mengungkapkan
kelemahan-kelemahannya sendiri kepada anak tersebut. Disiplin jenis
ini mengurangi penghargaan anak terhadap orang dewasa dan Allah.
Perasaan-perasaan negatif terhadap Allah yang dipakai sebagai
ancaman akan tinggal lama, bahkan setelah kejadian tertentu
dilupakan.
Sebaliknya, jika orang dewasa menawarkan petunjuk yang masuk akal
dan logis, anak mengembangkan kemampuan untuk membuat
pilihan-pilihan yang bijaksana. Juga, pandangan anak akan orang
dewasa sebagai pembimbing dan penolong semakin dimantapkan.
Kata "disiplin" tidak berarti hukuman. Disiplin berarti "pengajaran"
atau "instruksi" -- dan ada perbedaan besar antara keduanya. Orang
dewasa yang bereaksi atas perilaku yang salah dengan menunjukkan
kemarahan dan keputusasaan mungkin berhasil membuat anak itu
berhenti melakukan tindakan-tindakan yang tidak diinginkan, tetapi
hanya untuk sementara waktu. Namun, orang dewasa yang menanggapinya
dengan penuh kesabaran dan berpendirian teguh menuntun anak untuk
mengoreksi perilaku yang salah dan menggantikannya dengan
tindakan-tindakan yang positif. Ini membantu anak untuk mempelajari
cara hidup yang benar.
Sumber: Mengenalkan Allah Kepada Anak (Terjemahan dari Teaching Your Child About God), Wes Haystead, , halaman 141 -- 142, Yayasan Gloria, Yogyakarta, 1996.
Bahan MengajarYesus dan Nikodemus
Nikodemus adalah seorang pemimpin kelompok orang Yahudi yang disebut
sebagai Farisi. Dia telah melihat mukjizat yang dilakukan Yesus dan
telah mendengar ajaran Yesus. Dia percaya bahwa Yesus benar-benar
seorang Guru yang diutus Allah. Dia ingin bertemu Yesus dan
bercakap-cakap dengan-Nya, tetapi ia menunggu sampai malam tiba.
Alkitab tidak mengatakan mengapa ia menemui Yesus pada malam hari,
tetapi kita tahu bahwa para pemimpin Yahudi marah kepada Yesus dan
mencari cara untuk menyingkirkan Yesus. Mungkin Nikodemus takut bila
bertemu Yesus di depan umum pada siang hari.
Dia mengatakan kepada Yesus bahwa Allah benar-benar ada dalam
diri-Nya karena bila tidak, Dia tidak akan mampu melakukan semua
hal-hal ajaib. Kemudian Yesus mulai mengajar dia. Dia mengatakan
kepada Nikodemus bahwa bila seseorang ingin melihat Kerajaan Allah,
dia harus lahir baru.
Lahir baru! Nikodemus membayangkan lahir baru itu dengan menjadi
bayi lagi. Bagaimana mungkin? Adalah hal yang mustahil bagi orang
dewasa untuk lahir kembali!
Tapi, Yesus tidak berbicara tentang kelahiran secara fisik. Dia
berbicara tentang kelahiran rohani. Yesus berkata bahwa seseorang
harus dibaptis dengan air dan Roh Kudus. Sama seperti hembusan angin
yang tidak dapat kita lihat, kamu pun juga tidak dapat melihat
kelahiran baru. Orang yang lahir baru bisa saja terlihat sama,
tetapi orang tersebut telah berubah di dalamnya.
Ingatlah saat ular-ular membunuh anak-anak bangsa Israel di padang
gurun, Allah memerintahkan Musa untuk membuat ular dari tembaga dan
menaruhnya pada sebuah tiang. Setiap orang yang melihat ular pada
tiang itu akan dipulihkan oleh Tuhan. Yesus berkata bahwa Dia juga
harus ditinggikan dan bahwa siapa pun yang percaya kepada-Nya tidak
akan binasa, tetapi memeroleh hidup yang kekal.
Kemudian Yesus memberikan kata-kata yang indah kepada Nikodemus,
"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah
mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang
percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang
kekal." Yesus datang untuk menyelamatkan orang-orang di dunia, bukan
untuk menghukum mereka.
Kita bisa membaca lebih banyak lagi tentang Nikodemus setelah
kematian Yesus. Yusuf dari Arimatea adalah seorang kaya dan anggota
Majelis Besar Yahudi. Dia adalah orang yang baik dan rendah hati dan
seorang murid Yesus. Dia menunggu kedatangan Kerajaan Allah dan dia
percaya bahwa Yesus adalah Orang yang telah dijanjikan.
Dia memberanikan diri datang sembunyi-sembunyi dan meminta kepada
Pilatus supaya dia bisa mengambil mayat Yesus dan menguburkannya.
Orang yang datang bersama dia adalah Nikodemus.
Orang Yahudi memiliki tradisi melumuri mayat dengan rempah-rempah
sebagai persiapan penguburan. Mereka membawa banyak rempah-rempah,
campuran dari mur dan gaharu, dan mempersiapkan mayat itu. Mereka
membungkus tubuh Yesus dengan kain linen.
Di dekat tempat di mana Yesus disalibkan, terdapat sebuah taman dan
Yusuf memunyai kuburan di situ, kuburan yang belum pernah digunakan
sebelumnya. Kuburan terbuat dari sebuah karang yang besar. Mereka
menempatkan mayat Yesus di situ, menutup kubur itu dengan batu besar
dan meninggalkannya. Tetapi, Maria Magdalena dan Maria yang lainnya
duduk membelakangi kubur itu.
APA ARTI CERITA INI BAGIKU?
Nikodemus sangat ingin belajar. Ketika dia tidak mengerti, dia terus
bertanya sampai dia benar-benar mengerti.
Jangan takut bertanya. Bila di kelas kamu tidak mengerti sesuatu,
tanyakanlah. Pertanyaanmu mungkin sama dengan yang ingin ditanyakan
oleh temanmu, tetapi dia mungkin takut untuk bertanya. Kadang-kadang
pertanyaan-pertanyaaan membantu guru untuk tahu bagaimana dia bisa
membuat pelajaran menjadi lebih jelas bagi murid-muridnya.
Jangan takut untuk bertanya kepada orang tuamu. Mereka akan
memberimu jawaban yang lebih bijaksana daripada yang diberikan oleh
teman-temanmu. Orang tuamu sangat mengerti dirimu dan mereka akan
menjawab pertanyaanmu dengan cara yang sangat menolongmu.
AYAT HAFALAN
"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah
mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang
percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang
kekal." (Yoh. 3:16)
ULANGAN
- Siapakah Nikodemus itu? Seorang Farisi, pemimpin orang Yahudi.
- Kapan Nikodemus menemui Yesus? Pada malam hari.
- Apa yang Yesus katakan supaya seseorang bisa melihat Kerajaan
Allah? Harus lahir baru.
- Sebutkan dua hal yang terlibat dalam kelahiran baru! Air dan Roh
Kudus.
- Bagaimana Allah menunjukkan kasih-Nya kepada dunia ini? Dia
mengutus Anak-Nya.
- Siapakah dua orang yang menyiapkan mayat Yesus untuk dikubur?
Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus.
- Apa yang mereka gunakan untuk menyiapkan mayat Yesus?
Rempah-rempah, mur, dan gaharu.
- Dalam kubur siapakah Yesus dikuburkan? Yusuf dari Arimatea.
Kamu bisa membaca cerita tentang Yesus dan Nikodemus ini di Alkitab;
di Yohanes 3:1-21. (t/Ratri)
Sumber: Garden of Praise, http://www.gardenofpraise.com/bibl40s.htm, Artikel Jesus and Nicodemus.
Warnet PenaKreatif Bersama Ministry-To-Children.com
http://ministry-to-children.com/
Kebutuhan anak akan Tuhan tidak bisa dipisahkan dari peranan para
pelayan anak dalam kehidupan anak-anak layannya. Jika ingin
anak-anak layan kita mengenal Tuhan dengan lebih intim lagi, maka
kita harus siap menjadi teladan dalam segala hal. Menjadi kreatif
pun diperlukan kala kita mengajarkan kebenaran-kebenaran firman
Tuhan dalam kehidupan mereka. Situs Ministry-To-Children.com ini
memberikan banyak referensi kepada para pelayan anak untuk lebih
kreatif lagi dalam mengemban tugas pelayanannya. Program sekolah
Alkitab liburan (Vacation Bible School -- VBS) di sekolah minggu
Anda dapat segera disiapkan karena situs ini dapat menolong banyak
dalam hal tersebut. Tengok saja menu VBS 2008 yang sepertinya
menjadi menu andalan. Aktivitas sekolah minggu, cerita Alkitab,
maupun kurikulum sekolah minggu dapat pula Anda telusuri dalam situs
ini. Tidak ketinggalan pula artikel-artikel menarik seputar
pelayanan anak yang tentunya dapat menambah wawasan dan motivasi
dalam pelayanan. Jangan hanya mencari sumber di halaman ini saja,
tengok pula sumber-sumber lain yang telah disediakan tautannya dalam
menu Children`s Ministry Links. Selamat berkunjung!
Oleh: Davida (Redaksi)
Dari Anda Untuk AndaBahan Mengajar Kelas Batita
>Dear rekan-rekan di PEPAK,
>Saya Ina, guru SM di kelas Batita (Pra Playgroup & Playgroup). Saya
>sering kesulitan menerapkan tema ke anak-anak batita. Kalau boleh
>tolong minta metode menyampaikan sebuah tema mengajar untuk batita
>dan contoh-contoh bahannya.
>Thank you, Tuhan Memberkati
>Regards
>Ong Ina
Redaksi:
Dear Rekan Ina,
Dalam situs PEPAK, Anda dapat melihat kurikulum untuk kelas batita,
lengkap dengan tema dan juga contoh-contoh bahannya. Anda dapat
mengaksesnya di ==> http://pepak.sabda.org/pustaka/030191/
Di dalam halaman tersebut, terdapat materi pelajaran untuk kelas
batita selama tiga bulan.
Selain dalam situs PEPAK, Anda juga dapat mengakses berbagai tema
dan contoh pelajaran, lengkap dengan aktivitasnya, dalam situs
Indonesia-Educenter.net <http://indonesia-educenter.net/>.
Mutiara Guru
Tidak ada seorang pun yang membasahi tanah liat
dan meninggalkannya, seakan-akan tanah itu akan menjadi batu bata
karena kebetulan dan nasib baik.
- Plutarch -
|