Salam dari Redaksi
Shalom,
Tidak sedikit para mantan pecandu narkotika yang memberikan
kesaksian bahwa awal mula mereka terjerumus menggunakan barang
terlarang itu karena tidak adanya perhatian dan kurangnya cinta dari
keluarga mereka. Akhirnya, kebutuhan untuk dicintai yang mereka
rindukan tersebut didapatkan dari teman-teman mereka, yang pada
akhirnya justru memberikan pengaruh buruk bagi diri mereka.
Apakah kita ingin hal tersebut terjadi pada anak-anak yang telah
Tuhan percayakan untuk kita didik dan asuh? Tentu saja tidak, bukan?
Anak benar-benar merupakan pribadi yang unik, yang memerlukan
perhatian khusus dari orang tua maupun pendidiknya. Yesus telah
terlebih dahulu memberikan teladan bagaimana seorang anak harus
diperlakukan sehingga mereka akan selalu merasa dikasihi. Saat para
murid memarahi anak-anak yang ingin datang kepada Yesus, Dia justru
menyuruh anak-anak itu mendekat, Dia menyentuh, bahkan memberikan
pelukan kasih kepada setiap anak. Saat ini, yang Dia inginkan adalah
agar melalui setiap pendidik, baik itu orang tua maupun guru,
anak-anak dapat merasakan kasih-Nya. Oleh karena itu, kita semua
bertugas memenuhi kebutuhan rasa cinta yang sangat diperlukan oleh
setiap anak. Simaklah dua artkel dalam edisi e-BinaAnak minggu ini,
yang berisi tentang bagaimana orang dewasa dapat memenuhi kebutuhan
anak akan rasa cinta tersebut. Jangan lupa, bagi para guru sekolah
minggu, ada aktivitas khusus yang dapat membawa anak melihat bahwa
mereka adalah pribadi yang istimewa di mata Tuhan.
Kami mengajak Anda untuk menuliskan opini dalam bentuk artikel,
blog, maupun komentar-komentar Anda mengenai kebutuhan anak atau
wacana lain seputar dunia anak dalam "Network Anak" di situs
In-Chris.Net <http://www.in-christ.net/komunitas_umum/network_anak>.
Selamat melayani dan kasihilah anak-anak layan Anda dengan kasih
Kristus!
Pimpinan Redaksi e-BinaAnak,
Davida Welni Dana
"Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu,
dan mendatangkan sukacita kepadamu." (Amsal 29:17)
ArtikelMenuai Apa yang Anda Tabur
Untuk menuai buah kasih, Anda harus terlebih dahulu menabur benih
kasih. Banyak benih kasih mungkin ditaburkan dengan penuh
pengorbanan, namun pada saatnya tiba untuk menuai buah kasih itu,
pengorbanan tidak akan dirasakan lagi. Lagipula, semua pencapaian
berharga dalam hidup memerlukan pengorbanan. "Benih-benih kasih"
berarti totalitas Anda dalam mendidik anak Anda selama beberapa
tahun menabur sebelum Anda menuai hasilnya.
MENDENGARKAN
Bagaimana Anda mendengarkan anak Anda, menyiratkan beberapa hal
kepadanya. Cara Anda mendengarkan akan menyiratkan, "Jangan ganggu
aku; Aku sibuk sekali," atau, "Aku punya waktu untuk mendengarkan
apa yang kamu sudah pernah katakan." Perkataan yang pertama akan
membuat anak Anda semakin tenggelam dalam kesepian, dan ia akan
mulai berpikir bahwa ia adalah gangguan dan tak terlalu penting
untuk didengar atau diperhatikan. Perkataan yang kedua akan membuat
anak Anda merasa dihormati, dianggap penting, dan pantas didengar.
Paul Tournier, seorang penulis dan dokter terkemuka dari Swiss,
mengatakan, "Kebutuhan manusia untuk didengarkan adalah sesuatu yang
sangat penting."
Ada dikatakan bahwa untuk bisa mendengarkan dengan baik, diperlukan
dua hal, yaitu konsentrasi dan pengendalian. Mendengarkan yang baik
melibatkan daya konsentrasi untuk mendengarkan apa yang dikatakan,
apa yang tidak dikatakan atau apa yang ia "tutupi", dan apa yang
sebenarnya ingin diutarakan. Mendengarkan juga memerlukan
pengendalian untuk tidak bereaksi atau bereaski secara berlebihan
dan menyela atau mengkritik apa yang dikatakan.
Kemampuan Anda mendengarkan akan membantu dalam mengevaluasi nilai
kata-kata Anda sendiri, karena banyak dari apa yang anak-anak
katakan merupakan refleksi perkataan Anda.
KOMUNIKASI
Anda akan memerlihatkan persetujuan atau kritik, kasih atau
penolakan, melalui bagaimana Anda berbicara kepadanya. Nada suara
Anda, tatapan mata Anda, dan bagaimana Anda menyentuhnya akan
mengungkapkan maksud hati Anda dengan lebih jelas daripada apa yang
keluar dari mulut Anda.
Seorang ayah yang bersedia mengutarakan kebenaran spiritual terhadap
keluarga, sangat dibutuhkan. Dalam rumah di mana tidak ada figur
ayah, atau seorang ayah tidak mau mengajarkan kebenaran alkitabiah,
ibulah yang harus menjalankan tanggung jawab tersebut. Anak yang
diberkati adalah anak yang dibesarkan dalam sebuah rumah di mana ia
cukup dikasihi dan ada seseorang yang peduli untuk memberinya dasar
kebenaran sebagai pegangan hidupnya.
Kami sangat terkesan dengan apa yang kami lihat di salah satu gereja
lokal di Florida. Pada penutupan seminar yang kami adakan di gereja
itu, pendeta mengajak para ayah yang memimpin renungan keluarga
minggu sebelumnya untuk maju ke depan dan mengadakan pertemuan
singkat. Saya melihat lebih dari tiga ratus pria maju ke depan untuk
bertemu dengan pendeta selama 10 atau 15 menit. Hal itu bukanlah
pemandangan umum yang sering terjadi, dan saya sangat penasaran.
Saat pendeta selesai, saya bertanya bagaimana ia bisa membuat para
pria memimpin renungan dalam keluarganya. Ia menjelaskan bahwa enam
bulan sebelumnya, ia menyadari bahwa tidak satu pun pria di
gerejanya yang mengomunikasikan kebenaran Injil kepada keluarganya,
jadi pada suatu Minggu malam, ia meminta pria yang memimpin renungan
keluarga minggu sebelumnya untuk maju ke depan. Hanya ada dua puluh
orang yang maju. Pada minggu berikutnya, ia melakukan hal yang sama.
Satu-satunya syarat agar para pria tersebut bisa mengikuti
pertemuan yang di dalamnya ada instruksi, inspirasi, dan dorongan,
adalah memimpin renungan keluarga seminggu sebelumnya. Mereka tidak
berkomitmen untuk melakukannya atau pun menunjukkan niat baik untuk
melakukannya; mereka menghadiri pertemuan itu karena mereka telah
memimpin renungan dalam keluarga mereka. Enam bulan kemudian,
jumlahnya meningkat menjadi lebih dari tiga ratus pria yang
mengomunikasikan kebenaran spiritual pada keluarganya setiap
harinya. Gereja dan komunitas itu telah benar-benar menuai manfaat
dari sebuah komunikasi yang efektif.
MENDISIPLIN
Hal ini adalah salah satu benih yang penting untuk ditabur. Disiplin
dan kasih tidak boleh dipisahkan karena kedua hal itu melibatkan
hubungan antara orang tua dan anak. Harus ada kasih dan kedisiplinan
yang seimbang dari kedua orang tua. Kita dapat melihat contohnya
pada Esau dalam Kejadian 25-27. Ia tidak didisiplinkan dan dikasihi
hanya oleh satu orang tua. Mereka menuai apa yang telah mereka
tabur. Kejadian 26:35 mengatakan bahwa Esau dan istrinya
"menimbulkan kepedihan hati bagi Ishak dan Ribka".
Saat disiplin diterapkan dengan benar, maka akan ada kestabilan
dalam keluarga. Anak-anak perlu memahami peraturan keluarga karena
peraturan akan memberikan rasa aman bagi anak-anak saat mereka
melakukan segala tindakan yang tidak melanggar peraturan tersebut.
Disiplin yang baik berperan sebagai pagar sehingga anak-anak tahu
sebatas mana mereka dapat pergi.
Baru-baru ini, saya menemui hal yang sangat menghibur saat kami
bepergian ke Afrika. Saya mengamati bahwa ternyata binatang memiliki
naluri disiplin yang baik. Kami berkendara melewati alam liar di
Kenya sampai pada akhirnya kami tiba di sebuah penangkaran gajah
yang sangat luas. Saat kami menyusuri jalan untuk melihat beberapa
gajah yang mendekati kami, seketika itu juga kentara jelas mana
induk dan mana anak. Sang induk gajah memiliki naluri bahwa kami
berpotensi membahayakan anaknya dan kemudian mengisyaratkan anaknya
agar tetap bersama kawanan gajah yang lain. Sang anak gajah tidak
mau menurut dan ingin terus mendekat kepada kami. Sang induk
mengendusnya untuk mendapat perhatian dan si anak dengan sopan
mengabaikannya. Akhirnya, setelah itu, sang induk kemudian memukul
pantatnya dengan belalainya. Si anak gajah tahu benar apa yang
dimaksud sang induk gajah dan ia pun berbalik dan kembali ke
kawanan. Sesaat kemudian, saya melihat sang induk berjalan di
sampingnya dan menggosoknya dengan tubuhnya yang besar seolah-olah
itu adalah belaian kasih. Induk dan anak gajah itu nampaknya
memiliki hubungan yang baik dengan keseimbangan yang baik antara
kasih dan disiplin.
MENGAMPUNI
Anak-anak belajar mengampuni dengan melihat Anda. Bagaimana Anda
mengampuni ibu mereka? Ayah mereka? Orang yang bersalah pada Anda?
Dalam setiap situasi tersebut, Anda secara tidak sadar mengajar
mereka dengan teladan Anda. Saat mereka melukai dan mengecewakan
Anda, apakah Anda mampu mengampuni dan melupakannya? Saat Anda tidak
mengampuni dan melupakan, maka Anda menyimpan dendam yang kemudian
menjadi baji yang memisahkan.
Saya melihat seorang ayah yang menanggapi anaknya dengan rasa sakit
hati dan kekecewaan. Anak itu tidak taat dan pantas dihukum, namun
karena si ayah bereaksi atas dasar rasa kecewa, bukannya membantu si
anak, hal itu menjadi baji yang memutuskan hubungan mereka. Sang
ayah mencabut hak-hak istimewa yang seharusnya didapatkan anak itu
untuk mengisi liburan. Sang ayah bereaksi terlalu berlebihan. Dari
situ, muncul kepahitan dan kebencian dan peristiwa itu sangat
membekas di hati. Pasti akan lebih baik jika sang ayah tadi
mendisiplinkan anaknya dengan kasih daripada melukai hati sang anak
dalam jangka waktu yang lama. Ia kemudian bisa mengatakan pada
anaknya bahwa ia minta maaf dan apa yang terjadi akan segera
terlupakan. Hal seperti itu akan membantu anak untuk belajar dari
kesalahan dan berusaha lebih baik lagi lain kali. Anak yang disiplin
dengan kasih biasanya akan menghormati ayahnya dan berusaha lebih
baik lagi untuk tidak melukai perasaan ayahnya di kemudian hari.
MENGHARGAI
Kasih itu termasuk menghargai penilaian dan keputusan anak Anda.
Pemikiran mereka mungkin tidak sama dengan pemikiran Anda. Tentu
saja mereka belum dewasa dan berpengalaman, namun setidaknya berilah
mereka perhatian. Biarkan mereka merasa bahwa Anda memerhatikan apa
yang mereka pikirkan. Pada waktu-waktu tertentu, akan sangat baik
untuk mengizinkannya mengikuti keputusan yang ia buat sendiri jika
Anda yakin bahwa keputusannya itu tidak akan mencelakakan dirinya.
Dengan demikian, Anda membantu si anak membangun rasa percaya diri
dan penghargaan diri.
Penghargaan paling besar yang dapat Anda tunjukkan pada anak Anda
adalah memenuhi haknya. Salah satu haknya yang paling penting adalah
penjelasan, memang kelihatannya sederhana, namun hal itu sangat
penting bagi anak.
Musim panas lalu, saat mengunjungi pesisir Timur Amerika Serikat,
keluarga saya melihat secara langsung bagaimana hak seorang anak
dilanggar. Kedua anak kami yang telah kuliah, saya dan suami saya
mengantri untuk melihat patung Liberty di Pelabuhan Long Island.
Saat itu sangat panas, siang musim panas, dan antriannya sangat
lama. Sebuah keluarga kecil berada di depan kami dengan kedua
anaknya. Kedua anak itu kelelahan, kepanasan, dan tak terlalu senang
mengantri. Sang ayah meninggalkan antrian selama beberapa waktu dan
kembali sambil membawa dua es krim untuk kedua anaknya. Kedua anak
itu tak rewel lagi. Seluruh antrian tampak senang saat kedua anak
itu senang. Kemudian sampailah kami di dekat pintu masuk. Pada pintu
masuk, ada papan peringatan yang berbunyi, "Tidak boleh membawa
makanan dan minuman masuk ke dalam." Si ibu muda yang membacanya,
dengan cepat menyambar kedua es krim yang digenggam kedua anak itu
dan kemudian membuangnya di tempat sampah tanpa memberikan
penjelasan mengapa ia melakukan hal tersebut. Si ibu dapat membaca
papan peringatan itu, namun anak-anaknya tidak. Yang mereka tahu
hanyalah menikmati es krim dan kemudian es krim itu dirampas dari
mereka. Mereka berteriak dan kami berkeliling melihat patung Liberty
dengan tangisan kedua anak yang marah karena hak mereka dilanggar.
Dalam perjalanan menuju monumen, si ibu memukul pantat mereka karena
terus menangis. Sungguh, suatu pemandangan yang tidak menyenangkan
karena yang dipukul adalah orang yang seharusnya tidak dipukul
pantatnya. Jika orang tua mau meluangkan waktu untuk menempatkan
diri menjadi si anak dan menghargai hak-hak anaknya, maka tidak akan
terjadi banyak kekacauan. (t/Dian)
Sumber: How to Develop Your Child`s Temperament, Beverly Lahaye, , Artikel Reaping The Rewards of Love, halaman 156 -- 162, Harvest House Publishers, Oregon, 1977.
ArtikelCara Terbaik Mengasihi Anak
Seorang konselor keluarga, Gary Chapman, menyatakan lima bahasa yang
dapat membuat anak tidak merasa terabaikan.
Para orang tua berusaha keras untuk membuat anaknya merasa dicintai,
namun usaha itu mungkin saja tidak berhasil.
"Terkadang seorang anak memiliki alasan yang baik mengapa ia merasa
tidak dicintai," tegas seorang pendeta dan konselor keluarga, Gary
Chapman, yang bersama dengan Dr. Ross Campbell menulis "The Five
Love Languages of Children" (Northfield). "Itulah mengapa kita harus
belajar bagaimana menyatakan cinta dengan suatu cara yang membuat
anak merasa dicintai."
Menurut Chapman, kita semua menggunakan sebuah bahasa cinta utama
untuk menyatakan cinta kepada sesama. Melalui bahasa itu pula, kita
dapat dengan mudah menerima cinta. Tulisan ini memuat bagaimana kita
dapat mulai berkomunikasi dengan bahasa baru untuk memastikan
anak-anak kita merasa bahwa mereka dicintai.
Sungguh menakjubkan bahwa anak-anak merasa tidak dicintai padahal
kasih orang tua begitu besar. Apa ada yang terlewatkan? Kebanyakan
dari kita mencintai anak-anak kita dengan cara alami yang kita
miliki -- cara di mana kita dapat dengan mudah menerima rasa cinta.
Jika anak Anda menggunakan bahasa cinta yang berbeda, ia akan merasa
dicintai pada tingkat tertentu. Namun, ia takkan merasakan dalamnya
rasa cinta yang ia harapkan.
Jadi, orang tua harus benar-benar mencurahkan perhatian pada bahasa
yang paling membuat anak merasa dicintai. Apa itu bahasa cinta? Ada
lima bahasa cinta, dan bahasa-bahasa itu cukup sederhana, yaitu
melayani, sentuhan fisik, hadiah, waktu berbagi bersama, dan pujian.
Kita harus mengasihi anak-anak dengan menggunakan kelima bahasa
tersebut. Untuk memastikan bahwa anak Anda mengerti benar bahwa Anda
mencintainya, penting bagi Anda untuk mengungkapkan bahasa cinta
utama mereka.
Bagaimana bisa orang tua mengenali bahasa cinta utama seorang anak
yang masih kecil? Anda tidak dapat mengenali bahasa cinta utama
seorang bayi atau balita, jadi berikan saja kepada mereka banyak
cinta dengan menggunakan lima bahasa di atas. Namun pada umur 3 atau
4 tahun, bahasa cinta seorang anak mulai berkembang, dan pada umur 5
atau 6 tahun, bahasa cinta seorang anak telah benar-benar
berkembang.
Saat seorang anak mengembangkan sebuah bahasa cinta, bagaimana orang
tua dapat mengetahui bahasa cinta yang mana yang mereka kembangkan?
Untuk mengetahuinya dibutuhkan proses tiga tahap. Pertama, amati
bagaimana anak Anda mengekspresikan cintanya pada Anda. Misalnya,
bahasa cinta anak laki-laki kami adalah sentuhan fisik. Saat ia
berumur sekitar lima tahun, saya perhatikan bahwa saat saya pulang
dari kerja, ia akan melompat kepada saya dan mengacak-acak rambut
saya. Ia menyentuh saya karena ia ingin disentuh. Jika anak Anda
selalu menghampiri dan memeluk Anda, sentuhan fisik mungkin adalah
bahasa cintanya.
Atau katakan saja anak Anda selalu mengatakan, "Kamu adalah Ibu
terbaik di dunia." Jika ia sering memuji Anda, maka pujian mungkin
adalah bahasa cinta utamanya.
Setelah Anda melihat bagaimana anak Anda mengekspresikan cinta, apa
langkah selanjutnya? Hal berikutnya yang perlu dicari adalah apa
yang diminta sang anak dari Anda. Jika dia selalu meminta Anda
membetulkan sesuatu yang rusak atau membantunya mengerjakan
pekerjaan rumah, maka tindakan melayanilah yang membuatnya merasa
paling dicintai. Namun, jika anak Anda selalu meminta Anda bercerita
untuknya atau bermain bersama, maka waktu berbagi bersama mungkin
adalah bahasa cinta utamanya.
Apa tahap ketiga untuk mengetahui bahasa cinta utama anak? Kenali
apa yang paling tidak ia senangi. Jika dia sering mengatakan, "Ayah
pergi untuk urusan bisnis, tapi tidak membawakanku oleh-oleh!" maka
ia mungkin sedang mengatakan kepada Anda bahwa bahasa cinta utamanya
adalah menerima hadiah.
Saat orang tua mengetahui bahasa cinta apa yang digunakan oleh anak,
mengapa penekanan penggunaan bahasa itu penting? Kita harus
menggunakan bahasa cinta utama anak karena bahasa itulah yang akan
membuatnya benar-benar merasa dicintai oleh orang tuanya. Hal itu
akan memberikan kenyamanan dan rasa diperlakukan dengan baik yang ia
butuhkan.
Bagaimana kita bisa bertahan menghadapi anak yang menggunakan bahasa
cinta utamanya untuk membuat kita merasa bersalah atau untuk
memanipulasi kita? Hal ini berbahaya, apalagi yang bahasa cintanya
adalah menerima hadiah. Anak-anak disuguhi dengan iklan-iklan
televisi yang mengiklankan semua barang yang mereka "harus miliki".
Orang tua tidak boleh memberikan segala sesuatu yang anak mau, meski
hadiah adalah bahasa cinta utama anak Anda.
Bagaimana orang tua dapat membatasi hadiah tanpa membuat anak merasa
ekspresi cinta Anda terhadapnya terbatas? Tanpa harus menghabiskan
uang ekstra, orang tua dapat membuat hadiah dari benda-benda yang
biasa. Katakan saja anak Anda membutuhkan seragam sekolah atau alat
musik untuk les piano. Anda membeli apa yang mereka perlukan lalu
membungkusnya dengan kertas kado. Buatlah apa yang mereka butuhkan
itu sebagai hadiah dan berikan kepada anak di hadapan seluruh
keluarga. Sang anak merasa dicintai, dan itu tidak membuat orang tua
mengeluarkan uang ekstra.
Bagaimana dengan hadiah yang tidak membutuhkan biaya ekstra?
Apa pun dapat menjadi hadiah -- kulit kerang, batu-batu yang indah,
buat pohon cemara. Bagi anak yang bahasa cinta utamanya adalah
hadiah, apa pun hadiahnya tidak akan menjadi masalah. Yang dia
pikirkan bahwa Anda telah memikirkannya dan membawakannya hadiah.
Itulah yang terpenting.
Kini tentang bahasa cinta yang berupa sentuhan fisik. Saat anak-anak
bertambah dewasa, mereka sering kali menolak sentuhan kasih dari
orang tua. Apa jalan terbaik untuk menanganinya? Kita harus sensitif
terhadap bagaimana anak-anak berubah pada awal masa-masa remajanya.
Jika anak Anda kaku saat Anda memeluknya, itu artinya ia tidak
menginginkan kasih sayang dalam bentuk seperti itu pada saat itu.
Di depan teman-teman mereka, anak laki-laki tidak mau dipeluk,
terutama oleh ibunya. Namun saat mereka sendirian dan sang ibu
memeluk mereka, maka mereka akan menyambut pelukan itu. Beda lagi
dengan ayah. Seorang ayah dapat berjalan dengan anak saat
teman-temannya ada di sekitarnya dan menepuk pundak sang anak. Anak
laki-laki dapat menerima perlakuan seperti itu di depan
teman-temannya.
Bagaimana dengan remaja putri? Banyak ayah menghindari sentuhan
fisik, namun anak perempuan mereka masih memerlukannya. Jelas,
seorang ayah tidak akan lagi mencium bibir anak perempuan atau
bergulat dengannya. Namun, seorang ayah harus memeluk anak
perempuannya dan menepuk punggungnya serta membelai rambutnya.
Jika seorang ayah tidak mengekspresikan cintanya dengan menyentuh
anak perempuannya, sang anak akan berpaling kepada orang lain. Dari
sanalah terjadi banyak penyimpangan seksual. Anak perempuan yang
tidak merasakan cinta dari ayah mereka, akan mencari cinta dari
orang lain.
Kebanyakan anak tidak akan tiba-tiba mengatakan, "Rasanya aku kurang
dicintai hari ini." Bagaimana orang tua dapat mengukur seberapa baik
mereka telah mengomunikasikan cinta mereka? Caranya adalah dengan
menanyakan langsung kepada sang anak. Saya sering menggunakan ukuran
nol sampai sepuluh. Sepuluh artinya tangki cinta Anda penuh dan
meluap. Nol artinya Anda tidak merasakan cinta sama sekali. Sang
anak mungkin berkata, "Tangki cintaku menuju garis batas dua." Anda
dapat bertanya, "Apa yang dapat Ayah/Ibu lakukan untuk mengisi
tangki itu sehingga penuh?" Jika ia menanggapinya dengan respons
yang masuk akal, maka tindak lanjutilah apa yang ia minta. Namun
pada masa awal remaja, anak mungkin mencoba menggunakan situasi
tersebut untuk memanipulasi Anda.
Apakah ada cara lain yang lebih baik?
Anda dapat mengetahuinya dengan mengamati tingkah laku anak Anda.
Sering kali, jika anak mencari perhatian, itu karena tangki cintanya
hampir kosong. Itu pertanda bahwa Anda harus lebih sadar untuk
memujinya, membantunya dengan melayaninya, atau menghabiskan lebih
banyak waktu bersamanya -- apa pun bahasa cinta utamanya.
Saat Anda memenuhi kebutuhan pokok anak-anak untuk dicintai, Anda
telah meletakkan pondasi untuk memenuhi kebutuhannya yang lain. Jika
Anda mencintai anak Anda dengan menggunakan bahasa cinta utama anak
Anda, segala sesuatu di rumah akan menjadi semakin baik. Anda akan
melihat perbedaan besar dalam hubungan keluarga Anda. (t/Dian)
Sumber: ChristianityToday.Com, http://www.christianitytoday.com/cpt/9g1/9g1034.html, Artikel The Best Way to Love Your Child oleh Ron R. Lee.
AktivitasAku Mengenalmu
Aktivitas ini akan membuat anak-anak merasa bangga terhadap dirinya
sendiri dan akan membantu anak mengerti bagaimana kuasa Tuhan dapat
membantu mereka menerima sesamanya apa adanya.
Bahan-bahan:
- Selembar kertas berukuran 8½ x 11 cm untuk setiap anak.
- Pensil atau spidol untuk setiap anak.
Durasi Aktivitas:
10 -- 15 menit
Topik:
Penerimaan, Persahabatan, Individualitas, Kebaikan, Kasih
Peserta:
Anak kelas 1 -- 6
Apa yang akan Anda lakukan:
Pertama, bagilah anak-anak dalam kelompok-kelompok terdiri dari 4 --
6 anak. (Kelompok yang terdiri dari tiga anak, terlalu kecil; tujuh
anak akan memakan banyak waktu.) Jika memungkinkan, suruh anak-anak
dalam setiap kelompok duduk bersama-sama di kursi yang terpisah atau
saling berhadapan, dll.. Kemudian suruh anak-anak untuk melihat
teman-teman sekelompoknya dan menuliskan nama-nama teman mereka di
sisi kiri bawah kertas mereka. Tidak harus urut. Lalu, suruh mereka
menulis sesuatu yang baik tentang teman-teman mereka di sebelah
nama-nama yang telah mereka tulis. Apa yang mereka tulis harus
positif, bukannya tulisan yang mengejek atau merendahkan.
Contoh:
| Mark | : | Selalu berpakaian rapi |
| Alyssa | : | Dia baik pada semua orang |
| Jennifer | : | Dia sangat pintar |
| Andrew | : | Hafal ayat-ayat Alkitab |
| Erica | : | Pintar bermain sepak bola |
Saat semua anak telah selesai menulis sesuatu yang baik tentang
teman-teman mereka dalam kelompoknya, suruh mereka memberikan kertas
mereka kepada teman di sebelah kanan. Kemudian, setiap anak akan
dapat membaca komentar yang temannya telah tulis tentang diri
mereka. Setelah beberapa saat, suruh mereka untuk memberikan kertas
yang mereka pegang ke teman di sebelah kanan mereka lagi, dan
biarkan setiap anak membaca komentar teman mereka tentang mereka.
Lakukan hal tersebut sampai setiap kertas sampai pada penulis
aslinya. Anak-anak akan tahu hal-hal baik apa yang dipikirkan teman
mereka tentang mereka dan hal itu jelas akan membuat hari mereka
ceria.
Jelaskan kepada anak-anak bahwa Allah itu adalah kasih dan Yesus
adalah teladan kasih. Yesus melihat orang dari hati. Saat Yesus ada
di hati kita, kita juga dapat melihat orang lain sama seperti Yesus
melihat orang lain, dengan cinta, belas kasih, kebaikan, dan
kepedulian. (t/Dian)
Sumber: Kid`s Sunday School Place, http://www.christianitytoday.com/cpt/9g1/9g1034.html, Artikel I Know You oleh Craig.
Warnet PenaIn-Christ.Net (Indonesian Christian Network of Networks)
http://www.in-christ.net/
Telah hadir bagi Anda semua, situs komunitas Kristen In-Christ.Net
yang akan memperlengkapi pelayanan kita bersama dalam Tuhan.
Mengapa? Karena melalui In-Christ.Net, berbagai komunitas dari
berbagai bidang pelayanan Kristen dapat saling berkolaborasi dan
membangun pelayanan bersama tanpa dihalangi oleh waktu, tempat,
ruang, atau tembok-tembok organisasi.
In-Christ.Net menyediakan fasilitas untuk Komunitas Khusus dan
Komunitas Umum yang terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung.
Komunitas Umum berisi "network-network" dari berbagai bidang
pelayanan Kristen. Silakan mendaftar dan bergabung dengan "network"
yang Anda inginkan dengan mengirimkan artikel, blog, atau pun
memberikan komentar. Di sini, Anda akan bertemu dan berkolaborasi
dengan orang-orang percaya dari berbagai tempat yang memiliki minat
bidang pelayanan yang sama dengan Anda.
Dalam Komunitas Khusus, tergabung kelompok-kelompok yang lebih
sempit, yang sebelumnya pernah mengadakan pertemuan tatap muka, yang
ingin meluaskan komunitas mereka dengan membuka kolaborasi di
internet. Untuk bergabung, Anda harus mendaftar terlebih dahulu.
Bagi Anda yang ingin membuka komunitas khusus yang baru, silakan
menghubungi webmaster(at)sabda.org untuk mendapatkan fasilitas yang
tersedia. Berkunjunglah ke halaman "Panduan" untuk informasi
selengkapnya < http://www.in-christ.net/panduan >.
Sesuai dengan moto In-Christ.Net, yaitu "Equipping One Another",
kami percaya umat Tuhan akan berkembang pesat jika bersatu dan
saling memperlengkapi untuk menciptakan kolaborasi antarkomunitas
yang dinamis dan memuliakan nama Tuhan. Segeralah bergabung!
Mutiara Guru
Could you speak to me from my heart?
Could you always be glad to hear from me,
no matter how long it`s been?
Could you always accept me,
especially when I can`t accept myself?
- Beth Flower -
|