Salam dari Redaksi
Salam dalam kasih Kristus,
Bingung memang manakala harus menghadapi anak pratama yang usianya
berkisar antara enam dan sembilan tahun. Diperlukan persiapan super
ekstra untuk mengajar mereka. Karena usia tersebut merupakan masa di
mana si anak mulai memperlihatkan kepandaiannya kepada teman
sebayanya, menyukai kehidupan kelompok, bertindak kritis, penuh rasa
ingin tahu yang tinggi, dan sifat menonjol lainnya. Para pelayan
sekolah minggu atau para pelayan anak harus pandai-pandai dalam
menyajikan cerita maupun kreativitas. Kalau tidak, siap-siap saja
jika mereka langsung menyerang Anda dengan argumen bahwa mereka
sudah mulai bosan dengan model cerita atau kreativitas yang itu-itu
saja.
Tentu Anda tidak ingin hal itu terjadi, bukan? Edisi pekan ini
mengajak Anda untuk lebih memahami anak usia pratama, baik dari segi
perkembangan, karakter, maupun hal-hal lainnya. Dengan mengenal
karakter mereka, Anda akan terbantu untuk membuat strategi dalam
menyampaikan firman Tuhan. Selamat menyimak sajian kami kali ini dan
layanilah mereka dengan kesabaran dan kelembutan dari Tuhan.
Redaksi Tamu e-BinaAnak,
Kristina Dwi Lestari
"... sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan
kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah
dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh
dalam pengetahuan yang benar tentang Allah." (Kolose 1:10)
ArtikelMemahami Anak Pratama
Anak pada umur antara enam dan sembilan tahun boleh dikata merupakan
saat-saat pengalamannya mulai meluas. Sebelum mencapai umur itu, ia
masih ada di bawah asuhan orang tua. Teman-temannya kebanyakan
berasal dari sekitar rumahnya atau dari keluarganya sendiri. Tetapi
pada umur kurang lebih tujuh tahun, ia mulai mengenal lingkungan
yang baru, yaitu sekolah. Sekarang anak itu bukan hanya menambah
teman-teman baru, melainkan pengetahuan dan keterampilannya
berkembang pula.
Anak pratama sangat aktif, tetapi ia dapat menguasai diri lebih baik
daripada seorang anak balita. Bermain adalah bagian yang penting
dari kehidupannya. Ia suka berlari, melompat, memanjat,
berkejar-kejaran, dan bermain bola. Anak umur ini memang sangat
giat.
Sering, anak pratama itu bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu.
Dan juga kadang-kadang menentang perintah secara spontan, termasuk
tugas yang diberikan kepadanya. Pancaindranya sedang berkembang.
Oleh sebab itu, anak pratama senang melihat, mendengar, meraba,
merasa, dan mencium.
Walaupun perkembangan mental anak pratama itu pesat, orang dewasa
perlu mengingat bahwa perbendaharaan kata-katanya masih terbatas. Ia
sudah mengerti banyak hal, juga sedang belajar membaca, menghitung,
dan menulis. Daya tahan untuk memerhatikan sesuatu atau
konsentrasinya sudah berkembang, tetapi masih terbatas. Ia memunyai
rasa ingin tahu dan sering bertanya: apa itu, untuk apa, bagaimana,
mengapa, dan dari mana. Oleh karena rasa ingin tahu itulah, ia
senang membongkar dan memasang kembali. Sehingga tidak heran bila
permainannya cepat rusak.
Meskipun anak pratama senang belajar tentang hal-ha1 yang nyata,
ia pun senang mendengar cerita khayal. Tetapi untuk hal-hal yang
abstrak, mereka sukar mengerti. Alam pikirannya masih berkisar pada
keadaan sekarang dan pengalamannya sendiri.
Walaupun masih berpusat kepada diri sendiri, anak pratama itu mulai
mengerti kepentingan orang lain. Ia sudah mulai memilih kawan-kawan
dari lingkungan sekolah dengan latar belakang yang lebih luas. Ia
ingin disukai oleh teman-temannya, guru, serta orang tuanya, dan
anak seumur ini mulai senang bermain dalam kelompok-kelompok kecil.
Ia menghargai orang yang lebih tua, misalnya ayah, ibu, nenek, dan
gurunya, bahkan anak pratama suka meniru tingkah laku mereka dan
lekas percaya kepada mereka. Ia ingin disayangi, dicintai, dihargai
oleh orang lain, dan ia mudah ditakut-takuti. Ia juga sudah mulai
dapat membedakan antara yang benar dan yang salah.
Jika ada tugas yang terlalu sukar atau rumit untuk dikerjakan, anak
pratama itu cepat putus asa. Walaupun ia cepat menunjukkan emosi,
ia pun cepat lupa keadaan yang menyebabkannya marah, sedih, dsb..
Anak pada umur ini dipenuhi rasa kagum dan dapat dibimbing untuk
menghormati dan menyembah Tuhan Allah. Pengertian dan pengalamannya
tentang sikap orang Kristen masih sedikit, oleh sebab itu ia perlu
diajar bahwa Yesus adalah Teman yang baik, yang ingin menolongnya.
Di kelas sekolah minggu, ia perlu diajar sikap dan sifat Kristen
yang baik seperti: suka membantu, jujur, taat, penuh kasih, dsb..
Oleh karena ia mempercayai nilai doa, anak pratama dapat diajar
berdoa secara sederhana dan sesuai dengan pengalamannya. Karena ia
tertarik kepada buku yang dianggap penting oleh orang dewasa, ia pun
dapat mulai mengerti bahwa Alkitab adalah buku yang istimewa, dan
bahwa apa yang dikatakan oleh gurunya di sekolah minggu, tentu
cerita yang terdapat di dalam Alkitab. Guru yang menunjukkan kasih
sayang kepada anak pratama akan dengan lebih mudah dapat mengajar
bahwa Allah pun mengasihi anak itu.
CIRI-CIRI UMUM GURU PRATAMA
Seorang guru harus memiliki ciri-ciri tertentu agar dapat mengajar
dengan baik. Memang, tidak ada seorang pun yang dapat memenuhi semua
syarat itu, tetapi seorang guru yang tulus akan berusaha
mengembangkan kemampuannya untuk mengajar. Apakah ciri-ciri itu?
Mengasihi Allah
Seorang guru sekolah minggu tentu berkeinginan agar Allah
berkenan kepada pelayanannya. Untuk itu, ia perlu menyerahkan
diri kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Hal ini akan
sangat menolongnya bila merasa putus asa akan hasil
pelayanannya. Justru penyerahannya kepada Allah itulah yang dapat
memberi dorongan untuk tetap mengajar.
Mengasihi murid-muridnya
Jika Anda tidak mengasihi anak-anak, bagaimana Anda akan mengajar
mereka? Mungkin Anda masih kurang mampu mengajar, namun sebagian
besar kekurangan itu akan dapat diatasi jika Anda sungguh
mengasihi anak-anak.
Mengerti keberadaan anak-anak
Untuk mengajar dengan berhasil, seorang guru perlu mengerti
ciri-ciri, minat, kemampuan, dan kebutuhan anak-anak layannya.
Mengasihi firman Tuhan
Sebagai pengajar sekolah minggu, seorang guru selayaknya
mengasihi firman Tuhan (Alkitab). Menyadari pentingnya arti
mengasihi firman Tuhan, Anda perlu merenungkan
pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.
- Apakah Anda puas dengan membaca Alkitab hanya sepintas lalu
saja ataukah mempelajarinya setiap hari?
- Apakah Anda berusaha menerapkan ajaran Alkitab dalam hidup
Anda?
- Apakah Alkitab menjadi pedoman hidup Anda?
Kesediaan untuk bekerja keras
Jika seorang guru ingin berhasil, ia tidak akan menganggap cukup
hanya sekadar menyampaikan pelajaran yang ada dalam buku saja.
Melainkan, ia akan mengajarkan pelajaran kepada murid-muridnya
sesuai dengan kebutuhan mereka. Untuk hal itu, ia harus mengenal
mereka dan perlu mengunjungi, mendoakan mereka, mempelajari
bahan-bahan pelajaran dengan seksama, mengatasi masalah disiplin
di kelas, dsb.. Guru harus mempersiapkan pelajaran dengan
sebaik-baiknya agar pelajaran itu dapat menarik perhatian
murid-muridnya.
Kesediaan untuk menjadi teladan bagi murid-muridnya
Apakah Anda mengharapkan murid-murid Anda menjadi orang yang
menghargai ketepatan waktu? Jika demikian, Anda sendiri harus
menjadi contoh; dengan tiba di kelas paling awal. Apakah Anda
ingin supaya murid-murid Anda menjadi orang Kristen teladan? Anda
sendiri harus menjadi contoh terlebih dahulu. Mereka akan
memerhatikan hidup, perbuatan, dan percakapan Anda. Jika Anda
ingin agar murid-murid Anda di kemudian hari akan menjadi anggota
gereja yang setia, hendaknya Anda sendiri menjadi anggota gereja
yang setia.
Berusahalah untuk mendapat sarana yang akan menolong Anda mengajar
dengan lebih baik. Ikutilah penataran, kursus, lokakarya, baik yang
diadakan di gereja Anda ataupun sewilayah. Bacalah buku-buku dan
lembaran-lembaran tentang cara mempelajari Alkitab, cara mengajar,
ciri-ciri, atau ilmu jiwa anak-anak, dsb.. Adakan waktu untuk dapat
bertukar pikiran dengan guru-guru sekolah di gereja Anda atau gereja
lain. Anda dapat pula menambah pengetahuan dengan mengamat-amati
guru yang sudah berpengalaman dan sedang mengajar dengan efektif.
Bila gereja Anda telah menyediakan bahan pelajaran, pelajarilah
dengan teliti bahan pelajaran yang telah dicetak sesuai dengan
kurikulum gereja Anda itu. Pakailah saran-saran yang tercantum di
dalamnya.
Sumber: Bagaimana Mengajar Anak Pratama, Doris Blattner, , halaman 5 -- 10, Lembaga Literatur Baptis, Bandung, 1992.
ArtikelBagaimana Mengajar Anak Pratama
Saran-saran berikut ini secara langsung mengarah pada sifat-sifat
anak pratama dan bagaimana sifat-sifat itu memengaruhi proses
belajar-mengajar.
Anak pratama lebih senang belajar dari apa yang dapat mereka alami
secara konkrit dan fisik daripada secara lisan -- misalnya berbicara
dengan mereka. Mereka sangat memerhatikan kepekaan fisik dan mereka
menggunakannya untuk mendapatkan ide-ide dan informasi baru. Itulah
sebabnya, mengapa penggunaan alat-alat peraga visual, kaset rekaman,
tape, alih peran (role play), dan drama sangat penting bagi mereka.
Seorang anak akan belajar lebih banyak dengan memainkan peran
sebagai anak yang harus memilih daripada melaksanakan perintah dari
gurunya yang mengatakan, "Kita semua harus memilih apa yang Tuhan
ingin kita lakukan." Saat seorang anak melihat gambar tentang
bangsa Israel yang berjalan di Laut Teberau, ia mendapatkan
pelajaran yang lebih banyak daripada saat dijelaskan mengenai
peristiwa tersebut.
Anak-anak menyukai cerita! Sungguh bersyukur kita mendapatkan
kesempatan untuk mengajarkan Alkitab yang memuat berbagai cerita
terbaik! Bersikaplah yakin saat menekankan bahwa peristiwa-peristiwa
itu benar-benar ada dalam Alkitab. Bila peristiwa itu tidak begitu
dikenal, anak pandai akan bertanya, "Apakah cerita itu benar-benar
ada di Alkitab?" Sangat baik untuk tidak menceritakan cerita
imajinatif dengan menggunakan latar belakang Alkitab bila tidak
dalam keadaan yang terdesak. Ada banyak legenda dan mitos Natal yang
menarik bagi anak-anak yang lebih besar, tetapi cerita-cerita itu
membingungkan anak pratama.
Sebagai aturan umum, jangan gunakan objek pelajaran. Anak-anak ini
berpikir secara konkrit, secara literal. Tidak mungkin bagi mereka
untuk memahami bahwa menara bisa melambangkan Alkitab atau karang
melambangkan dosa. Anak yang lebih dewasa memang tertarik pada
simbol-simbol, tetapi tidak bagi anak pratama.
Alkitab adalah sumber buku bagi keseluruhan pendidikan Kristen.
Setiap pelajaran harus didasarkan pada Alkitab! Namun, jika Anda
tidak sedang berencana untuk menyusun kurikulum -- ini bukanlah
tugas yang mudah -- Anda disarankan untuk mengikuti materi yang
telah disediakan untuk anak-anak ini. Penyusun kurikulum biasanya
melakukan penelitian yang mendalam sebelum memutuskan pelajaran
Alkitab apa yang sesuai untuk anak pratama. Mereka memilih
bahan-bahan Alkitab yang mudah dipahami dan efektif bila dihubungkan
dengan pengalaman anak. Hanya ada sedikit hal dari cerita janji
Yefta yang bisa diterapkan pada anak karena situasi dari cerita itu
adalah situasi orang dewasa dan tindakan konsekuensi dari tokoh
utama secara emosional sangatlah membingungkan. Selain itu, karena
seorang anak akan belajar banyak melalui cerita, penyusun kurikulum
memilih peristiwa-peristiwa Alkitab yang memiliki cerita
berkualitas. Prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Paulus dalam
Perjanjian Baru secara umum sebaiknya diajarkan pada anak-anak yang
lebih dewasa.
Apa yang diperlukan anak pratama? Sama seperti anak lainnya, mereka
memerlukan penyembahan, belajar, ekspresi, dan persekutuan Kristen.
Anak-anak pratama siap untuk belajar semua dasar kebenaran dalam
Alkitab bila prinsip-prinsip itu disampaikan sesuai dengan tingkatan
anak dan dihubungkan dengan kehidupan mereka. Saat mereka merasa
bersalah, kesepian, atau frustasi, mereka perlu memahami dan
mengalami pertolongan Tuhan. Saat mereka bahagia, mereka perlu
menghubungkan Tuhan dengan hal-hal baik yang ada di dunia ini.
Apa yang sebaiknya kita ajarkan secara spesifik? Kita tidak bisa
mengajarkan apa yang kita sendiri tidak pelajari kepada anak-anak.
Ingatlah, "Agama lebih mudah ditangkap daripada diajarkan." Mungkin
kebanyakan dari anak-anak ini berpikir bahwa Tuhan memiliki bentuk
secara fisik. Pemahaman mereka tentang Tuhan dihubungkan dengan
pengalaman mereka bersama orang dewasa. Mereka sudah bisa memberi
respons terhadap pemikiran bahwa Tuhan adalah Pencipta, tetapi
pemikiran Tuhan yang masih tetap bekerja dalam ciptaan-Nya masih
sulit untuk mereka pahami. Jika pendidik Kristen menekankan
atribut-atribut, misalnya Tuhan itu kasih, kemurahan hati,
kebijakan, kesempurnaan, dan kebaikan, kedewasaan akan memberikan
pemahaman yang sebenarnya bahwa Allah adalah Roh. Saat anak
bertanya, "Seperti apakah Tuhan itu?", guru harus mengatakan, "Tuhan
tidak membutuhkan tubuh seperti kita. Hal penting yang harus
diketahui adalah bahwa Ia mengasihi kita dan ingin kita juga
mengasihi-Nya."
Beberapa anak pratama biasanya sudah siap menerima Tuhan Yesus
Kristus sebagai Juru Selamat. Pada usia ini, seorang anak mulai
mengumpulkan dan menghubungkan cerita tentang kehidupan Yesus --
sejak dari bayi di palungan hingga bangkitnya Juru Selamat. Anak ini
sudah bisa memahami bahwa dia memiliki tanggung jawab pribadi kepada
Tuhan. Ia bisa merasa aman dalam kasih dan pengampunan Tuhan.
Bagaimana sebaiknya kita mengajar anak-anak ini? Kita mengajar
mereka melalui cara-cara di mana mereka bisa belajar dengan
sebaik-baiknya. Kita menyampaikan cerita Alkitab karena mereka
menyukai cerita dan mereka bisa dengan mudah mengikuti
tindakan/perbuatan dalam cerita itu. Kita minta mereka menjawab
pertanyaan-pertanyaan untuk mengetahui pengetahuan dan pemahaman
mereka tentang bagaimana mereka menerapkan apa yang sudah mereka
ketahui. Kita meminta mereka untuk mengekspresikan diri mereka
sendiri melalui permainan alih peran (role play), tugas-tugas,
kegiatan seni, dan menulis, karena kesan (impression) -- dari
pengajaran kita -- harus selalu diikuti dengan tindakan
(expression). Kegiatan-kegiatan pengekspresian diri membantu anak
mempraktikkan apa yang telah mereka pelajari. Melalui berbagai
kegiatan ini, guru bisa mempelajari apa yang telah dipahami oleh
seorang anak dan pengalaman apa yang diinginkan oleh anak ini.
Berbagai jenis pengalaman adalah lebih penting daripada suatu jadwal
yang kaku. Cerita, "filmstrips", dan menyanyi bisa dilakukan dalam
kelompok besar -- hingga lima puluh anak. Namun drama singkat (atau
drama-drama lainnya), kegiatan kreatif, misalnya menyusun lagu,
menulis puisi, kerajinan tangan, atau diskusi, harus dilakukan dalam
kelompok kecil antara lima sampai sepuluh anak.
Ingatlah bahwa setiap anak memasuki pengalaman belajar sebagai
pribadi yang seutuhnya. Beberapa kegiatan memerlukan penglihatan dan
pendengarannya; tetapi kegiatan lain membutuhkan gerakan tubuh,
berpikir kreatif, dan kontrol otot kecil. Anak-anak membutuhkan
kegiatan yang berubah -- berbagai pengalaman belajar. Anak-anak
jarang bisa menghabiskan waktu selama satu jam dengan satu kegiatan
saja. Ukurlah minat anak-anak dan gantilah dengan kegiatan-kegiatan
yang bisa memenuhi kebutuhan mereka. Kira-kira dua puluh menit sudah
cukup lama bagi sebagian besar anak-anak dan kadang-kadang memang
disarankan untuk melakukan kegiatan yang hanya membutuhkan waktu
yang singkat. Beberapa anak akan lebih bisa belajar melalui alih
peran (role play), sedangkan anak-anak lainnya dengan melihat
"filmstrip". Buatlah metode pengajaran yang bervariasi supaya bisa
menghasilkan berbagai gaya mengajar murid-murid Anda.
Membaca buku tentang anak-anak tentu jauh lebih mudah daripada
mengajar mereka. Namun, tinggal bersama anak laki-laki dan perempuan
akan sangat membantu dan bermanfaat daripada hanya membaca. Jadikan
bacaan Anda sebagai tuntunan dan sebagai alat untuk menyediakan
informasi yang sebanyak mungkin. Tetapi ujian dalam mengajar adalah
mengajar itu sendiri! Sama seperti anak-anak yang belajar melalui
apa yang dikerjakannya, demikian pula dengan Anda. (t/Ratri)
Sumber: Childhood Education in the Church, Robert E. Clark, Joanne Brubaker, & Roy B. Zuck, , Artikel How to Teach First and Second Graders, halaman 130 -- 133, Moody Press, Chicago, 1986.
Bahan MengajarOrang Kaya dan Lazarus yang Miskin
Bahan Alkitab
Lukas 16:19-31
Tujuan khusus
Anak dapat:
- menceritakan perbuatan orang kaya terhadap Lazarus;
- membandingkan keadaan orang kaya dengan keadaan orang
miskin;
- memberikan contoh perbuatan yang harus dilakukan
apabila ia berhadapan dengan orang seperti Lazarus.
Ayat hafalan
"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu
perbuatlah demikian juga pada mereka" (Matius 7:12-14).
Materi pelajaran
Untuk Guru
Renungan
Bagian ini berbeda sifatnya dari perumpamaan. Sebab suatu
perumpamaan biasanya merupakan cerita dari kehidupan sehari-hari,
yang intinya dapat menjadi nasihat di bidang kerohanian. Sedangkan
cerita ini merupakan suatu lukisan yang menggambarkan suatu
kejadian, untuk menjadi peringatan.
Orang kaya dalam cerita ini adalah orang yang suka dengan kemewahan.
Tapi bukan berarti bahwa kesenangannya itu menjadikannya seorang
yang bersalah. Alkitab juga tidak mengatakan bahwa memiliki kekayaan
itu adalah suatu kesalahan. Sebab kekayaan itu merupakan berkat
Tuhan kepada orang yang rajin bekerja.
Jadi, di manakah letak kesalahan orang kaya ini? Kesalahannya adalah
pada sikap yang ia perlihatkan ketika berhadapan dengan Lazarus,
seorang miskin yang membutuhkan belas kasihannya. Orang kaya ini
tidak berbuat apa-apa justru ketika ia harusnya melakukan sesuatu.
Ia tidak memerhatikan atau memedulikan orang lain. Yang
dipentingkannya adalah kesenangannya diri. Orang kaya ini tidak
mempergunakan kekayaannya dengan baik. Ia tidak membagikan berkat
yang diterimanya dari Tuhan kepada orang yang memerlukan
pertologannya.
Untuk Anak
Cerita I
"Aduh ... perutku pedih! Aku lapar sekali!" keluh Lazarus sambil
memegang perutnya. "Ke mana aku harus mencari makan, ya? Ah ...
seandainya saja aku sehat, aku akan bekerja sehingga tidak
kelaparan seperti ini. Makin hari aku semakin lemah. Tapi daripada
aku duduk diam di sini, lebih baik aku berjalan. Mudah-mudahan ada
orang yang berbaik hati mau memberi aku makan," demikian pikir
Lazarus.
Pada siang hari yang terik, Lazarus lalu melangkah tertatih-tatih.
Tubuhnya lemah karena sakit dan kelaparan. Selain itu, rasa nyeri
luka-luka yang memenuhi tubuhnya begitu menyiksanya.
Sebentar-sebentar ia duduk di tepi jalan untuk beristirahat.
"Ke mana aku akan berjalan mencari makan, ya? Oh, aku ingat
sekarang! Di sebelah sana ada rumah seorang kaya. Ia memunyai banyak
makanan. Sebab itu tiap hari ia berpesta dengan kawan-kawannya. Ia
pasti mau memberi sedikit makanannya padaku," begitu pikir Lazarus.
Dengan agak bersemangat, Lazarus lalu berjalan menuju rumah orang
kaya itu. Dari kejauhan terlihat orang kaya itu sedang berdiri
menghadapi meja makan. Banyak hidangan tersedia di atas meja.
Berbagai jenis makanan dilihat oleh Lazarus.
Lazarus lalu berbaring di dekat pintu rumah si orang kaya dan
mengharapkan orang kaya itu akan memberi dia makanan. Sementara itu,
beberapa ekor anjing datang mendekat lalu menjilati luka-luka di
tubuh Lazarus.
Adik-adik, Lazarus menunggu dan terus menunggu. Tapi ternyata orang
kaya itu sama sekali tidak memedulikan Lazarus yang kelaparan. Ia
asyik makan bersama tamu-tamunya saja.
Tanya-Jawab
Nah, adik-adik, apakah yang seharusnya dilakukan oleh orang kaya
itu terhadap Lazarus? (Berikan waktu pada anak-anak untuk menjawab.)
Dapatkah adik-adik menceritakan bagaimana perasaan adik-adik jika
seandainya adik-adik menjadi seperti Lazarus? (Beri kesempatan lagi
pada anak-anak untuk menjawab.) Kalau adik-adik menjadi orang kaya
itu, apa yang adik-adik akan lakukan terhadap orang miskin seperti
Lazarus itu? (Anak-anak menjawab.)
Cerita II
Sekarang kita teruskan cerita kita. Apakah yang kemudian terjadi?
Pada suatu hari, matilah Lazarus yang miskin itu. Begitu juga si
orang kaya. Keduanya mati.
Lalu, apakah yang terjadi dengan Lazarus setelah ia mati? Ia masuk
ke surga dan disambut oleh Tuhan beserta malaikat-malaikat-Nya.
Lazarus yang ketika masih hidup di dunia banyak menderita, sekarang
boleh bersenang-senang.
Bagaimana dengan si orang kaya itu? Ia dihukum Tuhan dan tidak
boleh masuk surga. Waktu hidup di dunia, orang kaya itu
bersenang-senang saja dan tidak memerhatikan orang yang menderita.
Sekarang setelah mati orang kaya itu, dihukum dan harus menderita.
Ia masuk neraka.
Aktivitas
Sebagai aktivitas, ajaklah anak-anak untuk mendramatisasikan
(memainkan drama) kisah ini. Tanyakan dulu pada anak-anak, apakah
sebenarnya yang terjadi menurut kisah tadi. Bila mereka sudah
mengetahui, mintalah seorang anak berperan menjadi Lazarus, dan
seorang lagi menjadi orang kaya.
Drama ini dilakukan tanpa suara (pantomim). Bila dua anak ini telah
selesai berperan, mintalah dua orang anak lagi untuk memainkan drama
yang sama. Jangan terlalu banyak anak yang melakukan permainan drama
ini; cegahlah kebosanan.
Sumber: Pedoman Sekolah Minggu Anak Kecil (Umur 7 - 9 Tahun) Tahun II Jilid I, , halaman 28 -- 32, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1994.
Warnet PenaPEPAK: Kesaksian Guru
http://pepak.sabda.org/topik/17/
Bersaksi merupakan satu bagian pengajaran penting dalam kelas
sekolah minggu. Dengan bersaksi, kita dapat saling menguatkan dan
melihat karya Tuhan dalam hidup kita. Situs PEPAK menyediakan wadah
untuk hal tersebut dalam Topik Kesaksian Guru. Di dalamnya, kita
dapat melihat para guru sekolah minggu membagikan
pengalaman-pengalaman mereka dalam pelayanan. Melalui kesaksian
tersebut pula kita semua dapat saling belajar dan menajamkan
sehingga kualitas mengajar kita pun lebih terasah. Saat ini sudah
ada lebih dari empat puluh kesaksian yang dapat kita nikmati
bersama-sama. Apakah Anda ingin menambah daftar kesaksian tersebut?
Tim situs PEPAK masih terus menerima kesaksian-kesaksian membangun
dari para pelayan anak. Isi saja formulir untuk mengirim tulisan
yang ada di halaman depan situs PEPAK <http://pepak.sabda.org> atau
langsung kirim e-mail ke pepak(at)sabda.org. Selamat bersaksi!
Oleh: Redaksi
Salam dari Redaksi
Orang muda memang selalu dalam keadaan menyerupai mabuk;
karena kemudaan mereka memang manis dan mereka sedang bertumbuh.
- Aristoteles -
|