Salam dari Redaksi
Salam dalam kasih Kristus,
Salah satu metode penyampaian firman Tuhan yang digunakan di sekolah
minggu adalah melalui cerita. Setiap anak akan betah mendengarkan
cerita bila cerita itu disampaikan dengan metode yang kreatif dan
menarik. Sebaliknya, betapa membosankannya mendengarkan cerita yang
disampaikan dengan asal-asalan.
Karena cerita bisa dijadikan cara untuk menanamkan kebenaran firman
Tuhan dalam diri anak, maka penting bagi setiap guru sekolah minggu
untuk melakukan persiapan-persiapan yang matang sebelum menyampaikan
cerita. Persiapan yang dibutuhkan tidak hanya persiapan materi saja
karena ada banyak hal yang bisa digunakan untuk mendukung kegiatan
ini.
Dalam edisi ketiga bulan September ini, e-BinaAnak secara khusus
menyajikan persiapan-persiapan apa saja yang harus dilakukan oleh
para GSM sebelum menyampaikan cerita kepada anak-anak layan mereka.
Silakan simak, semoga menjadi bekal dalam pelayanan Anda.
Selamat melayani, Tuhan memberkati!
Redaksi tamu e-BinaAnak,
Christiana Ratri Yuliani
Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah
sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu,
yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.
(2 Timotius 2:15)
ArtikelMengajar Cerita Alkitab
Mengajar cerita Alkitab merupakan suatu usaha untuk menyampaikan
berita sukacita Tuhan kepada anak-anak. Karena kemampuan anak untuk
memahami dan berkonsentrasi belum sebaik orang dewasa, pengajar
harus dapat menyampaikan cerita secara menarik. Itu sebabnya,
pelayanan terhadap anak menuntut kreativitas yang lebih besar
daripada pelayanan terhadap orang dewasa.
Secara garis besar, ada dua tahap utama dalam mengajar cerita
Alkitab, yaitu persiapan dan penyampaian. Keberhasilan pengajaran
sangat bergantung pada penguasaan pengajar terhadap materi yang
disampaikan dan pada persiapan yang matang.
Persiapan
Banyak orang mungkin menganggap remeh masa persiapan. Padahal untuk
dapat menyampaikan cerita Alkitab dengan efektif, persiapan
merupakan langkah yang mutlak diperlukan. Pentingnya sebuah
persiapan ditujukkan oleh slogan 5p, "proper preparation prevent
poor performance", yang berarti persiapan yang baik mencegah
penampilan yang buruk.
Berikut adalah tiga jenis persiapan bercerita yang harus dilakukan
oleh seorang pelayan anak.
Persiapan dasar, meliputi: analisis acara dan analisis calon
pendengar.
Persiapan materi, meliputi: perumusan tujuan, penyusunan
outline/struktur presentasi, pengumpulan bahan, dan penyusunan
cerita.
Persiapan alat bantu, meliputi: pemilihan alat bantu, pembuatan
alat bantu, dan latihan menggunakannya.
Persiapan Dasar
Penyusunan cerita memang harus dipersiapkan dengap cermat, tetapi
setiap pengajar perlu tahu hal-hal di sekitar cerita dan kepada
siapa cerita itu akan disampaikan. Tahapan selanjutnya akan sangat
bergantung pada hasil analisis tahap ini. Misalnya, menyampaikan
cerita kepada anak sekolah minggu di kelas kecil atau batita tentu
akan berbeda dengan di kelas besar.
Langkah awal atau dasar yang bisa dilakukan yaitu dengan membuat
analisis acara dan analisis siapa calon pendengar, yang dapat
dilakukan dengan memerhatikan pertanyaan berikut.
- Mengapa cerita ini disampaikan? Dengan kata lain, hasil apa yang
diharapkan dari cerita tersebut?
- Bagaimana cerita ini akan disampaikan? Apakah dengan cara yang
biasa, dengan panggung boneka, ataukah dengan kombinasi bentuk
lain.
- Tentukan jadwal dan alokasi waktu yang dibutuhkan karena hal itu
akan menentukan kuantitas dan kualitas dari materi yang akan
disampaikan serta alat bantunya.
Langkah selanjutnya adalah menganalisa calon pendengar Anda. Ini
merupakan langkah yang paling dominan dalam persiapan dasar karena
merekalah yang harus menjadi pusat perhatian dalam menyiapkan dan
menyampaikan bahan. Terlebih jika kita bercerita ke gereja lain, hal
ini sangat penting. Beberapa pertanyaan, seperti siapa pendengarnya,
berapa jumlahnya, dan sebagainya, perlu Anda buat analisanya.
Persiapan Materi
Dalam persiapan materi, beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah
perumusan tujuan, penyusunan outline/struktur, pengumpulan bahan,
dan penyusunan cerita. Tahap pertama atau penyusunan tujuan biasanya
sudah ditetapkan oleh pihak individu atau gereja seperti yang
tertulis dalam buku panduan.
Tahap kedua, yaitu dengan menyusun struktur cerita yang terdiri dari
tahap permulaan cerita, inti pembicaraan, dan kesimpulan cerita.
Pendahuluan cerita sangat penting sebagai pengantar ke dalam inti
cerita dan memengaruhi sikap pendengar apakah serius untuk menyimak
cerita selanjutnya atau tidak. Kemudian lanjutkan dengan
mengemukakan inti atau isi cerita yang dapat Anda bagi menjadi
beberapa bagian kecil jika waktu yang diberikan panjang. Tahap
terakhir adalah penutup atau kesimpulan cerita yang digunakan untuk
menekankan apa yang ingin dicapai atau pelajaran apa yang diperoleh
dari cerita tersebut.
Tahap yang ketiga, guru atau pengajar sekolah minggu harus
mengumpulkan atau menyelidiki materi. Penyelidikan ini akan menjadi
kisi-kisi cerita. Kumpulkan perlengkapan yang diperlukan, seperti
Alkitab, buku panduan (kurikulum), konkordansi, alat tulis, dan
lainnya. Berikut ini adalah beberapa hal yang terkait dengan
penyiapan bahan ini.
Menyediakan waktu persiapan untuk menyelidiki materi yang akan
disampaikan.
Membaca untuk mendapatkan pengertian yang lebih lengkap. Baca juga
teks sebelum dan sesudahnya, karena biasanya suatu perikop dalam
Alkitab memunyai kaitan dengan bagian sesudah atau sebelumnya.
Perhatikan tokoh yang terkait dalam cerita, seperti jenis kelamin,
rupa, bentuk badan, kedudukan, watak, hubungan dengan orang lain,
maupun persoalan yang dihadapi.
Sampaikan lokasi atau tempat berlangsungnya peristiwa agar nuansa
cerita dapat ditangkap oleh pendengar.
Perhatikan waktu terjadinya cerita itu. Tempat dan waktu yang
disampaikan dengan jelas akan membantu pendengar atau anak-anak
memahami situasi, keadaan, serta kesulitan yang berkaitan dengan
peristiwa atau kejadian yang dihadapi oleh tokoh dalam cerita itu.
Perhatikan peristiwa, tentukan pemeran utama, dan jangan lupa
perhatikan kata-kata sulit yang perlu Anda perhatikan sesuai
dengan tingkat pemahaman anak-anak. Sebisa mungkin, pakailah
kata-kata yang sederhana. Bila tidak ada padanan dari kata-kata
yang sulit itu, berikan arti kata itu sehingga anak-anak dapat
mengerti.
Setelah bahan atau materi cerita telah siap, sekarang waktunya untuk
menyusun cerita. Tentunya cerita yang akan disusun mengikuti
struktur yang telah dipilih pada tahap sebelumnya, yakni pendahuluan
atau permulaan cerita, isi cerita, dan kesimpulan atau penutup.
Pendahuluan
Bagian ini bisa diisi dengan menceritakan apa yang akan
disampaikan, menanyakan, atau mengulang sebentar cerita yang lalu,
atau memberi awal pada cerita yang baru. Permulaan harus pendek,
dibuat menarik, dan bervariasi (tidak selalu sama setiap minggu).
Beberapa contoh permulaan cerita adalah penyampaian
persoalan/kesulitan (misalnya, Zakheus yang pendek mengalami
kesulitan di antara orang banyak), penjelasan istilah baru (arti
pemungut cukai, orang Farisi, paskah, dll.), peragaan alat/benda
(misalnya bunga).
Isi cerita
Isi cerita perlu dibuat atau ditulis dengan alur yang jelas dan
sederhana untuk mempermudah pemahaman anak-anak terhadap kisah
yang disampaikan. Dalam penyusunan ini, konsentrasi yang dimiliki
anak-anak perlu diperhatikan juga.
Kesimpulan/penutup
Kesimpulan harus mencakup setidaknya dua hal penting, yaitu
rangkuman dari inti pembicaraan dan rangsangan untuk melakukan
tindakan seperti tujuan cerita. Misalnya: "Adik-adik, perempuan
itu pulang dengan sukacita. Dosanya telah diampuni dan ia memulai
hidup yang baru. Siapa di antara adik-adik yang mau diampuni
dosanya oleh Yesus? Siapa yang mau hidup benar di hadapan Tuhan?
Mari kita berdoa ...."
Persiapan Alat Bantu
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penyampaian informasi yang
paling efektif adalah melalui media audiovisual (pendengaran dan
penglihatan). Oleh karena itu, penggunaan alat bantu pada saat
menyampaikan cerita sangat bermanfaat.
Persiapan alat bantu baru dapat dilakukan setelah persiapan dasar
dan persiapan materi selesai. Tiga langkah yang terkait dengan
persiapan ini adalah pemilihan, pembuatan, dan latihan penggunaan
alat bantu.
Pemilihan jenis alat bantu sangat ditentukan oleh persiapan dasar.
Sedangkan materi yang akan ditampilkan melalui alat bantu ini
mengacu pada persiapan materi.
Pembuatan alat bantu membutuhkan keahlian, waktu, dan biaya yang
tidak sedikit. Oleh karena itu, pemilihannya harus benar-benar
disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan. Penggunaan alat bantu
yang telah tersedia dengan atau tanpa modifikasi, dapat menghemat
waktu dan biaya. Setelah alat bantu tersedia, guru atau pengajar
perlu melakukan latihan menggunakan alat bantu ini.
Kesiapan bercerita amat menentukan berhasil tidaknya cerita tersebut
disampaikan kepada anak layan kita. Penyampaian firman Tuhan perlu
dilakukan dengan sebaik mungkin agar pesan dapat diterima anak-anak.
Yang terpenting, firman tersebut dapat menjadi tuntunan mereka untuk
turut dalam kebenaran Allah. Oleh sebab itu, mari sampaikan
kebenaran akan firman Allah dengan sebaik mungkin.
Diringkas oleh: Kristina Dwi Lestari
Sumber: Menciptakan Sekolah Minggu yang Menyenangkan, Sudi Ariyanto dan Helena Erika, , Artikel Mengajar Cerita Alkitab, halaman 90 -- 101, Gloria Graffa, Yogyakarta, 2003.
Tips MengajarBagaimana Memulai Bercerita?
Membaca berbagai cerita. Saat membaca, perhatikan bagaimana
beberapa penulis bercerita tentang telinga (ini adalah
cerita-cerita yang Anda inginkan), sedangkan penulis lainnya
bercerita tentang mata. Beberapa cerita modern pada umumnya
bersifat literal -- lebih menekankan gaya daripada plot/alur
ceritanya -- sedangkan penulis seperti Elie Wiesel dan Leo
Tolstoy menulis seperti cara kita berbicara. Hampir semua cerita
Alkitab memiliki suatu "oral voice" (suara yang dikeluarkan oleh
mulut) yang memudahkan cerita itu untuk dituturkan. Perhatikan
cerita tentang Yunus atau perumpamaan dalam Perjanjian Baru
tentang orang Samaria yang baik hati. Kebanyakan cerita Alkitab
menimbulkan imajinasi yang kuat dan jelas bagi pendengar
modernnya.
Dari cerita yang Anda baca, pilihlah suatu cerita yang sederhana.
Untuk tantangan pertama ini, cerita yang disampaikan seharusnya
tidak lebih dari 3 atau 4 menit. Bacalah cerita itu 10 atau 15
kali, sampai Anda benar-benar memahaminya.
Persiapkan cerita itu dengan membacanya secara bersuara. Meskipun
Anda merasa seperti orang bodoh yang berbicara dengan tembok,
tidak ada jalan lain untuk bisa mengetahui bagaimana cerita itu
bila tidak dikatakan atau kata-kata mana yang harus Anda pilih.
Acara yang berupa kegiatan oral (oral event) memerlukan persiapan
oral pula.
Pada umumnya, akan sangat baik bagi Anda untuk mengingat setiap
kejadian yang ada dalam cerita Anda daripada setiap kata yang
ada. Hal ini untuk menghindari cerita menjadi kaku dan canggung.
Setelah membaca cerita itu selama lima belas kali, Anda bisa
merasakan bahwa Anda tidak perlu mengingatnya. Pengecualian dari
peraturan ini termasuk metode literal dalam menuturkan cerita
Alkitab dan ungkapan-ungkapan penting yang memerlukan bahasa yang
tepat.
Jangan terlalu banyak menggunakan kata-kata. Kebanyakan cerita,
baik yang diceritakan secara formal maupun secara informal,
gagal disampaikan karena kita terlalu banyak menggunakan
kata-kata. Contoh cerita yang bisa digunakan adalah
perumpamaan-perumpamaan yang digunakan oleh Yesus yang tidak
banyak menggunakan kata-kata.
Carilah pendengarnya dan mulailah. Saya terberkati dengan
hadirnya dua anak yang menyukai cerita dan secara alami menjadi
pendengarnya. Bila Anda tidak punya anak, mintalah bantuan
beberapa anak.
Gunakan suara yang alami. Hindari suara pendeta atau suara aktor
yang dibuat-buat. Duduk akrab membentuk lingkaran bersama dengan
pendengar atau dengan mendekati pendengar dapat membantu menjaga
suara kita tetap terdengar alami. Meskipun beberapa orang yang
memiliki nada suara tinggi perlu menurunkan suara mereka,
kebanyakan orang harus dapat berbicara seolah-seolah mereka
sedang bercakap-cakap dengan teman-teman mereka.
Anda diharapkan membuat rekaman cerita pertama yang Anda
sampaikan. Kritik yang sangat jelas bisa membantu Anda
menghindari ucapan yang sedikit berlebihan, misalnya kata-kata
"ehm" dan "em" yang muncul ketika pencerita menyampaikan
ceritanya.
Apa yang harus dihindari saat bercerita?
Seperti kebanyakan tugas lainnya, kepekaan umum dan intuisi akan
menyebabkan pencerita lebih mudah menyampaikan ceritanya dengan
lebih meyakinkan daripada serangkaian peraturan. Mungkin saya telah
mempersempit batasannya, tetapi bila Anda masih ragu-ragu, berikut
beberapa tips tambahan dalam bentuk negatif.
Jangan terburu-buru. Tempo merupakan hal yang penting dalam
menciptakan cerita yang bagus seperti halnya dalam menciptakan
lagu yang baik. Kecenderungan untuk terburu-buru sering terjadi
pada awal bercerita, ini disebabkan oleh rasa takut yang
mendorong kita untuk terburu-terburu, misalnya saat mengatakan,
"Mari segera kita selesaikan kegiatan ini." Berikan jeda supaya
cerita Anda terdengar alami/natural. Seperti rancangan sebuah
iklan yang baik, jarak antarhuruf sering kali sama pentingnya
dengan kata-kata itu sendiri. Jeda menimbulkan rasa ketertarikan
untuk membangun dan membuat imajinasi pendengar melayang.
Hindari penggunaan alat-alat yang justru merusak cerita.
Penggunaan alat peraga yang terlalu banyak justru tidak membantu
dalam membuat cerita menjadi menarik, tetapi malah menghalangi
komunikasi yang alami antara pencerita dengan pendengarnya. Salah
satu alat peraga yang sering digunakan, yaitu peraga dari kain
flanel, sangat tidak efektif untuk digunakan. Ketika pencerita
menempatkan peraganya di papan, maka hilanglah kontak mata dengan
pendengarnya. Saya biasa menggunakan rompi dari flanel bila
mendapat kesempatan untuk menyampaikan cerita. Dengan menggunakan
rompi ini, saya bisa menempelkan peraga di rompi saya sambil
memandang pendengar sehingga saya tidak kehilangan kontak mata
dengan mereka. Meskipun rompi bisa memberi nilai lebih pada
penampilan, sering kali saya merasa rompi bisa menjadi cara
untuk menjalin kontak antara pencerita dan pendengar.
Bila Anda menggunakan sebuah gambar, lebih baik Anda menggunakan
gambar abstrak supaya menimbulkan rangkaian imajinasi. Meskipun
saya enggan menggunakan gambar, namun saya pernah harus
menunjukkan foto Martin Luther pada hari Minggu Reformasi. Saya
melihat anak-anak menganggap saya sedang bercerita tentang tokoh
besar pembela hak asasi itu. Sejak saat itu, saya hanya
menunjukkan gambar sesaat sebelum saya mulai bercerita, kemudian
saya simpan gambar itu ketika saya menyampaikan cerita.
Hindari menggurui atau menempatkan ajaran-ajaran moral dalam
cerita Anda. Tidak ada yang bisa dengan cepat membuyarkan cerita
Anda selain menyertakan ajaran moral itu beserta penjelasannya.
Bila Anda menghormati pendengar Anda, cukup sampaikan cerita itu
kepada mereka. Hormati mereka dengan membiarkan mereka
menggambarkan sendiri kesimpulannya. "Mereka yang memunyai
telinga, biarkanlah mendengar."
Bila suatu diskusi bisa membantu mengembangkan cerita, menurut
pendapat saya, pencerita diizinkan untuk membuat diskusi, tetapi
tidak lagi memunyai kekuasaan untuk mengarahkan interpretasi
orang lain. Tidak seperti seorang guru yang menyampaikan
pelajarannya, cerita memunyai keberadaannya sendiri.
Jangan membuat ilustrasi cerita yang membingungkan.
Ilustrasi-ilustrasi saja tidaklah cukup; ilustrasi itu
menunjukkan makna yang lebih besar. Cerita memiliki arti
tersendiri. Dengan luar biasa, Yesus "menjelaskan"
perumpamaan-perumpaman-Nya dan dalam beberapa saat kemudian Ia
hanya memberikan suatu permintaan. (t/Ratri)
Sumber: Speaking in Stories, William R. White, , Artikel The Appeal of Storytelling; Resources for Christian Storytellers, halaman 17 -- 20, Augsburg Publishing House, Minneapolis 1982.
Bahan MengajarJangan Pakai Topeng
Alat peraga
Bermacam-macam topeng
Ayat Alkitab
Yakobus 5:13-16
Tema
Kita Tidak Perlu Menutupi Perasaan Kita pada Saat Kita Berdoa
Pagi ini saya membawa sesuatu. Mari kita lihat benda apa ini. Saya
punya sebuah topeng hitam, topeng monyet, dan topeng burung yang
besar.
Pada hari Halloween atau pada acara pesta-pesta tertentu, orang
memakai topeng atau melukis wajah mereka untuk berpura-pura menjadi
orang lain.
Pada waktu-waktu yang lain, walaupun kita tidak memakai topeng, kita
tetap tidak mau membiarkan orang lain mengetahui perasaan kita yang
sebenarnya. Itu seperti memakai topeng. Kita mungkin tidak dapat
memberi tahu orang lain bagaimana perasaan kita yang sebenarnya.
Mungkin kita menyimpan banyak perasaan dalam hati.
Tetapi, kita tidak boleh memakai topeng apapun yang menutupi
perasaan kita pada saat kita berbicara kepada Tuhan dalam doa.
Karena Tuhan sangat mengenal setiap kita. Tuhan ingin tahu, apakah
kita sedang merasa sedih, atau marah, atau bahagia.
Kamu tidak harus selalu berdoa dengan suara yang keras. Kamu dapat
berdoa dalam hati sehingga hanya Tuhan saja yang mendengarnya. Kamu
dapat berdoa sambil duduk, berdiri, berlutut, dengan tangan dilipat,
atau tidak dilipat.
Saya pernah mendengar bahwa Tuhan memandang hati, bukan posisi kita
ketika sedang berdoa. Kamu dapat berdoa sebelum tidur atau sebelum
makan, atau di gereja, atau di sekolah, atau kapan saja kamu merasa
perlu bicara dengan Tuhan.
Kamu bukan hanya dapat mendoakan dirimu sendiri, melainkan orang
lain juga. Tuhan mendengarkan dan memerhatikan segala hal yang kamu
katakan dalam doamu.
Pada saat kamu mengembangkan hubunganmu dengan Tuhan dalam doa,
jangan pakai topeng yang menutupi perasaanmu.
Mari kita berdoa
Ya Tuhan, kami bersyukur atas hak istimewa kami sehingga kami dapat
mengatakan segalanya kepada-Mu dalam doa. Kami tahu bahwa Engkau
memedulikan kami semua. Amin.
Warnet PenaSunday Software
http://sundaysoftware.com/
Perkembangan teknologi dewasa ini dapat dimanfaatkan oleh para
pelayan sekolah minggu untuk memberikan variasi metode mengajar di
dalam kelas agar semakin menarik dan pastinya akan menambah semangat
anak layan Anda. Di situs ini terdapat berbagai macam CD dan
perangkat lunak (software) tentang cerita-cerita Alkitab untuk
anak-anak, juga berbagai macam game yang diambil dari cerita Alkitab
yang menarik dan asyik. Situs Sunday Software bisa menjadi satu
pilihan menarik bagi Anda untuk mengenalkan Alkitab dengan cara yang
berbeda.
Situs Sunday Software tidak hanya menyediakan berbagai macam
perangkat lunak saja, tapi juga berbagai macam artikel, tips yang
mengangkat tentang topik seputar perangkat lunak yang menarik dan
pastinya akan menambah pengetahuan Anda. Akan tetapi, untuk
mendapatkan CD-CD tersebut Anda harus mengeluarkan kocek Anda untuk
mendapatkannya. Untuk melihat lebih lanjut tentang isi situs ini,
silakan Anda kunjungi alamat tersebut. Selamat melayani.
Oleh: Kristina
Mutiara Guru
Pada saat kita memberitakan firman Tuhan, Firman itu memberikan
hidup juga bagi kita.
|