SITUS INI ADALAH SITUS PEPAK VERSI LAMA.
SEJAK 1 JUNI 2008 KAMI MENGGUNAKAN SITUS BARU.
KLIK DI SINI
UNTUK BERKUNJUNG KE SITUS PEPAK VERSI BARU.

 
PEPAK PEPAK
Kamis, 4 Desember 2008   
    Utama | Pustaka | e-BinaAnak | e-BinaGuru  
         e-BinaAnak  
  Utama > e-BinaAnak > Edisi 347  

Cari di Arsip e-BinaAnak Cari di e-BinaAnak

Baca Edisi e-BinaAnak Baca e-BinaAnak
Lihat Arsip e-BinaAnak Arsip
Kirim Arsip e-BinaAnak ke Email Anda Kirim ke Email Anda
Berlangganan / Subscribe e-BinaAnak Berlangganan
Frequently Asked Questions FAQ
  Bagaimana berpartisipasi dalam pelayanan di e-BinaAnak? jawabannya  


<<< Edisi 346 | Edisi 348 >>>

e-BinaAnak edisi 347 (6-9-2007)

Cara Yesus Bercerita

Daftar Isi
Salam dari Redaksi 
Artikel : Mengasah Kemampuan Bercerita Seperti Yesus Bercerita 
Tips Mengajar : Bagaimana Mengajar Seperti Yesus 
Bahan Mengajar : Perumpamaan Tentang Talenta 
Warnet Pena : Christians Unite -- Kids: Bible Stories 
Mutiara Guru 


Salam dari Redaksi

Salam dalam kasih Kristus,

Salah satu kegemaran anak-anak adalah mendengarkan cerita. Setiap anak pasti akan senang bila ada seseorang yang mau membacakan atau menceritakan sebuah dongeng baginya. Oleh sebab itu, tidak heran bila banyak orang tua selalu menyempatkan diri menyediakan waktu untuk membacakan dongeng bagi anak-anak saat mereka akan tidur.

Baik mendongeng, maupun menyampaikan cerita-cerita lain yang digemari anak-anak bisa menjadi salah satu cara untuk mengajarkan kebenaran kepada anak-anak. Tuhan Yesus juga menggunakan cara ini untuk mengajar. Karena itu, sesi bercerita di sekolah minggu tentu menjadi saat yang paling dinantikan oleh anak-anak. Maka selama bulan September ini, Redaksi akan mengangkat tema Metode Bercerita dengan mengangkat topik-topik berikut tiap minggu.

  1. Cara Yesus Bercerita
  2. Pentingnya Bercerita
  3. Persiapan Bercerita
  4. Menuturkan Cerita

Kiranya sajian pada awal September berikut ini bisa menjadi bekal bagi para pelayan anak maupun orang tua dalam melayani anak.

Selamat melayani!

Redaksi tamu e-BinaAnak,
Christiana Ratri Yuliani

"Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan
perkataan-Ku serta melakukannya--Aku akan menyatakan kepadamu
dengan siapa ia dapat disamakan--," (Lukas 6:47)

Artikel

Mengasah Kemampuan Bercerita Seperti Yesus Bercerita

Seorang penutur cerita yang baik tentu terlihat dari seni yang mereka miliki dalam berbicara. Sebagai penutur cerita, Yesus menunjukkan hal tersebut. Berdasarkan cerita yang terdapat dalam Injil, kapan pun Yesus bercerita, ada banyak orang yang mendengarkan dengan saksama dan berbondong-bondong mengikuti Dia hanya untuk mendengarkan cerita-Nya. Seni bercerita-Nya yang menarik terlihat dari bakat-Nya sejak kecil. Dia terus mengasah kemampuan dengan sering mengamati orang dengan teliti dan saksama secara luar-dalam, terlebih dalam komunitas masyarakat Yahudi yang kebudayaannya kaya dan subur.

Melalui cerita-cerita-Nya, Yesus juga menunjukkan betapa ia memahami perasaan orang pada saat mereka bergelut mengatasi suka duka hidup setiap hari. Cerita-cerita-Nya di satu pihak sering membuat senang orang kebanyakan, tetapi di lain pihak membuat sakit hati mereka yang mencoba mencari penghormatan atas diri mereka sendiri. Dengan kata lain, Yesus dapat menciptakan gambaran di dalam pikiran para pendengar-Nya. Dia mampu berpikir cepat dan menjawab berbagai pertanyaan, baik secara humor maupun secara kritis.

CARA YESUS BERCERITA

  1. Yesus menggunakan perumpamaan untuk menyampaikan inti pewartaan-Nya.

    Yesus sering menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang menyiratkan makna lain dalam cerita-Nya. Terkadang maksud-Nya sangat jelas bagi pendengar, namun sering juga membuat orang tidak paham dengan maksud-Nya. Hal ini dilakukan karena Dia tidak mau ditangkap sebelum menyelesaikan tugas pengutusan-Nya. Selain itu, Dia juga tahu bahwa masyarakat belum siap menerima seluruh kebenaran yang diwartakan-Nya.

    "Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya." Dalam banyak perumpamaan semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri (Mrk. 4:30-34).

    Maksud Yesus adalah bahwa kerajaan Allah yang diwartakan-Nya itu kelihatan sangat kecil, tidak berarti, dan ditolak oleh mereka yang ingin mencari hal-hal yang besar. Tetapi dalam benih yang kecil ini Kerajaan Allah akan tumbuh dan berkembang dengan segala kebesaran dan kekuasaannya.

  2. Yesus menggunakan objek yang sederhana, konkret, dan umum untuk menjelaskan maksud pewartaan-Nya.

    Yesus juga sering menggunakan objek konkret dan situasi yang sudah biasa untuk memperjelas inti pewartaan-Nya. Yesus mengisahkan tiga cerita dengan menggunakan objek situasi yang sudah umum untuk membandingkan kasih Allah yang tidak terbatas dengan orang Farisi yang ingin menjadi kelompok eksklusif.

    1. Seorang gembala yang baik.

      Seorang gembala yang baik akan mengutamakan keselamatan dombanya yang tersesat. Dia akan meninggalkan domba-domba yang lain dan pergi mencari yang tersesat tadi sampai menemukannya. Setelah kembali, dia akan mengadakan pesta bersama teman-temannya untuk merayakan ditemukannya kembali dombanya yang hilang tadi. Secara tajam Yesus memperlihatkan hal ini, "Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan" (Luk. 15:7).

    2. Seorang wanita kehilangan sebuah dirham.

      Para pendengar pada zaman Yesus tahu bahwa dirham itu sangat berharga. Situasi ini sudah biasa bagi mereka. Kebanyakan rumah mereka yang tidak berjendela dan tidak berlantai semen membuat mereka kesulitan untuk menemukan dirham yang begitu kecil. Ketika wanita itu menemukan dirham yang hilang tersebut, ia lalu mengadakan pesta. Yesus mengatakan pikiran--Nya sebagai berikut, "Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat" (Luk 15:10).

    3. Pembagian harta warisan orang tua.

      Setiap orang tahu hukum harta warisan terdapat dalam Ulangan 21:17 dan hal itu sering menyebabkan perselisihan dalam keluarga (Luk. 12:13). Hukum yang ada menyatakan bahwa dalam kondisi tertentu ketika ayah masih hidup, dia bisa memberikan dua pertiga bagian warisan kepada putranya yang sulung dengan catatan anak itu harus menghidupi ayahnya tersebut sampai akhir hayatnya. Sebaliknya, jika putra bungsu meminta bagian warisannya sebelum si ayah meninggal dunia, maka hal itu tidak akan dikabulkan. Ketika Yesus menyelesaikan cerita-Nya yang ketiga, Dia tidak perlu mengatakan pikiran-Nya. Para pendengar kiranya sudah paham akan maksud yang ada di balik cerita tersebut.

    Dalam bercerita, kita perlu menggunakan objek yang sudah lazim di kalangan anak-anak, termasuk mempergunakan latar belakang budaya kita agar anak-anak lebih terbantu untuk memahami kebenaran. Misalnya tentang:

    • menjadi bagian keluarga;
    • kehidupan rumah tangga;
    • relasi dengan orang lain;
    • binatang kesayangan dan hewan-hewan yang lain;
    • peristiwa yang terjadi setiap hari;
    • kegiatan rutin;
    • perasaan-perasaan cinta, benci, takut, dan cemburu;
    • kemarahan, kesedihan, kabaikan, penghianatan;
    • lingkungan sekitar rumah;
    • lingkungan sekolah;
    • kejadian-kejadian lucu;
    • waktu-waktu khusus dan perayaan-perayaan.
  3. Yesus biasanya hanya berfokus pada satu pokok pikiran saja.

    Yesus tidak merumitkan cerita-Nya dengan tiga atau lebih pokok pikiran. Satu pokok pikiran sudah cukup bagi pendengar agar mereka mudah mengingatnya, seperti terlihat dalam cerita tentang orang yang bijaksana dan orang yang bodoh.

    Pikiran utama Yesus adalah orang yang mendengar kata-kata Yesus dan melaksanakannya ibarat membangun hidupnya di atas wadah yang kokoh dan orang yang tidak mendengarkan dan melaksanakan kata-kata Yesus ibarat membangun hidupnya di atas pasir, dengan konsekuensi yang sudah diketahui pendengar-Nya.

  4. Yesus mengetahui dan memenuhi kerinduan para pendengar-Nya.

    Yesus menceritakan perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai dalam kisah (Luk. 18:9-14) dan mengecap orang Farisi sebagai orang yang menganggap diri sendiri benar dan memandang rendah orang lain. Yesus tahu kerinduan hati umat untuk mendengar bahwa siapa yang datang kepada Tuhan dengan hati yang bertobat akan memperoleh belas kasihan dan pengampunan, sedangkan mereka yang hanya mencari popularitas diri tidak akan dipedulikan Tuhan.

  5. Yesus tidak menjelaskan setiap detail cerita.

    Dalam sebuah perumpamaan, Yesus menyampaikan cerita tentang seorang yang dirampok oleh para penyamun ketika sedang dalam perjalanan dari Yerusalem menuju Yerikho (Luk. 10:30-37). Di sana, Yesus tidak menjelaskan mengapa orang itu berjalan sendirian, atau apa urusannya di Yerikho. Dia juga tidak merinci luka-luka orang tersebut dan apa yang dilakukan orang Samaria di jalan tersebut.

    Saat bercerita dengan anak, jangan terlalu detail bercerita karena akan mengaburkan tujuan yang sedang kita rumuskan dan membuat anak kehilangan minat dan semangat sebelum cerita selesai.

  6. Yesus menggunakan seminim mungkin kata-kata untuk memberikan dampak yang maksimal.

    Sesudah mendengarkan pertengkaran di antara para murid tentang siapa yang terbesar di antara mereka, Yesus mengumpulkan mereka dan menjernihkan pemahaman mereka (Mrk. 10:42-45.)

    Karena itu, sadarilah banyaknya kata yang Anda gunakan. Gunakanlah bahasa yang semenarik mungkin dalam bercerita dan bersikaplah selektif dalam pemilihan kata-kata.

  7. Yesus melibatkan pendengar-Nya dalam cerita.

    Seorang ahli Taurat yang ditanyai Yesus (Luk. 10:25-37) menjadi begitu terlibat dalam cerita tentang seorang yang dirampok oleh para penyamun. Dia menjadi begitu terpesona dengan pertolongan yang diberikan oleh seorang yang baik hati, tanpa menyadari bahwa dialah yang dimaksudkan sebagai seorang musuh. Tanpa kehilangan waktu, tiba-tiba Yesus masuk dengan pertanyaan yang mematikan, "Siapa di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Kata-kata Yesus ini bisa saja membuat orang marah karena merasa bahwa dirinya dibodohi, disindir, atau diolok-olok dengan tajam. Tetapi Yesus tidak melakukan hal itu. Yang Dia lakukan adalah mengatakan poin yang utama (pikiran-Nya) dengan cerita yang paling efisien terhadap seseorang yang benar-benar buta akan kebenaran. Seperti Yesus, kita bisa membuat cerita kita menjadi menarik dan memikat sehingga anak-anak menjadi terlibat dan berhubungan dengan tokoh cerita. Dan ini akan membantu mereka untuk mengakui kebenaran yang ingin kita sampaikan.

  8. Yesus selalu mengundang pendengar untuk menangkap inti pengajaran-Nya.

    Setelah menyatakan diri-Nya sebagai Cahaya Dunia, Yesus mengundang para pendengar untuk memberikan respons. Markus 4:21-23 mengatakan, "Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. Barangsiapa memunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!"

    Memang Yesus tidak selalu meminta respons dari pendengar-Nya dan demikian juga kita. Tetapi sesekali, dalam waktu-waktu tertentu, anak-anak perlu diminta untuk memberikan respons agar kesetiaan dan pemahaman mereka dapat berkembang.

Diringkas oleh: Kristina Dwi Lestari

Sumber:
  • Gaya Bercerita yang Efektif, Ruth Alliston, , Artikel Yesus Pencerita Ulung, halaman 21 -- 38, Prestasi Pustaka Kasih, Jakarta 2005.

    Tips Mengajar

    Bagaimana Mengajar Seperti Yesus

    Anda tidak perlu memunyai pendidikan yang tinggi atau kemampuan khusus untuk bisa mengajar seperti Yesus. Yesus mengajar hanya dengan berbicara kepada orang lain, bercerita, dan menggunakan contoh-contoh yang diambil dari kehidupan sehari-hari yang sudah dipahami oleh orang-orang. Sekarang ini, Anda juga bisa melakukan hal yang sama di kelas SM Anda atau saat Anda mengajar pada kesempatan-kesempatan lain.

    Langkah-langkah bercerita bisa dijabarkan seperti berikut ini.

    1. Pikatlah pendengar Anda dan berbincang-bincanglah dengan mereka. Yesus lebih dari sekadar orang yang pandai bercerita dan Anda juga harus demikian.

    2. Berceritalah. Sebagai contoh, Anda bisa menggunakan cerita yang Yesus ceritakan dalam bentuk perumpamaan. Anda bisa menggunakan cerita-cerita Alkitab atau cerita-cerita dari kehidupan Anda sendiri atau dari bahan-bahan yang sudah Anda pelajari. Cerita-cerita Anda harus mencerminkan pola dan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari yang kita pahami.

    3. Gunakan simbol. Yesus menggunakan simbol-simbol keagamaan seperti "roti hidup" yang sudah biasa didengar oleh pendengar-Nya. Simbol-simbol yang bisa Anda gunakan misalnya adalah salib Kristus atau Perjamuan Kudus.

    4. Mengajarlah sesuai dengan tingkat pendengar Anda. Pelajaran bagi anak kelas empat sangatlah berbeda dengan pelajaran bagi orang dewasa yang berpendidikan universitas. Yesus menyesuaikan pesan yang disampaikan-Nya dengan apa yang sudah dipahami oleh pendengar-Nya.

    5. Bangunlah apa yang sudah dipercayai oleh pendengar Anda. Yesus tidak pernah menyerang orang lain karena kepercayaan mereka. Yesus menggunakan kepercayaan mereka itu sebagai dasar untuk membantu mereka memahami kebenaran yang sedang diajarkan-Nya.

    6. Ungkapkan lagi pesan yang ingin Anda sampaikan kapan saja bila Anda merasa perlu. Yesus bersabar saat Ia mengajar. Ia mengulangi apa yang Ia ajarkan atau menggunakan cerita lain untuk memastikan ajaran-Nya dipahami.

    7. Perhatikan murid-murid Anda. Untuk bisa mengajar seperti Yesus mengajar, Anda memerlukan kasih yang tulus bagi murid-murid Anda. Yesus menginginkan pendengar-Nya memahami, belajar, dan mengikuti Dia. (t/Ratri)

    Sumber:
  • eHow, http://www.ehow.com/how_2053639_teach-like-jesus.html, Artikel How to Teach like Jesus oleh Tidak dicantumkan.

    Bahan Mengajar

    Perumpamaan Tentang Talenta

    Yesus sering menggunakan cerita untuk menyampaikan ajaran-Nya. Dengarkan cerita tentang talenta berikut ini. Hamba yang pertama diberi uang lima talenta oleh tuannya. (Talenta bukanlah suatu koin, melainkan suatu logam berharga, misalnya perak dan satu talenta nilainya lebih dari seribu dolar. Jadi, hamba ini menerima uang sebesar lebih dari lima ribu dolar.)

    Hamba ini langsung bekerja dengan menggunakan uangnya sampai dia mendapatkan hasil dua kali lipat. Sekarang dia memunyai sepuluh talenta, tidak lagi lima talenta. Tuan itu juga memberikan dua talenta kepada hambanya yang lain. Mungkin tuan itu berpikir bahwa hambanya itu juga mampu mengatur sejumlah uang itu. Hamba yang kedua ini juga berhasil dan ia mendapatkan uang dua kali lipat. Hamba ini mulai dengan lebih dari dua ribu dolar dan sekarang dia memunyai dua kali lipatnya.

    Hamba yang ketiga tidak secakap dua hamba lainnya, tetapi tuannya tetap memberikan satu talenta dengan harapan hamba yang ketiga ini juga mampu mengatur uangnya. Hamba yang ketiga ini sebenarnya bisa melipatgandakan uangnya, tetapi yang ia kerjakan adalah menggali lubang dan mengubur uangnya ke lubang itu.

    Setelah beberapa lama, tuannya itu kembali dari perjalanannya. (Beberapa orang berpikiran bahwa perjalanan yang dilakukan oleh tuan itu merupakan penggambaran Yesus yang kembali ke surga dan perjalanan kembali itu merupakan penghakiman atas manusia.) Majikan ini siap mendengarkan laporan dari para hambanya.

    Hamba yang menerima lima talenta membawa uangnya dan menunjukkan kepada tuannya bahwa dia berhasil menggandakannya. Dengan bangga, ia menunjukkan hasilnya itu kepada tuannya. Tuannya merasa sangat senang. Tuannya itu berkata, "Bagus, kamu adalah hamba yang baik dan dapat dipercaya! Kamu sudah setia terhadap hal-hal kecil; aku akan memercayakan banyak hal kepadamu. Mari, ikutlah dalam kebahagiaan tuanmu!"

    Hamba yang diberi dua talenta menunjukkan kepada tuannya bahwa dia juga bisa menggandakan uangnya. Dia menerima pujian yang sama dengan hamba yang pertama yang menerima lima talenta.

    Hamba yang menerima satu talenta menggali talenta yang dikuburnya dan membawanya kepada tuannya. Dia mengaku kepada tuannya bahwa dia telah bekerja keras, dia takut kehilangan uang itu, jadi dia menguburkan uang yang diberikan itu. Dia mengembalikan uang itu kepada tuannya dengan berkata, "Lihat, ini uang yang tuan berikan."

    Tuan itu sangat marah kepadanya dan menyebut dia sebagai hamba yang licik, malas. Hamba itu berkata kepada tuannya bahwa sebaiknya ia menyimpan uangnya di bank dan menerima bunga dari uang itu. (Sekarang orang-orang Yahudi tidak bisa mengambil atau menerima bunga dari sesama orang Yahudi, tetapi mereka bisa mengambil bunga dari orang lain yang bukan orang Yahudi.)

    Apa yang bisa kita pelajari dari cerita ini? Kita harus menggunakan apa pun "talenta" yang telah Tuhan berikan kepada kita. "Talenta" itu bisa berupa uang ataupun kemampuan. Bila kita menggunakannya dengan bijaksana, Ia akan menambahnya sehingga hidup kita akan memuliakan Dia.

    Pelajaran apa yang bisa kita peroleh dari cerita ini?

    Perumpamaan Yesus ini mengajar kita supaya menggunakan talenta yang telah Tuhan berikan kepada kita. Kita melakukan beberapa hal yang benar-benar bisa kita lakukan. Buatlah daftar tentang hal-hal yang bisa kamu lakukan dengan baik. Gunakan talenta-talenta yang telah Tuhan berikan itu. Anda bisa merasakan bahwa Tuhan telah memberimu talenta yang baru; talenta yang tidak pernah kamu sangka sebelumnya. Kemudian carilah cara untuk menggunakan talenta itu bagi Dia!

    Ayat hafalan

    "Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya" (Mat. 25:29).

    Pertanyaan

    1. Mengapa sang tuan memanggil para hambanya?
    2. Apa yang diberikan tuan itu kepada hambanya yang pertama?
    3. Apa yang diberikan tuan itu kepada hambanya yang kedua?
    4. Apa yang diterima oleh hamba yang ketiga?
    5. Apa yang dilakukan hamba yang pertama atas uangnya?
    6. Apa yang dilakukan hamba yang kedua?
    7. Apa yang dilakukan hamba yang ketiga?
    8. Hamba yang mana yang menyenangkan tuannya?
    9. Mengapa sang tuan tidak senang dengan hamba yang ketiga?

    Anda bisa membaca perumpamaan tentang talenta ini di Alkitab dalam Matius 25:14-30. (t/Ratri)

    Sumber:
  • Garden of Praise, http://gardenofpraise.com/bibl52s.htm, Artikel Parable of the Talents oleh Tidak dicantumkan.

    Warnet Pena

    Christians Unite -- Kids: Bible Stories

    http://kids.christiansunite.com/biblestories.shtml

    Jika ingin mendapatkan kumpulan cerita dari Alkitab yang ingin disampaikan di kelas sekolah minggu atau untuk anak-anak Anda, situs Christian Unite -- Kids, tepatnya menu Bible Stories, perlu Anda kunjungi. Cerita-cerita tersebut sudah dikategorikan ke dalam empat kelompok, jadi memudahkan Anda untuk menggunakannya berdasarkan cerita yang ingin disampaikan. Kalau Anda ingin menyampaikan cerita Alkitab dari Perjanjian Lama, silakan klik Bible Stories from the Old Testament. Untuk cerita-cerita tentang Yesus, buka saja Bible Stories about Jesus. Sementara kisah pelayanan para rasul tersedia di Bible Stories about the Apostles. Bagi anak-anak yang lebih kecil, situs ini juga menyediakan Bible Stories for YoungerKids. Selain dapat dibaca secara tersambung, fasilitas untuk mencetak setiap cerita yang ada pun disediakan. Meski tersedia dalam bahasa Inggris, situs ini tetap bagus untuk dikunjungi para pelayan anak sebagai referensi pendukung dalam melakukan pekerjaan memberitakan firman Tuhan.

    Kiriman dari: Puji Arya Yanti


    Mutiara Guru
    Ceritakanlah kabar sukacita dan kebenaran
    akan Allah kepada anak-anak yang Anda layani.

  • Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini <<< Edisi 346 | Edisi 348 >>>

    Tentang Kami | Kontak Kami | Buku Tamu | Promo | Situs YLSA | Links | FAQ | Sumber | Info Anda
     

    SITUS INI ADALAH SITUS PEPAK VERSI LAMA.
    SEJAK 1 JUNI 2008 KAMI MENGGUNAKAN SITUS BARU.
    KLIK DI SINI UNTUK BERKUNJUNG KE SITUS PEPAK VERSI BARU.

     
    Disclaimer | © 2008 Yayasan Lembaga SABDA | Email: pepaksabda.org |Laporan Masalah/Saran

    ^ Ke Atas