Salam dari Redaksi
Salam dalam kasih Kristus,
Salah satu kegemaran anak-anak adalah mendengarkan cerita. Setiap
anak pasti akan senang bila ada seseorang yang mau membacakan atau
menceritakan sebuah dongeng baginya. Oleh sebab itu, tidak heran
bila banyak orang tua selalu menyempatkan diri menyediakan waktu
untuk membacakan dongeng bagi anak-anak saat mereka akan tidur.
Baik mendongeng, maupun menyampaikan cerita-cerita lain yang
digemari anak-anak bisa menjadi salah satu cara untuk mengajarkan
kebenaran kepada anak-anak. Tuhan Yesus juga menggunakan cara ini
untuk mengajar. Karena itu, sesi bercerita di sekolah minggu tentu
menjadi saat yang paling dinantikan oleh anak-anak. Maka selama
bulan September ini, Redaksi akan mengangkat tema Metode Bercerita
dengan mengangkat topik-topik berikut tiap minggu.
- Cara Yesus Bercerita
- Pentingnya Bercerita
- Persiapan Bercerita
- Menuturkan Cerita
Kiranya sajian pada awal September berikut ini bisa menjadi bekal
bagi para pelayan anak maupun orang tua dalam melayani anak.
Selamat melayani!
Redaksi tamu e-BinaAnak,
Christiana Ratri Yuliani
"Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan
perkataan-Ku serta melakukannya--Aku akan menyatakan kepadamu
dengan siapa ia dapat disamakan--," (Lukas 6:47)
ArtikelMengasah Kemampuan Bercerita Seperti Yesus Bercerita
Seorang penutur cerita yang baik tentu terlihat dari seni yang
mereka miliki dalam berbicara. Sebagai penutur cerita, Yesus
menunjukkan hal tersebut. Berdasarkan cerita yang terdapat dalam
Injil, kapan pun Yesus bercerita, ada banyak orang yang mendengarkan
dengan saksama dan berbondong-bondong mengikuti Dia hanya untuk
mendengarkan cerita-Nya. Seni bercerita-Nya yang menarik terlihat
dari bakat-Nya sejak kecil. Dia terus mengasah kemampuan dengan
sering mengamati orang dengan teliti dan saksama secara luar-dalam,
terlebih dalam komunitas masyarakat Yahudi yang kebudayaannya kaya
dan subur.
Melalui cerita-cerita-Nya, Yesus juga menunjukkan betapa ia memahami
perasaan orang pada saat mereka bergelut mengatasi suka duka hidup
setiap hari. Cerita-cerita-Nya di satu pihak sering membuat senang
orang kebanyakan, tetapi di lain pihak membuat sakit hati mereka
yang mencoba mencari penghormatan atas diri mereka sendiri. Dengan
kata lain, Yesus dapat menciptakan gambaran di dalam pikiran para
pendengar-Nya. Dia mampu berpikir cepat dan menjawab berbagai
pertanyaan, baik secara humor maupun secara kritis.
CARA YESUS BERCERITA
Yesus menggunakan perumpamaan untuk menyampaikan inti
pewartaan-Nya.
Yesus sering menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang menyiratkan
makna lain dalam cerita-Nya. Terkadang maksud-Nya sangat jelas bagi
pendengar, namun sering juga membuat orang tidak paham dengan
maksud-Nya. Hal ini dilakukan karena Dia tidak mau ditangkap sebelum
menyelesaikan tugas pengutusan-Nya. Selain itu, Dia juga tahu bahwa
masyarakat belum siap menerima seluruh kebenaran yang
diwartakan-Nya.
"Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau
dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya? Hal
Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang
biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di
bumi. Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih
besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan
cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat
bersarang dalam naungannya." Dalam banyak perumpamaan semacam itu
Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian
mereka, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka,
tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara
tersendiri (Mrk. 4:30-34).
Maksud Yesus adalah bahwa kerajaan Allah yang diwartakan-Nya itu
kelihatan sangat kecil, tidak berarti, dan ditolak oleh mereka yang
ingin mencari hal-hal yang besar. Tetapi dalam benih yang kecil ini
Kerajaan Allah akan tumbuh dan berkembang dengan segala kebesaran
dan kekuasaannya.
Yesus menggunakan objek yang sederhana, konkret, dan umum untuk
menjelaskan maksud pewartaan-Nya.
Yesus juga sering menggunakan objek konkret dan situasi yang sudah
biasa untuk memperjelas inti pewartaan-Nya. Yesus mengisahkan tiga
cerita dengan menggunakan objek situasi yang sudah umum untuk
membandingkan kasih Allah yang tidak terbatas dengan orang Farisi
yang ingin menjadi kelompok eksklusif.
Seorang gembala yang baik.
Seorang gembala yang baik akan mengutamakan keselamatan dombanya
yang tersesat. Dia akan meninggalkan domba-domba yang lain dan
pergi mencari yang tersesat tadi sampai menemukannya. Setelah
kembali, dia akan mengadakan pesta bersama teman-temannya untuk
merayakan ditemukannya kembali dombanya yang hilang tadi. Secara
tajam Yesus memperlihatkan hal ini, "Aku berkata kepadamu:
Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang
berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan
puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan"
(Luk. 15:7).
Seorang wanita kehilangan sebuah dirham.
Para pendengar pada zaman Yesus tahu bahwa dirham itu sangat
berharga. Situasi ini sudah biasa bagi mereka. Kebanyakan rumah
mereka yang tidak berjendela dan tidak berlantai semen membuat
mereka kesulitan untuk menemukan dirham yang begitu kecil. Ketika
wanita itu menemukan dirham yang hilang tersebut, ia lalu
mengadakan pesta. Yesus mengatakan pikiran--Nya sebagai berikut,
"Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada
malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat"
(Luk 15:10).
Pembagian harta warisan orang tua.
Setiap orang tahu hukum harta warisan terdapat dalam Ulangan
21:17 dan hal itu sering menyebabkan perselisihan dalam keluarga
(Luk. 12:13). Hukum yang ada menyatakan bahwa dalam kondisi
tertentu ketika ayah masih hidup, dia bisa memberikan dua pertiga
bagian warisan kepada putranya yang sulung dengan catatan anak
itu harus menghidupi ayahnya tersebut sampai akhir hayatnya.
Sebaliknya, jika putra bungsu meminta bagian warisannya sebelum
si ayah meninggal dunia, maka hal itu tidak akan dikabulkan.
Ketika Yesus menyelesaikan cerita-Nya yang ketiga, Dia tidak
perlu mengatakan pikiran-Nya. Para pendengar kiranya sudah paham
akan maksud yang ada di balik cerita tersebut.
Dalam bercerita, kita perlu menggunakan objek yang sudah lazim di
kalangan anak-anak, termasuk mempergunakan latar belakang budaya
kita agar anak-anak lebih terbantu untuk memahami kebenaran.
Misalnya tentang:
- menjadi bagian keluarga;
- kehidupan rumah tangga;
- relasi dengan orang lain;
- binatang kesayangan dan hewan-hewan yang lain;
- peristiwa yang terjadi setiap hari;
- kegiatan rutin;
- perasaan-perasaan cinta, benci, takut, dan cemburu;
- kemarahan, kesedihan, kabaikan, penghianatan;
- lingkungan sekitar rumah;
- lingkungan sekolah;
- kejadian-kejadian lucu;
- waktu-waktu khusus dan perayaan-perayaan.
Yesus biasanya hanya berfokus pada satu pokok pikiran saja.
Yesus tidak merumitkan cerita-Nya dengan tiga atau lebih pokok
pikiran. Satu pokok pikiran sudah cukup bagi pendengar agar mereka
mudah mengingatnya, seperti terlihat dalam cerita tentang orang yang
bijaksana dan orang yang bodoh.
Pikiran utama Yesus adalah orang yang mendengar kata-kata Yesus dan
melaksanakannya ibarat membangun hidupnya di atas wadah yang kokoh
dan orang yang tidak mendengarkan dan melaksanakan kata-kata Yesus
ibarat membangun hidupnya di atas pasir, dengan konsekuensi yang
sudah diketahui pendengar-Nya.
Yesus mengetahui dan memenuhi kerinduan para pendengar-Nya.
Yesus menceritakan perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut
cukai dalam kisah (Luk. 18:9-14) dan mengecap orang Farisi sebagai
orang yang menganggap diri sendiri benar dan memandang rendah orang
lain. Yesus tahu kerinduan hati umat untuk mendengar bahwa siapa
yang datang kepada Tuhan dengan hati yang bertobat akan memperoleh
belas kasihan dan pengampunan, sedangkan mereka yang hanya mencari
popularitas diri tidak akan dipedulikan Tuhan.
Yesus tidak menjelaskan setiap detail cerita.
Dalam sebuah perumpamaan, Yesus menyampaikan cerita tentang seorang
yang dirampok oleh para penyamun ketika sedang dalam perjalanan dari
Yerusalem menuju Yerikho (Luk. 10:30-37). Di sana, Yesus tidak
menjelaskan mengapa orang itu berjalan sendirian, atau apa urusannya
di Yerikho. Dia juga tidak merinci luka-luka orang tersebut dan apa
yang dilakukan orang Samaria di jalan tersebut.
Saat bercerita dengan anak, jangan terlalu detail bercerita karena
akan mengaburkan tujuan yang sedang kita rumuskan dan membuat anak
kehilangan minat dan semangat sebelum cerita selesai.
Yesus menggunakan seminim mungkin kata-kata untuk memberikan
dampak yang maksimal.
Sesudah mendengarkan pertengkaran di antara para murid tentang siapa
yang terbesar di antara mereka, Yesus mengumpulkan mereka dan
menjernihkan pemahaman mereka (Mrk. 10:42-45.)
Karena itu, sadarilah banyaknya kata yang Anda gunakan. Gunakanlah
bahasa yang semenarik mungkin dalam bercerita dan bersikaplah
selektif dalam pemilihan kata-kata.
Yesus melibatkan pendengar-Nya dalam cerita.
Seorang ahli Taurat yang ditanyai Yesus (Luk. 10:25-37) menjadi
begitu terlibat dalam cerita tentang seorang yang dirampok oleh para
penyamun. Dia menjadi begitu terpesona dengan pertolongan yang
diberikan oleh seorang yang baik hati, tanpa menyadari bahwa dialah
yang dimaksudkan sebagai seorang musuh. Tanpa kehilangan waktu,
tiba-tiba Yesus masuk dengan pertanyaan yang mematikan, "Siapa di
antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia
dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Kata-kata Yesus ini
bisa saja membuat orang marah karena merasa bahwa dirinya dibodohi,
disindir, atau diolok-olok dengan tajam. Tetapi Yesus tidak
melakukan hal itu. Yang Dia lakukan adalah mengatakan poin yang
utama (pikiran-Nya) dengan cerita yang paling efisien terhadap
seseorang yang benar-benar buta akan kebenaran. Seperti Yesus, kita
bisa membuat cerita kita menjadi menarik dan memikat sehingga
anak-anak menjadi terlibat dan berhubungan dengan tokoh cerita. Dan
ini akan membantu mereka untuk mengakui kebenaran yang ingin kita
sampaikan.
Yesus selalu mengundang pendengar untuk menangkap inti
pengajaran-Nya.
Setelah menyatakan diri-Nya sebagai Cahaya Dunia, Yesus mengundang
para pendengar untuk memberikan respons. Markus 4:21-23 mengatakan,
"Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau
di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian.
Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan,
dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap.
Barangsiapa memunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia
mendengar!"
Memang Yesus tidak selalu meminta respons dari pendengar-Nya dan
demikian juga kita. Tetapi sesekali, dalam waktu-waktu tertentu,
anak-anak perlu diminta untuk memberikan respons agar kesetiaan dan
pemahaman mereka dapat berkembang.
Diringkas oleh: Kristina Dwi Lestari
Sumber: Gaya Bercerita yang Efektif, Ruth Alliston, , Artikel Yesus Pencerita Ulung, halaman 21 -- 38, Prestasi Pustaka Kasih, Jakarta 2005.
Tips MengajarBagaimana Mengajar Seperti Yesus
Anda tidak perlu memunyai pendidikan yang tinggi atau kemampuan
khusus untuk bisa mengajar seperti Yesus. Yesus mengajar hanya
dengan berbicara kepada orang lain, bercerita, dan menggunakan
contoh-contoh yang diambil dari kehidupan sehari-hari yang sudah
dipahami oleh orang-orang. Sekarang ini, Anda juga bisa melakukan
hal yang sama di kelas SM Anda atau saat Anda mengajar pada
kesempatan-kesempatan lain.
Langkah-langkah bercerita bisa dijabarkan seperti berikut ini.
Pikatlah pendengar Anda dan berbincang-bincanglah dengan mereka.
Yesus lebih dari sekadar orang yang pandai bercerita dan Anda
juga harus demikian.
Berceritalah. Sebagai contoh, Anda bisa menggunakan cerita yang
Yesus ceritakan dalam bentuk perumpamaan. Anda bisa menggunakan
cerita-cerita Alkitab atau cerita-cerita dari kehidupan Anda
sendiri atau dari bahan-bahan yang sudah Anda pelajari.
Cerita-cerita Anda harus mencerminkan pola dan berhubungan dengan
kehidupan sehari-hari yang kita pahami.
Gunakan simbol. Yesus menggunakan simbol-simbol keagamaan seperti
"roti hidup" yang sudah biasa didengar oleh pendengar-Nya.
Simbol-simbol yang bisa Anda gunakan misalnya adalah salib
Kristus atau Perjamuan Kudus.
Mengajarlah sesuai dengan tingkat pendengar Anda. Pelajaran bagi
anak kelas empat sangatlah berbeda dengan pelajaran bagi orang
dewasa yang berpendidikan universitas. Yesus menyesuaikan pesan
yang disampaikan-Nya dengan apa yang sudah dipahami oleh
pendengar-Nya.
Bangunlah apa yang sudah dipercayai oleh pendengar Anda. Yesus
tidak pernah menyerang orang lain karena kepercayaan mereka.
Yesus menggunakan kepercayaan mereka itu sebagai dasar untuk
membantu mereka memahami kebenaran yang sedang diajarkan-Nya.
Ungkapkan lagi pesan yang ingin Anda sampaikan kapan saja bila
Anda merasa perlu. Yesus bersabar saat Ia mengajar. Ia mengulangi
apa yang Ia ajarkan atau menggunakan cerita lain untuk memastikan
ajaran-Nya dipahami.
Perhatikan murid-murid Anda. Untuk bisa mengajar seperti Yesus
mengajar, Anda memerlukan kasih yang tulus bagi murid-murid Anda.
Yesus menginginkan pendengar-Nya memahami, belajar, dan mengikuti
Dia. (t/Ratri)
Sumber: eHow, http://www.ehow.com/how_2053639_teach-like-jesus.html, Artikel How to Teach like Jesus oleh Tidak dicantumkan.
Bahan MengajarPerumpamaan Tentang Talenta
Yesus sering menggunakan cerita untuk menyampaikan ajaran-Nya.
Dengarkan cerita tentang talenta berikut ini. Hamba yang pertama
diberi uang lima talenta oleh tuannya. (Talenta bukanlah suatu koin,
melainkan suatu logam berharga, misalnya perak dan satu talenta
nilainya lebih dari seribu dolar. Jadi, hamba ini menerima uang
sebesar lebih dari lima ribu dolar.)
Hamba ini langsung bekerja dengan menggunakan uangnya sampai dia
mendapatkan hasil dua kali lipat. Sekarang dia memunyai sepuluh
talenta, tidak lagi lima talenta. Tuan itu juga memberikan dua
talenta kepada hambanya yang lain. Mungkin tuan itu berpikir bahwa
hambanya itu juga mampu mengatur sejumlah uang itu. Hamba yang kedua
ini juga berhasil dan ia mendapatkan uang dua kali lipat. Hamba ini
mulai dengan lebih dari dua ribu dolar dan sekarang dia memunyai dua
kali lipatnya.
Hamba yang ketiga tidak secakap dua hamba lainnya, tetapi tuannya
tetap memberikan satu talenta dengan harapan hamba yang ketiga ini
juga mampu mengatur uangnya. Hamba yang ketiga ini sebenarnya bisa
melipatgandakan uangnya, tetapi yang ia kerjakan adalah menggali
lubang dan mengubur uangnya ke lubang itu.
Setelah beberapa lama, tuannya itu kembali dari perjalanannya.
(Beberapa orang berpikiran bahwa perjalanan yang dilakukan oleh tuan
itu merupakan penggambaran Yesus yang kembali ke surga dan
perjalanan kembali itu merupakan penghakiman atas manusia.) Majikan
ini siap mendengarkan laporan dari para hambanya.
Hamba yang menerima lima talenta membawa uangnya dan menunjukkan
kepada tuannya bahwa dia berhasil menggandakannya. Dengan bangga, ia
menunjukkan hasilnya itu kepada tuannya. Tuannya merasa sangat
senang. Tuannya itu berkata, "Bagus, kamu adalah hamba yang baik dan
dapat dipercaya! Kamu sudah setia terhadap hal-hal kecil; aku akan
memercayakan banyak hal kepadamu. Mari, ikutlah dalam kebahagiaan
tuanmu!"
Hamba yang diberi dua talenta menunjukkan kepada tuannya bahwa dia
juga bisa menggandakan uangnya. Dia menerima pujian yang sama dengan
hamba yang pertama yang menerima lima talenta.
Hamba yang menerima satu talenta menggali talenta yang dikuburnya
dan membawanya kepada tuannya. Dia mengaku kepada tuannya bahwa dia
telah bekerja keras, dia takut kehilangan uang itu, jadi dia
menguburkan uang yang diberikan itu. Dia mengembalikan uang itu
kepada tuannya dengan berkata, "Lihat, ini uang yang tuan berikan."
Tuan itu sangat marah kepadanya dan menyebut dia sebagai hamba yang
licik, malas. Hamba itu berkata kepada tuannya bahwa sebaiknya ia
menyimpan uangnya di bank dan menerima bunga dari uang itu.
(Sekarang orang-orang Yahudi tidak bisa mengambil atau menerima
bunga dari sesama orang Yahudi, tetapi mereka bisa mengambil bunga
dari orang lain yang bukan orang Yahudi.)
Apa yang bisa kita pelajari dari cerita ini? Kita harus menggunakan
apa pun "talenta" yang telah Tuhan berikan kepada kita. "Talenta"
itu bisa berupa uang ataupun kemampuan. Bila kita menggunakannya
dengan bijaksana, Ia akan menambahnya sehingga hidup kita akan
memuliakan Dia.
Pelajaran apa yang bisa kita peroleh dari cerita ini?
Perumpamaan Yesus ini mengajar kita supaya menggunakan talenta yang
telah Tuhan berikan kepada kita. Kita melakukan beberapa hal yang
benar-benar bisa kita lakukan. Buatlah daftar tentang hal-hal yang
bisa kamu lakukan dengan baik. Gunakan talenta-talenta yang telah
Tuhan berikan itu. Anda bisa merasakan bahwa Tuhan telah memberimu
talenta yang baru; talenta yang tidak pernah kamu sangka sebelumnya.
Kemudian carilah cara untuk menggunakan talenta itu bagi Dia!
Ayat hafalan
"Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga
ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga
yang ada padanya akan diambil dari padanya" (Mat. 25:29).
Pertanyaan
- Mengapa sang tuan memanggil para hambanya?
- Apa yang diberikan tuan itu kepada hambanya yang pertama?
- Apa yang diberikan tuan itu kepada hambanya yang kedua?
- Apa yang diterima oleh hamba yang ketiga?
- Apa yang dilakukan hamba yang pertama atas uangnya?
- Apa yang dilakukan hamba yang kedua?
- Apa yang dilakukan hamba yang ketiga?
- Hamba yang mana yang menyenangkan tuannya?
- Mengapa sang tuan tidak senang dengan hamba yang ketiga?
Anda bisa membaca perumpamaan tentang talenta ini di Alkitab dalam
Matius 25:14-30. (t/Ratri)
Sumber: Garden of Praise, http://gardenofpraise.com/bibl52s.htm, Artikel Parable of the Talents oleh Tidak dicantumkan.
Warnet PenaChristians Unite -- Kids: Bible Stories
http://kids.christiansunite.com/biblestories.shtml
Jika ingin mendapatkan kumpulan cerita dari Alkitab yang ingin
disampaikan di kelas sekolah minggu atau untuk anak-anak Anda, situs
Christian Unite -- Kids, tepatnya menu Bible Stories, perlu Anda
kunjungi. Cerita-cerita tersebut sudah dikategorikan ke dalam empat
kelompok, jadi memudahkan Anda untuk menggunakannya berdasarkan
cerita yang ingin disampaikan. Kalau Anda ingin menyampaikan cerita
Alkitab dari Perjanjian Lama, silakan klik Bible Stories from the
Old Testament. Untuk cerita-cerita tentang Yesus, buka saja Bible
Stories about Jesus. Sementara kisah pelayanan para rasul tersedia
di Bible Stories about the Apostles. Bagi anak-anak yang lebih
kecil, situs ini juga menyediakan Bible Stories for YoungerKids.
Selain dapat dibaca secara tersambung, fasilitas untuk mencetak
setiap cerita yang ada pun disediakan. Meski tersedia dalam bahasa
Inggris, situs ini tetap bagus untuk dikunjungi para pelayan anak
sebagai referensi pendukung dalam melakukan pekerjaan memberitakan
firman Tuhan.
Kiriman dari: Puji Arya Yanti
Mutiara Guru
Ceritakanlah kabar sukacita dan kebenaran
akan Allah kepada anak-anak yang Anda layani.
|