Salam dari Redaksi
Hari ini kita memperingati Hari Anak Nasional 2007. Untuk itu,
e-BinaAnak hadir dalam kemasan khusus dengan mengangkat sejumlah
tulisan yang berkaitan dengan pendidikan dan pelayanan anak. Adapun
tulisan-tulisan dalam edisi khusus ini diambil dari situs Komunitas
Blogger Kristen, SABDA Space (http://www.sabdaspace.org/).
SABDA Space sendiri, sejak diluncurkan pada 31 Juli 2006 lalu, telah
menampung 782 blogger (sampai saat editorial ini diturunkan). Dari
jumlah tersebut, tercatat 112 blogger yang aktif dalam menulis
maupun memberi komentar. Sementara kategori khusus yang menampung
tulisan seputar pendidikan dan pelayanan anak ialah Pengajaran/Guru.
Selain itu, Anda juga dapat menelusuri artikel sejenis dengan kata
kunci Anak dan Sekolah Minggu.
Dalam edisi kali ini, kita akan melihat empat tulisan yang berkisar
pada pendidikan dan pelayanan anak yang diambil dari SABDA Space.
Harapan kami, melalui tulisan-tulisan tersebut, kita dapat tergugah
untuk memberikan sumbangsih melalui tulisan kita demi generasi masa
depan yang Tuhan percayakan untuk kita didik dan asuh.
Selamat hari Anak Nasional 2007!
Pimpinan redaksi e-BinaAnak,
Davida Welni Dana
"Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu,
dan mendatangkan sukacita kepadamu." (Amsal 29:17)
ArtikelMelatih Anak untuk Peka
Salah satu cara untuk melatih anak peka dan kritis terhadap
sekeliling adalah dengan medorong anak untuk tanggap terhadap apa
yang dilihat, yang dibaca, yang didengar, yang dirasakan dan yang
dialami, sejak usia semuda mungkin.
Tapi, sayang sekali orang tua (orang dewasa), khususnya di
Indonesia, tidak melihat ini sebagai kesempatan emas yang harus
dipergunakan dengan baik. Ketika masih kecil anak terlalu dibiarkan
bertumbuh sendiri dan tidak dibimbing untuk diajar dengan tujuan dan
dengan sengaja (intentional). Saya banyak mendengar orang tua yang
beralasan, "ah, anak masih kecil, kasihan, jangan terlalu banyak
diajarin logika, nanti anak jadi stres. Nanti kalau udah besar `kan
akan tahu sendiri." Tapi orang tua tidak sadar bahwa ada masa-masa
dimana anak lebih mudah diajar dibanding kalau sudah besar, karena
mungkin sudah tidak sepeka dan seantusias ketika masih kecil. Selain
itu, jika sejak usia muda diajar dasar-dasar logika, maka
tahun-tahun berikutnya akan menjadi semakin mahir menggunakannya
dan semakin mudah mengembangkannya. Selain itu juga lebih
menguntungkan dia karena menolongnya untuk belajar apa pun dengan
lebih mudah.
Memang anak bisa stres jika belajar dalam keadaan tertekan. Tapi
sebenarnya hal itu tergantung dari pendekatan orang tua dan cara
mengajarnya. Jika hubungan orang tua dan anak baik, dan anak
mendapat perhatian dan kasih sayang yang cukup, maka diajar sesulit
apa pun tidak akan membuat anak stres. Anak stres sering disebabkan
karena hubungan anak dan orang tua (keluarga) yang tidak harmonis.
Cara mengajar anak kecil untuk kritis tidak harus dengan teori-teori
yang ilmiah. Cukup menggunakan situasi kehidupan sehari-hari yang
ada di rumah. Berikut ini salah satu cara yang saya pakai mengajar
Jesica, anak saya yang berusia tujuh tahun.
Suatu hari saya dan Jesica pergi ke supermarket membeli 5 macam
kerupuk mentah (yang belum digoreng), masing-masing setengah ons
banyaknya. Sesampainya di rumah, saya goreng semua krupuk tersebut
dan saya biarkan Jesica mengamati apa yang saya lakukan dan membantu
bilamana perlu. Sebagaimana layaknya anak, dia sudah tidak sabar
lagi mengicipi hasil gorengan bersama ini. Tapi saya tahan
keinginannya dan saya katakan kalau dia sabar kita akan membuat
permainan dengan kerupuk-kerupuk ini. Wah ... tentu dia dengan rela
hati menunggu karena ia lebih suka mendapat permainannya.
Saya katakan pada Jesica bahwa untuk melakukan permainan ini dia
harus duduk di meja makan dengan mata yang ditutup dengan sapu
tangan yang sudah saya persiapkan sebelumnya. Setelah mata ditutup,
saya taruh 5 piring yang berisi masing-masing gorengan krupuk
tersebut di hadapannya. Lalu saya minta dia mengambil krupuk di
salah satu piring dan meminta dia memakannya dan merasakan rasa
krupuk tersebut. Lalu dengan hati-hati saya minta dia menjelaskan ke
saya bagaimana rasa krupuk tersebut. Pertama kali melakukannya
Jesica agak bingung dan tidak bisa menjelaskan, tapi dengan
bimbingan pertanyaan dia mulai menemukan kata-kata yang ia cari.
Misalnya, apakah rasanya manis, asin, asam atau pahit; apakah ada
rasa atau bau tertentu yang dia kenal. Pada akhir permainan, Jesica
sudah mencoba semua macam kerupuk dan mengetahui perbedaan rasa
masing-masing krupuk dan ia juga membuka matanya untuk melihat
bentuk, warna dan nama dari masing-masing krupuk tersebut (udang,
ikan, bawang, kentang, dan pedas).
Untuk menambah meriah, saya tutup lagi matanya dan kali ini saya
acak krupuk-krupuk itu dan dia harus menebak krupuk apa yang dia
makan dan namanya. Bahkan kadang saya sengaja mengecoh dengan
memberikan nama krupuk yang berbeda dengan krupuk yang dimakannya,
karena saya ingin dia bisa belajar membedakan dan memprotes jika
saya sengaja salah menyebutkan. Apakah saya sedang mengajar anak
saya untuk memprotes saya? Tidak. Saya sedang mengajar dia untuk
peka dan berpikir kritis serta berani mengatakan mana yang benar dan
mana yang salah berdasarkan informasi yang sudah dia pelajari. Saya
ingin dia memiliki rasa percaya diri yang positif untuk mengatakan
kebenaran. Bahkan kalau saya salah, saya ingin dia berani mengatakan
bahwa saya salah.
Simpel tapi dampaknya bisa luas sekali, bukan?
Anda bisa lakukan latihan lain, misalnya dengan membedakan bau dari
bermacam-macam parfum (bunga), fiber dari bermacam-macam kain, suara
dari macam-macam alat musik, dll.
URL: http://www.sabdaspace.org/melatih_anak_untuk_peka
Oleh: Tut Wuri Handayani
ArtikelSetiap Orang adalah Pencerita
Anda berdiri di depan kelas. Seluruh mata anak-anak menatap wajah
Anda dengan antusias. Mereka berharap sebentar lagi akan mendengar
sebuah cerita yang menarik dari Anda. Pada mulanya, mereka memberi
perhatian kepada cerita Anda. Namun, ini tidak bisa bertahan lama.
Jika mereka mendapatkan sesuatu yang lebih menarik, maka perhatian
mereka bisa teralih ke tempat lain. Inilah tantangan terbesar
pembawa cerita, yaitu supaya bisa tetap `menyandera` perhatian
khalayak (anak-anak) hingga cerita tersebut berakhir. Tidak itu
saja, tugas pembawa cerita yang tidak kalah pentingnya adalah
menabur benih nilai-nilai kehidupan yang terselip di balik cerita
itu. Nilai-nilai itu disebut sebagai moral cerita. Jika Anda bisa
melakukan kedua hal ini, maka Anda layak disebut sebagai pembawa
cerita yang menarik dan efektif.
Banyak orang yang ragu-ragu ketika diberi kesempatan untuk
menyampaikan cerita. Mereka sebenarnya mempunyai kerinduan untuk
menyampaikan kabar baik ini kepada anak-anak, tapi sayangnya sering
terkendala oleh ketiadaan percaya diri. Banyak orang yang menganggap
bahwa bercerita di hadapan anak-anak itu membutuhkan bakat khusus.
Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Memang, ada orang-orang
tertentu yang secara alami sudah memiliki kemampuan bercerita secara
efektif dan menarik. Akan tetapi, kemampuan seperti ini sesungguhnya
bisa dipelajari dan dikuasai dengan mempraktikannya berulang-ulang.
Sebagian besar tukang kayu pasti mampu membuat meja makan. Namun,
ada sekelompok tukang kayu yang mampu membuat meja makan yang tampak
unik, menarik, tetapi tetap fungsional. Kemampuan seperti ini tidak
didapatkan sejak dari lahir, tetapi diperoleh melalui penguasaan
ketrampilan dan "jam kerja" yang tinggi. Hal yang sama berlaku juga
pada seorang pembawa cerita. Anda bisa menguasai kemampuan bercerita
yang menarik dan efektif.
Kemampuan seperti ini tidak sulit untuk dipelajari karena
sesungguhnya kita sudah terbiasa bercerita dalam kehidupan
sehari-hari. Setiap hari kita bercakap-cakap dengan orang lain.
Kegiatan bercerita tidak jauh berbeda dengan percakapan sehari-hari.
Jadi, jika Anda terbiasa bercakap-cakap atau mengobrol dengan orang
lain, maka sebenarnya Anda bisa menjadi seorang pembawa cerita.
Langkah paling awal untuk menguasai kemampuan ini adalah lebih dulu
memahami proses komunikasi. Di dalam ilmu komunikasi, kegiatan
bercerita termasuk di dalam jenis komunikasi lisan. Pada saat kita
menyampaikan cerita, sesungguhnya kita melakukan proses komunikasi.
Kata "komunikasi" berasal dari bahasa Latin "communicatio" yang
berarti "berbagi atau menjadi milik bersama." Ketika kita
menyampaikan cerita, kita menyampaikan sesuatu atau membagikan
sesuatu kepada anak-anak. Dengan kata lain, kita sedang
berkomunikasi dengan anak-anak.
Setiap hari kita melakukan komunikasi. Bahkan sebagian besar
kegiatan dalam kehidupan kita adalah untuk berkomunikasi. Apa pun
yang Anda sampaikan--entah itu cerita lucu, kisah sedih, atau
paparan teori Fisika yang rumit,--yang paling terutama pesan Anda
itu harus bisa dimengerti oleh orang lain. Kalau pesan itu tidak
bisa dimengerti maka kegiatan itu tidak bisa disebut sebagai
komunikasi. Secara sederhana, komunikasi dapat didefinisikan sebagai
sebuah tindakan mengirimkan pesan yang dapat dipahami kepada orang
lain.
URL: http://www.sabdaspace.org/setiap_orang_adalah_pencerita
Oleh: Purnawan Kristanto
ArtikelMata-Mata
"Mari kita berdoa!" rekanku mengucapkan kata itu dengan lantangnya
di depan murid-muridku yang sudah siap sedia mengikuti ibadah di
kelas sekolah minggunya yang mungil.
Aku sudah siap-siap menutup mata pula saat aku terpancing dengan
gerakan cepat seorang bocah kecil yang langsung menutup seluruh
wajahnya dengan tangan mungilnya. Jari-jarinya tidak rapat dan
kulihat bola matanya bergulir ke sana kemari dari sela-sela
jemarinya. Aku berdiri agak jauh dari mereka dan leluasa mengawasi
mereka. Ada lagi yang terang-terangan mendongakkan kepalanya ke
atas, dengan mata terbuka, seolah-olah di langit-langit kelas yang
hanya tergantung satu alat penerang itu ada banyak benda yang
menarik. Wah lebih parah lagi, ada anak yang saling berpandangan
dari balik jemarinya dan saling menuding, seolah berkata, "Ayo, kamu
gak berdoa ya ...!"
Melihat polah mereka di luar ajaranku mengenai sikap doa yang benar
aku bersiap-siap menghampiri mereka. Aku ingin melakukan kebiasaanku
dan rekan-rekanku yang lain saat melihat anak-anak itu bersikap
tidak benar dalam berdoa. Ya, aku ingin mencolek mereka, dan
berbisik untuk meminta mereka berdoa dengan benar. Atau mungkin bisa
saja aku memelototi mereka yang tidak berdoa itu.
Saat akan melangkah, ada suara kecil, "Hei, ngapain kamu? Kamu mau
mengatakan pada anak-anak itu bahwa kamu juga tidak berdoa dengan
sikap yang benar? Kamu mau jadi hakim bagi mereka untuk kesalahan
yang juga kamu lakukan?"
Aku tidak jadi melangkah. Iya ... ya ... aku kok malah jadi
mata-mata ya .... Seharusnya aku bisa mengajarkan lebih baik lagi
dengan memberikan contoh sikap doa yang benar dalam setiap acara doa
di kelasku. Bukan hanya dengan kata-kata dan perintah kepada mereka.
Aku sendiri harus memberi contoh buat mereka. Jangankan jadi contoh,
lihat aja aku sekarang sedang tidak berdoa, tapi malah
terang-terangan membuka mata, tidak ada tundukan kepala, dan tangan
ku tidak aku lipat. Padahal sekarang ini lagi acara doa.
"Amin!" rekanku mengakhiri doanya dan melanjutkan acara.
Aku masih memikirkan diriku yang tadi hampir jadi hakim. Satu
imajinasi lucu muncul di kepalaku. Seandainya tadi aku memutuskan
untuk mencolek atau menegur mereka dan menyuruh mereka berdoa dengan
benar, bisa saja mereka berbisik kepadaku dan berkata, "Aku kan
bantuin Kakak liatin temen-temen yang gak berdoa." Andaikan itu
bukan imajinasi, tapi kenyataan, wuaahhh ... mungkin aku mau minta
cuti dulu jadi guru sekolah minggu.
Sepertinya ini saat dimana aku harus putuskan berhenti jadi
mata-mata acara doa nih. Aku tidak mau berdiri jauh-jauh lagi
dari mereka, tetapi berdiri dekat mereka. Aku mau saat mata kecil
mereka mengembara sendiri saat acara doa sedang berlangsung, dia
bisa melihat guru-gurunya melakukan sikap doa yang benar. Aku mau
dengan contoh nyata, pengajaran yang kami berikan lewat bibir kami
tidak sia-sia dan mereka dapat semakin mengerti apa yang kami
ajarkan.
Anak-anak menangkap hanya 30% dari apa yang mereka dengar dan 70%
dari apa yang mereka lihat. Jadi kalau hari ini di kelas masih ada
anak yang suka curi-curi pandang waktu berdoa, mungkin itu berarti
masih ada guru yang berprofesi ganda sebagai mata-mata saat acara
doa.
Jadi, siapa yang menyusul saya untuk pensiun jadi mata-mata?
Solo, 7 Agustus 2006
URL: http://www.sabdaspace.org/mata_mata
Oleh: Love
ArtikelMenyentuh Masa Depan
Touch the future. I teach.
Begitu cukilan dari Christa McAuliffe seorang astronot dan pendidik
asal negeri paman Sam.
Hari ini, penggalan ini sangat menginspirasi saya untuk lebih
menghargai profesi saya saat ini sebagai seorang pengajar kalau
belum boleh disebut pendidik.
Kalau buat sebagian besar profesi lain masa depan itu masih sangat
kabur untuk dapat dilihat, tapi sungguh tidaklah sulit bagi profesi
saya.
Setiap hari saya bergelut dengan makhluk-makhluk termanis di muka
bumi yang disebut anak-anak. Lewat merekalah saya benar-benar merasa
menyentuh masa depan. Bagaimana tidak? Mereka adalah
generasi-generasi yang akan menggantikan kita. Mereka bukan sekadar
anak-anak, tetapi dokter, ilmuwan, politisi, pemuka agama, aristek
... (dst) masa depan. Mereka mungkin dapat membawa dunia ke arah
yang lebih baik ataupun sebaliknya ....
Sebagai guru, saya berpandangan bahwa mendidik mereka (dalam artian
tidak sekadar mentransfer aspek kognitif tetapi juga aspek-aspek
moral dan afektif) sama dengan membentuk masa depan. Dari
kelas-kelas di sekolah dasar yang bagi sebagian orang bukanlah
suatu profesi yang bergengsi, kita guru-guru SD, membentuk
peradaban. Sadar atau tidak, dari sudut-sudut sekolah dasar yang
mungkin terlupakan kita sebenarnya telah mengubah masa depan dunia.
Maka bahagialah saya karena boleh turut berkarya mengubah dunia
lewat malaikat-malaikat kecil saya yang pastinya akan menggantikan
generasi kita kelak.
Singkatnya, bagi seorang guru sekolah dasar masa depan bukanlah
suatu yang maya dan jauh dari jangkauan. Setiap hari kami
menyentuhnya ... dan bukan hanya menyentuh, kami membentuk masa
depan itu.
URL: http://www.sabdaspace.org/menyentuh_masa_depan
Oleh: clara_anita
Dari Meja RedaksiBerperan Melalui SABDA Space
Generasi masa depan tentu saja tidak tercetak begitu saja. Harus ada
usaha yang giat untuk membentuk anak-anak yang telah Tuhan
percayakan untuk kita asuh dan didik sehingga mereka dapat menjadi
generasi masa depan yang bersinar bagi Tuhan. Pendidikan melalui
keluarga, gereja, sekolah, dan masyarakat merupakan salah satu usaha
yang dilakukan para pembentuk generasi masa depan, baik itu orang
tua maupun para guru. Tentu saja diperlukan bekal dan juga
perlengkapan yang cukup untuk mendidik mereka, sehingga pendidikan
yang kita berikan bukanlah pendidikan yang biasa saja, tetapi
pendidikan yang maksimal untuk generasi yang gemilang pula.
Bekal dan perlengkapan yang diperlukan para pendidik bisa didapatkan
melalui banyak cara. Bisa dengan mengikuti berbagai seminar
pendidikan, membaca buku-buku, diskusi, berbagi pengalaman, dan lain
sebagainya. Hal tersebut juga bisa didapatkan melalui teknologi
yang saat ini sangat populer -- internet.
Melalui internet, kita bisa melihat berbagai macam bahan dan tawaran
fasilitas-fasilitas menarik dari berbagai situs untuk lebih
memudahkan dan memerkaya kita dalam hal pendidikan dan pelayanan
anak. Salah satu yang sering digunakan saat ini adalah fasilitas
blog. Dalam blog, kita tidak hanya sekadar membaca informasi yang
sudah ada saja, tetapi kita juga bisa berpartisipasi aktif
mengirimkan gagasan-gagasan seputar pendidikan dan pelayanan anak,
saling memberikan masukan, mengungkapkan ide, melontarkan pendapat
maupun komentar, sehingga para blogger bisa terus saling melengkapi
dan memerkaya diri untuk mendidik dan melayani anak-anak yang Tuhan
percayakan pada kita.
Situs Blogger Kristiani SABDA Space <http://www.sabdaspace.org/>
memberikan tempat bagi Anda, para pendidik Kristen dan pelayan anak,
untuk menuangkan ide, berbagi pengalaman, dan saling bertukar
pikiran mengenai dunia anak. Diharapkan setiap ide yang ada dapat
semakin diperkaya dan makin aplikatif untuk diterapkan dalam dunia
nyata pendidikan dan pelayanan anak. Sehingga melalui SABDA Space,
kita dapat menjadi pembentuk generasi masa depan yang bersinar bagi
Tuhan.
Jika Anda belum pernah mengunjungi situs SABDA Space, paling tidak
untuk memulai secara khusus, Anda dapat membaca atau menulis dengan
masuk ke dalam kategori:
Tetapi untuk dapat menulis tentu saja harus mendaftar menjadi
anggota terlebih dahulu.
Selain tulisan-tulisan dalam edisi ini, Anda dapat melihat beberapa
tulisan lain seputar anak, antara lain:
Bagaimana? Apakah Anda tertantang untuk tidak hanya menjadi penonton
saja dan mau berperan aktif dalam membentuk generasi masa depan?
Kami ajak Anda untuk bergabung dalam SABDA Space. Kiranya kita semua
dapat berpartisipasi. Mari meriahkan hari Anak Nasional 2007 dengan
menyumbangkan semua aspirasi Anda mengenai pendidikan dan pelayanan
anak melalui SABDA Space.
Tuhan memberkati!
|