Salam dari Redaksi
Salam kasih,
Anak-anak ternyata tidak lepas pula dari dampak krisis ekonomi yang
sedang dialami bangsa kita. Mereka yang seharusnya bersekolah malah
menjadi pengemis karena tekanan ekonomi dan tuntutan untuk bertahan
hidup. Mereka terpaksa hidup di jalanan. Mengingat kemampuan mereka
yang minim, jalananlah yang dapat menerima mereka untuk mengais
nafkah. Tidak jarang mereka menjadi frustrasi karena tidak adanya
jaminan masa depan, akhirnya mereka terjerumus ke dalam kejahatan.
Tentu saja kita tidak bisa hanya mengelus dada melihat keadaan
anak-anak ini. Harus ada yang membawa mereka keluar dari kelamnya
bayangan masa depan mereka. Meskipun pemerintah bertanggung jawab,
anak-anak Tuhan tentunya tidak bisa berpangku tangan, terutama jika
kita bisa membawa mereka mengenal Terang Kehidupan mereka.
Seluruh sajian minggu ini kami harapkan dapat menggugah kita semua
untuk ambil bagian dalam pelayanan anak-anak jalanan. Karena kita
semua sama di hadapan Tuhan, kita pun harus peduli kepada mereka
yang membutuhkan pertolongan.
Selamat melayani!
Staf Redaksi,
Davida Welni Dana
"belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan,
kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim,
perjuangkanlah perkara janda-janda!" (Yesaya 1:17)
ArtikelAnak Jalanan, Masalah Apa?
Dengan menggunakan buluh ayam, anak kecil itu mencoba menghapus debu
mobil yang berhenti di stopan. Supir menggelengkan kepala sambil
memberi isyarat dengan tangannya pertanda menolak mobilnya
dibersihkan dari debu dan sang anak menghindar dengan menggerutu
dalam hati. Seorang gadis cilik menadahkan telapak tangannya kepada
supir yang membuka jendela dan menyodorkan uang recehan seratus
rupiah. Pemandangan yang nyaris tampak di seluruh kota-kota besar
Pulau Jawa.
Ratusan ribu anak jalanan setiap hari mengerubungi kendaraan yang
lewat dan berhenti di lampu stopan kala merah menyala. Barangkali
jutaan. Gejala apa ini? Jauh hari, dalam beberapa dekade sebelumnya,
kaum gelandanganlah yang menguasai jalanan, dengan rombongan
pengemis usia tua, cacat, dan mengenaskan bentuk tubuhnya. Tetapi
satu dekade belakangan ini, muncul fenomena baru, anak-anak usia di
bawah sepuluh tahun dan usia belasan tahun, sekonyong-konyong
bersaing dengan pendahulu mereka dan "merajai" jalan.
Berkali-kali dinas sosial memungut para pengemis dan menempatkan
mereka di pusat-pusat rehabilitasi sosial, berkali-kali pula mereka
kembali ke "habitat" mereka. Sampai akhirnya gejala baru ini muncul,
orang dewasa yang "memperalat" anak-anak usia belasan tahun!
TRAGEDI KOTA?
Kalau ditilik dari sudut sosiologi, pertumbuhan dan perkembangan
desa dan kota tentu berbeda. Umumnya, di daerah pedesaan dinamika
masyarakat bersifat statis. Anak-anak lahir dalam keluarga,
sementara lahan untuk mata pencaharian tidak pernah bertambah.
Ladang dibentuk dari hutan, semakin jauh ke dalam, hanya sekadar
untuk mempertahankan hidup. Tetapi hal itu pun tidak menolong
banyak. Akibatnya, hutan semakin berkurang dan bencana alam pun
turut merusak "alam" yang dijajah manusia dan menuntut "balas"
kepada manusia yang merusak lingkungan.
Di perkotaan, tumbuhnya industri telah menyedot banyak tenaga kerja
bagaikan magnet bagi penduduk desa. Terjadilah arus urbanisasi.
Walaupun begitu, tidak semua mereka ini dapat memberi hidup kepada
anak-anak di dalam keluarganya sehingga terjadilah dampak yang tidak
diharapkan. Anak menjadi peminta-minta di jalan dan berusaha
"memeras" rasa belas kasihan orang yang lewat. Uang recehan akan
bermunculan dari balik jendela depan! Sangat mudah mendapatkan uang.
Hal ini menarik lebih banyak lagi orang desa datang ke kota dan
memanfaatkan anak mereka yang mudah dikasihani.
Siapa yang salah? Keadaan masyarakat ataukah keluarga anak-anak itu
sendiri? Pertanyaan ini tidak dapat dijawab secara sederhana.
Manusia telah memperumit situasi hidupnya sendiri. Orang dewasa
"merampas" hak anak-anak untuk bermain, bersekolah, dan hidup
sebagaimana lazimnya anak-anak. Mereka dipaksa orang tua untuk
merasakan getirnya kehidupan. Dari keluarga miskin di desa, mampir
ke kota menjadi pengemis! Sebuah tragedi zaman ini.
NASIB ANAK JALANAN
Pada suatu ketika, jalan-jalan di kota sepi dan "bersih" dari anak
jalanan yang mengemis. Di mana mereka? Ditangkapi polisi! Dibawa ke
mana? Ke rumah tahanan sementara! Sayangnya, rumah tahanan sementara
itu kerapkali menjadi bagian dari penjara yang dihuni oleh kriminal
amatir dan kawakan (kambuhan). Ruang tahanan yang sudah padat itu
kemudian disesaki oleh anak-anak kecil yang "dipungut" dari jalan.
Menurut beberapa penelitian, di Amerika Latin dan Afrika, anak-anak
jalanan ditangkapi oleh polisi dan dititipkan di penjara orang
dewasa. Di sini mereka mengalami sesuatu yang tidak pernah
dipikirkan oleh anak-anak itu sebelumnya. Mereka menjadi korban
penyalahgunaan seks orang dewasa dan di sini pula mereka belajar
mengenali pelbagai corak kejahatan. Sekeluarnya mereka dari "tahanan
sementara" ini, mereka menjadi terdidik dan "terlatih" sebagai calon
penjahat.
Berdasarkan penelitian di Brasilia, Sao Paulo, 80% penghuni penjara
adalah bekas anak jalanan. Di tengah-tengah keluarga, mereka kurang
dihargai, disuruh mencari nafkah sendiri, hak-hak mereka diperkosa,
jasmani mereka juga diperkosa. Masyarakat luar pun banyak yang tidak
menaruh simpati kepada mereka, membuat dunia anak jalanan ini
semakin runyam. Mereka tidak memikirkan masa depan. Mereka mencari
sesuap nasi untuk hari ini kemudian meletakkan tubuhnya, jika letih
dan tidur pada malam hari, di mana saja. Dinginnya malam menjadi
bagian hidupnya, teriknya siang menjadi sahabat mereka.
Kebijakan pemerintah dengan menangkapi mereka, mungkin karena faktor
wisata bahwa kehadiran mereka sebagai pengemis amat merusak "wajah"
kota, demi kepentingan pariwisata itu, tidak membantu mengurangi
"penyakit" masyarakat ini. Tentu saja pemerintah tidak akan mampu
memulihkan situasi anak-anak jalanan ini. Bagaimana dengan orang tua
yang melahirkan mereka?
PEKERJA ANAK?
Anak-anak yang "beruntung" tidak terpental ke jalanan, ada yang
ditampung di perusahaan industri. Tetapi pengharapan kepada buruh
anak-anak ini tidaklah memadai sebab pada umumnya mereka dihargai
jauh di bawah upah orang dewasa walaupun kadang-kadang jam kerja
mereka melebihi jam kerja orang dewasa!
Ada ayah yang kehilangan pekerjaan justru mendorong anaknya untuk
bekerja. Banyak anak menjadi pemulung karena dorongan keluarga atau
orang tua mereka, atau mereka yang ditinggalkan oleh orang tua
mereka begitu saja. Anak-anak yang ditampung di rumah penampungan,
jika kemudian dapat menyesuaikan diri, beruntung karena mereka
memiliki "keluarga besar" yang sebaya dengan mereka, dididik dan
dibesarkan di lingkungan anak-anak sepermainan mereka.
PETAKA LAIN
Bencana alam, seperti yang dialami Aceh waktu gempa bumi dan tsunami
yang terjadi pada 26 Desember 2004 lalu, telah membuat nasib
anak-anak tidak menentu, khususnya mereka yang kehilangan sanak
keluarga dan orang tua. Bencana alam ini telah memupus masa depan
mereka. Jika simpati dan empati tidak diberikan kepada mereka,
melalui pertolongan orang tua asuh, kemungkinan besar mereka yang
luput dari bencana itu akan terlempar ke tepi jalan dan menjadi anak
jalanan. Bencana alam telah memupus masa depan anak-anak yang
kehilangan kerabat dan orang tua mereka. Oleh karena itu, kepedulian
sosial sangat mereka butuhkan.
"Organisasi" anak jalanan, yang menghimpun dan "mengekalkan" mereka
di dalam kondisi seperti itu, dapatlah dianggap sebagai anak jalanan
yang malang. Mereka terperangkap dalam situasi buruk yang
dikondisikan, demi kepentingan orang dewasa yang mengorganisasi
mereka. Petaka seperti ini patut diwaspadai oleh pihak yang
berwenang.
APA KATA ALKITAB MENGENAI ANAK-ANAK?
Banyak orang mengatakan bahwa anak jalanan yang sudah "terbiasa"
dengan kehidupan sebagai pengemis, sulit ditarik dari tempatnya.
Kalaupun mereka "diambil" dari tempat itu dan kemudian diasuh atau
dipekerjakan di rumah secara baik-baik, mereka toh akan kembali dan
lebih suka dengan kehidupan itu. Sebenarnya, hal ini tidak perlu
membuat putus asa. Perlu ada kesadaran seperti yang dimiliki oleh
warga kota Esteli. Kesadaran merupakan sesuatu yang harus digugah.
Bagaimanakah sebenarnya hakikat anak-anak menurut Alkitab? Kita
perlu kembali kepada filsafat Alkitab setiap kali memikirkan anak
jalanan di negeri kita ini. Usaha-usaha sosial yang tidak dilandasi
oleh filsafat religius yang utuh. Padahal aspek rohani harus
dibangun seiring dengan aspek jasmani mereka.
Konon, satu dari 13 bersaudara keluarga Yakub (12 lelaki, 1 orang
perempuan), yaitu Yehuda, sangat bersimpati kepada Benjamin, adik
bungsunya yang lelaki itu. Ada dua pihak yang saling berkaitan dan
sulit dipisahkan dalam suasana keluarga yang dicerminkan dalam ayat
berikut. "Sebab masakan aku pulang kepada ayahku, apabila anak itu
tidak bersama-sama dengan aku? Aku tidak akan sanggup melihat nasib
celaka yang akan menimpa ayahku" (Kejadian 44:34). Ada kepedulian
atas nasib adiknya, Benjamin, dan juga tanggung jawab atas orang tua
yang amat mengasihi adiknya itu. Kasih sayang adalah unsur yang
merekatkan anggota keluarga dan saling memikirkan nasib sesama.
Hal lain yang membuat anak-anak terpelanting ke jalan raya dan hidup
bagai burung (siang beratapkan langit yang terik, malam beratapkan
embun yang dingin) ialah pendidikan. Pendidikan anak sama halnya
dengan disiplin. Orang tua bertanggung jawab untuk memberikan
pendidikan kepada anak-anak mereka, bekal masa depan mereka. Bekal
itu bukan bertumpu pada uang atau warisan yang besar. Pendidikan
adalah modal utama yang akan mendisiplin anak demi masa depan
mereka.
Perhatikanlah nasihat Raja Salomo berikut ini.
"Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau
menginginkan kematiannya" (Amsal 19:18). Barangkali maksudnya,
ketika anak-anak itu "dihajar", janganlah dengan nafsu amarah yang
tidak terkendali yang cenderung membuat anak itu kesakitan dan
mengakibatkan ia berteriak, "Bunuhlah aku. Lebih baik mati daripada
disiksa begini!"
Melainkan:
"Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan
mendatangkan sukacita kepadamu" (Amsa129:17).
Hasil akhir sebuah pendidikan adalah "ketenteraman jiwa" dan
"mendatangkan sukacita". Ada tanggung jawab luhur yang dipikul oleh
orang tua yang melahirkan anak ke dunia ini. Tanggung jawab yang
sejati, yang penuh dengan rasa syukur, rasa hormat yang
timbal-balik, yakni memberi kesempatan kepada anak-anak untuk
memperoleh pendidikan yang sepadan dan sesuai dengan kehendak Tuhan.
Akhirnya, Yesus Kristus berkata seperti berikut.
"Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di
tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata
kepada mereka: `Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam
nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku
yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku`" (Markus 9:36,37).
Memulihkan anak jalanan adalah sebuah usaha yang luhur karena
sesungguhnya anak-anak itu harus diberi peluang untuk hidup
sebagaimana diri mereka sendiri dan mereka pun adalah anak-anak
calon penghuni kerajaan surga!
Sumber: Kalam Hidup November 2005 Tahun ke-75 No. 715, Drs. Wilson Nadeak, M.A., , halaman 4 -- 9, Kalam Hidup, Bandung, 2005.
KesaksianPelayanan Anak Jalanan: Mereka Juga Ingin Punya Masa Depan
Belum banyak jemaat yang tahu kalau GKJMB memiliki pelayanan di
bidang yang satu ini. Kalaupun ada yang tahu, umumnya menganggap
bagian dari Komisi Pemuda. Padahal pelayanan ini berada di bawah
naungan Tim Misi. Artinya, terbuka bagi siapa saja.
SEJARAH TERBENTUKNYA
Pelayanan Anak Jalanan memang berawal dari Komisi Pemuda. Pada bulan
Desember 1998, krisis moneter yang melanda bangsa Indonesia ternyata
memengaruhi pola pikir Panitia Natal Pemuda Rayon III untuk tidak
merayakan Natal secara jor-joran. Keputusan untuk ikut peduli
terhadap situasi yang melanda akhirnya diambil. Dana konsumsi tidak
akan digunakan, melainkan dialokasikan untuk kegiatan sosial.
Panitia Natal juga membentuk Tim Aksi Sosial Khusus di luar Panitia
Natal. Hanya saja, saat itu belum diputuskan kegiatan sosial macam
apa yang akan dilakukan. Mengunjungi panti asuhan, panti jompo, atau
membagi-bagikan sembako.
Informasi yang didapat akhirnya menggiring tim aksos untuk
menjatuhkan pilihannya pada penampungan anak jalanan di Jl. Kebon
Sirih milik sebuah yayasan Kristen yang berada di bawah naungan
Kampus Diakonia Modern (KDM) pimpinan Bapak Lumy. Di tempat
penampungan ini, anak-anak yang tadinya hidup di jalan diajak untuk
hidup secara normal. Makan tiga kali sehari, mandi dan berganti
pakaian, punya tempat untuk berlindung dari panas, hujan, dan juga
kehidupan keras jalanan yang kerap membahayakan keselamatan diri
mereka.
Tepat tanggal 25 Desember 1998, acara kunjungan dilaksanakan.
Anak-anak yang hadir jumlahnya jauh lebih banyak dari kondisi
normal. Rupanya rencana kedatangan kami dengan cepat disebar ke
teman-teman mereka di jalan. Acara demi acara pun disuguhkan.
Menyanyi bersama, panggung boneka, permainan, dan pembagian
bingkisan. Tidak akan pernah terhapus dalam ingatan kami bagaimana
mata bulat polos mereka dengan tidak berkedip memandang acara
panggung boneka, suatu hal yang sangat langka dalam kehidupan
mereka. (Acara ini sempat diliput oleh harian "Kompas", yang
kemudian menjadi salah satu berita halaman pertama media tersebut
keesokan harinya.)
Perayaan Natal di Kebon Sirih ini tidak saja berjalan lancar, tapi
juga meninggalkan suatu beban pelayanan baru bagi Tim Aksos. Mereka
merasa tidak mungkin hanya datang dan lihat untuk pergi selamanya.
Harus ada suatu tindak lanjut yang dilakukan bagi anak-anak jalanan
tersebut. Harus ada yang menyampaikan Kabar Baik kepada mereka.
Jangan sampai kehidupan menyedihkan selama di dunia terus mengikuti
mereka hingga "kehidupan baru" kelak. Syukur kepada Tuhan karena Dia
membuat Tim Aksos tidak saja tergerak, tapi juga bergerak. Pihak KDM
segera dihubungi. Setelah berembuk, Tim Aksos akhirnya kebagian
peran di bidang rohani. Dan sesuai dengan kebutuhan, Tim Aksos
kemudian melayani di tempat penampungan mereka di kawasan Cileungsi.
KONDISI PELAYANAN
Pelayanan anak jalanan ternyata sangat unik. Tidak seperti
pelayanan-pelayanan lainnya di dalam gereja yang sudah baku.
Pelayanan anak jalanan merupakan suatu bentuk pelayanan yang
tak dapat ditentukan secara pasti (unpredictable). Selain karena Tim
Aksos kekurangan SDM dan masih mencari bentuk dan format yang tepat,
anak-anak yang dilayani juga sangat beragam. Mulai dari usia,
tingkat pendidikan, latar belakang, dan juga masalah yang mereka
hadapi. Masing-masing anak memerlukan penanganan yang khusus dan
berbeda-beda.
Sebut saja Eko, 14 tahun, sudah beberapa tahun malang-melintang di
jalan. Untuk bisa tetap makan, biasanya dia ngamen di lampu-lampu
merah ataupun di kendaraan umum. Tampaknya tidak ada yang berbahaya
dalam diri anak ini. Tapi, ternyata Eko sudah pernah beberapa kali
menjadi korban perlakuan seksual orang dewasa selama menjalani
kehidupannya. Akibatnya, di tempat penampungan dia tidak dapat
melepaskan diri dari kebiasaan ini sehingga temannya pun menjadi
korban.
Atau Rahmat, asal Banten. Sebelum ke Jakarta dia sudah dibekali
bermacam-macam ilmu hitam. Selain pernah berniat menurunkan ilmunya
itu ke teman-temannya, sering ke kuburan sendirian pada waktu malam
merupakan kegiatan yang dikerjakannya selama berada di tempat
penampungan Cileungsi. Masih banyak lagi kisah anak-anak malang yang
dilayani Tim Aksos yang terlalu banyak untuk diceritakan di sini.
Mereka memang anak-anak yang malang, sementara anak-anak normal di
belahan bumi ini menikmati hangatnya kasih sayang dan perhatian
orang tua, anak-anak ini sudah harus merasakan kerasnya kehidupan di
jalanan. Kehidupan yang keras di rumah, hidup bersama dengan
ayah/ibu tiri yang tidak ramah, kemiskinan, merupakan salah satu
dari sekian banyak alasan kenapa akhirnya anak-anak itu lebih senang
hidup luntang-lantung di jalanan. Sekolah dan kehidupan normal
ditinggalkan untuk menikmati alam kebebasan yang tampaknya sangat
menjanjikan. Tapi nyatanya, kehidupan di jalan jauh lebih keras
daripada yang mereka bayangkan sebelumnya. Untuk bisa diterima di
komunitas jalanan, tidak jarang mereka harus diplonco terlebih
dahulu. Dan sekadar untuk mempertahankan hidup, mereka melakukan
perbuatan yang bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat.
Ngoyen (makan makanan sisa), nguping (melepas kaca spion mobil),
ngebola (mencuri dengan cara oper-operan di atas kendaraan umum),
ngaibon (menghirup hawa lem yang bisa membuat mereka melupakan
sejenak masalah mereka) adalah hal-hal yang lazim mereka lakukan.
Saat ini jumlah anak jalanan yang ditampung di Cileungsi hanya
tinggal 15, dari 30 orang anak yang mula-mula berhasil ditampung.
Dengan kondisi demikian Tim Aksos merasa sulit untuk menembus
benteng yang mereka pasang untuk Injil, apalagi tanpa dukungan daya
dan doa dari segenap jemaat. Kiranya tulisan ini mampu mengetuk hati
nurani jemaat agar kita tidak lagi melihat mereka sebagai makhluk
pengganggu yang menjijikkan di lampu-lampu merah (yang kemudian
membuat kita deg-degan dan cepat-cepat menyiapkan duit receh). Tapi
marilah kita melihat mereka sebagai orang-orang yang patut kita
jaring dan kasihi. Kalau Yesus saja mengasihi kita, mengapa kita tak
mau mengasihi mereka?
Sumber: http://www.gky.or.id/buletin10/anakjalanan.html, Gereja Kristus Yesus, .
Bahan MengajarKemiskinan: Bahkan Remah-Remah Pun Tidak
REFLEKSI UNTUK ORANG TUA/GURU
Dalam sepuluh tahun terakhir ini, dengan adanya jaringan media
global, kita dapat menjadi saksi mata atas kemiskinan yang
mengerikan. Sebagian orang yang miskin dan tersisih terpaksa
mengaduk-aduk tempat sampah, sementara yang lain menderita dan
sekarat, bahkan tanpa ada yang sempat mereka pungut dari tempat
sampah. Setiap hari kita melihat mereka saat kita keluar untuk makan
malam atau berangkat kerja. Kita pun dapat menyaksikan mereka setiap
malam melalui televisi dan melihat foto mereka melalui
majalah-majalah.
Namun, kemiskinan mereka tak berarti bila dibandingkan kemiskinan
rohani yang sangat mengerikan, yang dialami oleh mereka yang tidak
mau memberi dan memerhatikan orang-orang miskin karena
prinsip-prinsip politik dan ketamakan. Sikap masa bodoh terhadap
kebutuhan dasar dari mereka yang diciptakan menurut gambar Allah
sama dengan masa bodoh terhadap Allah.
Namun, sukar dimengerti dari mana kita harus mulai mengatasi
masalah sehingga sering kali kita tidak berbuat apa-apa. Banyak
orang yang memberikan uang, namun hanya ada sedikit orang yang mau
memberikan waktu mereka, apalagi yang mau memberikan diri mereka.
Bacaan Alkitab minggu ini mengambil tema yang kerap disuarakan,
yaitu tanggung jawab kita terhadap saudara-saudara kita. Allah
mengharapkan kita memerhatikan orang lain. Tentu saja tidak dalam
bidang yang sama. Kita dipanggil untuk berkarya dalam berbagai
bidang sesuai dengan kreativitas masing-masing demi kepentingan
orang lain yang membutuhkan. Tetapi kita tidak boleh menjadi
penonton. Jika kita mengabaikan kebutuhan orang lain, kita masuk
dalam bilangan orang-orang yang miskin secara rohani. Kemiskinan
kita berasal dari kurangnya belas kasihan, kemurahan, dan keadilan
yang merupakan panggilan Sang Pencipta bagi kita.
REFLEKSI UNTUK SELURUH ANGGOTA KELUARGA/KELAS
Hal pertama yang saya lakukan setiap kali bangun pagi adalah turun
ke bawah dan menyiapkan makan siang yang akan dibawa Sarah dan
Matthew ke sekolah. Mereka sudah berpesan agar dibawakan roti dengan
selai buah, bukan kue keju dan biskuit. Dan saat sarapan mereka
bertanya, "Bolehkah hari ini saya minta kuenya dua potong?"
Saya senang anak-anak saya dapat menikmati hal-hal semacam ini. Saya
senang mereka dapat ke sekolah dengan perut kenyang dan juga bekal
makan siang. Tetapi saya juga tahu bahwa tidak setiap anak di dunia
ini dapat menikmati hal yang demikian. Saya sering bertanya-tanya
bagaimana seandainya anak-anak saya berangkat ke sekolah tanpa
sarapan dan bekal makan siang? Bagaimana perasaan saya jika cuaca
dingin dan mereka tidak memakai baju hangat dan sepatu? Bagaimana
perasaan mereka? Bagaimana perasaan Anda?
Allah menghendaki kita bertanggung jawab satu terhadap yang lain.
Itu berarti kita diminta saling memerhatikan dan peka akan kebutuhan
orang lain. Apa yang dapat Anda lakukan berkenaan dengan hal ini?
Minggu ini adalah saat yang tepat untuk mulai merenungkan pertanyaan
ini.
PELAJARAN
Hari 1: Memberikan Persepuluhan dan Memerhatikan Orang Miskin
Ulangan 14:28-29; 15:7-11
Apa yang harus diberikan kepada orang miskin dan orang yang
membutuhkan?
Menurutmu, apakah lima hal terpenting yang harus dipunyai setiap
orang agar dapat hidup layak?
Hari 2: Tanggung Jawab Terhadap Orang Miskin
Ulangan 24:14-22
Apa yang harus diberikan kepada orang asing, anak yatim, dan
para janda?
Apa yang gereja Anda lakukan untuk membantu orang miskin?
Bagaimana Anda dapat berbuat lebih banyak?
Hari 3: Seorang Janda dan Nabi Elia
1Raja-Raja 17:8-24
Janda itu sudah berputus asa. Apa yang hendak dilakukannya ketika
Nabi Elia menjumpainya?
Tahukah kamu suatu tempat di mana terdapat orang-orang yang
mengalami kelaparan dan persoalan? Apa yang dapat kamu lakukan?
Hari 4: Doa Mohon Berkat Allah untuk Raja
Mazmur 72
Bagaimana kamu dapat menggambarkan tentang raja ini?
Adakah kamu mengetahui seorang tokoh dunia yang berjuang keras
dalam menolong orang miskin dan mereka yang membutuhkan? Apa yang
ia lakukan?
Hari 5: Orang Kaya dan Lazarus
Lukas 16:19-31
Mengapa Lazarus tidak diizinkan memperingatkan keluarga orang
kaya itu?
Mungkin di antara orang-orang yang kamu jumpai setiap hari ada
seseorang yang membutuhkan pertolongan. Bagaimana kamu dapat
membantu orang itu, baik secara langsung maupun tidak langsung?
Hari 6: Iman dan Perbuatan
Yakobus 2:1-17
Kapan iman disebut mati?
Adakah anggapan-anggapan tertentu yang tidak benar tentang orang
miskin di kota Anda? Bagaimana Anda dapat mengetahui lebih banyak
tentang keadaan mereka yang sebenarnya?
AKTIVITAS KHUSUS: KELAPARAN
Pada suatu kesempatan makan malam atau makan bersama dalam kelas,
hidangkanlah sebuah menu kejutan, yaitu semangkuk nasi untuk
seluruh kelas dan segelas air untuk setiap orang. Anda tak perlu
berkata apa-apa; dengarkan bagaimana setiap peserta berkomentar
mengenai menu tersebut. Adakah yang menggerutu? Adakah yang
terkejut? Jelaskan pada mereka bahwa ada banyak orang di dunia
yang pergi tidur malam itu hanya dengan makanan seperti yang
mereka hadapi saat itu. Bicarakanlah perbedaan antara menu tersebut
dengan menu yang biasa dinikmati keluarga Anda. Kemudian, jika Anda
menghendaki, hidangkanlah makanan dengan menu lengkap. Namun,
pakailah pengalaman yang mengejutkan ini untuk memotivasi agar
keluarga Anda turut memikirkan tentang masalah kelaparan.
Tentukan jadwal untuk pergi ke toko makanan dan membeli makanan
kaleng untuk disumbangkan ke organisasi atau gereja yang menangani
kelaparan di daerah Anda. Jika memungkinkan, bantulah menyediakan
makanan bagi para tunawisma.
Sumber: Belajar Bersama, Janice Y. Cook, , halaman 153 -- 155, Yayasan Gloria, Yogyakarta, 1999.
Warnet PenaAgape Bible Fellowship: Street Children Ministry
http://www.agapeindia.com/street_children_challenge.htm
Street Children Ministry merupakan salah satu pelayanan dan juga
bagian dari situs Agape Bible Fellowship. Halaman ini membawa kita
melihat bagaimana pelayanan anak jalanan dapat dilakukan. Jika Anda
klik bagian "Why we have taken up this challenge?", Anda dapat
memahami mengapa pelayanan anak jalanan sangat penting untuk
dilakukan. Hal ini juga dapat membawa kita untuk mulai memikirkan
pelayanan yang mulia ini. Situs ini banyak pula menampilkan
foto-foto seputar anak jalanan yang dapat semakin menggugah Anda
untuk turut ambil bagian dalam pelayanan ini. Untuk informasi lebih
lanjut, silakan kunjungi halaman ini.
Oleh: Redaksi
Mutiara Guru
Memulihkan anak jalanan adalah sebuah usaha yang luhur.
Mereka pun adalah anak-anak calon penghuni kerajaan surga.
- Drs. Wilson Nadeak, M.A. -
|