Salam dari Redaksi
Salam sukacita,
Membaca merupakan salah satu cara paling baik untuk mengisi otak
atau jiwa. Seorang anak yang senang dan banyak membaca akan lebih
luas pengetahuannya dari anak yang sedikit membaca buku. Tetapi
harus diingat, tidak sedikit pula buku yang tidak memiliki manfaat
yang baik dan bahkan dapat menjerumuskan anak.
Dalam edisi kali ini kita akan melihat bagaimana buku dapat menjadi
sahabat anak. Dalam artikel ini Anda dapat juga membaca mengenai
buku yang bermanfaat atau yang tidak bagi anak. Tentu saja guru
sekolah minggu tidak dapat lepas tanggung jawab untuk menanamkan
minat baca anak, khususnya untuk bacaan-bacaan rohani. Untuk itu,
salah satu tips minggu ini berisi mengenai peranan sekolah minggu
dalam meningkatkan minat baca anak. Jangan lewatkan artikel-artikel
lainnya dan dapatkan berkat dengan membacanya.
Selamat membaca!
Redaksi e-BinaAnak
Davida Welni Dana
"Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah
dalam membaca Kitab-kitab Suci,
dalam membangun dan dalam mengajar." (1Timotius 4:13)
ArtikelJadikan Buku Sahabat Anak
Bukan rahasia lagi kalau minat baca di negeri kita tergolong rendah.
Entah mengapa, bangsa ini seolah-olah "jauh" dari yang namanya buku.
Padahal persoalan membaca bukan semata soal ketiadaan waktu,
mahalnya buku, atau jumlah buku yang terbatas. Lebih dari itu,
membaca harus dipercaya dapat mengubah pola pikir seseorang dan
menjadikannya maju. Kalau tidak, percuma!
Berapa lama dalam sehari Anda menghabiskan waktu untuk membaca?
Satu, dua, atau tiga jam? Lalu, bacaan apa saja yang biasa Anda
lahap? Koran, majalah, atau buku? Pertanyaan-pertanyaan tadi bukan
dalam rangka interogasi atau kuis yang harus dijawab lewat SMS.
Namun, sekadar mengingatkan betapa pentingnya membaca.
Kalaupun pada praktiknya sampai saat ini Anda tidak sempat membaca
buku sama sekali, hal itu masih bisa dimaklumi. Hasil survei pada
2004, yang dimuat sejumlah media cetak berkaitan dengan Hari Buku
Nasional Ke-3 di Bandung, menyebutkan daya baca orang Indonesia
tergolong rendah, yaitu berada di urutan ke-39 dari 41 negara yang
diteliti. Sayangnya, tidak dijelaskan lembaga apa yang meneliti.
Urutan ketiga dari posisi bontot tentu bukan berita menggembirakan.
Padahal buku itu salah satu sumber ilmu. Dari sanalah pemikiran
seseorang dicerahkan, untuk akhirnya menuju ke arah lebih baik.
Rasanya sulit membayangkan kalau negeri ini akan bisa terbebas dari
belenggu keterbelakangan, kemiskinan, dan setumpuk masalah lain bila
masyarakatnya enggan belajar seperti itu.
Dengan nada pesimistis, Prof. Riris K. Toha Sarumpaet, Ph.D.,
pengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia,
malah tidak yakin daya baca (bisa dipersamakan dengan minat baca)
kita ada di urutan ke-39. "Mungkin lebih di bawah lagi," ujarnya
serius. "Orang Indonesia tidak membaca, tapi banyak berbicara dan
mendengar."
Menurut Riris, bangsa kita tidak punya kepercayaan bahwa membaca
dapat membuat lebih bahagia, pandai, dan berwawasan. Jadi, ketika
orang-orang punya kelebihan dana, yang utama dipikirkan bukanlah
buku, melainkan pakaian mode terbaru, aksesori, atau bagaimana
mengganti perabot rumah.
MELIRIK HARRY POTTER
Sejauh seseorang pernah bersekolah, dapat dipastikan ia juga bisa
membaca. Kecuali dalam kasus-kasus tertentu, seperti fakta bahwa
beberapa murid tamatan SMP di Flores yang diketahui tidak bisa
membaca. Data terbaru dari Depdiknas menyebutkan, jumlah orang buta
huruf di Indonesia 15,5 juta atau 9,07% dari total penduduk di atas
15 tahun. Diasumsikan, sisanya bisa membaca.
Masalahnya, tidak semua orang yang melek huruf pasti aktif membaca
buku. Banyak anak sekolah yang memegang buku sebatas mengikuti
pelajaran atau mengerjakan tugas. "Mereka memang membaca, tapi
apakah mereka pembaca?" tanya Riris. Di luar tugas sekolah, sedikit
kegiatan anak yang berhubungan dengan bacaan. Lebih-lebih ada godaan
dari televisi, film, atau games.
Antara seseorang yang sekadar membaca dan yang berminat besar
terhadap bacaan jelas berbeda. Sesempit apa pun waktu yang dimiliki,
orang yang "gila baca" akan selalu menyempatkan diri melirik buku
kesenangannya. Di saat sibuk belajar mempersiapkan tes hasil
belajar, misalnya, seorang anak kutu buku akan menyempatkan diri
melirik barang sejenak buku cerita fiksi Harry Potter favoritnya.
Sejauh tidak mencuri seluruh perhatiannya, hal itu wajar saja.
Pada usia dewasa, seseorang yang berminat baca besar terlihat dari
kesehariannya yang tidak lepas dari buku. Di waktu-waktu senggang,
seperti saat menunggu, di halte bus, atau dalam perjalanan, tak ada
teman setia kecuali buku. Mereka juga menyediakan waktu yang lebih
khusus untuk membaca seperti pada malam hari atau menjelang tidur.
Gaya hidup seperti ini mencerminkan, ia tidak terpisahkan dari
bacaan yang diminatinya.
Menurut Riris, persoalan minat baca, bukan terletak pada berapa jam
seseorang tahan membaca dalam sehari, "Tapi menyempatkan diri untuk
selalu menyentuh bacaan yang disukai sudah cukup mewakili semangat
membaca," paparnya. "Mungkin hanya beberapa menit, namun bisa
memuaskan dahaganya pada bacaan bermutu."
Di luar soal alokasi waktu, memahami bacaan itu sendiri lebih
penting. "Dengan membaca, seseorang harus menjadi lebih baik karena
bacaannya itu. Pola pikir dan perilakunya akan berubah seiring
dengan kualitas bacaannya," kata Riris. Nah, persoalan ini rupanya
yang banyak terabaikan.
Bagi seorang pembaca sejati, bacaan akan menjadi referensi terhadap
pemikiran dan tindakannya sehari-hari. Tutur kata dan tata bahasanya
bisa menjadi baik.
Bacaan juga dapat menjadi inspirasi seseorang untuk terus menjadi
besar dan terus mewujudkan keinginannya itu. Kita bisa mengambil
contoh Proklamator Kemerdekaan RI, Bung Karno, yang harus membaca
puluhan buku untuk menyusun pledoinya, "Indonesia Menggugat", di
hadapan pengadilan kolonial Belanda pada 1930.
"Berkat bacaannya, seseorang juga semakin realistis, bahwa untuk
menggapai sesuatu, tidak bisa ditempuh secara singkat seperti ajang
pemilihan idol(a) di televisi. Mereka merasa harus berjuang untuk
mendapatkannya," kata Riris.
MERANGSANG IMAJINASI
Menumbuhkan minat baca haruslah dimulai sejak dini, yaitu sejak
masih anak-anak. "Kalau sudah dewasa, rasanya sulit," kata Riris
yang juga dikenal sebagai pemerhati bacaan anak ini. Anak mudah
terikat dengan buku yang menarik perhatian mereka, bisa buku cerita
terjemahan, cerita rakyat, atau buku pengetahuan yang disajikan
dengan ringan. Yang paling menarik bagi anak, tentu saja cerita
fiksi.
Sebenarnya, bukan hanya pada anak, menurut perempuan kelahiran
Tarutung tahun 1950 ini, bacaan fiksi tetap menjadi pilihan bacaan
menarik di semua golongan usia. Lewat fiksi, pembaca dapat mengikuti
si tokoh dalam cerita dengan konflik-konfliknya. Dari sana pembaca
bisa menemukan sesuatu, mengidentifikasi, meniru, atau bahkan
mencemoohnya. Pembaca juga bisa mempelajari sesuatu dengan
membandingkan dirinya dengan si tokoh.
Melalui fiksi yang baik pula, kita akan mengerti apa dan mengapa
sebuah peristiwa bisa terjadi. Bila suatu tokoh diceritakan jahat,
misalnya, kita bisa tahu alasan-alasan berbuat kejahatan, apakah
karena kemiskinan atau kebodohan. Inilah yang memperkaya pengetahuan
sekaligus imajinasi.
Namun, agar bisa beroleh manfaat, bukan berarti hanya didapat lewat
bacaan yang berat. "Yang ringan atau remeh juga bisa," pesan Riris.
Bacaan menarik dan ringan malah bisa membuat seseorang bersabar
menuntaskan sebuah cerita dari awal sampai akhir. Jika sudah
terbiasa, ia akan semakin cepat dan efektif saat membaca.
Ujung-ujungnya, ia akan terus membaca.
Namun Riris mengingatkan, tidak semua buku cerita fiksi berkualitas
baik. Sebuah novel bisa menceritakan tokoh dan latar belakang secara
lebih baik dibandingkan dengan cerita pendek (cerpen), misalnya.
Dalam novel ada afirmasi dari pembaca itu sendiri yang bisa
memperkaya batinnya dan membuat ia menyatu dengan bacaannya.
"Beda dengan cerpen yang berkisah pada satu sisi cerita. Hanya
sebuah pertemuan di ujung gang," kata Riris mengibaratkan.
Maraknya buku-buku cerita remaja dan juga buku kumpulan cerpen yang
menonjolkan erotisme juga dipertanyakan ibu tiga remaja putri ini.
"Apakah buku-buku semacam ini bisa memperkaya?"
Untuk membedakan bacaan yang baik dan bukan tidaklah terlalu sulit.
Intinya, sebuah bacaan memengaruhi pemikiran dan dapat dijadikan
referensi jika suatu saat diperlukan. Cara ini juga berlaku untuk
menilai buku-buku nonfiksi.
MEMBERI CONTOH
Menumbuhkan minat baca untuk anggota keluarga, terutama anak, tentu
harus dimulai di rumah. Orang tua harus rela kalau suasana rumah
jadi sedikit "berantakan" oleh buku-buku. Dalam kondisi seperti itu,
lambat laun seluruh anggota keluarga akan terbiasa dan penasaran
untuk ikut membaca. Namun, yang penting adalah adanya contoh dari
orang tua. Anak akan tertarik membaca jika mereka melihat orang
tuanya juga suka membaca.
Sejak anak masih balita, orang tua bisa memperkenalkan buku melalui
bermacam cara. Anak yang belum bisa membaca bisa dimotivasi lewat
orang tua yang mendongeng sambil menunjukkan buku-buku bergambar
sehingga anak terbiasa melihatnya. Untuk anak yang lebih besar, bisa
mulai membaca sendiri bahkan memilih bacaannya sendiri.
Riris mengakui, upaya orang tua ini sering harus menghadapi kendala.
Acara-acara televisi atau film video, misalnya, yang juga menyajikan
pengetahuan atau cerita, bisa mengalihkan perhatian anak dari
bacaan. "Seharusnya, acara-acara semacam itu tidak menggantikan
buku, justru orang tua harus menjadikannya sebagai referensi untuk
memilih buku yang tepat karena sudah mengetahui minat anaknya,"
tutur ibu dari Risa, Astrid, dan Thalia ini.
Gangguan lain juga bisa berupa membanjirnya komik. Riris sendiri
mengaku tidak antipati terhadap komik, bahkan sering kali
membacanya. Komik-komik keagamaan, pewayangan, atau pengetahuan,
juga baik dibaca anak. "Tapi jika anak hanya diberikan komik, mereka
akan terampas dari pendalaman buku-buku yang benar-benar berisi.
Sebab komik kurang mengembangkan imajinasi dibandingkan dengan buku
bacaan," kata penyuka komik Asterix ini.
Banyaknya buku yang ditawarkan di toko buku juga kadang menyulitkan
orang tua. "Masalahnya, buku-buku itu cuma membanyak (jumlahnya),
tapi bukan membaik kualitasnya," nilai Riris. Orang tua harus bisa
memilih dengan tepat berdasarkan informasi dari pelbagai sumber,
seperti resensi di media massa, internet, atau dari pengamatan
mereka sendiri. Diakui Riris, ini tidak semudah di negara maju yang
informasi perbukuannya sudah amat memadai. "Tapi orang tua harus
aktif melakukan," tekannya.
Satu lagi yang harus diperhatikan orang tua, yaitu alokasi waktu
membaca. Minat baca yang tinggi bukan berarti lalu harus melupakan
kegiatan anak yang lain seperti bermain dan bersosialisasi dengan
lingkungan. "Jangan sampai membaca melupakan perkembangan fisiknya,"
pesan Riris. "Jadi, selain mengajak mereka berdiskusi tentang buku,
anak-anak juga tetap harus didorong untuk melakukan kegiatan fisik."
Oleh: T. Tjahjo Widyasmoro
Sumber: INTISARI Edisi Mei 2005, T. Tjahjo Widyasmoro, http://www.sabda.org/gubuk/?q=jadikan_buku, Artikel Jadikan Buku Sahabat Anak, Situs GUBUK.
Tips MengajarMeningkatkan Minat Baca Anak Sekolah Minggu
Bacaan-bacaan umum semakin menjamur dan amat menarik perhatian anak.
Tentunya sebagai guru sekolah minggu kita tidak ingin anak-anak
layan kita lebih banyak mengonsumsi bacaan-bacaan tersebut, apalagi
jika bacaan tersebut tidak memberikan manfaat yang maksimal bagi
mereka. Tetapi kita juga tidak dapat membatasi minat baca anak hanya
karena takut anak mendapatkan bacaan yang tidak baik. Tetap
tumbuhkan minat baca mereka, tetapi arahkan untuk membaca hal-hal
yang lebih positif, khususnya bacaan-bacaan rohani. Bagaimana
sekolah minggu bisa mebangkitkan minat baca anak terhadap buku-buku
rohani?
- Sekecil apa pun sekolah minggu Anda, usahakan untuk memiliki
perpustakaan. Keberadaan perpustakaan menjadi penting untuk
memperlihatkan kepada anak kepedulian sekolah minggu atau gereja
terhadap minat baca mereka dan untuk mengarahkan mereka kepada
bacaan-bacaan rohani. Untuk membuka perpustakaan sekolah minggu,
silakan akses artikel "Memulai Perpustakaan di SM" di situs PEPAK
dengan alamat URL:
==> http://pepak.sabda.org/pustaka/050947/
- Buat program membaca di sekolah minggu Anda. Dalam program
tersebut setiap bulan atau dua minggu sekali anak-anak diwajibkan
membaca buku rohani apa saja (komik, cerpen, dongeng, buku
renungan, dan lain-lain.) Pada tanggal yang telah ditentukan,
minta mereka mengumpulkan laporan. Laporan bacaan dapat berisi
data mengenai judul buku, pengarang, alasan mereka memilih buku
tersebut, inti cerita, dan pelajaran rohani dari buku tersebut.
- Anda dapat membagi anak-anak dalam beberapa kelompok kecil. Satu
kelompok bisa terdiri dari tiga anak. Hasil dari laporan bacaan
dapat juga dibagikan (sharing) kepada teman-teman mereka dalam
kelompok. Kegiatan ini bisa dilakukan sebagai satu variasi
mengajar.
- Untuk anak kelas kecil yang belum bisa membaca, Anda dapat
menumbuhkan minat baca anak terhadap buku rohani dengan cara
sesekali membacakan sebuah cerita dari buku. Perlihatkan kepada
mereka buku yang Anda pakai untuk bercerita. Tunjukkan pula
gambar-gambar yang ada dalam buku tersebut. Pilih buku cerita
yang tidak terlalu banyak kata-katanya dan memiliki gambar yang
benar-benar melukiskan cerita yang sedang disampaikan. Dengan
cara ini, Anda sekaligus menjadikan buku sebagai alat peraga
dalam mengajar.
- Bekerjasamalah dengan orang tua murid. Dalam pertemuan-pertemuan
khusus, misalnya dalam kunjungan, Anda dapat menekankan
pentingnya mengarahkan minat baca anak, tidak hanya untuk
buku-buku umum, tetapi juga dalam hal bacaan rohani. Orang tua
dapat mulai membimbing anak mereka membaca buku rohani dengan
buku-buku renungan harian untuk anak.
- Jika di sekolah minggu Anda ada pembagian hadiah untuk
acara-acara tertentu, sebisa mungkin jadikan buku bacaan sebagai
hadiah untuk anak-anak sekolah minggu Anda.
- Para guru yang rindu memiliki murid-murid yang memiliki minat
besar dalam membaca bacaan rohani harus juga memiliki
ketertarikan yang besar untuk membaca buku-buku rohani. Sebelum
kita meminta murid melakukan sesuatu yang baik, terlebih dahulu
lakukanlah hal tersebut.
Buku-buku umum amat menarik perhatian anak. Tetapi itu bukan alasan
bagi para pelayan anak untuk patah semangat dalam meningkatkan minat
baca anak terhadap buku rohani. Semangat dan teladan dari para
pendidik dapat menjadi awal yang baik. Milikilah pula minat baca
yang tinggi akan buku-buku rohani. Jika minat baca guru kurang,
apalagi anak-anak yang dididiknya.
Oleh: Davida Dana
Tips PembimbingMenggunakan Buku Bersama-Sama
Menyemangati anak-anak agar menjadi pembaca dapat dilakukan dengan
melihat, membaca, dan menikmati buku bersama-sama mereka. Jika
anak-anak menyaksikan buku sebagai sumber kesenangan, hiburan, dan
informasi, mereka akan mempunyai dorongan yang kuat untuk belajar
membaca.
Ketika melihat buku, rasa senang akan muncul tidak hanya dari
melihat gambar-gambar dan mendengarkan cerita. Perhatian individual
yang Anda berikan kepadanya, kedekatan jasmaniah, perasaan hangat
dan aman, semuanya akan menyumbangkan perasaannya mengenai buku.
Sebaliknya, jangan pernah memaksakan buku pada anak-anak karena
mereka akan memilih melakukan sesuatu yang lain.
Sikap orang tua terhadap buku.
Sikap seorang anak terhadap buku juga akan dikondisikan oleh apa
yang ia saksikan dari sikap orang tuanya terhadap buku itu. Jika ia
melihat orang tuanya sendiri suka membaca buku dan mengacu buku
untuk mencari informasi, ia akan cenderung menganggap buku sebagai
sesuatu yang dapat dinikmati dan berguna.
Belajar mengenai buku-buku dan kata-kata.
Seorang anak yang terbiasa menggunakan buku akan menyerap banyak
informasi yang diperlukan sebelum ia belajar membaca. Ia akan
memahami, misalnya, bahwa Anda selalu mulai dari depan dan bergerak
ke belakang, dan bahwa Anda menangani tiap halaman dari atas ke
bawah, dan tiap baris dari kiri ke kanan; bahwa gambar-gambar dapat
membantu memahami kata-kata; bahwa kata-kata dipisahkan oleh spasi
kosong; bahwa suatu cerita mempunyai awal, bagian tengah dan akhir
dan sering mengikuti pola.
MANFAAT LAIN
Menggunakan buku bersama seorang anak juga merupakan cara yang
sangat bagus untuk membantu mengembangkan daya pemahaman dan bicara,
mendengarkan dan berkonsentrasi, serta pengamatannya; semuanya ini
penting dalam proses belajar membaca.
Ada banyak manfaat lain dari buku. Buku membentuk suatu ikatan di
antara orang-orang yang bersama-sama menikmati buku. Buku juga dapat
merangsang daya khayal dan mendorong pengembangan emosional karena
anak itu mulai menghargai bagaimana perasaan orang lain. Selain itu,
buku juga memperluas pengetahuan akan dunia dengan memperkenalkan
kepadanya situasi-situasi baru dan memperdalam pemahamannya akan
hal-hal yang telah dialaminya.
Kapan memulai?
Bayi kecil dapat menikmati gerakan halaman-halaman yang dibuka,
bunyi kertas, dan bunyi suara Anda ketika berbicara atau membaca.
Pada awalnya, mereka melihat gambar semata-mata sebagai warna-warna,
bentuk, dan pola. Lambat laun bentuk-bentuk itu menjadi dikenal dan
dapat dikenali dan mereka mulai menghubungkan bunyi-bunyi spesifik
dengan setiap bentuk. Kemudian mereka belajar membuka
halaman-halaman sendiri, menunjuk ke benda-benda (dalam buku) yang
dikenalinya, menamai benda-benda itu. Mereka akan segera berbicara
mengenai gambar-gambar yang dilihatnya dan kemudian mengikuti
deretan gambar sepanjang sebuah buku dan mendengarkan kata-kata yang
mengiringi gambar-gambar itu.
Memandangi buku sendiri.
Menikmati buku secara bersama-sama merupakan suatu bagian yang
penting dari pengalaman dini, tetapi buku-buku dapat dinikmati bila
dilihat sendiri dari usia dini. Berilah semangat kepada anak sejak
awal untuk melihat sendiri buku-buku. Ia akan mulai semata-mata
dengan memainkannya, namun sejenak kemudian dengan senang hati ia
akan memandangi gambar-gambarnya. Ini mungkin akan terjadi bila ia
menyaksikan orang-orang di sekitarnya memandangi buku-buku.
Seberapa sering?
Gunakan buku bersama putra Anda sesering ia menginginkan dan
sedapatnya Anda menyisihkan waktu. Dengan bayi, terutama dengan
anak yang baru belajar berjalan, hal terbaik untuk dilakukan adalah
melihat-lihat buku sebentar, tetapi sering sepanjang hari. Kemudian
Anda dapat memperpanjang pertemuan tetapi mengurangi seringnya.
Secara bertahap Anda dapat memperkenalkan waktu-waktu khusus dalam
sehari untuk memandangi buku bersama-sama. Paling tidak usahakan
selalu ada satu pertemuan buku dalam sehari. Jika Anda memilih suatu
waktu yang khusus, hal ini akan segera menjadi kebiasaan. Meskipun
demikian ingatlah, jika anak Anda terlalu capai, atau semata-mata
sedang tidak berselera terhadap buku, jangan bersikeras.
Tempat menyimpan buku.
Carilah tempat yang khusus bagi anak-anak untuk menyimpan buku-buku
mereka. Ada orang yang menyimpan beberapa dalam kamar yang berlainan
sehingga selalu ada kumpulan yang mudah diraih. Rak rendah yang
dapat diraih anak dengan mudah, atau kotak dihias khusus yang
ditaruh di dekat tempat yang nyaman untuk duduk akan mendorong
anak-anak kebiasaan memandangi buku sendiri.
Usahakan agar tidak terlalu berhati-hati dengan buku, tetapi
ajarilah anak-anak untuk tidak menyobek atau mencoret-coret buku
itu. Anda dapat memberi sampul plastik buku-buku favorit agar lebih
awet.
Sumber: Panduan Orang Tua Usborne: Membantu Putra Anda Belajar Membaca, Betty Root, , halaman 8 -- 9, Periplus, Jakarta, 2003.
KesaksianMengembangkan Minat Baca pada Anak
Banyak orang mengatakan bahwa minat baca orang Indonesia sangat
rendah dibandingkan dari negara-negara lain, bahkan diantara negara-
negara di Asia. Hal ini tidak mengherankan karena sejak kecil kita
tidak dididik orang tua kita untuk mencintai buku. Kalau sama-sama
diberi uang saku maka anak Indonesia biasanya akan memakainya untuk
membeli makanan jajanan. Itu sebabnya uang saku lebih sering dikenal
dengan sebutan "uang jajan", karena memang tujuannya untuk membeli
makanan. Jarang anak dididik untuk menggunakan uang sakunya untuk
sesuatu yang lain, misalnya untuk menyewa buku atau membeli alat
tulis atau buku. Hal-hal tersebut dianggap otomatis tugas orang tua
untuk menyediakannya. Anak tidak diajar dari kecil untuk bertanggung
jawab terhadap kebutuhannya sendiri.
Para ahli meneliti bahwa cinta buku (minat baca) biasanya lahir dari
rumah. Jika orang tuanya, atau orang dewasa yang tinggal serumah,
cinta buku dan senang membaca maka hampir bisa dipastikan anak juga
akan gampang tertular. Jika orang tua senang membaca, maka dengan
mudah buku-buku akan dijumpai di berbagai tempat di rumah. Anak
menjadi terbiasa melihat buku dan jika tidak ada yang dikerjakan
maka anak yang sudah bisa membaca (mulai umur 5) akan lari ke buku
sebagai tempat untuk menghibur diri.
Anak kecil biasanya mulai memperhatikan buku hanya dengan melihat
gambar-gambarnya saja. Jika ia sudah puas atau bosan, maka ia akan
mulai membaca kata-katanya, khususnya dari hal-hal yang menarik
perhatiannya atau yang memancing rasa ingin tahunya. Sebagai pemula,
anak sebenarnya tidak perlu memiliki buku yang banyak. Cukup
beberapa buku yang disukainya saja. Buku-buku tersebut biasanya akan
dibacanya berulang-ulang, bahkan sampai hafal detail gambar dan
isinya. Di sini peran orang dewasa cukup besar untuk mengembangkan
minat baca anak-anak. Sering-seringlah tunjukkan ketertarikan Anda
terhadap ketertarikannya pada buku yang dibacanya. Tanyakan siapa
tokoh ceritanya, atau bagaimana akhir ceritanya. Tunjukkan buku lain
yang membahas tentang hal yang sama untuk menambah informasi yang
sudah didapatnya. Anak akan merasa mendapat angin kalau orang tuanya
ikut memberi perhatian terhadap buku yang dibacanya. Inilah kunci
untuk menolong anak memiliki kebiasaan membaca.
Anak saya Jesica, pertama kali tertarik membaca isi buku (bukan
hanya melihat gambarnya saja) adalah ketika ia sudah mulai bisa
membaca sendiri sebelum umur 5 tahun. Buku yang menarik perhatiannya
adalah buku Ensiklopedia Mini tentang mumi. Entah kenapa dia sangat
penasaran kalau melihat gambar mumi. Dengan usahanya sendiri ia
mencoba mengerti kata-kata yang menjelaskan tentang gambar mumi
tersebut. Memang belum fasih membaca, namun jelas dia mengenali
maksud kata-kata yang dilihat di buku tersebut karena dengan serius
dia berkata, "Mommy, kalau besar nanti Jesica pengin jadi
archeolog". Seaneh apa pun kedengarannya, jangan sekali-kali
menertawakan keinginan anak kalau Anda tidak ingin memadamkan
semangatnya membaca. Jesica sekarang sudah berumur 7 tahun dan
selama 4 bulan terakhir ia telah membaca 6 buku seri Narnia dan saat
ini ia sedang membaca seri terakhirnya, hampir selesai ....
oleh: Tut Wuri Handayani
Sumber: SABDA Space, Tut Wuri Handayani, http://www.sabdaspace.org/mengembangkan_minat_baca_pada_anak.
Warnet Penae-Artikel: Anak
http://artikel.sabda.org/?q=anak
Sehubungan dengan baca-membaca, ada sebuah situs yang amat baik
untuk Anda kunjungi, yaitu situs e-Artikel. Di dalamnya ada berbagai
macam artikel yang dapat Anda baca untuk menambah wawasan dan
memperkaya pemikiran Anda. Sebuah kolom khusus, kolom "Anak"
disediakan bagi para pelayan anak yang ingin membaca hal-hal seputar
pelayanan tersebut. Saat ini baru ada 13 artikel seputar pelayanan
yang dapat Anda nikmati. Oleh karena itu situs e-Artikel membuka
kesempatan bagi Anda yang ingin membagikan ide, gagasan, atau bahan
seputar pelayanan anak untuk dipasang di situs ini. Mau membaca dan
ikut aktif di dalamnya? Segera saja masuk ke situs ini.
Oleh: Redaksi
Dari Meja RedaksiBergabung dengan e-Buku
Untuk mewujudkan anak yang gemar membaca buku memang diperlukan
teladan dari Anda, para pelayan anak. Namun, apabila Anda sulit
menemukan informasi buku-buku Kristen bermutu untuk dibaca, e-Buku
akan hadir bagi Anda. Silakan mendaftarkan diri menjadi pelanggan
e-Buku dengan mengirimkan e-mail kosong ke
<subscribe-i-kan-buku(at)hub.xc.org>. Jika Anda dan teman Anda ingin
didaftarkan, silakan kirim surat kepada redaksi e-Buku di alamat
<staf-buku(at)sabda.org>. Maka, setiap bulannya Anda akan menerima
edisi e-Buku yang berisi resensi-resensi, artikel, dan informasi
seputar buku Kristen. Untuk arsip edisi-edisi yang sudah pernah
diterbitkan, silakan simak di alamat
http://www.sabda.org/publikasi/e-buku/arsip/. Atau kunjungi situs
GUBUK Online di http://gubuk.sabda.org. Jadi tunggu apa lagi? Anda
ingin memberi teladan dalam hal membaca? Selamat bergabung.
Mutiara Guru
Membaca amat berguna dan bagus untuk anak.
Dan orang tua pun tahu manfaat membaca untuk
mendorong anak-anak membuka buku-buku
agar lebih mengenal wawasan.
|