Salam dari Redaksi
Salam sukacita,
Kiranya semangat kita lebih berkobar-kobar untuk melayani Dia di
tahun yang baru ini. Begitulah kira-kira kalimat yang sering
mengiringi ucapan selamat tahun baru. Ungkapan tersebut tentu saja
mengandung harapan bahwa semangat itu tidak akan pudar seiring
berjalannya waktu. Dengan penuh semangat pula Redaksi menyuguhkan
edisi perdana e-BinaAnak di tahun baru ini.
Kali ini kami mengangkat tema yang sering didiskusikan belakangan
ini, "Pengaruh Media Terhadap Anak". Lewat tema utama ini, kami
sungguh ingin menggugah semangat kita untuk semakin memperlengkapi
anak-anak dalam kebenaran firman Tuhan. Sebagaimana kita ketahui,
perkembangan teknologi telah membawa dampak positif dan negatif.
Oleh karena itu, kita perlu membawa anak-anak yang kita didik untuk
semakin dewasa dalam pengenalan akan Tuhan dan firman-Nya. Dengan
demikian, mereka takkan mudah terombang-ambing oleh gelombang
teknologi.
Berikut topik-topik yang akan diulas sepanjang bulan ini.
- Tayangan Televisi
- Komputer
- Buku
- Musik
- Video Game
Dalam edisi ke-311 ini, kita akan melihat bagaimana dampak tayangan
televisi bagi anak-anak. Sebagai perangkat yang sudah begitu akrab
dengan kehidupan kita, kita perlu berhati-hati; jangan sampai
anak-anak terjerumus ke dalam jeratnya. Sebaliknya, kita perlu
memikirkan bagaimana menolong anak untuk dapat melihat prinsip-
prinsip iman Kristen di dalamnya.
Selamat melayani!
Red aksi e-BinaAnak
Davida Welni Dana
"Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih?
Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu." (Mazmur 119:9)
ArtikelPengaruh Tayangan Televisi
Siapa yang tidak pernah menonton televisi? Semua orang paling tidak
memiliki satu acara televisi favorit. Ya, televisi memang amat
populer dan digemari banyak orang.
Televisi amat berpengaruh terhadap semua kelompok masyarakat. Khusus
dalam kehidupan keluarga, misalnya, televisi dapat merenggangkan
hubungan antar anggota keluarga. Komunikasi yang biasa terjalin
dengan baik dapat rusak karena perhatian mereka kini lebih terpusat
pada acara-acara televisi. Kalau pun ada perbincangan, topiknya akan
berada di seputar acara yang ditayangkan. Tidak jarang pula orang
tua membelikan anaknya televisi untuk menggantikan peran pengasuhan.
Mereka berpikir televisi dapat membuat anak-anak mereka tenang
sehingga mereka tidak perlu lagi mendongeng bagi anak-anaknya karena
televisi sudah menyediakan itu semua. Televisi juga dapat mengubah
suatu tatanan yang baik menjadi tidak pada tempatnya. Gaya hidup
yang seharusnya apa adanya kini berubah mengikuti gaya hidup yang
ditawarkan melalui televisi. Sikap hidup pun berubah mengikuti sikap
yang sering dilihat di televisi. Misalnya, memecahkan masalah dengan
jalan pintas, balas dendam, bunuh diri, atau dengan obatan-obatan
terlarang.
Harus disadari bahwa kehadiran televisi bukan sekadar merupakan
hiburan belaka. Informasi yang dihadirkannya juga mengondisikan
pemirsa untuk menjadi konsumtif, materialistik, dan cenderung
menyederhanakan masalah yang sebenarnya sulit sehingga memilih
pemecahan tanpa pengorbanan dan usaha yang sungguh-sungguh.
Daya tarik televisi yang begitu kuat dapat dilihat dari orang-orang
yang sanggup berjam-jam duduk di depan televisi. Apa sajakah yang
ditayangkan sehingga daya tariknya dapat membius para pemirsa?
- Berbagai informasi dan berita aktual dari seluruh dunia.
- Iklan-iklan yang ditampilkan begitu menarik dan evokatif.
- Hiburan-hiburan ("reality show", lawak, sinetron, film, musik,
dll.).
- Dokumenter dan pengetahuan umum.
- Perbincangan-perbincangan para pakar.
- Kebutuhan spiritual masyarakat berupa mimbar agama.
Kalau diperhatikan, tampaknya tidak ada yang salah dengan unsur
acara televisi di atas. Hanya saja, jika diuraikan akan terlihat
betapa banyaknya tayangan yang kurang memperhitungkan daya tangkap
dan daya seleksi pemirsa. Adakalanya juga unsur edukatif televisi
kurang dirasakan. Misalnya, dalam tayangan yang menyodorkan
adegan-adegan kekerasan, erotis, kelicikan, kemunafikan, dan tipu
daya manusia terhadap sesamanya.
PENGARUH TELEVISI TERHADAP PERTUMBUHAN ROHANI ANAK
Salah satu penelitian mengungkapkan bahwa rata-rata anak dapat duduk
di depan televisi kira-kira 4 -- 9,5 jam per hari (Kompas, 17
Februari 1995). Dapat dibayangkan berapa banyak informasi yang
diserap oleh anak-anak selama satu hari melalui tayangan televisi.
Padahal tidak semua tayangan itu berpengaruh baik bagi mereka. Patut
dipertanyakan apakah informasi yang diserapnya dari tayangan
televisi itu sesuai untuk perkembangan kepribadian anak dan
pertumbuhan rohaninya atau tidak.
Anak akan menonton apa saja yang ditayangkan di televisi karena dia
belum mengetahui yang benar dan yang salah dari tayangan tersebut,
kecuali bila orang tua atau gurunya menjelaskan kepadanya. Larangan
untuk tidak menonton tayangan tertentu belum cukup memberi
pengertian kepada mereka bahwa tayangan-tayangan tersebut bukanlah
tontonan yang baik baginya. Karena seorang anak memiliki rasa ingin
tahu yang besar, larangan keras justru akan membangkitkan rasa ingin
tahunya dan mereka akan mencuri kesempatan untuk menontonnya.
Masa kanak-kanak adalah masa laten, masa di mana anak menyerap semua
informasi yang diperolehnya tanpa penyaring (filter) yang kuat. Anak
akan menyerap semua informasi yang dilihatnya dari tayangan-tayangan
televisi dan menyimpannya di bawah sadar. Reaksi dari tayangan
tersebut mungkin tidak langsung kelihatan, tetapi informasi yang
melekat di bawah sadarnya tetap terbawa. Bisa saja setelah dewasa ia
baru memperlihatkan reaksi atau tingkah laku yang sesuai dengan
tayangan televisi yang sering ia saksikan. Tontonan di masa laten
tersebut bisa menjadi rujukan bagi seorang anak untuk membenarkan
tindakannya di masa-masa perkembangannya. Misalnya, jika anak-anak
sering menonton adegan kekerasan, dia dapat menirukan adegan yang
dia lihat ketika dia bertengkar dengan temannya.
Saat ini, televisi lebih sering menayangkan acara-acara yang tidak
sesuai dengan iman Kristen. Karena kita tidak dapat mengatur
tayangan apa yang harus diputar di stasiun-stasiun televisi, kita
perlu membimbing anak-anak didik kita. Kita perlu membekali mereka
dengan bimbingan dan pendidikan iman Kristen yang benar dan
alkitabiah. Tanpa pembekalan rohani yang kuat, kita tidak dapat
mengharapkan mereka tampil sebagai pribadi-pribadi yang memiliki
kehidupan spiritual Kristen yang baik.
Jika televisi memang dapat berdampak buruk bagi pertumbuhan rohani
anak, apa yang dapat kita lakukan? Sebagian keluarga mungkin
menyingkirkan televisi dari rumah mereka meskipun hal tersebut sama
sekali bukan solusi yang tepat. Menonton televisi tidak hanya bisa
dilakukan di rumah. Di mana saja, asal ada kesempatan atau bisa
mencuri kesempatan, anak-anak dapat melakukannya. Lebih bahaya lagi,
tidak ada kontrol dari orang tua. Padahal dengan menyingkirkan
televisi, kesempatan untuk mendapatkan informasi yang baik dan
bermanfaat, seperti tayangan berita, film-film dokumenter, tayangan
olah raga, dsb. pun akan hilang.
Yang perlu dilakukan para orang tua dan pendidik adalah aktif dan
kritis di dalam menyaring tayangan-tayangan televisi tertentu.
Orang dewasa diberikan akal budi dan kemampuan sehingga dapat
memilihkan tayangan-tayangan mana yang layak untuk ditonton oleh
kita dan anak-anak kita. Hal-hal berikut ini perlu diperhatikan
sekaligus dipertanyakan sebagai usaha untuk menyaring
tayangan-tayangan televisi.
- Apakah tayangan itu cocok untuk usia anak kita?
- Apakah tayangan itu cocok bagi perkembangan kepribadian anak kita?
- Apakah tayangan itu cocok bagi pertumbuhan iman anak kita?
- Apakah tayangan itu cocok bagi keutuhan keluarga kita?
- Apakah tayangan itu sesuai dengan prinsip-prinsip iman kita?
- Pesan, tawaran, atau misi apa yang tersirat di dalam tayangan
itu?
- Apakah hubungan kita dengan Allah mengalami gangguan setelah
menyaksikan tayangan tersebut?
- Apakah hubungan kita dengan sesama manusia mengalami gangguan
setelah menyaksikan tayangan tersebut?
- Apakah manfaat dari acara yang kita tonton?
- Apakah tayangan itu membantu meningkatkan dan mengembangkan
potensi kita secara positif?
- Perasaan dan dorongan apakah yang timbul sesudah menonton acara
yang ditayangkan di televisi?
Beberapa hal penting lainnya dapat dilihat di bawah ini.
- Hendaknya orang tua memberikan pengarahan kepada anak mengenai
acara dan film yang sesuai untuknya, terutama bagi pertumbuhan
imannya.
- Dampingi anak saat menonton televisi dan beri penjelasan mengenai
acara atau film yang sedang ditayangkan, khususnya yang berlatar
belakang berbeda dari kita.
- Berikan teladan pada anak dalam hal penggunaan waktu yang tepat
untuk menonton dan penyeleksian yang ketat terhadap program-
program yang ditayangkan di televisi.
- Berikan pendidikan iman Kristen kepada anak-anaknya di dalam
keluarga.
Sehubungan dengan pendidikan Kristen dalam keluarga, hal ini dapat
dilakukan dengan memperkenalkan Tuhan Yesus dan firman-Nya melalui
ibadah keluarga, bacaan-bacaan Kristen, kaset atau video yang
mengandung pendidikan iman Kristen, dsb. Melalui pendidikan iman
Kristen, anak-anak diharapkan dapat:
- mengenal Allah di dalam Yesus Kristus dan firman-Nya sehingga
mereka dapat mengenal jalan dan kebenaran dan hidup yang menuju
kepada Allah Bapa;
- mengenal rencana Allah bagi hidupnya sehingga ia memiliki tujuan
yang benar di dalam hidupnya;
- memiliki landasan spiritual, moral, dan etik yang kokoh sehingga
tidak mudah terombang-ambing oleh berbagai informasi yang
kemungkinan besar berbeda dari imannya.
Alangkah baiknya apabila orang tua atau para pendidik menyoroti
tayangan televisi di bawah terang Alkitab sehingga ia dapat membantu
anak membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang
berkenan kepada Tuhan dan mana yang tidak. Dengan menanamkan
pendidikan iman Kristen kepada anak, orang tua maupun pelayan anak
berperan sebagai pelayan-pelayan firman yang melakukan penaburan
benih-benih iman.
Dr. James Smart mengatakan bahwa keluarga merupakan tempat pesemaian
iman. Bergandengan tangan dengan guru-guru yang melakukan penaburan
benih-benih iman di sekolah minggu, diharapkan anak-anak akan
memiliki iman yang berakar teguh di dalam Yesus Kristus sehingga
mereka dapat mengenal Dia secara pribadi dan menerima Dia sebagai
Tuhan dan Juru Selamat mereka yang hidup. Melalui keteladanan,
bimbingan, dan pendidikan iman Kristen terhadap anak, baik di rumah
maupun di sekolah minggu, diharapkan anak memperoleh landasan iman
Kristen yang kokoh serta memiliki kemampuan untuk menentukan waktu
yang tepat dan menyeleksi secara baik dan bertanggung jawab
acara-acara televisi yang akan ditontonnya.
Sumber: BPK Penabur Online, Poppy M. Elia, http://www1.bpkpenabur.or.id/kwiyata/75/bina1.htm, BabPengaruh Televisi dalam Keluarga, BPK Penabur Online.
Tips PembimbingSekolah Minggu dan Tayangan Televisi
Seorang guru sekolah minggu pastinya tidak selalu dapat mengontrol
dan mengawasi apa saja yang ditonton setiap muridnya di rumah mereka
masing-masing. Padahal, membimbing anak untuk menyaring setiap
informasi yang mereka dapatkan dari tayangan televisi bukan hanya
tanggung jawab orang tua saja, tetapi juga membutuhkan kerja sama
dari guru sekolah minggu. Apa yang dapat dilakukan guru sekolah
minggu untuk mengarahkan anak-anak layannya dalam menonton tayangan
televisi? Berikut ini beberapa saran yang dapat dijadikan masukan.
- Tanyakan tayangan-tayangan favorit anak-anak. Buatlah daftarnya
dan amati tayangan tersebut secara pribadi di rumah Anda. Buatlah
analisa mengenai hal-hal positif dan negatif dari
tayangan-tayangan tersebut. Di pertemuan-pertemuan berikutnya,
Anda dapat menyisipkan acara "siaran televisi" bagi anak-anak.
Dalam acara tersebut, ambil satu tayangan yang paling banyak
disukai anak-anak. Minta salah satu anak membacakan hal-hal baik
dan tidak baik dari acara tersebut. Setelah itu, jelaskan secara
singkat mengapa acara favorit mereka itu baik; bila tidak baik,
jelaskan pula alasannya. Jangan lupa, sertakan ayat pendukung
dari firman Tuhan.
- Buatlah daftar acara yang baik dan berdampak positif bagi
wawasan, pertumbuhan mental, maupun rohani anak. Berikan daftar
tersebut lengkap dengan stasiun dan jam tayangnya. Tentu saja
Anda harus terlebih dahulu menyempatkan waktu untuk memilih dan
menyeleksi acara yang baik dan memilih acara pada jam tayang yang
tepat untuk anak. Berikan alasan mengapa acara tersebut lebih
baik daripada tayangan-tanyangan yang lain. Adapun anak-anak
kelas besar dapat diberi tugas untuk membuat laporan dan daftar
pelajaran yang mereka peroleh dari tayangan tersebut, yang
berkenaan dengan iman Kristen.
- Jika dari daftar acara favorit yang dibuat anak ada tayangan yang
sama sekali bukan tayangan yang baik untuk mereka, secara pribadi
panggil anak tersebut dan jelaskan mengapa acara tersebut amat
tidak baik untuk dia tonton. Ajak dia berdoa dan membaca firman
Tuhan.
- Dalam program kunjungan ke rumah, berkomunikasilah dengan orang
tua. Cari tahu kebiasaan anak dalam menonton televisi melalui
orang tua mereka. Secara tidak langsung, Anda dapat bertanya
bagaimana orang tua membimbing anak dalam memilih tayangan
televisi. Ada orang tua yang tidak terlalu peduli dengan apa yang
ditonton anak mereka. Kesempatan ini dapat Anda gunakan untuk
mendiskusikan pengaruh orang tua dalam mengontrol tontonan
televisi anak mereka dan juga dampak negatifnya jika anak tidak
dibimbing saat menonton televisi.
- Sediakan tontonan yang sehat bagi mental dan rohani anak. Jika
memungkinkan, sediakan film-film Kristen atau yang sarat muatan
ajaran Kristen (VCD, DVD, VHS, dll.) di perpustakaan sekolah
minggu atau gereja. Anjurkan kepada anak-anak untuk meminjam
film-film tersebut sebagai ganti waktu menonton televisi.
- Guru harus memiliki kehidupan rohani yang baik dan berakar kuat
di dalam Kristus sehingga dapat memberikan pendidikan Kristen
yang baik pula kepada murid-muridnya. Pendidikan Kristen
merupakan pijakan kuat bagi anak dalam menyaring berbagai
informasi yang mereka dapatkan melalui tayangan televisi yang
mereka tonton. Guru-guru yang memiliki kedewasaan rohani dapat
membimbing murid-muridnya dengan baik dalam menyiasati dampak
televisi yang tidak sesuai dengan iman Kristen.
Perhatian kita pada anak-anak sekolah minggu tidak hanya kita
berikan saat mereka berada di dalam kelas. Justru saat mereka berada
di luar kelas, kembali ke lingkungannya masing-masing, seorang guru
sekolah minggu harus menaruh perhatian yang lebih lagi. Termasuk
perhatian dan kepedulian terhadap tayangan televisi yang tidak
sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Doakan dan bimbinglah mereka.
Oleh: Davida Dana
Bahan MengajarMasa Kecil Yesus
Bahan bacaan:
Lukas 2:39,40
Pokok pelajaran:
Rencana Allah atas pertumbuhan Yesus dan bagaimana Dia belajar
dalam keluarga-Nya.
Tujuan pelajaran:
Selama pelajaran ini diharapkan murid dapat:
- mengidentifikasikan cara yang dilakukan keluarga Yesus untuk
menolong-Nya bertumbuh dan belajar;
- mengaplikasikan kebenaran Alkitab dalam keluarga yang dapat
menolong anak untuk belajar;
- memohon kepada Tuhan untuk menolong anak-anak belajar dan taat
akan firman Tuhan.
Cerita Alkitab (15 menit):
YESUS BERTUMBUH BESAR
Kita sudah sering berbicara mengenai bagaimana Yesus menolong kita
dalam belajar dan bertumbuh. Mari kita sama-sama belajar bagaimana
Maria dan Yusuf mendidik Yesus saat Dia bertumbuh besar.
Ketika Yesus masih anak-anak, Dia hidup bersama dengan Maria dan
Yusuf di kota Nazaret. Yusuf adalah seorang tukang kayu. Mungkin
Yusuf juga memunyai sebuah toko kayu kecil di samping rumahnya.
Yusuf dapat membuat apa saja dari kayu, seperti meja, kursi, lemari,
pintu, dan lain-lain. (Tunjuklah barang-barang dari kayu yang ada di
ruang kelas.) Dia menjual semua itu untuk kebutuhan hidup
keluarganya.
BELAJAR DI TOKO KAYU
Dalam pertumbuhan Yesus, tentu saja Yusuf harus mengajar Yesus
bagaimana caranya menggunakan gergaji dan palu. (Buatlah suara
gergaji dan palu.) Zzzzz!Zzzzz!Zzzzzz! Begitu suara gergaji saat
dipakai untuk memotong kayu. Tuk! Tuk! Tuk! Begitu suara palu saat
Yesus memukulkan palu pada paku untuk menyatukan dua buah kayu.
Kadang-kadang Yesus memang membantu Yusuf, misalnya membersihkan
kayu dari serpihan gergaji atau menyapu ruangan tempat Yusuf
bekerja.
Ketika Yesus bertambah besar, Allah memberikan anak-anak lagi kepada
Maria dan Yusuf. Yesus menjadi anak yang tertua dalam keluarga. Dia
mungkin membantu ibu-Nya menjaga adik-adik-Nya. Dia adalah seorang
kakak yang baik.
BELAJAR DI SEKOLAH
Yesus memunyai hari ulang tahun. Di usia satu, dua, tiga tahun, Dia
belajar berjalan dan berbicara. Di usia empat dan lima tahun Dia
belajar bagaimana berlari dan melompat! Kemudian semakin lama usia
Yesus sampai pada saat Dia harus bersekolah. Sekolah-Nya ada di
Nazaret, di sebuah tempat yang disebut Sinagoge, tempat di mana
orang bertemu untuk berdoa dan membaca firman Tuhan.
Yesus belajar membaca dari sebuah buku besar yang disebut gulungan
kitab atau perkamen. Dia belajar banyak kitab, sama seperti yang
kita pelajari di sekolah minggu! Dan Yesus mungkin belajar menulis
dengan membuat tulisan di atas tanah. (Buatlah tulisan dengan jari
Anda di papan tulis atau di kotak pasir yang ada di ruang kelas.)
BELAJAR DI RUMAH
Di rumah, Maria dan Yusuf mengajari anak-anak mereka mengenai
Allah. Mereka berdoa bersama. (Katupkan jari-jari Anda.) Mereka
menceritakan kisah-kisah Alkitab yang sama kepada Yesus dan
adik-adik-Nya, dan juga sama dengan yang kalian dengar dari orang
tua atau gurumu. Yesus patuh kepada semua yang dikatakan firman
Tuhan. Dia bertambah dan bertambah besar! Dalam pertumbuhan-Nya,
Allah mengasihi dan menolong-Nya melalui berbagai macam cara.
Doa:
Ya, Tuhan, terima kasih atas keluarga kami. Terima kasih Engkau
mengasihi keluarga kami. Ajar kami untuk mengasihi keluarga kami
pula. Di dalam nama-Mu kami berdoa. Amin. (t/Davida)
Sumber: Gospel Light Living Word Curriculum: Teach Me About Jesus, Living Word Curriculum Division, , BabJesus Grows Up, halaman 33 -- 36, Gospel Light, Ventura, USA, 1993.
Warnet PenaTELAGA: Anak dan Televisi
http://www.telaga.org/transkrip.php?anak_dan_televisi.htm
http://www.ylsa.org/telaga/mp3/T066A.MP3
Untuk mendapatkan transkrip lengkap atau mendengarkan perbincangan
khusus mengenai pengaruh televisi pada anak, Anda dapat mengakses
siaran radio program dari Tegur Sapa Gembala Keluarga (TELAGA) di
dua alamat yang sudah dituliskan di atas. Narasumbernya adalah
Pdt. Dr. Paul Gunadi, seorang pakar dalam bidang konseling. Kiranya
mendapatkan berkat.
Oleh: Redaksi
Dari Anda Untuk AndaSelamat Natal dan Tahun Baru
Dari: triatmono(at)xxxx
>Saya juga mengucapkan Selamat Natal 2006 dan menyongsong Tahun
>Baru 2007. Saya senantiasa mendukung dalam Doa setiap kegiatan
>pelayanan e-BinaAnak. Semoga ditahun mendatang lebih maju lagi.
>Jika ada informasi bisa langsung dikirimkan ke alamat saya seperti
>tersebut di atas. Kami juga membutuhkan Informasi mengenai bahan
>pembinaan untuk REMAJA.
>Tuhan memberkati,
>Regards,
>Tri
Redaksi:
Terima kasih atas dukungan dari Anda. Kami semakin bersukacita dan
bersemangat untuk melaksanakan semua rencana di tahun 2007 ini.
Terima kasih pula atas saran yang diberikan. Kami akan pertimbangkan
dan sebisa mungkin menyediakan bahan tersebut jika memungkinkan.
Oleh karena itu, mohon dukungan doa.
Kami tawarkan kesempatan kepada rekan sekalian yang mungkin memiliki
kemampuan di bidang pelayanan remaja untuk memberikan masukan atau
kontribusi, paling tidak sebagai langkah awal kami untuk mulai
memikirkannya.
Semua saran maupun kritik dapat dikirimkan ke:
==> staf-binaanak(at)sabda.org
Mutiara Guru
Keteladanan hidup/karakter orang tua dan guru
merupakan unsur dominan dalam penyiapan anak
menghadapi potensi dampak negatif.
- Jonathan Parapak -
|