Salam dari Redaksi
Syalom,
Memakai media sebagai sarana mengajar karakter seorang anak bukanlah
hal yang baru. Baik atau buruknya pengaruh media tidak ditentukan
dari jenis medianya tapi dari isi yang ditampilkan. Namun
keberhasilan penggunaan media sebagai alat mengajar tergantung dari
peran serta para pengajar atau orangtua yang mendampingi mereka
belajar. Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana media mampu menjadi
alat mengajar yang bermanfaat terhadap perkembangan karakter seorang
anak, maka e-BinaAnak edisi Nopember 2005 ini mengambil tema bulanan
"Anak dan Media". Selama lima minggu berturut-turut akan dibahas
lima jenis media yang urutan topiknya ialah sebagai berikut:
- Bacaan (Literatur)
- Televisi
- Internet
- Video Games
- Musik
Sebagai topik pembuka, kami akan mengulas "Bacaan (Literatur)" yang
menyajikan tentang bagaimana memilih dan menyediakan bacaan-bacaan
yang bermanfaat bagi anak. Selain Artikel, kami sajikan pula sebuah
Tips menarik bagaimana memulai perpustakaan Sekolah Minggu. Kami
berharap sajian ini dapat memberikan wawasan yang luas bagi para
guru SM agar lebih mampu dalam memanfaatkan media literatur untuk
mengajar dan mendidik anak-anak SM. (Har)
"Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk
mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan
dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2Timotius 3:16)
ArtikelLiteratur untuk Anak-anak
Setiap tahun ribuan buku diterbitkan untuk pasaran anak-anak di
Amerika, tetapi hanya sedikit yang ditulis oleh penulis Kristen.
Bahkan dari prosentase yang kecil tersebut lebih sedikit lagi buku
yang dapat dikategorikan sebagai buku bagus. Bagaimana para orangtua
dan guru bisa memilih buku-buku yang baik yang ditulis sesuai dengan
perspektif Kristen?
Majalah-majalah untuk keluarga Kristen seringkali menyertakan ulasan
buku. Orangtua yang tidak memiliki waktu untuk memilih terlebih
dahulu bacaan anak dapat mengandalkan penerbit buku-buku Kristen
yang telah membuktikan diri sebagai penghasil buku-buku yang baik
bagi pembacanya, atau kepada penerbit yang terkenal yang dapat
dipercaya.
Banyak orangtua yang bertanya-tanya apakah mereka harus mengajarkan
anak-anak untuk memilih buku berdasar isinya atau cukup hanya dengan
menganjurkan mereka memilih buku-buku yang disebut sebagai buku
karangan penulis Kristen. Di satu sisi, ada banyak penulis Kristen
yang hebat yang karyanya dengan sangat halus mencerminkan pandangan
Kristen sehingga tulisan mereka tidak terlihat terlalu rohani. Di
sisi yang lain, ada penulis Kristen yang karyanya tidak mencerminkan
sama sekali penerapan kebenaran Alkitab dalam kehidupan nyata. Masih
di sisi yang lain, ada penulis-penulis sekuler yang buku-bukunya
berhasil menyampaikan nilai-nilai kebaikan atau hanya menceritakan
sebuah cerita yang menghibur dan tidak berbahaya. Buku-buku seperti
itu juga tidak ada salahnya.
Apapun buku yang diberikan kepada anak untuk dibaca, para orangtua
harus mendiskusikan isinya dengan anak-anak mereka. Apa saja
motivasi dari para tokohnya? Apakah mereka menunjukkan perbuatan-
perbuatan Kristiani? Di saat orangtua dan anak membicarakan tentang
isi buku dan mendiskusikan nilai-nilai di dalamnya, dampak bagi
perkembangan moral mereka akan berlipat ganda. Namun orangtua juga
harus berhati-hati, jangan memaksakan adanya suatu pesan moral dalam
setiap halaman buku tersebut. Beberapa karya memang bertujuan
untuk kesenangan saja, dan memang haruslah tetap demikian.
Buku-buku yang baik, jenis ceritanya harus disesuaikan dengan usia
pembacanya yang masih anak-anak. Misteri, petualangan, biografi,
drama, puisi, dan fantasi harus ada di rak buku anak. Namun
seringkali beberapa orangtua dan guru agak kuatir dengan cerita yang
berbau fantasi. Sekalipun sebenarnya "fantasi" dan "supranatural"
hampir memiliki arti yang mirip, orang-orang Kristen biasanya
menghubungkan fantasi dengan dongeng-dongeng, khayalan, dan binatang
yang dapat berbicara, sedangkan supranatural dihubungkan dengan
sihir, mantera, dan hantu. Banyak orang salah pendapat dengan
menghindari buku seram tentang penyihir yang jahat, tetapi cerita
sejenis yang menceritakan seekor ulat yang menyembah berhala lalu
kemudian berubah menjadi seekor kupu-kupu Kristen dianggap tidak
apa-apa. Tolaklah buku-buku yang hanya menampilkan kejahatan dan
cerita-cerita yang hanya menakut-nakuti pembacanya. Bacakan anak-
anak Anda sebuah buku yang membuat mereka mengerti tentang kekuatan
jahat daripada buku yang menceritakan seekor binatang yang diberkati
dengan suatu sifat rohani. Seorang anak dapat diyakinkan bahwa Yesus
suatu hari nanti akan menghancurkan si jahat, tetapi anak tersebut
hendaknya juga "tidak diajari" fiksi tentang adanya seekor binatang
surga.
Seorang anak membentuk imajinasinya di awal masa kanak-kanaknya. Di
saat anak mencapai usia lima atau enam tahun, ia sudah dapat
memisahkan kenyataan dari khayalan dan mengetahui ketika sesuatu itu
"bohong-bohongan". Dalam tahap perkembangan anak, fantasi atau
dongeng-dongeng seharusnya jangan dilarang untuk dibaca. Buku-buku
adalah bahan bakar untuk membakar imajinasi.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah fiksi yang dikombinasikan
dengan sebuah cerita dari Alkitab. Kebanyakan tujuan dari penulis
adalah untuk membawa pembaca serta menghubungkan mereka dengan
tokoh-tokoh tersebut dengan peristiwa-peristiwa yang tertulis dalam
Alkitab. Namun, di beberapa kasus, kebebasan penulis tersebut harus
tetap dibatasi karena kecerobohan mereka sendiri! (Cerita Alkitab
bagi anak-anak seringkali diceritakan dengan sudut pandang seekor
keledai, merpati atau domba. Anda dapat bercerita tentang binatang
yang dapat berbicara, menyanyi, atau menari tetapi Anda harus segera
menarik garis tegas ketika binatang tersebut mulai berdoa atau
menyembah!)
Di rak buku anak juga harus terdapat buku-buku yang memberikan
pengetahuan tentang kehidupan anak-anak dari berbagai macam latar
belakang kebudayaan. Tokoh-tokohnya memiliki beragam perilaku dan
mempunyai kelemahan dan kelebihannya sendiri-sendiri. Anak yang
masih mudah terpengaruh jangan diberi buku yang berisi pandangan-
pandangan stereotype terhadap suatu suku atau budaya kecuali hal itu
dapat membantu mereka mengenalinya. Cerita-cerita misi harus dapat
secara simpatik menunjukkan pemahaman budaya yang belum dikenal
pembacanya.
Biografi orang-orang yang masih hidup misalnya tokoh olahraga,
pemimpin pemerintahan, dan ilmuwan merupakan alat mengajar yang
bermanfaat. Ketika tokoh terkenal atau penting tersebut adalah orang
Kristen yang benar-benar berani menunjukkan kekristenannya, cerita
mereka dapat menjadi pendorong bagi para pembaca muda tersebut.
Kata-kata dan tindakan dari orang yang diidolakan seorang anak
bagaimanapun juga dapat membuat anak meniru pengakuan iman sang
idolanya tersebut. Di saat seperti itu, pembaca yang masih anak-anak
membutuhkan bimbingan orang dewasa.
Orang dewasa juga harus memperhatikan apakah konsep buku tersebut
sesuai dengan tingkat pemahaman anak. Banyak cerita yang ditulis
dengan bagus sehingga cerita tersebut dapat dinikmati oleh beberapa
tingkatan usia, misalnya seri fantasi The Cronicle of Narnia karya
C.S Lewis. Di satu tingkat, cerita ini adalah cerita fantasi yang
ditulis sederhana dan menarik. Di tingkat yang lain, cerita ini
merupakan suatu referensi tentang kematian dan kebangkitan Kristus.
Seorang anak jangan diharapkan mampu memahami penyimbolan tersebut,
dan orang dewasa jangan menghancurkan cerita yang baik dengan
memaksakan penjelasan makna tingkat tinggi yang ada di setiap bagian
cerita. Menemukan makna-makna baru saat membaca ulang buku-buku anak
di kemudian hari merupakan satu kenikmatan tersendiri .
Orangtua juga harus bertanya apakah kosakata di dalamnya sesuai
dengan tingkat usia pembaca. Setiap buku anak harus menyertakan
sedikit kata-kata yang menantang yang mengarahkan pembaca untuk
membuka kamus untuk menambah kosakata mereka, namun terlalu banyak
kata-kata yang demikian justru akan menimbulkan frustasi.
Adakah referensi akan tempat lain atau waktu lain? Anak-anak mulai
dapat memahami konsep waktu dan tempat kira-kira pada waktu kelas
tiga. Sampai pada usia tersebut, frasa "pada zaman dahulu kala" dan
"nun jauh di sana" sudah cukup.
Apakah bukunya terlalu panjang? Banyak anak yang susah untuk terus
tertarik pada sebuah buku yang harus dibaca lebih dari sekali duduk.
Cerita yang dapat dibaca satu bab pada satu kesempatan merupakan
cara yang terbaik untuk anak-anak yang lebih besar karena mereka
sudah dapat mengingat para tokoh dan peristiwa.
Apakah buku tersebut (dan juga ceritanya) menarik dan atraktif?
Ilustrasi yang berwarna menambah daya tarik, khususnya bagi pembaca
yang masih anak-anak yang tergantung pada gambar-gambar untuk
menjelaskan kata-katanya.
Setelah memperhatikan kriteria-kriteria ini, masih tersisa satu
rintangan, yaitu bagaimana supaya anak-anak dapat membaca buku-buku
tersebut! Umumnya, namun merupakan rintangan yang dapat dihindari,
adalah kurangnya kenyamanan, kurang adanya tempat yang nyaman untuk
anak membaca. Orangtua yang ingin supaya anak-anak dapat membaca
harus mengatur tempat untuk menciptakan suasana yang mendorong
semangat anak untuk membaca. Anak-anak harus memiliki rak buku
mereka sendiri (lengkap dengan sebuah kamus kecil).
Segera ketika seorang anak berada pada level buku bergambar, dia
dapat diajak ke perpustakaan umum atau perpustakaan gereja. Menerima
kartu anggota perpustakaan untuk yang pertama kalinya dapat menjadi
saat yang istimewa baginya. Beberapa perpustakaan umum memiliki
program yang dapat pula digunakan oleh gereja, misalnya jam
bercerita, nonton film, pertunjukkan boneka, pentas seni, dan bahkan
mengunjungi binatang tamu. Bantal-bantal lantai yang nyaman, sudut
dan tempat membaca yang menarik membuat anak-anak tertarik untuk
duduk dan membaca. Pajangan buku dan poster-poster yang berwarna-
warni, alat-alat permainan, dan perabot rumah mainan semuanya
mengatakan kepada anak-anak tersebut bahwa mereka diterima di
perpustakaan itu.
Kita diajarkan di sekolah bahwa nenek moyang kita belajar membaca
dengan membaca Alkitab, berkumpul mengelilingi lilin dalam ruangan
yang berangin. Kenyataannya adalah kebanyakan para pendahulu kita
buta huruf saat mereka beranjak dewasa. Pembaca yang masih anak-anak
tetap dapat melakukan firman Tuhan, tetapi mereka dapat memulainya
dengan membaca "buku cerita" Alkitab yang berilustrasi khususnya
yang diperuntukkan bagi anak-anak. "Alkitab Anak-anak" yang
diperuntukkan bagi pembaca yang masih anak-anak harus ditulis dengan
kata-kata yang bisa dipahami oleh anak-anak, bukan yang dengan
menggunakan versi sederhana bagi orang dewasa yang kemudian diberi
sampul merah muda atau biru. Anak-anak harus bisa melihat bahwa
firman Tuhan memiliki arti bagi hidup mereka dan mereka harus
didorong untuk memahami tiap halamannya setiap hari. (T/Rat)
Sumber: The Complete Handbook for Children Ministry: How to Reach and Teach Next Generation, Dr. Robert J. Choun & Dr. Michael S. Lawson, , Artikel Literature for Children: Apples of Gold, halaman 195 - 199, Thomas Nelson Publishers, Nashville, 1993.
ArtikelBuku Juga Bisa Berbahaya
Suatu cara yang praktis untuk mengukur nilai bacaan dari suatu buku
adalah dengan menentukan apakah isi buku itu mengandung sifat-sifat
seorang anak, yaitu murni, jujur, terus terang, ramah, ataukah hanya
kekanak-kanakan saja. Banyak buku bacaan anak yang memenuhi kriteria
pertama, tetapi satu-satunya jalan untuk menemukannya adalah dengan
membacanya, artinya orangtua harus membaca semua buku sebelum
memberikannya pada anak.
Bila kriteria untuk bacaan anak-anak itu dipegang teguh, niscaya
bacaan yang bermutu akan memberikan sumbangan yang cukup berharga
bagi masyarakat dan dunia anak-anak. Cerita yang informatif dan
aktual akan memperluas pandangan dan memperkaya pengetahuan mereka.
Dalam memberikan buku cerita kepada anak-anak, sebuah cerita
haruslah mempunyai pesan moral, dan pesan itu harus tersisipkan
dalam karangan karena cerita itu tidak akan lengkap tanpa pesan
moral. Hanya dalam pengungkapannya haruslah secara integral sehingga
kelihatannya tidak begitu kentara. Biasanya cerita yang riang adalah
cerita yang paling disukai anak-anak, namun cerita itu haruslah
mampu membangkitkan rasa simpati. Filsafat anak-anak adalah bebas
tanpa prasangka.
Bacaan yang baik bagi anak-anak usia sekolah adalah bacaan yang ada
hubungannya dengan ilmu pengetahuan, perkembangan watak, agama, budi
pekerti dan sebagainya.
Menggairahkan lebih dulu minat baca tanpa diimbangi bacaan segar
yang sehat, yang mengandung mutu tinggi, akan menjadi timpang.
Sekarang kenyataannya dunia baca sudah merupakan satu dunia
keasyikan tersendiri.
Setiap anak memerlukan kecakapan membaca. Lebih besar kesukaan
membaca seorang anak lebih baik. Ia membaca dan mempelajari
pelajaran sekolahnya bukan karena dipaksa, melainkan karena ia gemar
membaca. Untuk tujuan ini orangtua atau guru harus menyediakan bahan
bacaan yang perlu. Terutama buku-buku pelajaran sekolah patut
disediakan dengan lengkap. Jika anak-anak belum mempunyai minat
membaca, orangtua harus bisa mengajak mereka. Dengan menggunakan
buku-buku bergambar, orangtua dapat merangsang minat anak-anak
membaca. Setelah mereka senang melihat buku-buku gambar,
perkenalkanlah buku-buku cerita yang sehat kepada mereka.
Membaca merupakan salah satu cara paling baik untuk mengisi otak
atau jiwa. Seorang anak yang senang dan banyak membaca akan lebih
luas pengetahuannya dari anak yang sedikit membaca. Intelektualitas
seseorang tidak akan tumbuh sempurna tanpa membaca bahan bacaan
sehat yang cukup. Bacaan memang sama pentingnya dengan makanan yang
dimakan. Sebagaimana makanan mempunyai pengaruh langsung terhadap
perkembangan tabiat dan pertumbuhan intelek, begitu pulalah bacaan.
Bagaimana pun juga orangtua harus tetap konsekuen dalam setiap
tindakan, termasuk memilih bahan-bahan bacaan. Memilih bahan bacaan
yang baik di rumah, dengan sendirinya membantu anak untuk bisa
menghayati arti keindahan, dan memperluas serta memperdalam
pengetahuan mereka. Memilih buku-buku yang baik itu adalah tugas dan
tanggung jawab orangtua. Membawa anak ke toko buku dan bersama-sama
memilih judul-judul buku yang baik dan menarik merupakan cara
membimbing yang baik dan akrab. Dan justru cara seperti inilah yang
sangat disenangi oleh anak-anak, bukannya hanya larangan-larangan
melulu, tanpa mencari jalan pemecahan masalah yang berhubungan
dengan buku-buku yang baik dan menyenangkan.
Sebaiknya berikanlah buku-buku lama dan baru, tebal dan tipis, besar
dan kecil, sehingga si anak akan mengetahui bermacam-macam bentuk
buku tersebut. Berikanlah kepadanya buku-buku yang berisi puisi,
prosa, buku-buku yang mempunyai ilustrasi berwarna hitam putih dan
bermacam-macam warna. Ini adalah lebih baik daripada membeli suatu
seri buku, walaupun isinya mungkin berbeda.
E.G. White, seorang ahli didik, menuturkan, cerita-cerita dongeng
tentang mahluk-mahluk halus, cerita purbakala dan cerita-cerita
khayalan, sekarang mendapat tempat yang luas. Buku-buku yang seperti
ini dipakai di sekolah-sekolah, dan di dalam rumah-rumah. Bagaimana
bisa para orangtua berani mengizinkan anak-anak mereka membaca buku-
buku yang berisi kepalsuan? Bila anak-anak itu menanyakan arti
cerita-cerita yang sangat berlawanan dengan ajaran orangtua mereka,
jawabnya tentu ialah bahwa cerita-cerita itu tidak benar. Tetapi ini
tidak menghapuskan pesan-pesan yang tak baik itu. Buah pikiran yang
ditujukan dalam buku-buku ini menyesatkan anak-anak. Hal ini
memberikan pandangan hidup yang keliru, serta memperanakkan dan
memelihara keinginan untuk hal yang tidak benar.
Begitu buruknya pengaruh buku-buku yang tidak sehat ini, maka
orangtua seyogyanya dapat membimbing dan mengarahkan anaknya dalam
memilih buku-buku yang baik. Dan menurut penyelidikan para ahli,
bacaan-bacaan yang menyimpang dari segi-segi moral sangatlah besar
bahayanya. Kenyataannya hal ini dapat kita saksikan sendiri, begitu
banyak buku picisan yang tersebar di mana-mana. Sudah barang tentu
buku-buku seperti itu dapat menjerumuskan anak-anak kalau orangtua
membiarkan anak membaca buku sesukanya.
Manakala anak sudah cukup besar untuk dapat memilih bahan bacaannya
sendiri, orangtua masih dapat memberi petunjuk dan pengaruhnya.
Orangtua harus memperlihatkan minat pada buku-buku yang dibaca oleh
anaknya, membaca sendiri buku-buku tersebut, dan membicarakan isinya
dengan anak-anak mereka.
Sumber: Butir-Butir Mutiara Rumah Tangga, Alex Sobur, , halaman 178 - 181, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1987.
Tips MengajarMemulai Perpustakaan di SM
Mengapa anak-anak lebih menyukai buku-buku umum? Berdasar
pengamatan, kemungkinan hal itu terjadi karena mereka tidak
mengetahui adanya bacaan-bacaan Kristen untuk anak. Anak-anak
relatif mudah untuk menemukan buku-buku umum, karena selain dari
toko buku umum, anak-anak juga bisa meminjamnya dari perpustakaan
sekolah, persewaan buku, perpustakaan umum, atau taman bacaan di
kampung. Sedangkan buku-buku Kristen untuk anak kebanyakan hanya
bisa didapatkan dari membelinya di toko buku Kristen, yang harganya
seringkali tidak murah.
Apakah kita bisa berdiam diri jika bacaan murid-murid SM Anda
bukanlah bacaan yang dapat mengembangkan karakter dan iman Kristen
mereka? Apakah kita sebagai para pelayan anak tidak tergugah melihat
anak-anak "mengkonsumsi" pelajaran-pelajaran rohani hanya sekali
seminggu saja? Lalu apa yang dapat kita lakukan untuk dapat membantu
anak-anak itu mendapatkan bacaan-bacaan rohani sesuai dengan
kebutuhan mereka dengan mudah?
PERPUSTAKAAN! Ya, perpustakaan adalah salah satu solusi terbaik
terhadap masalah di atas.
Sekolah-sekolah umum menyediakan perpustakaan guna memudahkan murid-
muridnya untuk mendapatkan buku-buku bacaan yang mereka butuhkan.
Itu berarti SM juga dapat menyediakan perpustakaan untuk memudahkan
anak-anak SM mendapatkan bacaan Kristen. Jika SM Anda belum memiliki
perpustakaan, bagaimana memulainya? Berikut ini langkah-langkah
sederhana yang dapat Anda lakukan untuk memulai perpustakaan SM
setelah pengurus SM memutuskan untuk mengadakannya. Pastikan
keputusan ini sudah mendapatkan persetujuan dari pengurus SM dan
majelis gereja. Karena dukungan dari atas bisa memperlancar usaha
Anda. Langkah-langkah ini kami khususkan untuk SM dengan jumlah
murid di bawah 50 orang.
Membentuk pengurus perpustakaan
Hal ini penting, karena sekecil apapun perpustakaan, tetap harus
ada yang bertanggung jawab, terutama dalam hal administrasi.
Pengurus bisa terdiri dari Ketua, Sekretaris, dan beberapa
anggota sukarelawan. Ketua bertanggung jawab penuh terhadap
pengadaan dan promosi perpustakaan tersebut, sedangkan sekretaris
mencatat inventaris buku, mencatat keluar masuknya buku, dan
menyimpan data peminjam. Anggota tugasnya membantu perawatan buku
atau membantu sekretaris jika berhalangan. Anggota juga dapat
menjadi petugas yang digilir untuk melayani perpustakaan. Jika
akan ada keuangan khusus untuk perpustakaan bisa juga dipilih
satu bendahara.
Mengumpulkan buku-buku
Pengurus perpustakaan dan SM bekerja sama mengumpulkan buku-buku
perpustakaan. Ada beberapa cara untuk mendapatkan buku-buku:
- Meminta sumbangan buku-buku bacaan rohani milik murid-murid
Anda yang sudah lama selesai dibaca. Jangan lupa untuk menulis
surat pemberitahuan kepada orangtua murid atau mengumumkan hal
ini di kebaktian umum.
- Mengajukan proposal kepada majelis untuk membeli kebutuhan
buku-buku perpustakaan SM, baik buku bekas maupun baru.
- Mengadakan kegiatan menabung untuk perpustakaan. Guru maupun
murid boleh mengisi tabungan khusus untuk perpustakaan yang
hasilnya dapat Anda belikan buku-buku baru.
Usahakan untuk mendapat buku-buku yang diminati Anak seperti
cerita Alkitab bergambar, dongeng-dongeng (tetapi cari yang
kental dengan prinsip-prinsip Kristen), komik-komik cerita
Alkitab, majalah untuk anak, buku renungan harian untuk anak,
dll.
Hal-hal teknis.
Yang dimaksud hal-hal teknis disini meliputi:
- Membuat prosedur pencatatan dan peminjaman buku.
- Membagi tugas-tugas para pengurus dan anggota.
- Sarana (lemari, ruangan, kursi, dll.)
- Peraturan-peraturan perpustakaan.
Promosi.
Setelah semua buku tersedia dan tertata rapi, langsung umumkan
pembukaan perpustakaan ini kepada murid-murid SM Anda. Sebelumnya
berilah pengantar pentingnya membaca buku-buku rohani bagi
kehidupan iman mereka. Bisa juga umumkan pembukaan perpustakaan
ini dalam ibadah umum, sekalian mengundang jemaat yang ingin
menyumbangkan buku-buku.
Langkah selanjutnya setelah perpustakaan SM sudah berjalan dengan
baik adalah tahap pengembangan. Menurut DR. Murti Bunanta, S.S.,M.A.
dalam seminar yang beliau bawakan tanggal 26 November 1997 langkah-
langkah tersebut antara lain:
- Menciptakan suasana membaca.
- Fisik: Ruang yang bersih, terasa lega di mana buku-buku
disusun secara rapi dan teratur serta terawat bersih akan
dengan sendirinya mengajar anak untuk mencintai dan menyukai
suatu ruangan yang disebut sebagai perpustakaan.
- Mental: Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga memotivasi anak
menyukai membaca dan menjadi pembaca yang baik.
- Sarana: Anak harus dikelilingi dengan buku. Oleh karena itu,
sebuah perpustakaan harus mempunyai cukup koleksi yang
dipajang dengan menarik. Selain buku, dalam tahap pegembangan
bisa juga disediakan vcd/film yang isinya berhubungan dengan
bacaan.
- Menyelenggarakan berbagai program.
- Melalui acara yang ada kaitannya dengan menulis/menggambar.
(Red.: Misalnya kegiatan menulis kesaksian, menggambar, dll.)
- Melalui program buku, yaitu berkaitan dengan bacaan. (Red.:
Misalnya kegiatan mendongeng atau meminta anak membaca salah
satu buku bacaan di perpustakaan SM lalu menceritakan kembali
isi buku itu.)
- Mengadakan kerjasama.
Kerjasama bisa diadakan antara orangtua, guru SM, majelis atau
komisi-komisi dalam gereja, juga jemaat, dll.. Tujuannya adalah
untuk lebih meningkatkan kualitas perpustakaan dan kuantitas,
baik itu buku maupun minat baca anak.
- Mencari dana.
Dana diperlukan untuk kas perpustakaan. Gunanya untuk menjalankan
program-program yang dibuat perpustakaan dan untuk menambah
koleksi buku. Dana bisa dicari dengan berbagai cara, misalnya
bisa dengan iuran anggota, celengan untuk perpustakaan SM, janji
iman guru-guru SM, anggaran dari gereja, dll.
Perpustakaan SM dapat menjadi salah satu wadah bagi anak untuk
mendapatkan bacaan-bacaan rohani yang bermutu dan bermanfaat
terutama bagi pertumbuhan rohani mereka. Bacaan-bacaan yang tidak
layak dibaca oleh anak-anak SM banyak beredar dan mudah diperoleh di
lingkungan mereka. Oleh karena itu melalui SM dan perpustakaannya,
para guru SM dan pelayan anak bisa bergandeng tangan untuk
memberikan proteksi yang baik dan benar terhadap minat baca mereka.
Ditulis oleh: Redaksi (Davida)
Dari Anda Untuk AndaTim Pelayanan Anak
Dari: Anna Yulia <annayulia(at)>
>Saya perlu info beberapa tim/ lembaga pelayanan anak yang bisa
>diundang untuk acara natal anak. (Pembicara + timnya) seperti tim
>panggung boneka / firman + bentuk pertunjukan yang lainnya. Yang
>saya tahu selama ini adalah Rot - Rot & Kan - Kan dari Comunique 33
>dan panggung boneka dari Domba Kecil. Apakah teman - teman ada yang
>tahu alternatif yang lain. Makasih banyak
Redaksi:
Mungkin ada rekan-rekan e-BinaAnak yang memiliki info yang
dibutuhkan? Silakan menghubungi Redaksi e-BinaAnak dan kami akan
menyampaikan infonya kepada Ibu Anna Yulia. Anda dapat menghubungi
kami di:
==> < staf-BinaAnak(at)sabda.org >
Mutiara Guru
Literatur adalah fondasi untuk masuk
ke dalam dunia yang lebih luas lagi.
|