Salam dari Redaksi Salam kasih dalam penyertaan Yesus Kristus,
Seorang guru SM mengeluh karena sering melihat anak-anak didiknya
belum bisa mandiri ketika ada di Sekolah Minggu. Ada banyak kali
guru SM kerepotan meladeni anak-anak tersebut, khususnya ketika
mereka perlu ke kamar mandi, memakai sepatu, atau membereskan alat-
alat tulis yang dipakai di kelas. Kesulitan anak untuk mandiri
sering bermula dari rumah karena orangtuanya kurang mendidik mereka
untuk bisa mandiri. Bagaimana guru SM dapat membantu orangtua,
khususnya ibu, agar dapat menolong anaknya memiliki sikap yang
mandiri? Beberapa sajian e-BinaAnak minggu ini kami sengaja hadirkan
untuk menolong orangtua mendidik anaknya agar bisa memiliki sikap
mandiri.
Sebagai guru SM, Anda bisa memakai bahan-bahan ini untuk menjadi
bahan diskusi dengan orangtua anak. SM bisa mengadakan acara-acara
khusus dengan orangtua murid untuk saling sharing sehingga dapat
terjalin hubungan yang lebih erat antara orangtua dan Sekolah
Minggu. Kalau hal itu belum memungkinkan, guru bisa membagikan
(copy) bahan-bahan ini kepada orangtua untuk bisa dibaca dan
dipelajari di rumah.
Bagi guru SM yang kreatif, Anda juga bisa mempelajari bahan-bahan
ini dan mengaplikasikannya dalam setiap kesempatan di kegiatan
Sekolah Minggu Anda. Melalui pengajaran dan teladan Anda, kami yakin
anak-anak juga akan dapat belajar tentang kemandirian. Selamat
berkreasi. (Yul)
Tim Redaksi
"Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka
pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu."
(Amsal 22:6)
ArtikelMembangun Kemandirian Anak
Rasanya kita masih ingat dengan lagu yang berbunyi:
When I was just a little girl I asked my mother what will I be
will I be pretty will I be rich that`s what she said to me.
Queserra, serra what ever will be,
will be the future is not us to see, queserra, serra.
"Terserahlah Nak," kata kita, "terserah apa jadinya, sebab masa
depan kita tidak di tangan kita."
Lagu yang berbicara tentang sikap enteng menghadapi hidup ini
nampaknya makin lama makin tidak masuk akal dalam kehidupan kita.
Betapa tidak? Sadar atau tidak sadar, saat ini sebenarnya kita
sedang didorong untuk menyanyikan lagu yang versinya berbanding
terbalik dengan nyanyian tadi. Lagu yang berbicara tentang
pemaksimalan diri agar bisa mengikuti persaingan dan memacu diri
mencapai puncak dalam hidup ini.
Anak-anak kita dipacu untuk menyongsong masa depan yang mapan,
memiliki nilai lebih dan meyakinkan. Beberapa unsur yang sekarang
ini ada di seputar anak-anak kita (secara khusus dampaknya terasa di
kota-kota besar) adalah:
perkembangan teknologi yang cepat berganti serta canggih,
jam aktivitas di luar rumah yang panjang antara ayah dan ibu,
tuntutan yang tinggi untuk mencapai masa depan yang mapan,
kekerasan yang makin meningkat dan beragam,
-
jauhnya jarak kegiatan anggota keluarga satu dengan yang lain.
Semua ini menimbulkan ketegangan dalam diri orangtua. Fungsi anak
sebagai pengejar ilmu pengetahuan murni, membuat ia diperlengkapi
dengan sekian banyak les tambahan. Sebagai akibat kesibukan
tersebut, anak menjadi dibebaskan dari tanggung jawab serta latihan
sosialisasi yang lain.
Jauhnya jarak dan kesempatan berkumpul yang makin terbatas antara
suami dan istri, orangtua dan anak, sementara kekerasan ada di mana-
mana, menimbulkan tingginya tingkat kecemasan di hati orangtua.
Kita cenderung untuk memberikan proteksi lengkap kepada anak-anak --
kalau tidak bisa dikatakan berlebihan. Di pihak lain, anak-anak
sendiri pada akhirnya terbiasa dengan proteksi tersebut. Dengan
dampingan "baby sitter" atau paling tidak para pembantu sebagai
payung rasa aman dari orangtua yang keduanya bekerja.
Anak-anak pada akhirnya mempunyai atau menciptakan banyak "excuse"
dalam hidupnya. Sementara itu orangtua juga cenderung untuk
memberikan banyak toleransi terhadap kelalaian anak di banyak segi
kehidupan (menaruh sepatu tidak pada tempatnya, tidak membantu
mencuci piring, malas membereskan kamar sendiri, dll.)
Untuk menjawab pertanyaan mendasar mengenai sebenarnya apa peran
orangtua/para pendidik dalam membangun kemandirian anak, berikut ini
beberapa hal yang dapat menjadi perenungan kita bersama:
Anak yang mandiri adalah anak yang diberi kesempatan untuk
menerima dan menjadi dirinya sendiri. Orangtua yang memperlakukan
anak-anak menurut kekhasan mereka masing-masing adalah orangtua
yang belajar bersikap positif menghadapi berbagai perbedaan
karakter, kepandaian, ataupun penampilan anak. Jangan memberi
pembanding yang tidak adil di antara anak-anak. Ajarkan anak-anak
untuk percaya bahwa dirinya "istimewa" dalam kekhasan mereka
masing-masing. Dalam hal ini latihan melalui setiap peristiwa
dalam hidupnya merupakan persiapan untuk membangun citra diri
anak. Pembanding yang sehat di tengah kompetisi dengan teman-
teman dan anggota keluarga yang lain akan menolong anak menemukan
dirinya. Masa depan anak akan bertumbuh bersama proses
pembentukan kepribadiannya di samping semua bekal fasilitas ilmu.
Bimbingan rohani menjadi sangat penting dalam membekali anak
untuk mampu mengaktualisasikan kemandiriannya.
Membangun komunikasi pribadi anak dengan Tuhan. Orangtua yang
mendidik anak dalam kehidupan rohani yang kuat sejak masa kanak-
kanak adalah orangtua yang dengan bijaksana mengantarkan anaknya
pada suatu landasan yang teguh. Sebab di tengah pelbagai situasi
ketika anak jauh dari orangtuanya atau ketika ia harus menjawab
sendiri perubahan-perubahan dalam hidup yang tidak selalu dapat
segera diatasinya, ia akan selalu menemukan rasa aman dalam
hubungan spiritual yang kokoh dengan Tuhan. Kita belajar dari
Samuel dan Timotius, kedua anak yang sejak masa kecil menerima
bimbingan rohani yang kokoh dari ibunya, pada saat menghadapi
perbagai pengaruh lingkungan, mereka dapat berdiri tangguh,
mandiri, mampu menghadapi, dan melewati setiap pengaruh yang ada
di sekitar hidupnya.
Latihan ketrampilan praktis, disiplin, dan tangung jawab dalam
berbagai sektor kehidupan akan menolong anak merasa aman dengan
dirinya. Dalam hal ini, orangtua yang pada umumnya lebih banyak
memberi waktu dan perhatian awal kepada anak di masa pertumbuhan,
mempunyai andil yang cukup besar. Misalnya, biarkan anak-anak
mengerjakan hal-hal yang menjadi tanggung jawab di rumah.
Melatih anak untuk mengambil keputusan terhadap hal-hal tertentu
dalam hidup dan melatih sikap menghadapi kekecewaan dan penolakan
yang bisa saja terjadi akibat keputusan tersebut.
Jangan memindahkan kecemasan dan rasa bersalah orangtua dengan
menutup kesempatan anak untuk bersosialisasi. Kadang-kadang dalam
ketakutan, orangtua menjadi berlebih-lebihan dalam memberi
fasilitas perlindungan kepada anak sehingga membuat anak menjadi
gugup dan resah.
Menutup tulisan ini marilah kita bersama membangun karakter mandiri
anak-anak melalui kesabaran, keteguhan hati, dan iman yang teguh
kepada Tuhan. Biarlah hikmat memperlengkapi setiap kebijakan yang
diambil orangtua untuk anak-anaknya, seperti kata Amsal 22:6,
"Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada
masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu."
Sumber: Peran Ibu dalam Mengaktualisasikan Kemandirian Anak, Ny. Hilda Pelawi, S.Th., http://www1.bpkpenabur.or.id/kwiyata/79/pokok1.htm, Artikel Peran Ibu dalam Mengaktualisasikan Kemandirian Anak.
Tips MengajarMendidik Anak agar Mandiri
MENDIDIK ANAK AGAR MANDIRI
Orangtua mana yang tidak mau melihat anaknya tumbuh menjadi anak
yang mandiri. Tampaknya memang itulah salah satu tujuan yang ingin
dicapai orangtua dalam mendidik anak-anaknya.
Sikap mandiri sudah dapat dibiasakan sejak anak masih kecil, seperti
memakai pakaian sendiri, menalikan sepatu, dan bermacam pekerjaan-
pekerjaan kecil sehari-hari lainnya. Kedengarannya mudah, namun
dalam praktiknya pembiasaan ini banyak hambatannya. Tidak jarang
orangtua merasa tidak tega atau justru tidak sabar melihat si kecil
yang berusaha menalikan sepatunya selama beberapa menit, namun belum
juga memperlihatkan keberhasilan. Atau, langsung memberi segudang
nasihat, lengkap dengan cara pemecahan yang harus dilakukan, ketika
anak selesai menceritakan pertengkarannya dengan teman sebangku.
Memang masalah yang dihadapi anak sehari-hari dapat dengan mudah
diatasi dengan adanya campur tangan orangtua. Namun, cara ini
tentunya tidak akan membantu anak untuk menjadi mandiri. Ia akan
terbiasa "lari" kepada orangtua apabila menghadapi persoalan, dengan
perkataan lain ia terbiasa tergantung pada orang lain, untuk hal-hal
yang kecil sekalipun.
Lalu, upaya apa yang dapat dilakukan orangtua untuk membiasakan anak
agar tidak cenderung menggantungkan diri pada seseorang, serta mampu
mengambil keputusan? Di bawah ini ada beberapa hal yang dapat Anda
terapkan untuk melatih anak menjadi mandiri.
Beri kesempatan memilih.
Anak yang terbiasa berhadapan dengan situasi atau hal-hal yang
sudah ditentukan oleh orang lain, akan malas untuk melakukan
pilihan sendiri. Sebaliknya, bila ia terbiasa dihadapkan pada
beberapa pilihan, ia akan terlatih untuk membuat keputusan
sendiri bagi dirinya. Misalnya, sebelum menentukan menu di hari
itu, ibu memberi beberapa alternatif masakan yang dapat dipilih
anak untuk makan siangnya. Demikian pula dalam memilih pakaian
yang akan dipakai untuk pergi ke pesta ulang tahun temannya,
misalnya. Kebiasaan untuk membuat keputusan-keputusan sendiri
dalam lingkup kecil sejak dini akan memudahkan untuk kelak
menentukan serta memutuskan sendiri hal-hal dalam kehidupannya.
Hargailah usahanya.
Hargailah sekecil apa pun usaha yang diperlihatkan anak untuk
mengatasi sendiri kesulitan yang ia hadapi. Orangtua biasanya
tidak sabar menghadapi anak yang membutuhkan waktu lama untuk
membuka sendiri kaleng permennya. Terutama bila saat itu ibu
sedang sibuk di dapur, misalnya. Untuk itu sebaiknya orangtua
memberi kesempatan padanya untuk mencoba dan tidak langsung turun
tangan untuk membantu membukakannya. Jelaskan juga padanya bahwa
untuk membuka kaleng akan lebih mudah kalau menggunakan ujung
sendok, misalnya. Kesempatan yang Anda berikan ini akan dirasakan
anak sebagai penghargaan atas usahanya, sehingga akan
mendorongnya untuk melakukan sendiri hal-hal kecil seperti itu.
Hindari banyak bertanya.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orangtua, yang sebenarnya
dimaksudkan untuk menunjukkan perhatian pada si anak, dapat
diartikan sebagai sikap yang terlalu banyak mau tahu. Karena itu
hindari kesan cerewet. Misalnya, anak yang baru kembali dari
sekolah akan kesal bila diserang dengan pertanyaan-pertanyaan
seperti, "Belajar apa saja di sekolah?", dan "Mengapa seragamnya
kotor? Pasti kamu habis berkelahi lagi di sekolah!" dan
seterusnya. Sebaliknya, anak akan senang dan merasa diterima
apabila disambut dengan kalimat pendek, "Halo anak ibu sudah
pulang sekolah!" Sehingga kalaupun ada hal-hal yang ingin ia
ceritakan, dengan sendirinya anak akan menceritakan pada
orangtua, tanpa harus di dorong-dorong.
-
Jangan langsung menjawab pertanyaan.
Meskipun salah satu tugas orangtua adalah memberi informasi serta
pengetahuan yang benar kepada anak, namun sebaiknya orangtua
tidak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
Sebaliknya, berikan kesempatan padanya untuk menjawab pertanyaan
tersebut. Dan tugas Andalah untuk mengkoreksinya apabila salah
menjawab atau memberi penghargaan kalau ia benar. Kesempatan ini
akan melatihnya untuk mencari alternatif-alternatif dari suatu
pemecahan masalah. Misalnya, "Bu, kenapa sih, kita harus mandi
dua kali sehari?" Biarkan anak memberi beberapa jawaban sesuai
dengan apa yang ia ketahui. Dengan demikian, anak terlatih untuk
tidak begitu saja menerima jawaban orangtua, yang akan diterima
mereka sebagai satu jawaban yang baku.
Dorong untuk melihat alternatif.
Sebaiknya anak pun tahu bahwa untuk mengatasi suatu masalah,
orangtua bukanlah satu-satunya tempat untuk bertanya. Masih
banyak sumber-sumber lain di luar rumah yang dapat membantu untuk
mengatasi masalah yang dihadapi. Untuk itu, cara yang dapat
dilakukan orangtua adalah dengan memberitahu sumber lain yang
tepat untuk dimintai tolong, untuk mengatasi suatu masalah
tertentu. Dengan demikian, anak tidak akan hanya tergantung pada
orangtua, yang bukan tidak mungkin kelak justru akan menyulitkan
dirinya sendiri. Misalnya, ketika si anak datang pada orangtua
dan mengeluh bahwa sepedanya mengeluarkan bunyi bila dikendarai.
Anda dapat memberi jawaban, "Coba ya, nanti kita periksa ke
bengkel sepeda."
Jangan patahkan semangatnya.
Tak jarang orangtua ingin menghindarkan anak dari rasa kecewa
dengan mengatakan "mustahil" terhadap apa yang sedang diupayakan
anak. Sebenarnya apabila anak sudah mau memperlihatkan keinginan
untuk mandiri, doronglah ia untuk terus melakukannya. Jangan
sekali-kali Anda membuatnya kehilangan motivasi atau harapannya
mengenai sesuatu yang ingin dicapainya. Jika anak minta izin
kepada Anda, "Bu, Andi pulang sekolah mau ikut mobil antar-
jemput, bolehkan?" Tindakan untuk menjawab, "Wah, kalau Andi mau
naik mobil antar-jemput, kan Andi harus bangun pagi dan sampai di
rumah lebih siang. Lebih baik tidak usah deh, ya." Jawaban
seperti itu tentunya akan membuat anak kehilangan motivasi untuk
mandiri. Sebaiknya ibu berkata "Andi mau naik mobil antar-jemput?
Wah, kedengarannya menyenangkan, ya. Coba Andi ceritakan pada Ibu
mengapa Andi mau naik mobil antar-jemput." Dengan cara ini,
paling tidak anak mengetahui bahwa orangtua sebenarnya mendukung
untuk bersikap mandiri. Meskipun akhirnya, dengan alasan-alasan
yang Anda ajukan, keinginannya tersebut belum dapat dipenuhi.
Sumber: Indobulletin, http://www.indobulletin.com/.
Bahan MengajarHaruskah Kita Kerja
HARUSKAH KITA KERJA
"Saya benci kerja!" teriak Diana. "Saya tidak mau mengerjakan tugas-
tugas saya. Saya tidak mau membantu mencuci piring atau membersihkan
kamar saya. Saya tidak akan pernah mau kerja lagi."
Menurut kamu, apakah tindakan Diana itu benar?
Renungan Singkat tentang Pekerjaan:
Pernahkah kamu merasa benci bekerja seperti Diana? Pernahkah kamu
ingin berhenti melakukan tugas-tugasmu di rumahmu?
Apakah yang akan kamu katakan kepada Diana? Menurut kamu, apakah
tindakan Diana itu benar atau salah? Mengapa?
Ibu dah ayah saling berpandangan. "Menurutmu, apakah kami juga harus
berhenti bekerja?" tanya ibu.
"Saya kira kita boleh berhenti bekerja," kata ayah. "Tetapi kalau
kamu tidak mempersiapkan makan pagi, makan siang ataupun makan
malam, kita semua akan kelaparan."
"Dan kalau kamu tidak bekerja, kita tidak akan mempunyai uang untuk
membeli makanan," kata ibu.
"Apakah yang akan terjadi jika kamu berhenti mencuci pakaian atau
membersihkan rumah kita atau berhenti menjaga agar seprai-seprai
kita selalu bersih?" tanya ayah. "Sungguh tidak menyenangkan kalau
kita tinggal di rumah yang kotor dan acak-acakan."
"Itu benar," kata ibu. "Jika ayah berhenti bekerja, tentu kita harus
menjual rumah dan mobil kita. Maka kita pun tidak akan mempunyai
tempat tinggal atau mobil lagi untuk bepergian."
"Dan karena ibu tidak mempunyai rencana untuk bekerja, maka ia juga
tidak akan mempunyai pekerjaan," kata ayah. "Jadi saya kira kita
tidak akan mempunyai rumah, mobil, makanan, pakaian, binatang
peliharaan, dan segala hal yang lainnya!"
"Sudah! Sudah!" kata Diana. "Saya tidak mau kehilangan semua ini.
Saya mau membantu ayah dan ibu bekerja."
Renungan Singkat tentang Allah dan Kamu:
Apakah Allah akan memberi kita sebuah rumah dan mobil, juga
pakaian dan makanan jika kita tidak bekerja untuk mendapatkannya?
Mengapa tidak?
Apakah adil jika beberapa anggota keluarga bekerja sementara
beberapa anggota keluarga yang lain tidak bekerja? Apakah adil
jika kamu tidak melakukan apa pun agar rumahmu tetap bersih
sementara ayah dan ibumu bekerja keras untuk menjaganya?
Pekerjaan yang bagaimanakah yang dapat kamu lakukan untuk
menolong ayah dan ibumu di rumah? Maukah kamu melakukannya?
Menurut kamu, apakah hal ini akan menyukakan hati Allah?
Bacaan Alkitab:
Mazmur 90:16,17
Kebenaran Alkitab:
Kamu akan makan jika kamu bekerja (Mazmur 128:2).
Doa:
Terima kasih, ya Tuhan Yesus, atas semua pemberian-Mu. Terima kasih
karena Engkau telah memberi kesempatan kepada saya untuk mengerjakan
dan melakukan bagian saya agar saya memperoleh hasilnya dan
memeliharanya. Amin.
Sumber: 100 Renungan Singkat untuk Anak-anak, V. Gilbert Beers, , halaman 158 - 159, Yayasan Kalam Hidup, Bandung.
Dari Anda Untuk AndaKoreksi Arsip e-BinaAnak
Dari: Eko K. Sitepu <eko@>
>Yth. Pengasuh Bina Anak
>Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih atas hadirnya Bina
>Anak ini karena besar sekali manfaatnya bagi perkembangan sekolah
>minggu di lingkungan gereja saya.
>
>Saya sudah mencetak sebagian bina anak ini untuk kemudian saya
>berikan kepada guru SM digereja saya supaya mereka memiliki bahan
>untuk mengajar. Untuk edisi 112 tahun 2003 saya lihat ada sedikit
>kerusakan, mohon kepada pengasuh agar dapat memperbaikinya supaya
>saya dapat mencetak edisi tersebut.
>
>Terima kasih atas perhatiannya, semoga Tuhan memberkati saudara
>sekalian. Amin.
>Salam,
>Eko K. Sitepu
Redaksi:
Puji Tuhan untuk setiap berkat yang Anda dan rekan-rekan pelayanan
dapatkan melalui e-BinaAnak.
Mohon maaf, memang ada kesalahan pada arsip e-BinaAnak Edisi
112/2003. Puji Tuhan, saat ini file tersebut sudah kami benahi dan
sudah siap untuk Anda cetak :)
Bagi rekan-rekan lain yang sedang mengunjungi situs arsip e-BinaAnak
atau Situs PEPAK dan kebetulan menemukan "error" jangan segan untuk
memberitahukannya kepada kami. Untuk itu sebelum dan sesudahnya,
kami mengucapkan terima kasih untuk bantuan Anda.
Mutiara Guru Kemandirian anak tidak terbentuk begitu saja,
perlu kerjasama dan kerja keras para orangtua dan pendidik,
dan penyerahan penuh kepada Tuhan.
- Welni -
|