Salam dari Redaksi Salam kasih dalam penyertaan Yesus Kristus,
Bersikap dan bertindak adil memang tidak mudah, apalagi jika kita
harus mengajarkannya kepada anak-anak. Namun demikian, mau tidak
mau, suka tidak suka, tugas yang satu ini harus tetap dilakukan oleh
para orangtua, guru sekolah, ataupun guru Sekolah Minggu kepada
anak-anak. Bagaimana caranya? Silakan simak seluruh sajian kami
minggu ini. Kami yakin, bahan-bahan sajian ini akan dapat membantu
Anda untuk mengajarkan tentang keadilan kepada anak-anak didik Anda.
Selamat mengajar! (Ra)
Tim Redaksi
"Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan
janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang
bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar.
Semata-mata keadilan, itulah yang harus kaukejar, ...."
(Ulangan 16:19,20)
ArtikelKeadilan
Adil adalah sikap tidak memihak dalam hubungannya dengan orang dan
keadaan. Seseorang yang adil mampu melihat sesuatu secara objektif,
tanpa menghiraukan perasaan atau prasangka pribadi; ia tidak
berprasangka. Dia apa adanya, karena dia menerapkan suatu standar
terhadap situasi-situasi yang berada di atas pilihan-pilihan
pribadinya.
Kitab Injil menerangkan bahwa Allah tidak pilih kasih terhadap umat-
Nya. Ia tidak menghakimi berdasarkan apa yang tampak dari luar saja.
Tingkat seseorang, popularitas, atau keadaan tidak mempengaruhi
penghakiman Allah namun sifat dari hati-Nyalah yang mempengaruhi
penghakiman-Nya. Allah adalah hakim dunia. Penghakiman-Nya apa
adanya dan tidak memihak. Masing-masing kita dipanggil untuk menjadi
hakim dalam dunia yang kita kuasai. Kita serupa dengan Kristus apa
adanya dan tidak memihak dalam penghakiman kita.
SEBUAH CONTOH POSITIF DARI ALKITAB
Hukum Musa merupakan suatu wahyu dari sifat Allah. Ia memerintahkan
anak-anak-Nya untuk menjadi serupa dengan Allah (seperti Allah)
"Kuduslah kamu, sebab Aku ini kudus". Hukum tersebut memberi kita
poin referensi yang absolut tentang hidup serupa dengan Allah.
Keadilan Allah diekspresikan melalui cara kita memperlakukan orang
lain. Tuhan menjelaskan melalui Musa bahwa Dia bersikap adil
terhadap semua orang dan kita pun diharapkan bersikap demikian,
"Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau
membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau
terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili
orang sesamamu dengan kebenaran." (Imamat 19:15) Tuhan melarang kita
untuk menghakimi berdasarkan kedudukan sosial.
Tuhan secara khusus memperhatikan bahwa pemimpin-pemimpin umat-Nya
melaksanakan penghakiman yang tidak memihak. Ia bersabda melalui
Musa, "Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu
dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-
orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang
benar. Semata-mata keadilan, itulah yang harus kaukejar, ...."
(Ulangan 16:19,20) Tuhan tidak menghendaki anak-anak-Nya menderita
secara tidak adil di tangan para pemimpin yang mencari keuntungan
untuk diri mereka sendiri. Hukum ini sekarang sering dilanggar. Di
tahun-tahun terakhir ini, apa yang telah dilakukan secara
tersembunyi oleh para politikus di beberapa negara (menerima bayaran
untuk tujuan-tujuan tertentu) telah menjadi berita utama. Menurut
Alkitab, seorang pemimpin mendiskualifikasi diri mereka sendiri jika
ia memerintah untuk melawan dan bukan untuk melayani.
Allah harus sering mematahkan pagar prasangka kita untuk mewujudkan
rencana-Nya. Apa yang kita anggap sebagai keyakinan kadang-kadang
hanyalah prasangka yang dirumuskan dengan baik. Petrus, sama seperti
orang-orang Yahudi yang baik lainnya, merasa bahwa orang-orang non-
Yahudi berada satu tingkat di bawah anjing. Ia tidak dapat
membayangkan Tuhan mengirimnya untuk mengabarkan Kabar Baik kepada
para penyembah berhala tersebut. Tuhan merancang suatu situasi yang
tidak biasa yang menyebabkan Petrus berkesimpulan, "Sesungguhnya
aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang
dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan
kebenaran berkenan kepada-Nya." (Kisah Para Rasul 10:34-35)
Amanat Agung kepada Jemaat di Yerusalem merupakan keinginan Tuhan
agar para penyembah berhala menjadi sama seperti orang Yahudi.
Mereka bukanlah penghuni kerajaan Allah tingkat dua. Mereka memiliki
kedudukan yang sama di hadapan Tuhan sama seperti orang-orang Yahudi
yang merupakan saudara-saudara mereka. Mudah bagi kita untuk
memahami, tetapi Amanat Agung ini hampir saja meretakkan komunitas
Perjanjian Baru! Prasangka tidak bisa dihilangkan dengan mudah,
khususnya prasangka tentang agama!
Petrus mengetahui bahwa Tuhan lebih tertarik sifat yang baik
daripada kebudayaan suatu bangsa. Paulus mengatakan kepada jemaat di
Roma bahwa Tuhan menghakimi dengan objektif dan adil (Roma 2:9-11).
Paulus mengatakan kepada jemaat di Efesus bahwa tingkat sosial
seseorang tidak menentukan penghargaan-Nya, "Kamu tahu, bahwa setiap
orang, baik hamba, maupun orang merdeka, kalau ia telah berbuat
sesuatu yang baik, ia akan menerima balasannya dari Tuhan." (Efesus 6:8) Secara negatif, hukuman juga akan ditentukan dengan dasar yang
adil (Kolose 3:25).
SEBUAH CONTOH NEGATIF DARI ALKITAB
Tidak ada ketidakadilan yang ditunjukkan sejelas penyaliban Yesus.
Kerumunan orang-orang yang berteriak, "Salibkan Dia!" seharusnyalah
yang mati, bukan Dia. Dia menderita dalam melalui lima ejekan dalam
pengadilan yang memalukan. Kematian Anak Allah bukanlah apa-apa
namun itu adil.
Para nabi mengabarkan Firman Allah kepada umat-Nya. Seringkali
firman itu adalah panggilan untuk kembali kepada kebenaran dan
keadilan. Amos marah kepada orang-orang Israel karena mereka tidak
apa adanya dalam menghadapi orang miskin dan derita mereka akan
kebenaran.
Mereka yang tidak bisa apa adanya seringkali sulit mengenali
keadilan. Salah satu penjahat yang ada bersama Yesus ketika disalib,
mengejek dan mencaci maki Yesus karena Yesus tidak menyelamatkan
mereka. Namun penjahat yang lainnya menyadari bahwa Yesus
mendapatkan perlakuan yang tidak adil meskipun mereka menerima hak
dari perbuatan mereka.
Pada zaman Alkitab dahulu, sangatlah umum untuk menunjukkan sikap
memihak kepada orang-orang kaya. Yakobus marah kepada orang-orang
Kristen yang melakukan hal seperti ini karena mereka "telah membuat
pembedaan (di dalam hatimu) dan (bertindak sebagai) hakim dengan
pikiran yang jahat" (Yakobus 2:4). Sekarang ini kita telah
membalikkannya. Masyarakat kita sering menghukum orang kaya dan
memberikan bantuan kepada orang-orang miskin. Contoh ekstrim ini
juga tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.
MEMIKIRKAN KEADILAN DALAM KEHIDUPAN KITA SENDIRI
Ini tidaklah mudah. Kebanyakan dari kita jauh lebih berprasangka
dari yang kita sadari. Kita berpikir bahwa pendapat-pendapat kita
didasarkan pada logika yang dingin. Sebenarnya, emosi kita telah
memainkan peran besar dalam berbagai opini itu. Yesus membuat suatu
kebiasaan yang menantang, yaitu manusia membuat tradisi dan cara
berpikir. Ketika Ia duduk beristirahat di sebuah sumur dan berbicara
dengan seorang wanita Samaria, Dia menentang dua tradisi bahwa
sedikit orang yang religius yang siap berubah: berbicara sendiri
dengan wanita (khususnya dengan orang yang tidak bermoral) dan
berbicara dengan orang Samaria.
Kita menggunakan prasangka kita untuk membenarkan perlakuan yang
tidak baik terhadap orang lain. Kita tidak harus berhubungan secara
pribadi dengan orang lain jika kita dapat meremehkan mereka dengan
risalat yang disusun dengan benar yang mendukung dosa-dosa kita.
Sejarah singkat tersebut seharusnya menunjukkan kepada kita bahwa
kita tidak sedang dihadapkan dengan masalah ras, pernyataan
kepercayaan, dan prasangka sosial yang terlalu dalam untuk
ditelusuri tanpa melalui darah Yesus. Kita harus memeriksa prasangka
kita dalam terang kasih Allah.
Masyarakat kita tidak mengajarkan keadilan. Polisi pun semakin tidak
didukung karena pengadilan akan mendukung mereka untuk melatih
keadilan. Banyak pemimpin pemerintahan yang rakus terhadap
peningkatan.
Kristus memerintah kita untuk memikirkan orang lain sebelum orang
lain memikirkan kita. Hanya mereka yang telah mati terhadap
kepentingan sendiri saja yang dapat melakukannya. Kita harus
menerima keadilan dari Allah pada diri kita sendiri. Untuk mengadili
seperti yang Yesus lakukan -- bukan dengan apa yang terlihat di luar
tetapi "dengan pengadilan yang benar" -- tentu saja merupakan
kebebasan.
Tak seorang pun lebih bebas dari orang yang emosi, situasi dan
pengetahuannya tidak bisa menjaganya untuk hidup seperti yang Tuhan
kehendaki. Kita dipimpin oleh Roh Kudus, bukan oleh ide-ide
pertimbangan kita atau respon emosional kita. Biarkan Tuhan bergumul
dengan ide-ide kita yang tidak dilahirkan di surga itu. Dia dapat
membebaskan kita untuk berhubungan dengan orang lain dalam
kelemahlembutan yang merefleksikan keadilan dan keagungan-Nya.
Sumber: Building Christian Character, Paul Anderson, , Artikel Fairness, halaman 37 - 38, Bethany House Publishers, Minnesota - USA, 1980.
ArtikelBagaimanakah Kamu bisa Adil?
Artikel berikut ini merupakan artikel yang ditulis khusus untuk
anak-anak. Anda dapat memberikan artikel ini sebagai bahan bacaan
untuk murid atau anak Anda. Anda juga dapat membacakannya bagi
mereka yang belum dapat membaca.
BAGAIMANAKAH KAMU BISA ADIL?
Ada banyak cara agar kamu bisa bersikap adil. Kamu bisa berbagi dan
bergantian. Kamu bisa memutuskan untuk tidak cemburu kepada
seseorang. Kamu bisa menunjukkan sikap hormat terhadap orang
seandainya pun mereka lain dari dirimu. Kamu bisa menemukan cara
yang baik untuk bersikap ketika seseorang tidak adil terhadapmu.
Berbagi dan bergantian.
Kamu bisa bergantian main ayunan, main perosotan, atau main
peralatan olahraga ketika istirahat. Kamu bisa bergantian main
komputer. Kamu bisa berbagi kentang atau sekotak spidol. Kamu
bisa antri naik bus atau ke kamar kecil. Orang lain pun antri,
dan ada yang sudah datang duluan. Adillah kalau mereka masuk
lebih dulu.
Putuskan untuk tidak cemburu.
Terkadang orang mempunyai hal-hal yang tidak kamu punyai. Kamu
mungkin merasa cemburu dan menyesal tidak mempunyai apa yang
mereka punyai atau tidak seperti mereka. Sulit memang untuk tidak
cemburu. Tetapi cemburu membuatmu tidak bahagia. Dan itu bisa
membuat orang lain susah juga. Dalam permainan kasti, mungkin
pukulan temanmu lebih tepat daripada pukulanmu. Bagaimanakah
seandainya kamu berkata kepadanya, "Tidak adil sekali bahwa
pukulanku lebih sering meleset daripada pukulanmu!" Bisa-bisa ia
merasa tidak enak dengan ketrampilan istimewanya itu. Sebagai
gantinya, kamu bisa saja mengatakan, "Hebat betul pukulanmu!
Bagaimana sih caranya?" Maka temanmu akan bangga dan kamu pun
akan senang. Mungkin temanmu bahkan akan menawarkan diri untuk
membantumu melatih ayunan pukulanmu.
Ingatlah, bakat orang lain mungkin berbeda dengan bakatmu, tetapi
kamu pun mempunyai bakat serta ketrampilan. Bagian dari tugasmu
antara lain menemukan kemampuan-kemampuan istimewa dan minat-
minatmu sendiri lalu mengembangkannya. Kalau kamu berbuat
semampumu untuk tidak cemburu, mungkin saja kamu menemukan
seseorang yang bisa membantumu "menumbuhkan" bakatmu. Mungkin
juga kamu temukan bahwa kamu pun bisa membantu yang lain.
Hormatilah semua orang.
Orang itu berbeda satu sama lain dalam banyak hal. Ada orang yang
gelap warna kulitnya, ada juga yang terang. Ada orang yang
berbicara bahasa Inggris, ada yang berbicara bahasa Spanyol, ada
yang berbicara bahasa Vietnam, dan ada yang berbicara bahasa
Perancis. Ada orang yang menjadi umat Kristiani, atau Hindu, atau
Muslim, atau Budha. Ada orang yang pandai membaca atau pandai
matematika. Ada juga yang tidak. Ada yang dapat melompat dan
berlari dengan mudah. Ada juga yang tidak.
Adalah tidak adil mengabaikan atau kejam terhadap seseorang yang
berbeda darimu. Mengapa tidak ramah terhadap orang yang tidak
sama sepertimu? Maka, kamu bisa menemukan cara-cara untuk saling
mempelajari dan menikmati satu sama lain.
KETIKA ORANG LAIN TIDAK ADIL
Ketika seseorang tidak adil terhadapmu, kamu mungkin ingin menangis,
marah, membentak, atau membalas dengan kejam. Tidak satu pun dari
semuanya itu akan membantumu ataupun orang tersebut untuk belajar
lebih adil satu sama lain. Berikut adalah beberapa ide yang dapat
kamu terapkan ketika seseorang tidak adil terhadapmu:
Bicarakanlah masalahnya dengan orang itu. Kamu bisa mengatakan,
"Kurasa semua orang seharusnya mendapatkan giliran. Bagaimana
menurutmu?" Atau, "Kurasa kita masing-masing seharusnya
mendapatkan bagian yang sama".
Mintalah tolong kepada orang dewasa, entah guru atau orangtuamu.
Abaikanlah apa yang telah terjadi. Kalau toh tidak terlalu
mengganggu, lupakanlah.
Tertawakanlah. Ini bisa mengejutkan bermain orang dan membantu
mereka keluar dari suasana yang tegang.
Ubahlah kegiatannya. Carilah sesuatu yang lain untuk dilakukan
bersama-sama.
Pergilah ke tempat lain untuk bekerja atau bermain.
Sumber: Character Building untuk Anak-anak: Membangun Karakter untuk Anak-anak Usia Dini, Barbara E. Lewis, , halaman 73 - 76, Karisma Publishing Group, Batam Centre, 2004.
Bahan MengajarKeadilan: Sungguh Tidak Adil
Renungan untuk Orangtua dan Guru:
"Dengan apakah aku akan pergi menghadap TUHAN
dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi?
Akan pergikah aku menghadap Dia dengan korban bakaran,
dengan anak lembu berumur setahun?
Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan,
kepada puluhan ribu curahan minyak?
Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku
dan buah kandunganku karena dosaku sendiri?
Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik
Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu:
selain berlaku adil, mencintai kesetiaan,
dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mikha 6:6-8)
Hidup dengan memperhatikan sesama baik yang dekat maupun yang jauh
adalah hal yang seharusnya kita lakukan. Seperti biasa, Yesus
mengajak kita untuk memahami sebuah pengertian yang baru dan radikal
tentang tanggung jawab kita terhadap keluarga secara global. Lebih
dari sekadar saling memperhatikan; kita dipanggil untuk mengasihi
sesama seperti diri kita sendiri. Kita tidak hanya diminta untuk
sekadar membagikan sup; tetapi juga untuk ikut merasakan apa yang
dirasakan orang lain. Dengan demikian, kita akan lebih
diperhitungkan dalam menyuarakan persamaan hak dan keadilan.
Yesus mengatakan bahwa perintah kedua, yaitu mengasihi sesama,
sebenarnya sama dengan yang pertama. Saling mengasihi adalah salah
satu cara untuk mengasihi Allah. Dalam sudut pandang Allah, kasih
bukanlah sesuatu yang gampang. Kasih Allah terwujud dalam setiap
usaha, keringat, komitmen, penghargaan, kesetiaan, dan juga
penyerahan. Penyerahan yang paling murni berarti meletakkan
kepentingan orang lain di atas kepentingan kita. Bersikap adil dan
jujur satu sama lain, secara sederhana, dapat dimengerti sebagai
tindakan untuk meneruskan kepada orang lain mengenai apa yang telah
diberikan kepada kita masing-masing dengan limpah.
Refleksi untuk Seluruh Anggota Keluarga/Kelas SM:
Setiap kali kamu menunggu giliran untuk memukul bola, mengambil
makanan, atau mandi, ketika kamu harus sabar mengantri, bukankah
waktu rasanya tak kunjung berakhir? Bagaimana rasanya jika tiba-tiba
seseorang yang bertubuh lebih besar darimu menyerobot antrian di
depanmu? Yang segera muncul dalam pikiranmu kemungkinan adalah "Ini
tidak adil!" Memang tidak adil. Dan seperti itulah keadilan.
Keadilan dapat terwujud jika setiap orang sepakat berlaku adil.
Semua orang yang dengan sabar mengantri di belakangmu mengerti bahwa
keadilan berarti menunggu giliran dengan sabar. Jika setiap orang
bertindak adil, maka semua akan puas.
Tetapi keadilan bukan hanya berarti menunggu gilranmu saja. Keadilan
juga memberi kepastian bahwa setiap orang memperoleh gilirannya.
Sebagian orang bertubuh lebih kecil darimu. Sementara yang lain
mengira bahwa karena lebih besar dan lebih kuat, mereka dapat
menyingkirkan orang lain di sekitarnya. Kamu tahu bahwa itu tidak
benar, tetapi untuk menentang hal itu tampaknya cukup berbahaya.
Tetapi bagaimana jika yang lain juga merasakan hal yang sama? Hanya
perlu ada seseorang yang mengatakan, "Hei, mari kita sama-sama
berbicara agar mereka berlaku adil." Masalahnya mungkin belum tentu
teratasi, tetapi pasti lebih mudah diatasi. Allah senantiasa
bersikap adil terhadap kita. Mungkin inilah saatnya bagi kita untuk
meneruskan sikap itu kepada orang lain.
HARI 1: APA YANG TUHAN TUNTUT
(Ulangan 10:12-22)
Orang asing adalah mereka yang tinggal dalam sebuah komunitas tanpa
memiliki status suku. Secara hukum, mereka tidak berdaya dan terus-
menerus menghadapi bahaya eksploitasi.
Dalam kisah di atas, bagaimana Allah menunjukkan keadilan-Nya?
Adakah seseorang yang tinggal di antara kita atau di sekitar kita
yang dapat disebut sebagai "orang asing?"
HARI 2: YOSUA BERSIKAP ADIL TERHADAP RAHAB
(Yosua 2:1-24; 6:20-25)
Umat Israel tiba di akhir perjalanan panjangnya menuju ke Tanah
Kanaan, Tanah Perjanjian. Kota Yerikho berada di antara mereka dan
lembah yang menuju ke Kanaan.
Apakah janji yang diberikan utusan Yosua kepada Rahab?
Apakah janji-janji yang kamu buat dan kamu usahakan sekeras
mungkin agar ditepati?
HARI 3: KEADILAN BAGI ORANG-ORANG YANG DIKASIHI ALLAH
(Matius 5:1-12)
Menurut ayat-ayat ini, siapakah yang memiliki Kerajaan Surga?
(Lihat Yesaya 66:2 tentang "orang yang patah semangat".)
Pilihlah ucapan bahagia yang paling sesuai untuk dirimu dan
jelaskan mengapa itu paling sesuai untuk dirimu!
Hari 4: KEADILAN ALLAH ADALAH BAGIAN KITA
(Matius 7:7-12)
Bagaimana seharusnya kita memperlakukan orang lain?
Ceritakanlah bagaimana kamu ingin diperlakukan. Apakah sukar
bagimu untuk memperlakukan orang lain sebagaimana kamu inginkan
agar orang lain perbuat padamu?
HARI 5: PEKERJA-PEKERJA DI KEBUN ANGGUR
(Matius 20:1-16)
Bagaimana sang pemilik kebun anggur membenarkan tindakannya
memberi upah yang sama kepada semua pekerja?
Terkadang keadilan sukar diterima ketika kita seolah merasa
dirugikan. Pikirkanlah tentang suatu kejadian ketika sesuatu
yang "adil" justru membuatmu tidak bahagia. Mengapa?
HARI 6: MELIHAT KETIDAKADILAN
(Lukas 23:33-39)
Setelah dituduh secara keji oleh para pemimpin agama Yahudi, Yesus
dihukum mati dengan cara disalib.
Mengapa salah seorang dari kedua penjahat yang disalib bersama-
Nya itu merasa bahwa Yesus telah diperlakukan secara tidak adil?
Diperlakukan secara tidak adil memang amat menyakitkan. Pernahkah
kamu diperlakukan secara tidak adil? Pernahkah kamu memperlakukan
seseorang secara tidak adil?
Sumber: Belajar Bersama, Janice Y. Cook, , halaman 150 - 152, Yayasan Gloria, Yogyakarta, 1999.
Dari Anda Untuk AndaArtikel dalam Bentuk PDF
From: Eko K. Sitepu <eko@>
>Syalom,
>Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan banyak manfaat dari membaca
>bina anak ini, saya mau usul bagaimana kalau setiap terbitan juga
>dibuat dalam bentuk PDF supaya lebih mudah dicetak, karena saya
>biasanya membaca dalam bentuk cetak dan lagi lebih gampang
>disebarluaskan kepada teman-teman supaya banyak yang mendapatkan
>manfaatnya.
>Salam,
>Eko K. Sitepu
Redaksi:
Kami mengucap syukur untuk setiap berkat yang Sdr. Eko dan teman-
teman lain dapatkan melalui e-BinaAnak ini. Terima kasih juga untuk
usulan yang disampaikan kepada kami. Tapi, untuk saat ini kami belum
bisa menampilkan e-BinaAnak dalam bentuk PDF. Jika Anda ingin bisa
mencetak dengan tampilan yang lebih rapi, silakan Anda berkunjung ke
arsip situs e-BinaAnak di:
==> http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/
atau Situs PEPAK di:
==> http://www.sabda.org/pepak/e-binaanak/
Oh iya, jika teman-teman Anda memiliki alamat email, silakan
kirimkan alamat email mereka kepada kami supaya bisa kami daftarkan
sebagai pelanggan e-BinaAnak. Oke? Selamat melayani.
Mutiara Guru Setiap keadilan menjadikan dunia lebih baik.
|