Salam dari Redaksi
Salam sejahtera,
Dalam mengajar, seorang guru SM tidak boleh asal mengajar saja.
Persiapan yang dilakukan sebelum mengajar harus memiliki tujuan
yang jelas, jangan hanya asal mengajar. Oleh karena itu, penting
bagi seorang guru yang bertanggung jawab untuk mengetahui dengan
jelas apa arti tujuan mengajar. Hal inilah yang mendorong kami
untuk membahas topik "Tujuan Mengajar" dalam edisi minggu ini.
Ada dua Artikel penting disajikan yang kami harap dapat menolong
kita memahami lebih dalam tentang Tujuan Mengajar. Artikel yang
pertama memiliki poin-poin penting tentang apakah yang dimaksud
dengan Tujuan Mengajar, apakah jenis-jenis Tujuan Mengajar, dan
penjelasan lebih detail tentang salah satu Tujuan Mengajar yaitu
Tujuan Pelajaran. Artikel yang kedua berupa tiga pertanyaan seputar
Tujuan Pelajaran, yang akan penting bagi guru ketika menentukan
tujuan pelajaran di kelas Sekolah Minggunya.
Satu Bahan Mengajar juga kami sajikan, khususnya untuk menolong
guru melihat contoh bagaimana membuat tujuan pelajaran yang baik
dan memilih pelajaran yang sesuai dengan tujuan pelajaran.
Selamat mengajar!
Tim Redaksi
"Kemudian haruslah engkau mengajarkan kepada mereka
ketetapan-ketetapan dan keputusan-keputusan,
dan memberitahukan kepada mereka jalan yang harus dijalani,
dan pekerjaan yang harus dilakukan." (Keluaran 18:20)
ArtikelTujuan Mengajar
Kamus mendefisinikan tujuan sebagai berikut, "Aktivitas yang
diarahkan dengan teratur menuju pencapaian sesuatu tujuan". Dalam
pengajaran SM, tujuan pelajaran itu merupakan suatu pernyataan
tentang apa yang diharapkan oleh guru agar terjadi sebagai akibat
dari mengajarkan ajaran tersebut. Tujuan dapat dinyatakan sebagai
suatu pernyataan yang langsung, misalnya, "Menolong setiap pelajar
agar menemukan dalam hal-hal apa ia membatasi Kristus, dan menolong
masing-masing untuk mulai percaya Tuhan dalam hal-hal tersebut".
Atau tujuannya dapat dinyatakan dalam bentuk sebuah pertanyaan yang
mungkin diajukan pada pelajar sehubungan dengan pelajarannya,
misalnya, "Dalam hal-hal apakah saya membatasi Kristus? Bagaimanakah
saya bisa mulai percaya Tuhan dalam hal-hal tersebut?"
JENIS-JENIS TUJUAN MENGAJAR
Tujuan Pertama:
Tujuan utama pengajaran SM ialah agar murid-murid kita bertumbuh
menjadi dewasa dalam Kristus.
Tujuan Triwulan dan Unit:
Pentinglah bahwa setiap guru menyusun suatu tujuan untuk seluruh
rangkaian pelajaran dalam satu triwulan. Hal ini akan menolongnya
untuk melihat bagaimana setiap pelajaran merupakan bagian dari
suatu keseluruhan. Kemudian, tujuan triwulan itu dapat dibagi dalam
beberapa tujuan unit yang meliputi dua atau lebih pelajaran yang
berpadanan.
Tujuan Pelajaran:
Tiap-tiap tujuan pelajaran merupakan langkah-langkah langsung yang
diambil untuk mencapai tujuan unit dan tujuan triwulan.
Para pendidik sering kali berbicara tentang tiga macam tujuan
pelajaran: - tujuan pengetahuan,
- tujuan sikap, dan
- tujuan tingkah laku.
Suatu tujuan pelajaran yang baik harus mencakup ketiganya, meskipun
salah satu dapat diberi tekanan khusus. Jika tujuan keseluruhan kita
adalah bertumbuh menuju kedewasaan dalam Kristus, maka mengajar
dengan tujuan pengetahuan saja tidak akan mencapainya, demikian juga
halnya bila tujuan kita hanya berpusatkan sikap atau inspirasi
belaka. Bila hendak mengajar untuk mengakibatkan pertumbuhan, maka
kita harus mengajar agar mendapat tanggapan kelakuan. Mengetahui dan
merasa adalah bagian dari tanggapan melakukan. Tanggapan itu
biasanya didahului suatu perubahan dalam pengetahuan dan sikap. Yang
perlu ditekankan di SM ialah mengajar untuk mengakibatkan perubahan
dalam kelakuan dan tindak tanduk.
PERLUNYA TUJUAN PELAJARAAN
Sifat belajar sendiri menyebabkan tujuan pengajaran sangat
diperlukan. Biasanya belajar bukan suatu aktivitas yang dilakukan
untuk sekedar belajar saja. Belajar merupakan ikhtiar untuk mencapai
suatu tujuan yang tertentu. Misalnya, seorang remaja yang belajar
mengemudikan sepeda motor. Dia tidak mempelajari pedoman "Peraturan
Lalu Lintas" hanya supaya dia dapat mengatakan telah menguasai
isinya. Dia tidak menempuh ujian pengemudi supaya dia dapat
mengatakan kepada teman-temannya bahwa dia telah lulus ujian. Dia
melakukan itu agar dapat memperoleh SIM-nya dan mulai mengemudikan
sepeda motor di jalan raya. Belajar mengemudi hanyalah suatu cara
menuju ke suatu tujuan.
Demikian pun pendidikan Kristen merupakan ikhtiar untuk mencapai
suatu tujuan. Tujuan akhirnya ialah kedewasaan di dalam Kristus.
Tiap pelajaran merupakan selangkah menuju jurusan tersebut; suatu
perubahan, suatu tanggapan yang membawa si pelajar lebih dekat
kepada kesesuaian dengan Kistus.
Jika memang demikian halnya, maka sebelum guru dapat membuat rencana
agar murid-murid memahami pelajarannya, dia harus tahu betul-betul
apakah tujuan yang hendak dicapainya. Guru harus memutuskan kemana
tujuannya sebelum dia membuat rencana bagaimana dia dapat sampai
di sana. Makin jelas tujuannya makin mudahlah membuat rencana untuk
mencapainya.
Kita dapat melihat lebih jelas betapa perlunya tujuan apabila kita
menilik beberapa akibat yang timbul karena adanya tujuan pelajaran.
Tanpa tujuan mungkin seorang guru akan mencoba menguraikan terlalu
banyak bahan. Ajaran yang tidak bertujuan cenderung akan melantur.
Ajaran yang tidak bertujuan sering kali tidak berkaitan dengan
kebutuhan hidup si pelajar. Apabila guru tidak memusatkan usahanya
untuk mendapat tanggapan, biasanya ajaran yang tidak bertujuan itu
tak akan mengakibatkan banyak perubahan.
MAKSUD DAN TUJUAN PELAJARAN
- Memberi arah kepada proses mengajar/belajar dengan memusatkan
perhatian kepada tanggapan yang diinginkan.
- Memberi pedoman untuk urutan aktivitas kelas dan menjamin
kelangsungan dan ketertiban sementara menuju ke tujuannya.
- Membantu sebagai penuntun ketika memilih cara-cara mengajar dan
bahannya. Beberapa bagian pelajaran dapat ditiadakan, sedangkan
beberapa bagian diuraikan dengan lengkap. Semua keputusan itu
dibuat berdasarkan tujuan pelajaran itu.
- Berguna sebagai dasar evaluasi. Apakah cara-cara yang kita pakai
ini menolong kita mencapai sasaran kita? Apakah kita memakai
bahan yang tepat? Apakah kita melihat perubahan dalam diri anak
didik kita? Pertanyaan-pertanyaan ini dapat dijawab dengan
pertolongan tujuan itu. Juga tercapainya tujuan-tujuan yang
dinyatakan itu mendatangkan perasaan puas baik bagi guru maupun
murid.
Sebagai kesimpulan kita dapat mengatakan bahwa tujuan pelajaran
merupakan faktor pengontrol yang utama dalam proses mengajar dan
belajar.
SIFAT-SIFAT TUJUAN PELAJARAN YANG BAIK
Tujuan pelajaran yang baik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
- Harus cukup ringkas sehingga dapat dituliskan. Belumlah cukup
bila mempunyai tujuan di dalam pikiran Saudara saja. Saudara
harus dapat menuliskannya dengan singkat dan jelas. Dengan
demikian barulah tujuan itu dapat menuntun pengembangan
pelajaran Saudara.
- Harus cukup khusus agar dapat dicapai. Kebanyakan tujuan
pelajaran terlalu umum dan luas. Tujuan pelajaran itu hendaknya
menyarankan bidang-bidang tertentu dalam kehidupan pelajar di
mana prinsip Alkitabiah dapat dipraktikkan. Tanggapan yang
dikehendaki haruslah cukup luwes sehingga dapat dicapai oleh si
pelajar.
- Harus cukup luwes sehingga dapat diterapkan secara pribadi.
Memang mungkin untuk menjadikan sebuah tujuan pelajaran terlalu
khusus. Tidak ada seorang guru pun yang mengetahui semua bidang
kebutuhan dalam kehidupan muridnya. Karena itu tujuan pelajaran
haruslah cukup luwes sehingga Roh Kudus diberi kesempatan untuk
memimpin setiap pelajar kepada tanggapan unik yang dikehendaki-
Nya bagi pelajar itu.
MEMILIH TUJUAN MENGAJAR
Memilih tujuan pelajaran sering kali merupakan bagian yang tersukar
namun yang terpenting ketika merencanakan pelajaran. Dua faktor
harus dipertimbangkan bila memilih tujuan pelajaran:
- Tujuan itu harus timbul dari arti yang terkandung dalam nats
Alkitab. Memberi tafsiran yang sebenarnya tidak dimaksud oleh
nats Alkitab itu sama sekali tidak dapat dibenarkan. Tujuannya
harus didasarkan pada prinsip-prinsip yang baik dalam penafsiran
dan penelaahan Alkitab.
- Tujuannya harus berhubungan dengan kebutuhan anggota kelas.
Tentunya ini berarti bahwa guru harus mengetahui kebutuhan para
pelajar.
Setelah guru mengerti di mana prinsip-prinsip Alkitab menyentuh
kebutuhan hidup para pelajar, maka ia sudah dapat menyusun tujuan
pelajarannya.
Biasanya buku-buku kurikulum memberikan tujuan untuk setiap
pelajaran. Tetapi tidak ada seorang penulis pun yang dapat menyusun
tujuan pelajaran yang akan memenuhi kebutuhan setiap kelompok yang
memakai bahannya. Biasanya guru merumuskan kembali tujuan itu agar
sesuai dengan kebutuhan khusus dari murid-muridnya.
Bagilah semua staf menurut tingkat-tingkat usia yang diajarinya.
Suruh masing-masing kelompok melatih untuk merumuskan tujuan
pelajaran untuk minggu depan. Kemudian, para guru memberikan
penilaian terhadap hasil masing-masing perumusan berdasarkan sifat-
sifat tujuan pelajaran yang baik yang diuraikan dalam rapat ini.
Tujuan pelajaran yang disetujui oleh tiap kelompok tertentu mungkin
akan berbeda dengan hasil perumusan masing-masing guru. Hal ini
disebabkan karena tiap-tiap kelas mempunyai kebutuhan yang berbeda-
beda.
Sumber: Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 2, , halaman 362 - 364, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1996.
ArtikelPertanyaan-pertanyaan Seputar Tujuan Pelajaran
Dalam Artikel (1) di atas disebutkan bahwa salah satu jenis tujuan
mengajar adalah tujuan pelajaran. Berikut ini beberapa ulasan
penting seputar tujuan pelajaran yang dapat digunakan para guru SM
sebagai pedoman dalam mengajar.
PERTANYAAN-PERTANYAAN SEPUTAR TUJUAN PELAJARAN
- Apakah tiap pelajaran harus "diarahkan" atau "ditujukan"
kepada orang-orang yang belum selamat?
Jawab: Masing-masing kelas mempunyai sifat dan keadaan yang
berbeda. Tingkatan usia perlu dipertimbangkan. Jumlah pelajar
juga merupakan faktor yang menentukan. Cepatnya pergantian
pelajar dan tetapnya kunjungan para pengunjung, juga merupakan
hal-hal yang patut dipertimbangkan. Ada pengajar yang merasa
bahwa semua muridnya telah dilahirkan kembali, sehingga tidak
lagi memerlukan "pelajaran-pelajaran yang berkenaan dengan
rencana keselamatan". Anggapan demikian benar juga, akan
tetapi ketika Roh Kudus memimpin, seorang pengajar yang peka
akan mengatakan bahwa kadang-kadang ada orang yang berlaku
seperti Kristen, namun sebenarnya ia tidak pernah menyerahkan
dirinya dengan sungguh-sungguh kepada Kristus. Karena adanya
orang-orang semacam inilah maka sekali-sekali, yakni menurut
pimpinan Roh Kudus pada saat itu, harus ada "tujuan yang
berkenaan dengan rencana keselamatan".
- Dapatkah satu pelajaran tertentu mempunyai lebih dari satu tujuan
inti?
Jawab: Seringkali pelajaran-pelajaran dalam buku penuntun
menyarankan beberapa tujuan yang dapat dipakai. Kadang-kadang
para pengajar mengikuti tiap-tiap tujuan itu dalam menguraikan
pelajaran. Akan tetapi, adalah lebih baik bila pengajar lebih
dahulu menerangkan tujuan inti pelajaran yang disampaikannya.
Setelah itu ia dapat memilih beberapa tujuan lain yang
dianggapnya dapat menyokong tujuan inti serta menggabungkannya
dengan tujuan inti tersebut.
Pada umumnya pengajar mendapati bahwa kelas mereka memberi
tanggapan yang paling baik bila seluruh jam pelajaran seakan-
akan bergerak ke satu jurusan tertentu. Pikiran manusia memang
tidak dapat "mengganti perseneling" dengan cepat, lagi pula
sukar baginya untuk merencanakan dan menuruti terlalu banyak
gagasan yang tidak saling berhubungan. Satu tujuan inti yang
disertai dengan berapa tujuan tambahan, akan memberikan hasil
yang baik. Dalam beberapa hal, yakni bila anggota kelas
sebagian besar terdiri dari anak-anak kecil, maka "tujuan
pekabaran Injil" boleh menjadi tambahan kepada tujuan inti.
Tujuan inti pelajaran itu mungkin berkenaan dengan hal menjadi
murid Tuhan, namun suatu tujuan tambahan boleh menekankan
tentang perlunya memulai hidup baru sebagai murid Tuhan dengan
jalan menerima Kristus secara pribadi.
- Apakah menyusun tujuan pelajaran untuk anak-anak kecil juga
penting?
Jawab: Untuk usia yang lebih muda, kegiatan-kegiatan bermain yang
dipimpin dengan seksama boleh dipakai sebagai jembatan untuk
menerangkan tujuan pelajaran. Apabila tujuan itu diterangkan
dengan jelas, maka berarti pengajar dapat memimpin kegiatan-
kegiatan bermain untuk mencapai tujuan tertentu. Apabila
tujuan pelajaran itu adalah "mencintai ibu bapa kalian", maka
pengajar akan berusaha memimpin anak-anak "melaksanakan"
kegiatan-kegiatan yang dilakukan baik oleh ibu bapa maupun
anak-anak, untuk menunjukkan bahwa banyak cara dapat dipakai
oleh seorang anak untuk menyatakan cintanya kepada
orangtuanya.
Sumber: Penginjilan di Sekolah Minggu, Richard L. Dresselhaus, , Artikel Pertanyaan-pertanyaan yang Tepat, halaman 85 - 87, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang.
Bahan MengajarAllah Menghukum Manusia Berdosa
Berikut ini satu bahan yang dapat Anda pakai untuk menceritakan
kepada anak-anak mengenai dosa. Sesuaikan tujuan mengajar Anda
dengan tujuan pelajaran yang ada dalam bahan mengajar ini. Selamat
mengajar!
ALLAH MENGHUKUM MANUSIA BERDOSA
Tujuan Umum:
Anak mengetahui dan memahami bahwa Allah yang Mahakudus menghukum
manusia berdosa.
Pelajaran:
Hamba yang setia dan hamba yang tidak setia.
Bahan Alkitab:
Matius 24:45-51
Tujuan Khusus:
Anak dapat:
- Membedakan perbuatan hamba yang setia dengan hamba
yang tidak setia;
- menceritakan pengalaman mereka, ketika tidak melakukan
tugas;
- Menjelaskan akibat bila tidak melakukan tugas;
- Menyatakan akan selalu setia melakukan tugas.
Ayat Hafalan:
"Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan
kepadamu mahkota kehidupan." (Wahyu 2:10b)
Materi Pelajaran:
A. Untuk Guru
1. Penjelasan bahan Alkitab
Tugas seorang hamba antara lain adalah menyediakan pakaian,
makanan, merawat kebun dan menjaga rumah, serta lain-lain. Kali ini
Yesus menjelaskan kepada kita melalui perumpamaan-Nya, tentang umat
Tuhan yang harus bertugas melayani Tuhan sebagai Tuannya. Kalau
ingin selamat tentu kita harus setia kepada Tuan kita.
2. Renungan
Perumpamaan ini diangkat oleh Yesus untuk mengingat kembali tugas
manusia, sebagai umat-Nya. Ketika Tuhan menciptakan manusia, maka
bersamaan dengan itu pula Tuhan memberikan tugas kepada manusia
(lihat Kejadian 1:28; 2:15). Dan ini merupakan tugas yang pertama
kali Tuhan serahkan kepada manusia. Tapi sayang, manusia menyia-
nyiakan tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepadanya. Akibatnya,
terjadilah kesenjangan hubungan antara Tuhan dengan dunia ini, dan
secara khusus antara Tuhan dengan manusia yang Dia beri kuasa.
Namun kemudian Anak Allah datang untuk memperbaiki hubungan itu;
dan hal itu telah terjadi! Sekarang tugas manusia adalah memelihara
hubugan yang sudah diperbaiki itu dan menghadirkan tanda-tanda
kerajaan Allah di dunia ini. Siapakah yang setia ... ?
B. Untuk Anak
1. Cerita
Ada satu keluarga kaya yang memiliki tiga mobil, dua buah
televisi berwarna dengan layar lebar, barang-barang antik, dan lain-
lain. Dalam keluarga ini Badu dan Budi bekerja sebagai pembantu
rumah tangga. Selain mereka berdua, ada dua pembantu lain yang juga
tinggal dalam rumah keluarga kaya ini. Mereka bertugas memasak,
mencuci, dan menjaga kebersihan rumah. Sedangkan Badu dan Budi
bertugas membersihkan mobil, menjaga kebersihan lingkungan, dan
keamanan rumah.
Setiap Hari Sabtu, bapak dan ibu pemilik rumah itu yaitu Bapak
dan Ibu Andreas, beserta dua anak mereka pergi ke luar kota. Maka
sebagai penjaga keamanan rumah, Badu dan Budi bertanggung jawab atas
keselamatan rumah. Suatu kali ada kejadian khusus. Waktu libur
panjang sekolah, kedua anak Bapak dan Ibu Andreas merencanakan untuk
pergi berlibur ke kampung halaman mereka. Rencana kepergian Pak
Andreas sekeluarga membuat Badu jadi berpikir, bahwa inilah
kesempatan baginya untuk berlibur juga. Badu merasa yakin bahwa
keluarga tersebut baru akan kembali tiga minggu lagi. Jadi, biar
saja si Budi sendiri yang bekerja.
Setelah tuannya pergi, mulailah Badu melakukan hal-hal yang telah
lama dipikirkannya. Setiap malam, Badu pergi ke luar rumah. Ia baru
kembali setelah hari terang. Pagi hingga sore Badu menghabiskan
waktunya untuk makan dan tidur. Demikian hal ini dilakukannya setiap
hari. Pada hari kelima belas semenjak kepergian keluarga Pak
Andreas, Badu kehabisan uang. Padahal malam itu Badu ada janji
dengan beberapa teman untuk bertemu di pasar. Badu mulai berpikir,
mencari cara untuk mendapatkan uang. Akhirnya Badu mendapat akal: Ia
akan meminta uang kepada ibu tukang masak, sebab dialah yang
diserahi uang belanja. Badu lalu mendatangi ibu tukang masak, tetapi
hasilnya nihil. Ibu tukang masak tidak mau memberikan uangnya pada
Badu. Akhirnya terjadi keributan antara Badu dan ibu tukang masak.
Budi menegur sikap Badu, akibatnya Badu menjadi semakin marah. Lalu
ia pergi dari rumah itu dan jarang pulang. Pendek kata, Badu berbuat
sesuka hatinya saja.
Suatu malam, seperti biasanya Badu tidak pulang. Ia baru pulang
jam 12 siang. Badu tidak tahu bahwa hari itu keluarga Pak Andreas
tiba kembali, karena masa liburan telah habis. Seperti biasa Badu
masuk dari pintu depan dengan maksud hendak langsung menonton
televisi di ruang tengah. Tapi alangkah terkejutnya Badu ketika
melihat Pak Andreas sekeluarga bersama Budi dan dua pembantu lainnya
sedang duduk santai sambil menonton televisi. Di hadapan mereka ada
banyak makanan.
Budi mencoba menutupi rasa terkejutnya dengan menyapa, "Eh, Bapak
dan Ibu sudah kembali! Mengapa tidak mengirim kabar sehingga saya
bisa menjemput?" Lalu Pak Andreas menjawab, "Lho! Kami kemarin kan
sudah telepon!" "Ya, waktu Pak Andreas telepon kamu sudah pergi dan
kami tidak tahu kamu ada di mana," kata Budi menambahkan.
"Ya sudah ... yang penting kami sudah sampai dengan selamat," kata
Pak Andreas lagi.
Badu jadi bingung, hatinya was-was. Apakah Budi dan dua pembantu
lainnya tidak melaporkan sikap buruknya selama ditinggal pergi oleh
majikan mereka? Sebab Pak Andreas sekeluarga tidak menunjukkan
kemarahan. Waktu petang, Badu baru saja selesai mandi. Tiba-tiba
Budi menghampirinya dan berkata, "Badu, kamu dipanggil oleh Bapak.
Bapak ingin bicara denganmu." Badu bingung, "Ada apa rupanya? Tadi
kamu melaporkan saya, ya?"
"Aku tidak tahu," jawab Budi. "Lagipula aku belum bicara apa-apa
pada Bapak sejak mereka tiba. Hanya satu kali aku menjawab
pertanyaan Bapak, yaitu ketika Bapak menanyakanmu. Lalu aku jawab
bahwa kamu sedang pergi sejak kemarin."
"Wah ... gawat! Kalau begitu aku pasti dimarahinya," demikian
pikir si Badu. Tapi Badu kemudian berusaha menyenangkan hatinya,
"Ah, paling-paling aku hanya dimarahi; sesudah itu selesai." Tapi
sayang, malam itu juga Pak Andreas memerintahkan Badu untuk
meninggalkan rumah mereka besok pagi. Selain itu Badu tidak boleh
kembali ke rumah itu lagi. Badu sedih sekali, "Ah ... andai saja
waktu itu saya menjalankan tugas dengan baik, tentu tidak begini
buruk keadaan saya."
Adik-adik, cerita seperti ini ada juga di dalam Alkitab. Yaitu
tentang hamba yang setia dan hamba yang tidak setia. Mari kita baca
kisahnya dari Matius 24:45-51. [Sebaiknya guru membacakan dengan
jelas.] Sebagai orang Kristen, itu berarti kita menjadi pelayan
Tuhan. Tuhan telah memberitahukan kepada kita, tugas terutama yang
harus kita lakukan, MENGASIHI SESAMA MANUSIA.
2. Evaluasi
- Coba ceritakan lagi perumpamaan yang disampaikan oleh Tuhan
Yesus!
- Pernahkah adik-adik melalaikan tugas?
Jika pernah, tugas-tugas apa saja yang kalian lalaikan itu?
- Hukuman apakah yang kamu terima atas kelalaianmu itu?
- Sebutkan suatu tugas dan caranya menyelesaikan tugas itu dengan
baik!
3. Tutup dengan doa.
Sumber: Pedoman Sekolah Minggu Anak Kecil (Umur 7 - 9 Tahun) Tahun II Jilid I, , halaman 21 - 26, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1994.
Dari Anda Untuk AndaMengajar Kelas Kecil
Dari: Danny <danny@>
>Apakah anak kelas kecil harus selalu menggunakan banyak kegiatan
>pada saat kita mengajar? Apakah memang kalau hanya dengan bercerita
>mereka tidak akan tertarik dengan cerita yang kita sampaikan? Saya
>menanyakan hal ini karena saya akan baru saja akan menjadi guru SM
>dan langsung ditempatkan pada kelas kecil. Mohon tanggapan rekan-
>rekan semua.
Redaksi:
Waahh selamat mengemban tugas baru Anda ... :)
Mengajar kelas kecil sebenarnya merupakan pengalaman yang paling
menyenangkan. Memang sebagai gurunya, kita harus pintar-pintar
memberikan kegiatan-kegiatan yang dapat menarik perhatiannya. Tetapi
terlalu sering mengadakan kegiatan juga dapat menyebabkan mereka
bosan. Dengan bercerita pun Anda dapat menarik perhatian mereka.
Siapkanlah alat-alat peraga yang sederhana dan menarik. Gambar yang
besar pun dapat sangat menarik perhatian mereka.
Untuk lebih memperdalam pengetahuan Anda mengenai kelas kecil,
silakan kunjungi situs PEPAK. Di dalamnya terdapat tulisan-tulisan
seputar kelas kecil dalam SM, misalnya:
- Mengajar Kelas Kecil
==> http://www.sabda.org/pepak/pustaka/010113/
- Memimpin Pujian untuk Anak Kecil
==> http://www.sabda.org/pepak/pustaka/010150/
- Mengelola Kelas Batita (Umur 2-3 Tahun)
==> http://www.sabda.org/pepak/pustaka/010009/
- Kriteria Guru Sekolah Minggu untuk Kelas Indria
==> http://www.sabda.org/pepak/pustaka/020015/
- Guru Anak Balita/Indria (Umur 4-5 Tahun)
==> http://www.sabda.org/pepak/pustaka/010015/
- Mengenal Anak Balita/Kanak-kanak/Indria (Umur 4-5 Tahun)
==> http://www.sabda.org/pepak/pustaka/010014/
Selamat melayani!
|