Salam dari Redaksi
Salam jumpa dalam kasih Yesus Kristus,
Setiap guru Sekolah Minggu maupun pendidik Kristen pasti memiliki
cara atau gaya mengajar yang khas sesuai dengan kepribadian masing-
masing. Namun, perlu disadari bahwa sebagai seorang guru Kristen
yang bertanggung jawab kita harus memiliki prinsip-prinsip mengajar
yang alkitabiah yang melandasi cara dan gaya kita mengajar. Jika
prinsip-prinsip mengajar yang dimiliki guru-guru Kristen tersebut
tidak mencerminkan pengajaran iman Kristen yang benar, maka guru-
guru Kristen tidak memiliki keunikan dan kelebihan apapun
dibandingkan dengan guru-guru/pendidik sekuler.
Anda ingin tahu lebih banyak mengenai "Prinsip Mengajar" Kristen?
Silakan simak sajian-sajian kami dalam edisi ini. Ada dua Artikel
dan satu Tips yang akan kami sajikan. Masing-masing berjudul
"Prinsip Belajar Mengajar yang Efektif: Hubungannya dengan Hukum
Mengajar", "Prinsip Mengajar Yesus: Kuasa Teladan Kristus dalam
Mengajar", dan "Bagaimana Memiliki Prinsip Mengajar yang
Alkitabiah". Selain itu simak pula satu Bahan Mengajar yang dapat
Anda pakai untuk mengajar anak-anak SM Anda. Jangan lupa untuk
menerapkan prinsip mengajar yang sudah Anda pelajari dalam edisi
ini.
Selamat Mengajar!
Tim Redaksi
"Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya,
maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang
dari pada jalan itu." (Amsal 22:6)
ArtikelPrinsip Belajar Mengajar yang Efektif: Hubungannya dengan Hukum Mengajar
Pada edisi e-BinaAnak minggu yang lalu, kita telah membahas tentang
Hukum Mengajar. Dalam kaitannya dengan topik minggu ini, kita akan
melihat seberapa jauh hukum mengajar dapat dikembangkan untuk
menjadi prinsip belajar mengajar yang efektif.
PRINSIP-PRINSIP BELAJAR MENGAJAR YANG EFEKTIF:
HUBUNGANNYA DENGAN HUKUM MENGAJAR
Mempelajari tentang teori belajar tidak sama dengan bagaimana
mengaplikasikan teori tersebut dalam proses belajar mengajar. Pada
tahun 1884, John Milton Gregory memperkenalkan suatu hukum mengajar
yang sekarang menjadi sangat terkenal dengan nama "The Seven Laws of
Teaching" (Tujuh Hukum Mengajar). Karya klasik ini hingga sekarang
masih tetap kontemporer, karena dalam hukum-hukum tersebut
terkandung prinsip-prinsip yang akan terus penting bagi pengajaran
yang efektif di kelas. Inti dari Tujuh Hukum Mengajar tersebut
adalah sbb.: [Red.: Penjelasan lengkap tentang Tujuh Hukum Mengajar
ini bisa Anda lihat di e-BinaAnak Edisi 138/2003.]
==> http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/138/
Hukum Guru:
Kenali dan kuasailah dengan baik pelajaran yang akan Anda ajarkan
-- ajarkanlah dengan sungguh-sungguh dan dengan pengertian yang
jelas.
Hukum Murid:
Berusahalah untuk menarik perhatian dan minat anak-anak terhadap
pelajaran yang diberikan. Jangan pernah mengajar tanpa perhatian
mereka.
Hukum Bahasa:
Gunakan bahasa yang mudah dipahami baik oleh murid-murid Anda maupun
Anda sendiri -- bahasa yang jelas dan tepat bagi Anda dan murid
Anda.
Hukum Pelajaran:
Mulailah dengan pokok pelajaran yang sudah diketahui benar oleh
murid-murid Anda dan yang telah mereka sendiri alami -- lalu
lanjutkan dengan materi baru, dengan langkah satu per satu, mudah
dan alami, biarkan hal-hal yang belum diketahui dijelaskan dengan
menggunakan hal-hal yang sudah diketahui.
Hukum Proses Mengajar:
Doronglah agar dengan keinginan sendiri anak-anak bertindak ....
Hukum Proses Belajar:
Mintalah murid-murid untuk mengungkapkan kembali dalam pikiran
mereka pelajaran yang sudah ia pelajari.
Hukum Review dan Penerapan:
Jangan pernah bosan untuk terus mengulang, mengulang dan
mengulang ....
Howard Hendricks, dalam bukunya yang berjudul "Teaching to Change
Lives", telah melakukan satu langkah maju dengan menyempurnakan
"Tujuh Hukum Mengajar" karya Gregory di atas untuk memberikan
panduan mengajar bagi para guru maka kini. Hendricks menekankan
bahwa pertama-tama Tuhan memakai orang-orang yang dipanggil-Nya,
yaitu para guru, untuk mempengaruhi hidup orang lain. Namun, ada
prinsip-prinsip yang mendasar, yang jika dipraktekkan, akan
memberikan suatu dinamika baru bagi pengajaran dan akan membuka
pintu bagi Roh Kudus untuk bekerja dalam hidup anak-anak didik.
Bagaimana Howard Hendricks menjelaskan hukum-hukumnya itu?
1. Hukum Guru:
"Berhentilah bertumbuh hari ini, maka Anda akan berhenti mengajar
besok." Para guru harus membiarkan Firman Allah mengubah hidup
mereka dan memberi kesempatan pada murid-murid mereka untuk
melihat bahwa Allah bekerja dalam diri mereka. Dengan kata lain,
seorang guru harus menjadi contoh kebenaran.
2. Hukum Pendidikan:
"Bagaimana Anda belajar menentukan bagaimana Anda mengajar."
Oleh karena itu, guru yang efektif akan terus menyediakan metode-
metode tepat yang dikembangkan secara variatif sehingga dapat
mempertahankan minat yang tinggi dan mencegah kebosanan murid.
3. Hukum Aktivitas:
"Belajar yang maksimal adalah hasil dari keterlibatan yang
maksimal." Bercerita tidak sama dengan mengajar. Keanekaragaman
metode-metode yang aktif harus digunakan untuk melibatkan para
murid supaya mereka dapat menemukan apa yang Tuhan katakan
kepada mereka melalui Firman-Nya.
4. Hukum Komunikasi:
"Untuk benar-benar mengimpartasi informasi perlu dibangun
jembatan-jembatan." Jembatan-jembatan itu perlu dibangun baik
di dalam maupun di luar kelas. Dengan meluangkan waktu bersama
para murid di luar jam pelajaran, para guru akan mengenal
muridnya dan mengetahui kebutuhan mereka. Di dalam kelas, guru
merangsang keingintahuan para murid, menarik perhatian mereka,
dan memotivasi para murid sebelum mengimpartasi informasi.
5. Hukum Hati:
"Pengajaran yang berhasil tidak hanya dari kepala ke kepala,
tetapi dari hati ke hati." Hubungan merupakan suatu hal yang
penting dalam proses belajar mengajar yang efektif.
6. Hukum Dorongan Semangat:
"Pengajaran cenderung paling efektif jika orang yang belajar
termotivasi dengan tepat." Tidak ada hal yang lebih memotivasi
daripada kesadaran akan adanya kebutuhan dan melihat harapan
bahwa kebutuhan itu akan terpenuhi. Guru yang efektif memberikan
dorongan belajar dengan memfokuskan pada relevansi kebenaran dan
kehidupan para muridnya.
7. Hukum Kesiapan:
"Proses belajar mengajar akan paling efektif jika murid maupun
guru cukup dipersiapkan." Kesiapan para murid meliputi faktor-
faktor, fisik, kognitif dan perkembangan rohani, latar belakang,
pengalaman, dan motivasi. Para guru harus menggunakan apa yang
mereka ketahui tentang murid-muridnya untuk menyiapkan mereka
menerima kebenaran yang baru.
Kesiapan seorang guru tergantung pada persiapannya. Sayangnya,
persiapan yang kurang adalah sumber dari beberapa kelemahan dalam
pendidikan Kristen saat ini. Guru yang efektif akan membuat tugas
mengajar menjadi prioritas.
Sumber:
Christian Education: Foundations for the Future, Robert E. Clark, , Artikel Principles For Effective Teaching and Learning, halaman 117 - 118, Moody Press, Chicago.
ArtikelPrinsip Mengajar Yesus: Kuasa Teladan Kristus dalam Mengajar
Apakah beda antara guru sekuler dan guru Kristen? Mengapa prinsip
mengajar sekuler hanya dapat mengubah tingkah laku sedangkan prinsip
mengajar Kristus memiliki kuasa yang mengubahkan hati dan hidup
seseorang? Simaklah artikel berikut ini:
PRINSIP MENGAJAR YESUS:
KUASA TELADAN KRISTUS DALAM MENGAJAR
TELADAN KRISTUS MEMILIKI KEKUATAN DALAM TUJUANNYA
Tujuan Kristus mengajar adalah untuk menyatakan kebenaran. Ia
mengetahui betul panggilan-Nya dan dalam berbagai kesempatan Ia
menunjukkan bahwa pengajaran-Nya bukan berasal dari diri-Nya
sendiri. Allah Bapa-Nya lah yang telah memberikan tanggung jawab
itu kepada-Nya. Tidak ada rasa ragu-ragu atau takut; Dia tidak
melalaikan tanggung jawab-Nya sebagai seorang guru. Kuasa yang
dimiliki-Nya juga nyata dalam pengajaran-Nya yang berotoritas,
sebab kebenaran-Nya itu beradal dari Allah sendiri.
TELADAN KRISTUS MEMILIKI SIFAT YANG KHUSUS
Kristus mengajar sebagai seorang yang diutus oleh Allah. Berikut
adalah prinsip mengajar Yesus yang patut diteladani oleh para guru
Kristen.
1. Kristus Mengajar dengan Jelas
Karena Kristus ingin agar setiap orang yang mendengar-Nya
memahami Injil, maka Ia menggunakan perumpamaan dan ilustrasi
dari kejadian sehari-hari sehingga pesan-Nya dapat diterima
dengan jelas.
2. Kristus Mengajar dengan Kewibawaan
Alkitab menceritakan bahwa Kristus mengajar "sebagai seseorang
yang memiliki wibawa". Para prajurit yang disuruh oleh imam-imam
kepala untuk memenjarakan Kristus kembali dengan membawa pesan,
"Belum pernah ada orang yang berkata seperti orang ini." Kristus
berbicara sebagai wakil Allah.
3. Kristus Mengajar dengan Keragaman
Salah satu ciri ajaran Kristus yang sangat mengejutkan bagi para
guru-guru Yahudi adalah penolakan-Nya terhadap penggunaan sistem
tradisional ceramah di sinagoge. Tuhan kita menggunakan hampir
setiap teknik pengajaran untuk memudahkan proses penerimaan pesan-
Nya. Dia adalah seorang guru yang sanggup menarik perhatian orang
yang diajar-Nya.
HASIL DARI TELADAN KRISTUS DAPAT DILIHAT
Pelayanan Kristus menghasilkan perubahan hidup. Pelajarilah baik-
baik bagaimana Yesus memanggil murid-murid-Nya seperti yang terdapat
dalam Markus 1:16-39. Beginilah cara Yesus menjangkau orang-orang
untuk dijadikan murid-Nya.
1. Dia Menemukan Mereka
Mereka adalah orang biasa, melakukan hal-hal yang umum dilakukan,
tetapi Dia memberikan jalan dimana mereka dapat mengubah hidup
mereka.
2. Dia Memanggil Mereka
Ajaran Kristus tidak memberikan pilihan kepada mereka untuk
menolak atau mengikuti Dia, seperti yang mereka harapkan, Dia
secara langsung mengarahkan perhatian mereka dengan mengatakan,
"Ikutlah Aku, dan Aku akan menjadikan engkau sebagai penjala
manusia."
3. Dia Mengajar Mereka
Selama tiga tahun mereka terus-menerus mengamati bagaimana
Kristus melakukan mujizat, mendengarkan ajaran-Nya, menerima
pengajaran pribadi-Nya.
4. Dia Memberikan Teladan kepada Mereka
Pelayanan mereka merupakan hasil meniru dari pelayanan Kristus
sendiri. Dengan melihat apa yang dilakukan-Nya mereka dapat
mengamati kualitas-kualitas apa yang seharusnya menjadi ciri-ciri
dari pelayanan mereka sendiri.
5. Dia Mengutus Mereka
Dia tidak memanfaatkan murid-murid-Nya untuk diri-Nya sendiri,
karena bahkan ketika Ia masih di dunia Ia secara terus-menerus
menolong mereka untuk dapat melayani orang lain. Tidak ada
Sekolah Minggu yang berakhir untuk melayani diri sendiri. Sekolah
Minggu merupakan alat bagi pertumbuhan orang-orang Kristen dan
pengembangan para pekerja untuk melaksanakan karya Kristus.
Dalam lingkungan orang Kristen, mengajar adalah mengkomunikasikan
Firman Allah yang hidup, yaitu Kristus; Firman yang tertulis,
yaitu Alkitab; melalui kata-kata yang diucapkan oleh guru. Hal ini
tercermin sebagai karunia sekaligus panggilan seorang guru. Hal ini
secara efektif akan terwujud bila disertai dengan pelatihan dan
persiapan yang baik.
Sumber: Understanding Teaching, Kenneth O. Gangel, Ph.D, , Artikel The Power and Example of Christ, halaman 11 - 13, Evangelical Training Association, Illionis, 1968.
Tips MengajarBagaimana Memiliki Prinsip Mengajar yang Alkitabiah
Buku psikologi pendidikan yang paling lengkap yang pernah ditulis
adalah Alkitab. Memang Alkitab tidak dimaksudkan oleh Tuhan untuk
menjadi textbook bagi para guru atau psikolog, namun melalui Firman-
Nya, Allah telah mengungkapkan beratus-ratus prinsip yang sangat
berguna untuk diaplikasikan dalam proses belajar mengajar. Berikut
ini beberapa tips agar kita memiliki prinsip mengajar yang
alkitabiah:
BAGAIMANA MEMILIKI PRINSIP MENGAJAR YANG ALKITABIAH
- Pengajar haruslah seorang murid Firman Tuhan dan mencintai
Firman Allah (Mazmur 119).
- Pengajar harus mengusahakan keterbukaan dan kesiapan anak didik
untuk menerima pesan kebenaran (Ibrani 4:12; 2Timotius 3:16-17).
- Dalam proses belajar mengajar, beberapa cara mempelajari Alkitab
yang cukup sistematis harus diperkenalkan kepada anak didik
(Kisah Para Rasul 17:11).
- Pengajar hanya bisa mengajarkan mengenai kehidupan sebagaimana
kehidupan yang telah dijalaninya (1Korintus 3:16).
- Keteladanan adalah dasar untuk mengkomunikasikan tentang
kehidupan dan hubungannya dengan Alkitab (1Tesalonika 2:1-12;Ibrani 13:7).
- Pengajaran harus dibangun atas dasar doa (Kolose 4:2-4).
- Pengajar harus bisa merasakan diri sebagai "murid" seperti para
peserta didiknya, dan terus berusaha merasakan kebutuhan mereka
(Matius 9:36; Yohanes 10:3,27).
- Pengajar harus hafal nama peserta didik satu-persatu agar bisa
lebih mengenal dan memiliki hubungan dengan mereka
(Yohanes 10:3,27).
- Pengajar harus terbuka (transparan) dan siap menerima kritikan
(2Korintus 4:7-18; 5:11-13).
- Pengajaran adalah menyeluruh (holistik) dalam pendekatannya --
meliputi pikiran, perasaan, dan intuisi (jiwa) (Kolose 1:28; Ulangan 6:5).
Sumber: Foundations of Ministry, Michael J. Anthony Et Al., , Artikel Principles of Teaching, halaman 100, Sp Publications Inc., Illinois, 1992.
Bahan MengajarDaud Diserang Saul Lagi
Pokok Bahasan:
Allah yang mahakuasa berada bersama manusia melalui Roh Kudus.
Tujuan Umum:
Anak mengenal dan memahami serta mengakui, bahwa Roh Kudus adalah
Allah yang menuntun dan membimbing manusia pada jaman dulu, dan
manusia jaman sekarang.
Pelajaran:
DAUD DISERANG SAUL LAGI
Bahan Alkitab:
1Samuel 19
Tujuan Khusus:
Anak dapat: - menceritakan kembali bahwa Roh Allah menyertai Daud
terus sehingga Saul tetap gagal membunuh Daud;
- menjelaskan bahwa Roh Allah juga menyertai Saul,
sehingga niatnya untuk membunuh Daud sempat lenyap;
- mengungkapkan keheranannya melihat Roh Allah bekerja
dalam diri manusia.
Ayat Hafalan:
"Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?"
(Roma 8:31b)
Materi Pelajaran:
A. Untuk Guru
Yonatan adalah putera mahkota. Yonatan tahu bahwa selama Daud
hidup, ia tak dapat menjadi raja (1Samuel 20:31). Tetapi ia yakin
akan kebenaran pilihan Tuhan atas Daud. Ia tidak menuntut hak
sebagai anak raja untuk memerintah Israel. Dengan tidak
mementingkan diri sendiri, Yonatan selalu berusaha untuk
menyelamatkan Daud. Dua sifat utama yang kita temukan dalam diri
Yonatan, yaitu bahwa ia mengasihi sahabatnya dengan setulus
hatinya, dan bahwa ia menghormati kedaulatan Allah untuk memilih
orang yang disukai-Nya.
B. Untuk Anak
1. Pendahuluan
Kalian masih ingat, bagaimana Roh Kudus bekerja pada murid-murid
Yesus? (Petrus berani berkhotbah, menyembuhkan, dan sebagainya.
Kemudian, Saulus yang keras hati dilembutkan hatinya, dan
akhirnya menjadi rasul. Beri kesempatan pada anak untuk
mengungkapkan hal yang mereka ingat.)
Roh Allah dapat mengubah hati seseorang dari keras menjadi
lembut; dari jahat menjadi baik.
2. Cerita
Selain Mikhal, Raja Saul mempunyai anak laki-laki juga, bernama
Yonatan. Yonatan berkawan baik sekali dengan Daud. Mereka
bersahabat.
Suatu hari Raja Saul berkata kepada anaknya, Yonatan, dan kepada
pegawai-pegawainya. Katanya: "Daud, menantuku itu, harus
dibunuh!"
Yonatan yang begitu menyayangi Daud itu segera berlari menemui
Daud. Ia lalu memberitahukan niat jahat ayahnya kepada Daud.
"Daud, sahabatku," serunya. "Ayahku, Raja Saul, hendak
membunuhmu. Sebab itu berhati-hatilah. Besok pagi, bersembunyilah
kamu di suatu tempat di padang. Nanti aku akan keluar istana
dengan ayahku, dan berdiri di dekat tempat persembunyianmu. Aku
akan mencoba berbicara tentang engkau dengan ayahku; dan hasil
percakapanku nanti akan kuberitahukan kepadamu."
Keesokan harinya, Yonatan keluar istana bersama ayahnya. Mereka
berjalan-jalan sampai ke dekat tempat persembunyian Daud. Lalu
Yonatan berkata kepada ayahnya: "Ayah, janganlah Ayah berbuat
dosa terhadap Daud. Bukankah Daud juga tidak berbuat dosa kepada
Ayah? Apa yang dibuat Daud untuk Ayah sebagai raja adalah baik.
Ia sudah korbankan dirinya untuk berperang mengalahkan semua
musuh, yaitu orang-orang Filistin; dan Tuhan sendiri sudah
memberkati bangsa Israel dengan memberikan kemenangan yang begitu
besar. Ayah sendiri pasti senang dan bersukacita atas hal itu.
Tapi kenapa Ayah sekarang hendak membunuh Daud yang tidak
berdosa?"
Mendengar perkataan anaknya itu, hati Raja Saul menjadi tergerak.
Di depan anaknya ia lalu berjanji, katanya: "Demi Tuhan yang
hidup, Daud tidak akan dibunuh!"
Setelah mengantar ayahnya kembali ke istana, Yonatan lalu
bergegas pergi ke tempat persembunyian Daud dan menyampaikan
hasil pembicaraannya dengan ayahnya. Kemudian Yonatan membawa
Daud menghadap Raja Saul. Dan atas perintah Raja Saul, Daud
kemudian bekerja lagi seperti biasa di istana raja. Tuhan
melindungi Daud, hamba-Nya.
Ketika terjadi lagi perang melawan bangsa Filistin, kembali Daud
turut berperang; dan ia pulang dengan membawa kemenangan yang
gemilang. Daud senantiasa dipimpin oleh Roh Tuhan.
Tapi roh jahat menguasai Raja Saul. Ketika ia sedang duduk di
istananya sambil memegang tombak, tiba-tiba ... tombak itu
dilemparkannya ke arah Daud yang saat itu sedang bermain kecapi
menghibur raja. Allah menyertai Daud sehingga ia dapat
mengelakkan diri dari tikaman tombak Raja Saul. Kemudian Daud
melarikan diri dari istana raja dan pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Daud lalu menceritakan hal yang dialaminya
itu kepada Mikhal, isterinya. Kata Mikhal: "Daud kalau begitu
engkau harus segera pergi. Ayahku pasti akan menyuruh orang ke
mari untuk menangkapmu." Maka Daud pun segera pergi. Dengan
ditolong Mikhal, Daud keluar rumah melalui jendela.
Lalu apa yang dilakukan Mikhal? Ia mengambil sebuah patung,
kemudian diletakkan di tempat tidur. Di bagian kepala patung itu
lalu ditaruh sehelai tenunan kambing, kemudian diselimuti.
Benar juga ... tentara Raja Saul datang dan bertanya kepada
Mikhal: "Di mana Daud? Raja Saul ingin bertemu dengannya."
"Oh, dia sedang sakit," jawab Mikhal.
Tentara-tentara itu kemudian kembali kepada Raja Saul dan
melaporkan bahwa Daud sedang sakit di rumahnya. Raja Saul marah
sekali: "Bawa dia ke mari dengan tempat tidurnya!" teriaknya.
Para tentara itu lalu kembali ke rumah Daud, tapi mereka tertipu.
Daud sudah tidak ada lagi. Wah ... bukan main marahnya Raja Saul.
Namun dia tak dapat berbuat apa-apa.
Daud terus melarikan diri hingga sampai ke tempat Samuel di kota
Rama dan menceritakan hal yang dialaminya kepada Samuel. Kemudian
bersama-sama dengan Samuel, Daud pergi ke kota Nayot, dan tinggal
di sana.
Ketika Raja Saul tahu tempat persembunyian Daud, ia lalu mengirim
tentaranya untuk menangkap Daud. Tapi heran ... tentara-tentara
Raja Saul itu tidak pernah kembali ke tempat Raja Saul. Roh Allah
bekerja atas diri para tentara itu, sehingga tentara-tentara itu
malah bergabung dengan Samuel dan Daud di kota Nayot. Akhirnya
Raja Saul pergi sendiri ke kota Nayot untuk menangkap Daud. Tapi
Roh Allah juga menguasai Raja Saul. Ia tidak jadi menangkap Daud,
malah ikut tinggal di Nayot juga.
Kita tahu bahwa bila Roh Allah menyertai kita, maka tidak ada
suatu apa pun juga yang dapat melawan kita.
Sumber:
Pedoman Sekolah Minggu, Dra. Yulia Oeniyati, M.Th., , halaman 30 - 33.
Dari Anda Untuk AndaVersi Cetak e-BinaAnak
Dari: Esther S. < esthers@ >
>Syalom,
>Apakah tim e-BinaAnak memiliki buletin yang diterbitkan dalam
>bentuk cetak? Kalau ada, saya ingin memesan, dan apa syaratnya?
>Terima kasih!
Redaksi:
Maaf, publikasi e-BinaAnak tidak ada yang diterbitkan dalam bentuk
cetak kertas, hanya melalui media elektronik (e-mail) saja. Namun
Anda diijinkan untuk mencetaknya sendiri, asal Anda tidak mengubah
isinya dan tetap mencantumkan sumbernya dengan jelas. Nah, gitu aja,
ya... semoga jawaban kami memuaskan.
|