Salam dari Redaksi
Syalom,
Ketrampilan terakhir yang kita bahas untuk bulan ini, adalah
ketrampilan anak dalam hal "Menyanyi/Memuji Tuhan". Guru SM yang
peduli terhadap acara pujian di SM-nya pasti memiliki murid-murid
yang trampil dalam memuji Tuhan. Bukan hanya sekedar menyanyi, tapi
mereka juga dapat dengan sungguh-sungguh memuji Tuhan, bahkan mereka
bisa menjadi seorang pemimpin pujian yang handal. Rasa tertarik
anak-anak terhadap lagu-lagu pujian ditentukan oleh bagaimana sikap
guru mereka dalam memuji Tuhan. Anak akan meniru jika guru memiliki
sikap yang positif dalam memuji Tuhan. Semakin besar rasa peduli
guru terhadap acara pujian di SM, semakin besar pula rasa tertarik
anak-anak, dan akan semakin cepat pula mereka trampil dalam memuji
dan menyembah Tuhan.
Dalam edisi ini Anda dapat menyimak Artikel dan Tip yang membahas
mengenai puji-pujian. Pertama, Artikel yang berjudul "Anak Dapat
Memuji dan Menyembah Tuhan" dan yang kedua, Tips berjudul "Membuat
Acara Pujian Menjadi Menarik". Jangan sampai ketinggalan pula untuk
menyimak Bahan Mengajar minggu ini yang dapat mengajak anak-anak
"Memuji Tuhan dengan Penuh Sukacita". Demikian sajian kami minggu
ini.
Selamat memuji dan menyembah Tuhan!
Tim Redaksi
"Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN,
menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi!" (Mazmur 96:1)
ArtikelAnak Dapat Memuji dan Menyembah Tuhan
Memuji dan menyembah Tuhan bersama dengan anak adalah kehendak
Tuhan. Pada masa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru anak memuji
Tuhan. Firman Allah memberi kesaksian, bahwa dalam mulut bayi dan
anak-anak, Allah telah menaruh puji-pujian. Pujian itu diteruskan
oleh anak-anak di Bait Allah. Orang Farisi menjadi jengkel, karena
mereka berseru dalam Bait Allah: "Hosana bagi Anak Daud!" (Lihat:
Matius 21:15)
"Lalu mereka berkata kepada-Nya: "Engkau dengar apa yang
dikatakan anak-anak ini?" Kata Yesus kepada mereka:
"Aku dengar; belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi
dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-
pujian?"" (Matius 21:16)
MEMUJI KARENA KASIH
Kasih kepada Allah adalah dasar pujian dan penyembahan yang benar.
Kita diciptakan untuk mengasihi Allah. Hukum yang terutama dan yang
pertama berbunyi:
"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap
akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu
sendiri." (Lukas 10:27)
Memuji dan menyembah Allah senantiasa melibatkan seluruh eksistensi
anak. Hati yang menyembah Allah harus tulus ikhlas; Jiwa/emosi yang
menyembah Allah harus dalam kebenaran; Kekuatan/tubuh yang menyembah
Allah harus penuh gairah; Akal budi/intelek yang menyembah Allah
harus di dalam terang dan pimpinan Allah. Seluruh olah gerak dan
pola pikir manusia seharusnya merupakan ibadah kepada Allah.
(Lihat: Roma 12:1-2)
MEMUJI DAN MENYEMBAH TUHAN DI SEKOLAH MINGGU
Seluruh eksistensi manusia merupakan suatu persembahan yang hidup,
yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Meskipun demikian,
kehadiran Allah di SM/tempat pertemuan ibadah memberikan suatu
suasana khusus. Dalam suasana khusus seperti ini, anak dapat dibawa
untuk memuji dan menyembah Allah.
Dalam keseluruhan penyelenggaraan suatu kebaktian, anak dibawa untuk
memuji dan menyembah Allah. Untuk itu guru/pemimpin dapat membimbing
dan mengarahkan anak sejak awal hingga akhir kebaktian untuk
menikmati hadirat Allah. Hadirat Allah dapat dirasakan dalam ibadah
yang penuh sukacita, tertib/terpimpin, dengan nyanyian syukur dan
puji-pujian. (Lihat: Mazmur 100:1-5)
AKIBAT ANAK MEMUJI TUHAN
Hati anak disiapkan pada saat nyanyian dan pujian pertama dinaikkan,
hal-hal yang masih mengganggu dan memberatkan hati anak mulai
hilang/dilupakan. Hati setiap anak disatukan di hadirat Tuhan dan
mulai siap dan terbuka untuk Firman-Nya
Anak mengerti bahwa sesungguhnya hanya Allah yang patut disembah.
Pusat pujian dan penyembahan mereka adalah Allah yang hidup, bukan
manusia atau patung-patung dan berhala-berhala yang mati.
(Lihat: Ulangan 5:6-10)
Anak dilatih untuk menghormati ibadah dan kehadiran Allah dalam
suatu kebaktian/SM. Anak dibawa untuk mengekspresikan kasih mereka
kepada Allah dengan kata-kata doa/nyanyian.
Ada nyanyian yang menunjang pokok cerita. Dengan menyanyikan lagu
tersebut anak-anak lebih mendalami pesan Firman Tuhan yang baru
mereka dengar. Kadang-kadang sebuah nyanyian menjadi suatu doa
untuk meresponi Firman Tuhan yang diberitakan. Contohnya lagu:
"Mari Masuk"; "Terimakasih Tuhan"; dll.
Dengan pujian dan penyembahan anak dikuatkan dalam menghadapi
pengaruh lingkungan yang penuh dengan kata kotor/makian, keluhan,
olokan, ejekan, fitnah, lagu duniawi yang porno dan penuh
pemberontakan, bahkan pemujaan terhadap tokoh khayalan, seperti
Batman, Superboy, Spiderman, Robocop dll.
Nyanyian yang dipelajari di SM dapat dinyanyikan anak secara
spontan, baik di jalan, di rumah maupun di tempat bermain. Itu
menjadi kesaksian bagi orangtua, saudara-saudara, teman, dan siapa
saja yang mendengarnya. Anak pun akan benar-benar merasakan suasana
rohani dan berkat rohani, sehingga semakin mencintai Tuhan dan senang
berbakti.
CARA MENGAJAR NYANYIAN BARU
Untuk mengajar nyanyian tidak dibutuhkan suara yang bagus, melainkan
ketrampilan dan ketepatan dalam mengajar. Ada beberapa langkah yang
perlu diperhatikan dalam mengajar nyanyian:
- Menguasai lagu dan syair.
Seorang guru perlu menguasai lagu dengan irama yang tepat, juga
kata-kata dan artinya. Bila lagu itu sudah menjadi kesukaan bagi
guru, maka ia tidak akan mengalami banyak kesulitan dalam
mengajarkannya kepada anak.
- Menyanyi di depan kelas.
Sebaiknya guru mulai mengajarkan nyanyian baru dengan
menyanyikannya untuk anak. Hal menyanyi di depan kelas tidaklah
mudah. Namun dengan keyakinan dan penguasaan lagu yang benar,
guru tidak usah malu dan dapat dengan rileks menyanyikannya.
- Jelaskan kata-kata yang sulit.
Anak dengan sendirinya akan meniru dan ikut menyanyi dengan
guru, walupun belum mengerti kata-kata atau isi nyanyian itu.
Mungkin anak tidak bertanya, namun guru yang bijaksana akan
mengambil sedikit waktu sesudah nyanyian dinyanyikan satu atau
dua kali untuk menerangkan kata-kata yang sulit dan pesan dari
nyanyian itu. Misalnya kata "anak dalam malaf" dalam lagu "Malam
Kudus".
- Diulang-ulang hingga mahir.
Prinsip mengulang-ulang sangat baik dalam mengajarkan nyanyian.
Karena dengan demikian anak dapat menghafal/menguasai lagu itu
dengan baik. Untuk itu guru menyanyikan terlebih dahulu secara
lengkap, supaya anak mendapat gambaran yang menyeluruh. Kemudian
guru menyanyikan baris demi baris dan ditiru/diikuti oleh anak-
anak. Selanjutnya guru menyanyi bersama anak dengan suara lebih
keras dan pada pengulangan berikutnya suara guru lebih pelan.
Akhirnya, biarkan anak menyanyi sendiri dan guru mendengarkan
saja.
- Kesalahan diperbaiki.
Kadang-kadang dalam satu bagian lagu, not-notnya agak sulit,
sehingga dinyanyikan dengan tidak tepat. Bagian yang sulit itu
bisa diulangi dengan lebih lambat sampai dapat dinyanyikan
dengan tepat. Jangan biarkan anak pulang dengan membawa nyanyian
baru yang salah. Koreksi dan perbaikan senantiasa perlu,
sehingga lagu yang dipelajari dapat dinyanyikan sebagaimana
seharusnya. Hal ini membutuhkan kesabaran.
- Menyanyi dengan gerakan.
Di kalangan anak-anak prinsip meniru dapat diterapkan dan sangat
disenangi. Menyanyi dengan gerakan akan lebih menghidupkan makna
lagu itu bagi anak, hal ini sesuai dengan perkembangan fisik dan
emosi mereka.
- Menguasai irama/ketukan.
Ada lagu yang berirama mars, walts, dll., atau lebih dikenal
dengan ketukan 2/2, 3/4, 4/4, 6/4, 6/8. Bila guru kurang paham
dengan irama-irama tertentu, dapat bertanya kepada orang yang
lebih mahir.
- Suara.
Jangan mengijinkan anak menyanyi dengan suara terlalu nyaring
atau dipaksakan. Tolonglah anak untuk dapat menghayati isi
nyanyian dan menyanyi dengan menjiwainya.
- Teks ditulis.
Mengajar nyanyian lebih mudah jikalau teks lagunya ditulis.
Teks lagu dapat ditulis pada papan tulis/white board, kertas
manila, kertas sampul, lembaran OHP, dll.
- Teks ditulis dan dihias dengan simbol/gambar.
Ada lagu yang mempunyai kata-kata yang bisa dilukis dalam bentuk
simbol atau gambar, sehingga memberi kesan yang lebih dalam
daripada jika hanya ditulis dengan huruf saja.
- Variasi dalam pilihan.
Seorang guru SM harus memilih nyanyian-nyanyian yang hendak
dinyanyikan dalam sepanjang kebaktian. Pada permulaan kebaktian
biasanya guru memilih lagu yang semangat dan segar. Kemudian
lagu yang lebih "slow" untuk mengantar anak dalam suasana
penyembahan yang penuh hikmat dan siap untuk mendengar ceritera.
Sesudah ceritera disampaikan, dipilih nyanyian untuk memperdalam
ceritera atau nyanyian yang memberi kesimpulan untuk berespons.
- Selektif dalam memilih nyanyian.
Ada banyak nyanyian yang bagus, baik dan dapat dipertanggung-
jawabkan secara teologis serta edukatif. Namun ada juga lagu
yang tidak mempunyai dasar teologis dan tidak mendidik. Misalnya
lagu dengan teks:
"Hei, hei, hei lihat saya, saya pakai mahkota.
Mahkota dari sorga, karena rajin ke gereja."
Nyanyian ini selain berisi pujian kepada diri sendiri, juga
tidak benar secara teologis. Mahkota dijanjikan bukan kepada
orang yang rajin ke gereja (SM), melainkan kepada mereka yang
percaya kepada Tuhan Yesus dan setia sampai mati.
KESIMPULAN
Menyanyi dan menyembah Tuhan bersama anak berarti memuliakan Tuhan.
Mengajarkan nyanyian kepada anak dan mengembangkan ketrampilan
mereka dalam memuji Tuhan adalah suatu tugas yang mulia, dan
menambah kesukaan dalam proses belajar mengajar di SM. Karena
nyanyian pujian adalah milik Tuhan, maka bagi Dialah pujian untuk
selama-lamanya. Amin!
Sumber: Pedoman Pelayanan Anak 2, Ruth Lautfer & Anni Dyck, , halaman 95 - 102, Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, Malang, 1993.
Tips MengajarMembuat Acara Pujian Menjadi Menarik
Redaksi:
Ketrampilan anak dalam memuji Tuhan diawali dengan ketertarikan
mereka akan lagu-lagu pujian. Jika mereka tidak tertarik dengan
lagu-lagi pujian, kemungkinan mereka juga tidak dapat mengembangkan
ketrampilan mereka dalam hal memuji Tuhan secara maksimal.
Salah satu cara agar anak tertarik dengan lagu-lagu pujian adalah
dengan menciptakan acara pujian menjadi acara yang menyenangkan dan
penuh sukacita. Seorang guru SM jangan hanya puas jika anak-anak
bernyanyi dengan suara yang keras dan bertepuk tangan dengan penuh
semangat. Kita harus waspada, mungkin mereka berbuat itu hanya untuk
memberikan kesan baik kepada Anda, bukan karena mereka suka dengan
lagu-lagu yang dibawakan. Jika setiap minggu Anda secara monoton
hanya meminta anak-anak bernyanyi dengan suara keras, tepuk tangan
yang keras, dan dengan gerakan yang itu-itu saja, bisa jadi acara
pujian akan menjadi acara yang paling membosankan bagi mereka.
Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk membuat suasana pujian
menjadi menarik tetapi tetap penuh dengan pengajaran Kristen.
Berikut ini kami ambilkan ide dari Paulus Lie, dalam bukunya
"Mengajar Sekolah Minggu yang Kreatif".
MEMBUAT ACARA PUJIAN MENJADI MENARIK
- Kreasi permainan sederhana.
Kreasi ini dilakukan dengan membuat suatu permainan dalam suatu
pujian. Melalui permainan ini, selain suasana pujian berubah
menjadi menarik, anak-anak juga akan lebih memahami makna dari
teks atau syair lagu yang dinyanyikan.
Contoh: Permainan Gembala Mencari Domba yang Hilang
Minta seorang anak berperan sebagai seorang gembala. Tutup
matanya dengan sapu tangan. Pilih satu anak lagi untuk berperan
sebagai domba yang hilang tanpa sepengetahuan gembala tadi.
Si domba yang hilang tetap duduk di antara anak-anak lain.
Setelah itu buka penutup mata si gembala.
Sekarang saatnya si gembala harus mencari di manakah (siapakah)
domba yang hilang tersebut. Sistem pencariannya adalah sbb.:
Satu lagu sembarang dinyanyikan bersama (misalnya lagu "Dengar
Dia Panggil Nama Saya"). Lagu tersebut harus dinyanyikan semua
anak dengan ketentuan:
- Apabila gembala makin mendekati domba yang hilang anak-anak
harus semakin bernyanyi dengan volume suara dan tepuk tangan
yang keras. Jadi semakin dekat harus semakin keras.
Sebaliknya, volume suara dan tepuk tangan haruslah semakin
pelan jika gembala semakin jauh dari domba.
- Pada saat anak bersuara dengan volume yang paling maksimal,
saat itulah gembala berada sangat dekat dengan domba yang
hilang dan dapat segera menebak siapakah domba yang hilang
itu. Beri kesempatan kepada gembala untuk menebak tiga kali.
Kreasi ini akan membuat anak-anak bernyanyi dengan penuh
sukacita. Jangan lupa, kita perlu menekankan makna perumpamaan
domba yang hilang dan kesetiaan Sang Gembala Agung, Yesus
Kristus, yang terus mencari domba-domba yang hilang.
- Kreasi gerak.
Lagu dinyanyikan sambil melakukan gerakan yang sesuai dengan isi
teks lagunya. Misalnya lagu "King Kong Badannya Besar".
- Kreasi tepuk tangan.
Cepat-lambatnya, keras-lembutnya tepuk tangan dapat diatur dan
divariasi sedemikian rupa, sehingga menghasilkan suasana pujian
yang menarik. Anda dapat menggunakan kreasi "Gembala Mencari
Domba yang Hilang" (yang sudah dijelaskan sebelumnya).
- Kreasi olah vokal.
Keras-lembutnya lagu dapat diatur sedemikian rupa, sehingga
menghasilkan suasana yang menarik dan penuh sukacita. Contohnya:
kreasi "Gembala Mencari Domba yang Hilang".
- Kreasi lagu untuk ayat hafalan.
Agar suasana saat menghafalkan ayat menjadi menarik, salah satu
cara yang dapat dilakukan yaitu dengan mengemasnya dalam satu
kreasi lagu.
Contoh: Aku Anak Raja
Lagu: Aku anak Raja, Engkau anak Raja, kita semua anak Raja. (2x)
Halleluya, puji Tuhan (3x), halleluya.
Halleluya, puji Tuhan (3x), halleluya.
Buatlah sebuah mahkota. Nyanyikan lagu di atas sambil mengedarkan
mahkota tersebut dari anak satu ke anak lainnya (setiap anak
memakaikan mahkota tsb. kepada teman di sampingnya). Pada akhir
lagu, siapa yang mendapatkan mahkota harus maju dan membaca
keras-keras ayat hafalan yang sudah ditentukan minggu lalu.
Kreasi ini bermanfaat bagi anak-anak, sekaligus memacu mereka
untuk lebih giat menghafalkan ayat.
- Kreasi penyajian dengan alat bantu.
Alat bantu yang dapat digunakan antara lain:
- Sistem karaoke dengan kaset karaoke (anak-anak tinggal
menyanyi mengikuti iringan kaset).
- Alat peraga untuk menuliskan syair dari lagu tersebut.
- Boneka tangan.
Kreasi yang sudah dibahas di atas dapat Anda kembangkan sendiri.
Lagu-lagu yang digunakan pun dapat Anda ganti dengan lagu yang lain.
Tidak harus menggunakan lagu yang sudah dijadikan contoh di atas.
Selamat berkreasi!
Sumber: Mengajar Sekolah Minggu yang Kreatif, Paulus Lie, , halaman 2 - 5 dan 13, Yayasan Andi, Yogyakarta, 1997.
Bahan MengajarMemuji Tuhan dengan Penuh Sukacita
Persiapan:
Mintalah salah seorang pemain gitar untuk memainkan gitarnya dengan
suara sumbang untuk mengiringi dua anak yang sedang menyanyikan
"Memuji Tuhan Selalu".
Pembacaan Alkitab:
Mazmur 100:1-4.
Penyampaian:
Kita akan mendengarkan sebuah lagu spesial; dengarkanlah baik-baik.
[Mintalah dua anak menyanyikan "Memuji Tuhan Selalu" diiringi gitar
yang sumbang yang dibunyikan keras-keras.]
Bagaimana pendapat kalian tentang lagu spesial ini? Apakah ada
sesuatu yang tidak beres?
Gitar ini seperti hidup kita. Kita tak dapat menyanyikan lagu-lagu
penyembahan kepada Yesus apabila ada sesuatu yang sumbang atau ada
dosa dalam hidup kita. Lagu yang baru saja kita dengarkan itu akan
dapat lebih dinikmati apabila kesalahannya dibetulkan. Si "A", coba
setem gitarmu. Sekarang mari kita dengar betapa jauh lebih baik
nyanyian itu apabila tidak ada yang sumbang lagi.
[Nyanyikan lagu pujian "Memuji Tuhan Selalu" dengan gitar yang sudah
disetem dan tidak sumbang lagi.]
Kedengaran lebih baik, bukan?
Marilah kita baca bersama Mazmur 100:4.
Bangsa Israel pergi ke gereja yang kelihatannya berbeda sekali
dengan gereja yang kalian datangi. Umat Allah masuk melalui pintu
gerbang ke pelataran-Nya untuk menyembah Tuhan. Hanya Imam Besar
sajalah yang dapat berbicara dengan Tuhan. Tetapi sekarang, melalui
Yesus Kristus, kita dapat berdoa dan bercakap-cakap langsung kepada
Allah di gereja atau ketika kita berada di rumah.
Allah meminta supaya kita masuk ke pintu gerbang-Nya dengan nyanyian
syukur dan ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian. Dengan kata
lain, kita tidak hanya hidup penuh sukacita di rumah saja, tetapi
juga sewaktu datang ke rumah-Nya kita harus penuh sukacita dan
syukur.
Allah sangat berkenan dengan sukacita kita.
Pernahkah secara tiba-tiba ibu menyuruh kalian melakukan sesuatu
untuk menolongnya pada saat kalian sedang merasa gembira dan bermain
dengan sahabatmu? Sering terjadi kita malah membantah bu kita,
sampai dia terpaksa berbicara dengan tegas, "Jika kau tak mau
melakukannya, kau akan dihukum!" Akhirnya kalian melakukan apa yang
disuruh ibu, tetapi wajah kalian terlihat begitu buruk, lubuk hatimu
terasa kekeringan dan ketidaksenangan. Kalau saja kalian sejenak
meninggalkan kegiatan kalian dan melakukan dengan senang hati apa
yang ibu kalian suruh, pasti semuanya akan merasa lebih senang.
Sumber: Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 2, , halaman 68, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1996.
Dari Anda Untuk AndaTerima Kasih untuk Kiriman e-BinaAnak
Dari: Yuniar Ananda W. <yuniar@>
>Terima kasih atas kiriman e-BA yang sudah dikirimkan pada saya.
>Kiranya pelayanan ini dapat semakin diberkati dan dipakai lebih
>luarbiasa lagi.
>Salam kasih,
>Yuni
Redaksi:
'Ma kasih banyak atas dukungannya, ya ... :) Kami berdoa agar Tuhan
memakai pelayanan kami ini untuk memberikan semangat yang baru
terus-menerus kepada guru-guru Sekolah Minggu yang melayani anak-
anak Tuhan di mana pun mereka ada.
Bagi Anda yang ingin agar lebih banyak lagi guru-guru SM mendapat
berkat dari e-BinaAnak, ajaklah mereka untuk ikut bergabung dan
mendaftarkan diri dengan mengirimkan alamat e-mail mereka kepada
kami. Kami akan daftarkan mereka menjadi pelanggan tetap e-BinaAnak.
|