Salam dari Redaksi
Salam sejahtera
Untuk sajian PASKAH (3), kami telah menyiapkan beberapa bahan
mengajar menarik, dengan menggunakan metode alat peraga, yang dapat
dipakai guru SM untuk mengajarkan beberapa konsep yang berhubungan
erat dengan PASKAH, yaitu: kematian dan dosa. Gunakanlah kesempatan
PASKAH ini untuk sekali lagi menanamkan benih kebenaran Firman Tuhan
yang paling indah, yaitu tentang dosa dan kematian yang telah
dikalahkan oleh Tuhan Yesus ketika Ia ada di atas kayu salib.
Untuk melengkapinya kami juga telah menyediakan artikel tentang
"Alat Peraga" dengan harapan agar guru-guru SM dapat belajar lebih
banyak tentang manfaat menggunakan alat peraga.
Demikianlah sajian kami minggu ini, dan kami ucapkan selamat
mengajar.
Tim Redaksi
"Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh kasih-Nya yang besar,
yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah MENGHIDUPKAN kita bersama-
sama dengan Kristus, sekalipun kita telah MATI oleh kesalahan-
kesalahan kita -- oleh kasih karunia kamu diselamatkan."
(Efesus 2:4-5)
ArtikelMengajar dengan Menggunakan Alat Peraga
MENGAPA MENGAJAR DENGAN ALAT PERAGA?
Media mengajar yang paling dikenal di pelayanan anak sering disebut
dengan istilah singkat, alat peraga. Media alat peraga dan benda
sering disebut sebagai alat modern, karena kesadaran mengenai
pentingnya memakai media mengajar dalam pelayanan anak masih baru.
Melalui pemakaian alat peraga dan peraga benda, imajinasi anak
dirangsang, perasaannya disentuh dan kesan yang dalam diperoleh.
Melaluinya anak belajar dengan semangat dan dapat mengingat dengan
baik.
Dalam mengajar, panca indera dan seluruh kesanggupan seorang anak
perlu dirangsang, digunakan dan dilibatkan, sehingga ia tak hanya
mengetahui, melainkan dapat memakai dan melakukan apa yang
dipelajari. Panca indera yang paling umum dipakai dalam mengajar
adalah mendengar. Melalui mendengar, anak mengikuti peristiwa demi
peristiwa dan ikut merasakan apa yang disampaikan. Seolah-olah
telinga mendapat mata. Anak melihat sesuatu dari apa yang
diceritakan. Namun ilmu pendidikan berpendapat, bahwa hanya 20% dari
apa yang didengar dapat diingat kemudian hari. Kesan yang lebih
dalam dapat dihasilkan jikalau apa yang diceritakan "dilihat"
melalui sebuah gambar. Dengan demikian melalui mendegar dan melihat
akan diperoleh kesan yang jauh lebih dalam. Media mengajar (alat
peraga dan peraga benda) seperti: gambar, peta, papan tulis, boks
pasir, dll. dapat menolong anak untuk mengingat dengan lebih baik,
yaitu mampu mengingat 50% dari apa yang didengar dan dilihatnya.
Dari uraian di atas kita dapat mengetahui bahwa alat peraga penting
untuk menimbulkan perhatian, memberi pengertian yang lebih mudah,
memelihara perhatian, dan membantu ingatan.
KESEIMBANGAN DALAM MEMAKAI ALAT PERAGA
Pemakaian alat peraga merangsang imajinasi anak dan memberikan
kesan yang dalam! Meskipun begitu, alat peraga dan peraga benda
perlu dipakai secara seimbang. Misalnya, pada satu pelajaran ayat
hafalan diajar dengan menggunakan alat peraga. Pada kesempatan lain
permulaan cerita mendapat perhatian yang khusus, dan pada pelajaran
lainnya lagi, seluruh cerita diperagakan. Melalui cara ini setiap
hari Minggu anak memperoleh "sesuatu yang khusus". Hal ini membangun
rasa ingin tahu anak dari minggu ke minggu.
Dalam memilih alat peraga, guru perlu waspada, sehingga tidak
memakai:
- Media mengajar yang terlalu kecil, sehingga anak sulit melihat,
dan menjadi ribut.
- Gambar yang terlalu asing pada perasaan anak, umpamanya gambar
tertentu dari luar negeri yang kurang cocok di Indonesia.
Perasaan aneh atau lucu tidak menguntungkan dalam proses belajar
mengajar ini.
Karena itu guru sebaiknya memakai alat peraga yang tepat dan bermutu
sebagai alat bantu mengajar.
JENIS-JENIS ALAT PERAGA DAN CARA MEMAKAINYA
Berikut ini akan kami uraikan beberapa contoh jenis-jenis alat
peraga yang dapat digunakan GSM dalam mengajar.
- Gambar
Gambar adalah suatu bentuk alat peraga yang nampaknya paling
dikenal dan paling sering dipakai, karena gambar disenangi oleh
anak berbagai umur, diperoleh dalam keadaan siap pakai, dan tidak
menyita waktu persiapan. Sebelum digunakan, harus diketahui dulu
cara pemakaiannya. Jika akan digunakan untuk mengulangi cerita
minggu lalu, gambar harus dipasang sebelum anak datang. Bila
gambar akan digunakan pada saat guru bercerita, tempelkan gambar
pada saat peristiwa yang dilukis dalam gambar disampaikan. Kalau
gambar digunakan untuk memperdalam cerita, pasanglah di dinding
sesudah bercerita.
- Peta
Murid-murid harus tahu dengan baik tentang ilmu bumi dan sejarah
Alkitab. Peta bisa menolong mereka mempelajari bentuk dan letak
negara-negara dan kota-kota yang disebut di Alkitab. Satu hal
yang harus diperhatikan, penggunaan peta sebagai alat peraga
hanya cocok bagi Anak Besar/Kelas Besar. Cara pemakaiannya adalah
peta dipasang pada dinding sebelum anak masuk ke kelas sehingga
guru dengan bebas dapat menunjukkan tempat yang disebut pada
waktu menyampaikan cerita. Paling sedikit empat peta yang
dibutuhkan oleh GSM, yaitu:
- Mesopotamia dan Kanaan pada masa Abraham.
- Pembagian tanah Kanaan pada keduabelas suku.
- Palestina pada masa Tuhan Yesus.
- Asia Kecil dan Eropa pada masa pelayanan Paulus.
- Papan Tulis
Peranan papan tulis tidak kalah pentingnya sebagai sarana
mengajar. Papan tulis dapat diterima di mana-mana sebagai alat
peraga yang sangat efektif. Tidak perlu menjadi seorang seniman
untuk memakai papan tulis. Kalimat yang pendek, beberapa gambaran
orang yang sederhana sekali, sebuah lingkaran, atau empat persegi
panjang dapat menggambarkan orang, kota atau kejadian. Yang perlu
diperhatikan dalam memakai papan tulis adalah hindarkan detil
yang terlalu banyak, jangan menghalangi pemandangan, bicaralah
sambil menulis tapi jangan berbicara kepada papan tulis, dan
pakailah bagan atau grafik bilamana mungkin.
- Boks Pasir
Anak Kelas Kecil dan Kelas Tengah sangat menggemari peragaan yang
menggunakan boks pasir. Boks pasir dapat dipakai untuk
menciptakan "peta" bagi mereka khususnya bagi Kelas Tengah karena
pada umur tersebut mereka sudah mengetahui jarak dari desa ke
desa. Melalui boks pasir dapat dibentuk gunung dan lembah danau
(memakai kaca), sungai yang mengalir (dari kain atau kertas
biru), orang-orangan (dibuat dari kertas manila), pohon dan
tumbuhan (gunakan daun, tumbuhan kecil).
Mengajar dengan memakai alat peraga lebih banyak menuntut guru.
Banyak waktu yang diperlukan untuk persiapan, juga perlu kesediaan
berkorban secara materiil. Tetapi dengan memakai alat peraga secara
tepat, guru akan menanamkan kesan yang jauh lebih dalam, yang
mungkin akan mempengaruhi seluruh kehidupan dari anak yang diajar.
Sumber: Pedoman Pelayan Anak, Ruth Lautfer, , halaman 134 - 150, Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, Malang, 1993. Penuntun Sekolah Minggu, J. Reginald Hill, , halaman 69 - 88, Yayasan Komunikasi Bina Kasih. Teaching Techniques, Clarence H. Benson, , halaman 44 - 48, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1986.
Bahan MengajarMengajar Anak Tentang Kematian
[[Redaksi: Inti kisah PASKAH adalah tentang kemenangan Kristus atas
kematian yang Ia nyatakan di atas kayu salib. Tapi mengajarkan
tentang "kematian" bukanlah hal yang mudah, karena anak-anak pada
umumnya masih memiliki konsep yang kabur tentang kematian. Lalu
bagaimana mengajarkan hal ini kepada anak-anak kecil? Berikut ini
kami sajikan contoh bahan mengajar dengan menggunakan metode alat
peraga yang dapat dipakai untuk mengajarkan tentang kematian.]]
Sebenarnya ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengajar
anak kecil tentang arti PASKAH. Konsep kematian yang masih kabur
bagi mereka dapat kita jelaskan dengan menggunakan cerita, ilustrasi
atau peragaan. Selain itu penting juga diusahakan untuk memakai
bahasa verbal maupun isyarat sederhana yang dapat dimengerti oleh
anak-anak.
Pertama, diperlukan waktu kira-kira satu atau dua minggu sebelum
PASKAH untuk membuat alat peraganya. Tujuan alat peraga ini adalah
memberi pengalaman kepada anak-anak tentang dua bagian hidup yang
penting yaitu: kehidupan dan kematian. Caranya adalah dengan
memperlihatkan daur hidup tanaman. Biarkan anak mengamati benih yang
sedang tumbuh (bisa memakai benih kacang hijau yang disemai) selama
beberapa hari sampai benih itu memperlihatkan tunas daun. Ini untuk
menunjukkan kepada anak tentang kehidupan. Sesuatu yang hidup pasti
bertumbuh menjadi lebih besar.
Tentang kematian bisa ditunjukkan dengan alat peraga lain, misalnya
bunga yang sudah layu dan mati. Atau dengan mendiskusikan tentang
binatang peliharaan yang pernah mereka miliki tapi sekarang sudah
tidak ada karena sudah mati. Hal ini sangat bermanfaat karena akan
menuntun anak pada pengertian tentang kematian jasmani.
Sama seperti bagian kehidupan lainnya, anak biasanya belajar dari
sikap orang dewasa. Jika orangtua mendiskusikan tentang kematian
dengan perasaan takut dan cemas maka hal ini akan membangkitkan
perasaan yang sama dalam diri anak. Tapi jika orangtua berbicara
tentang kematian dengan tenang kepada anak-anak, dan berani menjawab
pertanyaan dengan jujur, maka anak juga akan dapat menerimanya
sebagai proses yang wajar.
Percakapan tentang perpisahan dapat menolong anak mengerti, tapi
kalau disampaikan dengan cara yang tidak benar, maka dapat
mengakibatkan anak menjadi takut akan kepedihan yang biasanya
menyelubungi kematian. Semua anak pernah mengalami kepedihan akibat
perpisahan sementara dengan orangtuanya. Dengan demikian mareka
dapat mulai memahami mengapa orang seringkali sedih ketika seseorang
meninggal dunia.
Ketika berbicara tentang reaksi murid-murid Tuhan Yesus saat Dia
disalibkan, guru dapat menjelaskan kepada mereka, "Murid-murid Yesus
amat sedih ketika Yesus mati karena mereka mengira tidak akan pernah
melihat-Nya lagi. Beberapa di antara mereka bahkan menangis, karena
mereka amat mengasihi-Nya. Dapatkah kamu membayangkan betapa
bahagianya mereka ketika mendapati Yesus tidak mati lagi! Mereka
pasti gembira, saling berpelukan, dan memberitahu semua murid yang
lain bahwa Yesus tidak mati. Dia hidup! Yesus hidup!"
Selama PASKAH, fakta sederhana mengenai kisah penyaliban dapat
diceritakan, namun hindarilah aspek-aspek yang mengerikan. Anak
kecil seringkali sangat emosional jika mendengar penuturan detail
tentang cara bagaimana Yesus mati. Sebaliknya tekankanlah sukacita
yang kita rasakan karena Yesus hidup.
Anda dapat menyarankan agar anak menggambar atau mewarnai sebuah
gambar setelah mendengar kisah kebangkitan Yesus. Pengalaman seni
ini dapat menjadi sarana untuk memahami apa yang penting dari sudut
pandang anak dalam mengetahui kisah itu. Setelah selesai, bicarakan
dengan anak tentang karya seni yang telah dibuatnya. Dengan cara ini
kita dapat mengetahui jika anak memiliki perasaan yang negatif dan
menakutkan terhadap kisah tersebut atau tentang kematian.
Setelah mendengar cerita kebangkitan, seorang anak mungkin bertanya,
"Di mana Yesus sekarang?"
"Yesus bersama kita" merupakan jawaban yang menolong. Jika anak itu
kemudian bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi, jelaskan, "Yesus
adalah anak Allah. Dia berjanji untuk selalu bersama dengan mereka
yang mengasihi-Nya."
"Yesus berada di surga" merupakan jawaban lain yang mudah diterima
anak. Meskipun demikian, reaksi atas informasi ini tergantung pada
konsep anak tentang surga dan Allah. Jika anak memahami surga
sebagai tempat yang menyenangkan di mana Allah dan Yesus tinggal,
dan di sana tak ada rasa sakit dan kesedihan, perasaan anak itu akan
cenderung positif.
Jika anak itu bingung, bisa saja muncul pertanyaan bagaimana Yesus
dapat berada di surga dan bersama kita pada saat bersamaan, atau
bagaimana Dia dapat bersama-sama dengan banyak orang di berbagai
tempat yang berbeda, katakan, "Saya tidak tahu bagaimana Yesus dapat
melakukan hal itu. Tapi karena Dia Anak Allah, Dia dapat melakukan
hal-hal yang tidak dapat kita lakukan. Ini menunjukkan betapa
menakjubkannya Dia."
Sumber: Mengenalkan Allah Kepada Anak (Terjemahan dari Teaching Your Child About God), Wes Haystead, , halaman 129 - 131, Yayasan Gloria, Yogyakarta, 1996.
Bahan MengajarSimulasi Balon Dosa dan Yesus
[[Redaksi: Dosa dan penebusannya harus diajarkan kepada anak sejak
masih dini. Banyak cara yang dapat digunakan untuk mengajar anak
tentang: dosa, berdosa dan penebusan. Berikut ini satu metode dengan
menggunakan alat peraga yang dapat dipakai GSM untuk mengajar anak
mengenai dosa.]]
Tujuan:
Anak memahami dosa sebagai sikap manusia yang memberontak kepada
Allah. Sikap yang tidak mau tunduk kepada Allah dan tidak mau
berkelakuan dengan cara hidup yang Allah inginkan adalah sikap
hidup yang tidak baik. Akibat dari dosa adalah manusia terikat dan
terbeban dengan berbagai derita, dan upah dosa adalah maut. Yesus
menebus dosa manusia dengan menanggungnya di atas kayu salib, dan Ia
mau menerima dan mengampuni orang yang berdosa sebagai anak-anak-
Nya.
Penerapan:
- Guru menyiapkan banyak balon yang sudah ditiup. Guru juga
menuliskan segala macam bentuk perbuatan yang tidak baik,
misalnya: menipu, mencuri, omong kotor, menyontek, dan sebagaiya.
Contoh boleh sebanyak mungkin (sejumlah balon yang tersedia), dan
masing-masing tulisan itu ditulis atau ditempelkan pada
balon-balon tersebut, masing-masing balon cukup satu kata.
- Mintalah seorang anak untuk maju ke depan kelas, namakan ia si
"Suci" (beri tulisan besar "si Suci" di dadanya). Buatlah cerita
sederhana tentang si Suci yang melakukan hal-hal yang berdosa,
misalnya: "Si Suci melihat ada dompet milik temannya, karena
tergiur ia kemudian mencuri dompet itu".
- Lalu guru menanggalkan tulisan "si Suci" diganti "Orang Berdosa".
Sambil meminta anak itu mengangkat balon yang bertuliskan
"mencuri", mintalah anak itu bergaya seolah-olah balon yang
diangkatnya itu sangat berat. Tanyakan kepadanya bagaimana
perasaan seorang pencuri? Takut kalau tertangkap, perasaan itu
menghantuinya setiap hari, sehingga ia merasa hidupnya sangat
gelisah. Teruskan cerita seperti itu, dengan memberi contoh
konkret soal dosa: berbohong, menolak Allah (misalnya tidak
percaya Allah, tidak mau berdoa), memukul orang lain yang tidak
bersalah, dan sebagainya. Sekarang si pemeran "orang berdosa"
semakin berat bebannya sehingga ia jatuh, karena tidak kuat lagi.
Jelaskan, inilah akibat dosa, membuat manusia susah sendiri,
hidup tidak senang, dulu ketika ia "suci" ia tidak berbeban
berat, hidupnya ringan.
- Kemudian mintalah satu anak lain lagi berperan sebagai Yesus,
beri tulisan di dada anak tersebut "Juruselamat" atau "Penebus
dosa". Si pemeran Yesus kasihan melihat anak yang membawa beban
dosa, dan "Yesus" mengangkat beban-beban itu, sehingga sekarang
dosa itu dipikul Yesus, dan si pemeran Yesus meletuskan
balon-balon tersebut (dengan alat peletus balon). Setelah itu, Yesus
mengganti tulisan "Orang Berdosa" dengan "Anak Tuhan!" Dan
pemeran Yesus menggandeng tangan orang tersebut berjalan-jalan
di sekeliling kelas.
Simulasi di atas mengajak anak memahami bahwa berbuat dosa telah
mengakibatkan hidup kita celaka, menderita, dan dihantui rasa
bersalah. Yesus datang mengampuni dosa kita, karena Ia telah
mengalahkan dosa, dan Ia juga menuntun anak-anak yang mau percaya
kepada-Nya.
Sumber: Teknik Kreatif dan Terpadu dalam Mengajar Sekolah Minggu, Paulus Lie, , halaman 113 - 114, Yayasan Andi, Yogyakarta, 1999.
Bahan MengajarKejatuhan Manusia dalam Dosa
[[Redaksi: GSM terkadang bingung bagaimana mengajar ASM mengenai
dosa secara lebih terperinci. Alat peraga dapat membantu guru untuk
menjelaskan lebih dalam mengenai kejatuhan dosa manusia. Anak
biasanya akan lebih memperhatikan pengajaran guru yang menggunakan
alat peraga daripada guru yang hanya sekedar berkata-kata saja.
Berikut ini satu contoh cara mengajarkan mengenai dosa dengan
menggunakan alat peraga yang sederhana.]]
Objek:
Dua telur dan dua gelas.
Konsep:
Kejatuhan manusia ke dalam dosa menghancurkan gambaran Allah di
dalam manusia tersebut, tetapi meskipun demikian gambaran Allah yang
sudah rusak itu masih tetap ada.
Teks:
"Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan
manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru
yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang
benar menurut gambar Khaliknya" (Kolose 3:9-10)
Pelaksanaan:
Apakah ketika sarapan kalian pernah memakan sebuah telur ayam?
(Angkat telur yang ada di tangan anda.)
Banyak orang menggunakan telur untuk sarapan pagi mereka. Ada yang
dibuat telur rebus, ada yang telur mata sapi, ada yang telur dadar.
Tetapi sebelum kamu dapat memakannya kamu perlu memecahkan telur itu
terlebih dahulu.
(Angkat gelas di tangan yang lain dan tunjukkan keduanya yaitu telur
dan gelas kepada pendengar.)
Sekarang jika saya mengambil telur dan menjatuhkannya ke dalam
gelas, itu akan kelihatan berbeda. Bukankah begitu? Selain tidak
mudah untuk dipegang lagi, telur yang sudah pecah itu tidak akan
mendapatkan kulit telur yang mulus seperti semula, melainkan sudah
tercampur aduk.
(Jatuhkan telur dari tempat yang tingginya kira-kira 1.5 meter dan
lihat hasilnya.)
Telur itu kadang-kadang sama seperti kita, anak-anak. Tahukah kamu
pada waktu Allah menjadikan Adam dan Hawa, Ia membuatnya bagus,
sempurna, dan segambar dengan Allah. Allah membuat manusia seperti
diri-Nya -- untuk mengasihi, dan mengerjakan yang baik dan benar.
Kemudian dosa datang. Adam, bapak dari semua manusia, jatuh dalam
dosa karena tidak menaati Allah. Manusia sama dengan telur yang
jatuh ke dalam gelas tadi. Dan semua anak Adam, cucu Adam serta
semua keturunan Adam yang hidup sampai saat ini (termasuk kalian dan
saya) adalah orang berdosa. Kehidupan manusia semuanya menjadi kacau
balau. Gambaran Allah yang sempurna di dalam kita telah hancur, sama
seperti telur yang pecah di dalam gelas itu.
Tetapi ketika kamu melihat ke dalam gelas saya (perhatikan hal itu
kepada pendengar) kamu tetap dapat melihat bahwa saya mempunyai
sebuah telur di sini. Tapi telur itu telah kacau balau, tetapi dia
tetap sebutir telur. Demikian juga manusia tetap ciptaan Allah,
meskipun dia telah jatuh di dalam dosa.
Karena Allah mengasihi kita, maka Allah mengirimkan Anak-Nya, Tuhan
Yesus, untuk menyelamatkan kita. Dia memberikan kepada kita hati
yang baru sehingga kita dapat mengasihi Allah. Dibutuhkan mujizat
untuk menyatukan kembali telur yang sudah pecah itu, bukankah
begitu? Dibutuhkan mujizat untuk menyempurnakan kembali kehidupan
yang sudah hancur. Mujizat itu hanya bisa didapatkan di dalam "Kasih
Yesus". (Guru menunjukkan telur yang masih utuh dalam gelas yang
lain.)
Sumber: Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 2, , halaman 193 - 194, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1996.
Permainan AnakManakah Anak Tuhan yang Asli?
Persiapan:
1. Pilihlah satu lagu yang mengisahkan tentang "anak Tuhan"
(misalnya lagu: Anak Tuhan Jadilah Terang), atau lagu yang
mengisahkan tentang "salib" (misalnya lagu: Yesus Disalibkan
Karena Cinta-Nya). Kemudian ajaklah semua anak menyanyikan lagu
tersebut pada awal acara.
2. Siapkan juga dua buah salib kecil.
Pelaksanaan:
- Bentuklah 2 buah kelompok (kita sebut kelompok A dan kelompok B),
berikanlah satu salib pada masing-masing kelompok. Setiap
kelompok harus menentukan siapakah dari anggotanya yang akan
membawa salib tersebut, tetapi haruslah dirahasiakan dari
kelompok lawannya. Anak yang memegang kalung salib ini berperan
sebagai anak Tuhan yang asli. Untuk merahasiakan siapa yang
memegang salib tersebut, tiap kelompok dapat meminta anggotanya
meletakkan kedua tangan mereka ke belakang punggung mereka
sehingga kelompok lawan sulit menebak siapa yang memegang salib
tersebut.
- Kesempatan pertama kita berikan kepada kelompok A untuk menebak
siapakah dari anggota kelompok B yang memegang salib itu? Setelah
A menebak, giliran B harus menebak siapa dari anggota kelompok A
yang memegang salib. jadi kedua kelompok harus terampil
menyembunyikan rahasia.
- Ajaklah semua anak menyanyikan lagu tersebut satu kali. Lalu di
akhir pujian, kedua kelompok harus mempersiapkan salah satu
anggotanya untuk memegang salib, dan permainan pun mulai
berjalan. Mintalah kedua kelompok menyatakan tebakannya, catat
regu yang berhasil menebak, kemudian ulangi permainan dengan
menyanyikan lagi lagu ini. Regu manakah yang menang, regu A atau
regu B?
- Jelaskan kepada anak, kita wajib mempunyai Yesus dalam hati kita.
Kalau di dalam hidup kita tidak ada Yesus, kita bukanlah anak
Tuhan yang asli. Agar kita memiliki Yesus kita harus menjadi
murid-Nya, taat kepada-Nya, serta senantiasa berdoa pada-Nya.
Sumber: Teknik Kreatif dan Terpadu dalam Mengajar Sekolah Minggu, Paulus Lie, , halaman 26 - 27, Yayasan Andi, Yogyakarta, 1999.
Stop PressArsip e-BinaAnak di SABDA.org
Sekarang anda dapat mengakses daftar arsip e-BinaAnak yang telah
terbit di Sistem Arsip dan Publikasi Elektronik SABDA.org melalui
alamat URL berikut ini:
==> http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/arsip/
atau anda dapat langsung melihat/membaca edisi-edisi e-BinaAnak yang
diinginkan melalui alamat URL seperti ini:
==>
http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/ ### /
[### = nomor edisi e-BinaAnak yang anda inginkan; mis. /001/ ]
Beberapa waktu yang lalu terjadi kesalahan teknis sehingga semua
link dalam arsip tersebut tidak dapat diakses langsung dengan benar.
Maaf. Baru saat ini kesalahan teknis tersebut telah diperbaiki!
Dari Anda Untuk Anda
Dari: stone obet
Salam dalam kasih Kristus.
>Terima kasih atas artikel-artikelnya dalam pengembangan sekolah
>minggu kita. Saya mengajar SM di GKI Bajem Ujungberung Bandung.
>Tapi untuk edisi-edisi berikut ini ( 61, 53, 52, 38 sampai 49 )
>saya tidak bisa mendapatkannya karena kesalahan teknis. Apakah
>saya bisa mendapatkan kembali edisi-edisi tersebut di atas? Saya
>mengharapkan agar tim redaktur dapat memenuhi kebutuhan kami ini.
>Tuhan memberkati pelayanan kita bersama.
>Robertson.
Redaksi:
Surat dari Saudara Robertson di atas merupakan salah satu contoh
dari beberapa surat senada yang menanyakan tentang bagaimana
mendapatkan arsip publikasi e-BinaAnak yang telah terbit. Terima
kasih untuk semua surat yang telah kami terima tersebut. Kami mohon
maaf kalau baru mengetahui / memperbaiki masalah teknis di SABDA.org
[lihat Kolom Stop Pres di atas]. Jawaban kami ini adalah jawaban
untuk semua surat yang menanyakan tentang arsip e-BinaAnak.
Kami tidak selalu bisa memenuhi permintaan setiap surat yang meminta
kami untuk mengirimkan edisi-edisi e-BinaAnak yang telah terbit via
e-mail, apalagi jika yang diinginkan lebih dari satu edisi (karena
batasan bandwith). Namun anda bisa mengambil sendiri arsip yang anda
kehendaki dengan berkunjung ke Situs arsip e-BinaAnak, di alamat:
==> http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/arsip/
Dan jika anda ingin langsung menuju ke edisi yang anda inginkan
silakan kunjungi (misalnya untuk edisi e-BinaAnak 61):
==> http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/061/
(Anda tinggal mengganti nomor 061 tersebut sesuai dengan nomor edisi
e-BinaAnak yang anda inginkan.)
PENGUMUMAN: Tidak lama lagi akan hadir situs PEPAK (Pusat Elektronik
Pelayanan Anak Kristen). Nah, Arsip e-BinaAnak juga menjadi salah
satu bagian dalam situs PEPAK ini. Nantinya, dalam situs PEPAK
tersedia fasilitas baru yang dapat mengirimkan secara otomatis
edisi-edisi e-BinaAnak yang diinginkan dari web ke =mailbox= anda.
Tolong doakan agar situs PEPAK ini dapat segera diluncurkan.
|