SITUS INI ADALAH SITUS PEPAK VERSI LAMA.
SEJAK 1 JUNI 2008 KAMI MENGGUNAKAN SITUS BARU.
KLIK DI SINI
UNTUK BERKUNJUNG KE SITUS PEPAK VERSI BARU.

 
PEPAK PEPAK
Kamis, 4 Desember 2008   
    Utama | Pustaka | e-BinaAnak | e-BinaGuru  
         e-BinaAnak  
  Utama > e-BinaAnak > Edisi 68  

Cari di Arsip e-BinaAnak Cari di e-BinaAnak

Baca Edisi e-BinaAnak Baca e-BinaAnak
Lihat Arsip e-BinaAnak Arsip
Kirim Arsip e-BinaAnak ke Email Anda Kirim ke Email Anda
Berlangganan / Subscribe e-BinaAnak Berlangganan
Frequently Asked Questions FAQ
  Bagaimana berpartisipasi dalam pelayanan di e-BinaAnak? jawabannya  


<<< Edisi 67 | Edisi 69 >>>

e-BinaAnak edisi 68 (20-3-2002)

Paskah - Menggunakan Metode Alat Peraga

Daftar Isi
Salam dari Redaksi 
Artikel : Mengajar dengan Menggunakan Alat Peraga  
Bahan Mengajar : Mengajar Anak Tentang Kematian  
Bahan Mengajar : Simulasi Balon Dosa dan Yesus  
Bahan Mengajar : Kejatuhan Manusia dalam Dosa  
Permainan Anak : Manakah Anak Tuhan yang Asli?  
Stop Press : Arsip e-BinaAnak di SABDA.org  
Dari Anda Untuk Anda 


Salam dari Redaksi

Salam sejahtera

Untuk sajian PASKAH (3), kami telah menyiapkan beberapa bahan mengajar menarik, dengan menggunakan metode alat peraga, yang dapat dipakai guru SM untuk mengajarkan beberapa konsep yang berhubungan erat dengan PASKAH, yaitu: kematian dan dosa. Gunakanlah kesempatan PASKAH ini untuk sekali lagi menanamkan benih kebenaran Firman Tuhan yang paling indah, yaitu tentang dosa dan kematian yang telah dikalahkan oleh Tuhan Yesus ketika Ia ada di atas kayu salib.

Untuk melengkapinya kami juga telah menyediakan artikel tentang "Alat Peraga" dengan harapan agar guru-guru SM dapat belajar lebih banyak tentang manfaat menggunakan alat peraga.

Demikianlah sajian kami minggu ini, dan kami ucapkan selamat mengajar.

Tim Redaksi

"Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah MENGHIDUPKAN kita bersama- sama dengan Kristus, sekalipun kita telah MATI oleh kesalahan- kesalahan kita -- oleh kasih karunia kamu diselamatkan." (Efesus 2:4-5)


Artikel

Mengajar dengan Menggunakan Alat Peraga

MENGAPA MENGAJAR DENGAN ALAT PERAGA?

Media mengajar yang paling dikenal di pelayanan anak sering disebut dengan istilah singkat, alat peraga. Media alat peraga dan benda sering disebut sebagai alat modern, karena kesadaran mengenai pentingnya memakai media mengajar dalam pelayanan anak masih baru. Melalui pemakaian alat peraga dan peraga benda, imajinasi anak dirangsang, perasaannya disentuh dan kesan yang dalam diperoleh. Melaluinya anak belajar dengan semangat dan dapat mengingat dengan baik.

Dalam mengajar, panca indera dan seluruh kesanggupan seorang anak perlu dirangsang, digunakan dan dilibatkan, sehingga ia tak hanya mengetahui, melainkan dapat memakai dan melakukan apa yang dipelajari. Panca indera yang paling umum dipakai dalam mengajar adalah mendengar. Melalui mendengar, anak mengikuti peristiwa demi peristiwa dan ikut merasakan apa yang disampaikan. Seolah-olah telinga mendapat mata. Anak melihat sesuatu dari apa yang diceritakan. Namun ilmu pendidikan berpendapat, bahwa hanya 20% dari apa yang didengar dapat diingat kemudian hari. Kesan yang lebih dalam dapat dihasilkan jikalau apa yang diceritakan "dilihat" melalui sebuah gambar. Dengan demikian melalui mendegar dan melihat akan diperoleh kesan yang jauh lebih dalam. Media mengajar (alat peraga dan peraga benda) seperti: gambar, peta, papan tulis, boks pasir, dll. dapat menolong anak untuk mengingat dengan lebih baik, yaitu mampu mengingat 50% dari apa yang didengar dan dilihatnya. Dari uraian di atas kita dapat mengetahui bahwa alat peraga penting untuk menimbulkan perhatian, memberi pengertian yang lebih mudah, memelihara perhatian, dan membantu ingatan.

KESEIMBANGAN DALAM MEMAKAI ALAT PERAGA

Pemakaian alat peraga merangsang imajinasi anak dan memberikan kesan yang dalam! Meskipun begitu, alat peraga dan peraga benda perlu dipakai secara seimbang. Misalnya, pada satu pelajaran ayat hafalan diajar dengan menggunakan alat peraga. Pada kesempatan lain permulaan cerita mendapat perhatian yang khusus, dan pada pelajaran lainnya lagi, seluruh cerita diperagakan. Melalui cara ini setiap hari Minggu anak memperoleh "sesuatu yang khusus". Hal ini membangun rasa ingin tahu anak dari minggu ke minggu.

Dalam memilih alat peraga, guru perlu waspada, sehingga tidak memakai:

  • Media mengajar yang terlalu kecil, sehingga anak sulit melihat, dan menjadi ribut.
  • Gambar yang terlalu asing pada perasaan anak, umpamanya gambar tertentu dari luar negeri yang kurang cocok di Indonesia. Perasaan aneh atau lucu tidak menguntungkan dalam proses belajar mengajar ini.
Karena itu guru sebaiknya memakai alat peraga yang tepat dan bermutu sebagai alat bantu mengajar.

JENIS-JENIS ALAT PERAGA DAN CARA MEMAKAINYA

Berikut ini akan kami uraikan beberapa contoh jenis-jenis alat peraga yang dapat digunakan GSM dalam mengajar.

  1. Gambar

    Gambar adalah suatu bentuk alat peraga yang nampaknya paling dikenal dan paling sering dipakai, karena gambar disenangi oleh anak berbagai umur, diperoleh dalam keadaan siap pakai, dan tidak menyita waktu persiapan. Sebelum digunakan, harus diketahui dulu cara pemakaiannya. Jika akan digunakan untuk mengulangi cerita minggu lalu, gambar harus dipasang sebelum anak datang. Bila gambar akan digunakan pada saat guru bercerita, tempelkan gambar pada saat peristiwa yang dilukis dalam gambar disampaikan. Kalau gambar digunakan untuk memperdalam cerita, pasanglah di dinding sesudah bercerita.

  2. Peta

    Murid-murid harus tahu dengan baik tentang ilmu bumi dan sejarah Alkitab. Peta bisa menolong mereka mempelajari bentuk dan letak negara-negara dan kota-kota yang disebut di Alkitab. Satu hal yang harus diperhatikan, penggunaan peta sebagai alat peraga hanya cocok bagi Anak Besar/Kelas Besar. Cara pemakaiannya adalah peta dipasang pada dinding sebelum anak masuk ke kelas sehingga guru dengan bebas dapat menunjukkan tempat yang disebut pada waktu menyampaikan cerita. Paling sedikit empat peta yang dibutuhkan oleh GSM, yaitu:
    • Mesopotamia dan Kanaan pada masa Abraham.
    • Pembagian tanah Kanaan pada keduabelas suku.
    • Palestina pada masa Tuhan Yesus.
    • Asia Kecil dan Eropa pada masa pelayanan Paulus.


  3. Papan Tulis

    Peranan papan tulis tidak kalah pentingnya sebagai sarana mengajar. Papan tulis dapat diterima di mana-mana sebagai alat peraga yang sangat efektif. Tidak perlu menjadi seorang seniman untuk memakai papan tulis. Kalimat yang pendek, beberapa gambaran orang yang sederhana sekali, sebuah lingkaran, atau empat persegi panjang dapat menggambarkan orang, kota atau kejadian. Yang perlu diperhatikan dalam memakai papan tulis adalah hindarkan detil yang terlalu banyak, jangan menghalangi pemandangan, bicaralah sambil menulis tapi jangan berbicara kepada papan tulis, dan pakailah bagan atau grafik bilamana mungkin.

  4. Boks Pasir

    Anak Kelas Kecil dan Kelas Tengah sangat menggemari peragaan yang menggunakan boks pasir. Boks pasir dapat dipakai untuk menciptakan "peta" bagi mereka khususnya bagi Kelas Tengah karena pada umur tersebut mereka sudah mengetahui jarak dari desa ke desa. Melalui boks pasir dapat dibentuk gunung dan lembah danau (memakai kaca), sungai yang mengalir (dari kain atau kertas biru), orang-orangan (dibuat dari kertas manila), pohon dan tumbuhan (gunakan daun, tumbuhan kecil).
Mengajar dengan memakai alat peraga lebih banyak menuntut guru. Banyak waktu yang diperlukan untuk persiapan, juga perlu kesediaan berkorban secara materiil. Tetapi dengan memakai alat peraga secara tepat, guru akan menanamkan kesan yang jauh lebih dalam, yang mungkin akan mempengaruhi seluruh kehidupan dari anak yang diajar.

Sumber:
  • Pedoman Pelayan Anak, Ruth Lautfer, , halaman 134 - 150, Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, Malang, 1993.
  • Penuntun Sekolah Minggu, J. Reginald Hill, , halaman 69 - 88, Yayasan Komunikasi Bina Kasih.
  • Teaching Techniques, Clarence H. Benson, , halaman 44 - 48, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1986.

    Bahan Mengajar

    Mengajar Anak Tentang Kematian

    [[Redaksi: Inti kisah PASKAH adalah tentang kemenangan Kristus atas kematian yang Ia nyatakan di atas kayu salib. Tapi mengajarkan tentang "kematian" bukanlah hal yang mudah, karena anak-anak pada umumnya masih memiliki konsep yang kabur tentang kematian. Lalu bagaimana mengajarkan hal ini kepada anak-anak kecil? Berikut ini kami sajikan contoh bahan mengajar dengan menggunakan metode alat peraga yang dapat dipakai untuk mengajarkan tentang kematian.]]

    Sebenarnya ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengajar anak kecil tentang arti PASKAH. Konsep kematian yang masih kabur bagi mereka dapat kita jelaskan dengan menggunakan cerita, ilustrasi atau peragaan. Selain itu penting juga diusahakan untuk memakai bahasa verbal maupun isyarat sederhana yang dapat dimengerti oleh anak-anak.

    Pertama, diperlukan waktu kira-kira satu atau dua minggu sebelum PASKAH untuk membuat alat peraganya. Tujuan alat peraga ini adalah memberi pengalaman kepada anak-anak tentang dua bagian hidup yang penting yaitu: kehidupan dan kematian. Caranya adalah dengan memperlihatkan daur hidup tanaman. Biarkan anak mengamati benih yang sedang tumbuh (bisa memakai benih kacang hijau yang disemai) selama beberapa hari sampai benih itu memperlihatkan tunas daun. Ini untuk menunjukkan kepada anak tentang kehidupan. Sesuatu yang hidup pasti bertumbuh menjadi lebih besar.

    Tentang kematian bisa ditunjukkan dengan alat peraga lain, misalnya bunga yang sudah layu dan mati. Atau dengan mendiskusikan tentang binatang peliharaan yang pernah mereka miliki tapi sekarang sudah tidak ada karena sudah mati. Hal ini sangat bermanfaat karena akan menuntun anak pada pengertian tentang kematian jasmani.

    Sama seperti bagian kehidupan lainnya, anak biasanya belajar dari sikap orang dewasa. Jika orangtua mendiskusikan tentang kematian dengan perasaan takut dan cemas maka hal ini akan membangkitkan perasaan yang sama dalam diri anak. Tapi jika orangtua berbicara tentang kematian dengan tenang kepada anak-anak, dan berani menjawab pertanyaan dengan jujur, maka anak juga akan dapat menerimanya sebagai proses yang wajar.

    Percakapan tentang perpisahan dapat menolong anak mengerti, tapi kalau disampaikan dengan cara yang tidak benar, maka dapat mengakibatkan anak menjadi takut akan kepedihan yang biasanya menyelubungi kematian. Semua anak pernah mengalami kepedihan akibat perpisahan sementara dengan orangtuanya. Dengan demikian mareka dapat mulai memahami mengapa orang seringkali sedih ketika seseorang meninggal dunia.

    Ketika berbicara tentang reaksi murid-murid Tuhan Yesus saat Dia disalibkan, guru dapat menjelaskan kepada mereka, "Murid-murid Yesus amat sedih ketika Yesus mati karena mereka mengira tidak akan pernah melihat-Nya lagi. Beberapa di antara mereka bahkan menangis, karena mereka amat mengasihi-Nya. Dapatkah kamu membayangkan betapa bahagianya mereka ketika mendapati Yesus tidak mati lagi! Mereka pasti gembira, saling berpelukan, dan memberitahu semua murid yang lain bahwa Yesus tidak mati. Dia hidup! Yesus hidup!"

    Selama PASKAH, fakta sederhana mengenai kisah penyaliban dapat diceritakan, namun hindarilah aspek-aspek yang mengerikan. Anak kecil seringkali sangat emosional jika mendengar penuturan detail tentang cara bagaimana Yesus mati. Sebaliknya tekankanlah sukacita yang kita rasakan karena Yesus hidup.

    Anda dapat menyarankan agar anak menggambar atau mewarnai sebuah gambar setelah mendengar kisah kebangkitan Yesus. Pengalaman seni ini dapat menjadi sarana untuk memahami apa yang penting dari sudut pandang anak dalam mengetahui kisah itu. Setelah selesai, bicarakan dengan anak tentang karya seni yang telah dibuatnya. Dengan cara ini kita dapat mengetahui jika anak memiliki perasaan yang negatif dan menakutkan terhadap kisah tersebut atau tentang kematian.

    Setelah mendengar cerita kebangkitan, seorang anak mungkin bertanya, "Di mana Yesus sekarang?"

    "Yesus bersama kita" merupakan jawaban yang menolong. Jika anak itu kemudian bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi, jelaskan, "Yesus adalah anak Allah. Dia berjanji untuk selalu bersama dengan mereka yang mengasihi-Nya."

    "Yesus berada di surga" merupakan jawaban lain yang mudah diterima anak. Meskipun demikian, reaksi atas informasi ini tergantung pada konsep anak tentang surga dan Allah. Jika anak memahami surga sebagai tempat yang menyenangkan di mana Allah dan Yesus tinggal, dan di sana tak ada rasa sakit dan kesedihan, perasaan anak itu akan cenderung positif.

    Jika anak itu bingung, bisa saja muncul pertanyaan bagaimana Yesus dapat berada di surga dan bersama kita pada saat bersamaan, atau bagaimana Dia dapat bersama-sama dengan banyak orang di berbagai tempat yang berbeda, katakan, "Saya tidak tahu bagaimana Yesus dapat melakukan hal itu. Tapi karena Dia Anak Allah, Dia dapat melakukan hal-hal yang tidak dapat kita lakukan. Ini menunjukkan betapa menakjubkannya Dia."

    Sumber:
  • Mengenalkan Allah Kepada Anak (Terjemahan dari Teaching Your Child About God), Wes Haystead, , halaman 129 - 131, Yayasan Gloria, Yogyakarta, 1996.

    Bahan Mengajar

    Simulasi Balon Dosa dan Yesus

    [[Redaksi: Dosa dan penebusannya harus diajarkan kepada anak sejak masih dini. Banyak cara yang dapat digunakan untuk mengajar anak tentang: dosa, berdosa dan penebusan. Berikut ini satu metode dengan menggunakan alat peraga yang dapat dipakai GSM untuk mengajar anak mengenai dosa.]]

    Tujuan:

    Anak memahami dosa sebagai sikap manusia yang memberontak kepada Allah. Sikap yang tidak mau tunduk kepada Allah dan tidak mau berkelakuan dengan cara hidup yang Allah inginkan adalah sikap hidup yang tidak baik. Akibat dari dosa adalah manusia terikat dan terbeban dengan berbagai derita, dan upah dosa adalah maut. Yesus menebus dosa manusia dengan menanggungnya di atas kayu salib, dan Ia mau menerima dan mengampuni orang yang berdosa sebagai anak-anak- Nya.

    Penerapan:

    1. Guru menyiapkan banyak balon yang sudah ditiup. Guru juga menuliskan segala macam bentuk perbuatan yang tidak baik, misalnya: menipu, mencuri, omong kotor, menyontek, dan sebagaiya. Contoh boleh sebanyak mungkin (sejumlah balon yang tersedia), dan masing-masing tulisan itu ditulis atau ditempelkan pada balon-balon tersebut, masing-masing balon cukup satu kata.
    2. Mintalah seorang anak untuk maju ke depan kelas, namakan ia si "Suci" (beri tulisan besar "si Suci" di dadanya). Buatlah cerita sederhana tentang si Suci yang melakukan hal-hal yang berdosa, misalnya: "Si Suci melihat ada dompet milik temannya, karena tergiur ia kemudian mencuri dompet itu".
    3. Lalu guru menanggalkan tulisan "si Suci" diganti "Orang Berdosa". Sambil meminta anak itu mengangkat balon yang bertuliskan "mencuri", mintalah anak itu bergaya seolah-olah balon yang diangkatnya itu sangat berat. Tanyakan kepadanya bagaimana perasaan seorang pencuri? Takut kalau tertangkap, perasaan itu menghantuinya setiap hari, sehingga ia merasa hidupnya sangat gelisah. Teruskan cerita seperti itu, dengan memberi contoh konkret soal dosa: berbohong, menolak Allah (misalnya tidak percaya Allah, tidak mau berdoa), memukul orang lain yang tidak bersalah, dan sebagainya. Sekarang si pemeran "orang berdosa" semakin berat bebannya sehingga ia jatuh, karena tidak kuat lagi. Jelaskan, inilah akibat dosa, membuat manusia susah sendiri, hidup tidak senang, dulu ketika ia "suci" ia tidak berbeban berat, hidupnya ringan.
    4. Kemudian mintalah satu anak lain lagi berperan sebagai Yesus, beri tulisan di dada anak tersebut "Juruselamat" atau "Penebus dosa". Si pemeran Yesus kasihan melihat anak yang membawa beban dosa, dan "Yesus" mengangkat beban-beban itu, sehingga sekarang dosa itu dipikul Yesus, dan si pemeran Yesus meletuskan balon-balon tersebut (dengan alat peletus balon). Setelah itu, Yesus mengganti tulisan "Orang Berdosa" dengan "Anak Tuhan!" Dan pemeran Yesus menggandeng tangan orang tersebut berjalan-jalan di sekeliling kelas.
    Simulasi di atas mengajak anak memahami bahwa berbuat dosa telah mengakibatkan hidup kita celaka, menderita, dan dihantui rasa bersalah. Yesus datang mengampuni dosa kita, karena Ia telah mengalahkan dosa, dan Ia juga menuntun anak-anak yang mau percaya kepada-Nya.

    Sumber:
  • Teknik Kreatif dan Terpadu dalam Mengajar Sekolah Minggu, Paulus Lie, , halaman 113 - 114, Yayasan Andi, Yogyakarta, 1999.

    Bahan Mengajar

    Kejatuhan Manusia dalam Dosa

    [[Redaksi: GSM terkadang bingung bagaimana mengajar ASM mengenai dosa secara lebih terperinci. Alat peraga dapat membantu guru untuk menjelaskan lebih dalam mengenai kejatuhan dosa manusia. Anak biasanya akan lebih memperhatikan pengajaran guru yang menggunakan alat peraga daripada guru yang hanya sekedar berkata-kata saja. Berikut ini satu contoh cara mengajarkan mengenai dosa dengan menggunakan alat peraga yang sederhana.]]

    Objek:

    Dua telur dan dua gelas.

    Konsep:

    Kejatuhan manusia ke dalam dosa menghancurkan gambaran Allah di dalam manusia tersebut, tetapi meskipun demikian gambaran Allah yang sudah rusak itu masih tetap ada.

    Teks:

    "Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya" (Kolose 3:9-10)

    Pelaksanaan:

    Apakah ketika sarapan kalian pernah memakan sebuah telur ayam?

    (Angkat telur yang ada di tangan anda.)

    Banyak orang menggunakan telur untuk sarapan pagi mereka. Ada yang dibuat telur rebus, ada yang telur mata sapi, ada yang telur dadar. Tetapi sebelum kamu dapat memakannya kamu perlu memecahkan telur itu terlebih dahulu.

    (Angkat gelas di tangan yang lain dan tunjukkan keduanya yaitu telur dan gelas kepada pendengar.)

    Sekarang jika saya mengambil telur dan menjatuhkannya ke dalam gelas, itu akan kelihatan berbeda. Bukankah begitu? Selain tidak mudah untuk dipegang lagi, telur yang sudah pecah itu tidak akan mendapatkan kulit telur yang mulus seperti semula, melainkan sudah tercampur aduk.

    (Jatuhkan telur dari tempat yang tingginya kira-kira 1.5 meter dan lihat hasilnya.)

    Telur itu kadang-kadang sama seperti kita, anak-anak. Tahukah kamu pada waktu Allah menjadikan Adam dan Hawa, Ia membuatnya bagus, sempurna, dan segambar dengan Allah. Allah membuat manusia seperti diri-Nya -- untuk mengasihi, dan mengerjakan yang baik dan benar.

    Kemudian dosa datang. Adam, bapak dari semua manusia, jatuh dalam dosa karena tidak menaati Allah. Manusia sama dengan telur yang jatuh ke dalam gelas tadi. Dan semua anak Adam, cucu Adam serta semua keturunan Adam yang hidup sampai saat ini (termasuk kalian dan saya) adalah orang berdosa. Kehidupan manusia semuanya menjadi kacau balau. Gambaran Allah yang sempurna di dalam kita telah hancur, sama seperti telur yang pecah di dalam gelas itu.

    Tetapi ketika kamu melihat ke dalam gelas saya (perhatikan hal itu kepada pendengar) kamu tetap dapat melihat bahwa saya mempunyai sebuah telur di sini. Tapi telur itu telah kacau balau, tetapi dia tetap sebutir telur. Demikian juga manusia tetap ciptaan Allah, meskipun dia telah jatuh di dalam dosa.

    Karena Allah mengasihi kita, maka Allah mengirimkan Anak-Nya, Tuhan Yesus, untuk menyelamatkan kita. Dia memberikan kepada kita hati yang baru sehingga kita dapat mengasihi Allah. Dibutuhkan mujizat untuk menyatukan kembali telur yang sudah pecah itu, bukankah begitu? Dibutuhkan mujizat untuk menyempurnakan kembali kehidupan yang sudah hancur. Mujizat itu hanya bisa didapatkan di dalam "Kasih Yesus". (Guru menunjukkan telur yang masih utuh dalam gelas yang lain.)

    Sumber:
  • Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 2, , halaman 193 - 194, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1996.

    Permainan Anak

    Manakah Anak Tuhan yang Asli?

    Persiapan:

    1. Pilihlah satu lagu yang mengisahkan tentang "anak Tuhan" (misalnya lagu: Anak Tuhan Jadilah Terang), atau lagu yang mengisahkan tentang "salib" (misalnya lagu: Yesus Disalibkan Karena Cinta-Nya). Kemudian ajaklah semua anak menyanyikan lagu tersebut pada awal acara.

    2. Siapkan juga dua buah salib kecil.

    Pelaksanaan:

    1. Bentuklah 2 buah kelompok (kita sebut kelompok A dan kelompok B), berikanlah satu salib pada masing-masing kelompok. Setiap kelompok harus menentukan siapakah dari anggotanya yang akan membawa salib tersebut, tetapi haruslah dirahasiakan dari kelompok lawannya. Anak yang memegang kalung salib ini berperan sebagai anak Tuhan yang asli. Untuk merahasiakan siapa yang memegang salib tersebut, tiap kelompok dapat meminta anggotanya meletakkan kedua tangan mereka ke belakang punggung mereka sehingga kelompok lawan sulit menebak siapa yang memegang salib tersebut.

    2. Kesempatan pertama kita berikan kepada kelompok A untuk menebak siapakah dari anggota kelompok B yang memegang salib itu? Setelah A menebak, giliran B harus menebak siapa dari anggota kelompok A yang memegang salib. jadi kedua kelompok harus terampil menyembunyikan rahasia.

    3. Ajaklah semua anak menyanyikan lagu tersebut satu kali. Lalu di akhir pujian, kedua kelompok harus mempersiapkan salah satu anggotanya untuk memegang salib, dan permainan pun mulai berjalan. Mintalah kedua kelompok menyatakan tebakannya, catat regu yang berhasil menebak, kemudian ulangi permainan dengan menyanyikan lagi lagu ini. Regu manakah yang menang, regu A atau regu B?

    4. Jelaskan kepada anak, kita wajib mempunyai Yesus dalam hati kita. Kalau di dalam hidup kita tidak ada Yesus, kita bukanlah anak Tuhan yang asli. Agar kita memiliki Yesus kita harus menjadi murid-Nya, taat kepada-Nya, serta senantiasa berdoa pada-Nya.

    Sumber:
  • Teknik Kreatif dan Terpadu dalam Mengajar Sekolah Minggu, Paulus Lie, , halaman 26 - 27, Yayasan Andi, Yogyakarta, 1999.

    Stop Press

    Arsip e-BinaAnak di SABDA.org

    Sekarang anda dapat mengakses daftar arsip e-BinaAnak yang telah terbit di Sistem Arsip dan Publikasi Elektronik SABDA.org melalui alamat URL berikut ini:
    ==> http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/arsip/

    atau anda dapat langsung melihat/membaca edisi-edisi e-BinaAnak yang diinginkan melalui alamat URL seperti ini:
    ==> http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/ ### /
    [### = nomor edisi e-BinaAnak yang anda inginkan; mis. /001/ ]

    Beberapa waktu yang lalu terjadi kesalahan teknis sehingga semua link dalam arsip tersebut tidak dapat diakses langsung dengan benar. Maaf. Baru saat ini kesalahan teknis tersebut telah diperbaiki!


    Dari Anda Untuk Anda

    Dari: stone obet

    Salam dalam kasih Kristus.
    >Terima kasih atas artikel-artikelnya dalam pengembangan sekolah
    >minggu kita. Saya mengajar SM di GKI Bajem Ujungberung Bandung.
    >Tapi untuk edisi-edisi berikut ini ( 61, 53, 52, 38 sampai 49 )
    >saya tidak bisa mendapatkannya karena kesalahan teknis. Apakah
    >saya bisa mendapatkan kembali edisi-edisi tersebut di atas? Saya
    >mengharapkan agar tim redaktur dapat memenuhi kebutuhan kami ini.
    >Tuhan memberkati pelayanan kita bersama.
    >Robertson.
       
    Redaksi:
    Surat dari Saudara Robertson di atas merupakan salah satu contoh dari beberapa surat senada yang menanyakan tentang bagaimana mendapatkan arsip publikasi e-BinaAnak yang telah terbit. Terima kasih untuk semua surat yang telah kami terima tersebut. Kami mohon maaf kalau baru mengetahui / memperbaiki masalah teknis di SABDA.org [lihat Kolom Stop Pres di atas]. Jawaban kami ini adalah jawaban untuk semua surat yang menanyakan tentang arsip e-BinaAnak.

    Kami tidak selalu bisa memenuhi permintaan setiap surat yang meminta kami untuk mengirimkan edisi-edisi e-BinaAnak yang telah terbit via e-mail, apalagi jika yang diinginkan lebih dari satu edisi (karena batasan bandwith). Namun anda bisa mengambil sendiri arsip yang anda kehendaki dengan berkunjung ke Situs arsip e-BinaAnak, di alamat:
    ==> http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/arsip/

    Dan jika anda ingin langsung menuju ke edisi yang anda inginkan silakan kunjungi (misalnya untuk edisi e-BinaAnak 61):
    ==> http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/061/
    (Anda tinggal mengganti nomor 061 tersebut sesuai dengan nomor edisi e-BinaAnak yang anda inginkan.)

    PENGUMUMAN:
    Tidak lama lagi akan hadir situs PEPAK (Pusat Elektronik Pelayanan Anak Kristen). Nah, Arsip e-BinaAnak juga menjadi salah satu bagian dalam situs PEPAK ini. Nantinya, dalam situs PEPAK tersedia fasilitas baru yang dapat mengirimkan secara otomatis edisi-edisi e-BinaAnak yang diinginkan dari web ke =mailbox= anda. Tolong doakan agar situs PEPAK ini dapat segera diluncurkan.


  • Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini   Tampilan cetak (print view) untuk halaman ini <<< Edisi 67 | Edisi 69 >>>

    Tentang Kami | Kontak Kami | Buku Tamu | Promo | Situs YLSA | Links | FAQ | Sumber | Info Anda
     

    SITUS INI ADALAH SITUS PEPAK VERSI LAMA.
    SEJAK 1 JUNI 2008 KAMI MENGGUNAKAN SITUS BARU.
    KLIK DI SINI UNTUK BERKUNJUNG KE SITUS PEPAK VERSI BARU.

     
    Disclaimer | © 2008 Yayasan Lembaga SABDA | Email: pepaksabda.org |Laporan Masalah/Saran

    ^ Ke Atas