Salam dari Redaksi
Salam Sejahtera dalam Kristus,
Disiplin biasanya didefinisikan sebagai hukuman yang diberikan
kepada anak supaya anak tunduk. Sebenarnya definisi ini terlalu
sempit. Kata "disiplin" berasal dari kata latin, yang artinya
mengajar, mendidik dan melatih. Disiplin juga berarti memberikan
panduan dalam usaha memperbaiki sifat anak, sebagai salah satu alat
dalam mengajar, mendidik dan melatih anak. Disiplin ini mencakup
pembentukan sifat anak secara menyeluruh, termasuk tanggung jawab
guru dan orangtua untuk melatih, memberi semangat, dan membangun
tingkah laku yang baik sebagai ganti tingkah laku yang kurang baik.
Apakah dasar Alkitab mengenai kedisiplinan ini? Prinsip-prinsip
apakah yang harus dimiliki guru Sekolah Minggu dan orangtua untuk
mendisiplin anak-anaknya? Dalam edisi e-BinaAnak ini, kita akan
mendapat sajian yang jelas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di
atas. Kiranya hal ini dapat menolong guru Sekolah Minggu dalam
menegakkan kedisiplinan pada murid-muridnya dengan cara yang benar.
Tuhan memberkati,
Tim Redaksi
"Dan kamu, bapa-bapa, jangan bangkitkan amarah dalam hati
anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan
nasihat Tuhan." (Efesus 6:4)
ArtikelMengenal Kedisiplinan
A. Disiplin Sebagai Kebutuhan Anak
Disiplin merupakan salah satu kebutuhan dasar anak, dalam rangka
pembentukan dan pengembangan wataknya secara sehat. Tujuannya ialah
agar anak dapat secara kreatif dan dinamis mengembangkan hidupnya di
kemudian hari. Apabila orangtua mengasihi anaknya maka mereka juga
harus mendisiplinkan anaknya. Apabila guru Sekolah Minggu mengasihi
murid-muridnya, maka ia juga harus mendisiplinkan murid-muridnya.
Tentu saja, kasih dan disiplin harus berjalan bersama-sama secara
seimbang. Dengan perkataan lain, kasih tanpa disiplin mengakibatkan
munculnya rasa sentimen dan ketidakpedulian. Sebaliknya, disiplin
tanpa kasih merupakan tindakan kejam (tirani).
Banyak orangtua, karena berbagai alasan termasuk kesibukan, tidak
mempunyai pemahaman dan pengertian, mengabaikan kebutuhan anak dalam
disiplin ini. Akibatnya suatu saat anak memberontak, sulit
dikendalikan, dan akan mencari perhatian secara berlebihan. Orangtua
demikian tentu akan mengalami konflik yang terus-menerus dengan
anaknya, bahkan tidak jarang ada anak yang mengalami kekecewaan dan
perasaan terluka. Oleh karena itulah, bahasan kita mengenai
kedisiplinan ini amat perlu, karena hal ini dapat menjadi sumber
masukan dalam pelayanan kita sebagai guru Sekolah Minggu, sehingga
kita memiliki pemahaman yang benar mengenai kedisiplinan. Selain hal
itu dapat menjadi alat refleksi bagi diri kita sendiri, sehingga
kita dapat bersikap yang benar dalam mendisiplin murid-murid kita.
B. Dasar Teologis Disiplin
Pentingnya disiplin guru Sekolah Minggu terhadap muridnya dan
orangtua terhadap anaknya, bukan hanya karena alasan sosiologis dan
psikologis, tetapi juga karena pemahaman teologis. Keterangan
berikut ini merupakan bentuk kedisiplinan di dalam Alkitab yang
dapat menjadi bahan pertimbangan bagi kita semua, antara lain:
- Allah Bapa senantiasa mendisiplin manusia ciptaan-Nya baik
secara individual maupun secara kelompok. Cara Tuhan dalam
mendisiplin umat-Nya sama dengan cara ayah dalam mendisiplin
anaknya (lihat Ulangan 8:5 dan Mazmur 6:2; Mazmur 38:2-3). Tujuan Allah
mendisiplin manusia adalah agar mereka taat, hormat dan takut
kepada-Nya. Karena itu Tuhan memberikan pengajaran, memberikan
teguran, menyatakan nasehat, dan jika perlu mengijinkan
terjadinya penderitaan seperti sakit penyakit, kerugian, bahkan
pembuangan ke tempat atau negeri lain. Sejarah Israel menyatakan
umat Israel dari kerajaan utara terbuang selama 40 tahun ke Asyur
dan umat Yehuda ke negeri Babilonia selama 70 tahun.
Dalam Perjanjian Baru, penulis kitab Ibrani menyatakan bahwa
Allah mendisiplin umat-Nya agar bertaat kepada-Nya. Ia menyatakan
disiplin sebagai bukti kasih-Nya (lihat Ibrani 12:5,6) meskipun
pada mulanya mendatangkan dukacita (lihat Ibrani 12:10,11).
- Tuhan Yesus Kristus pun menegakkan disiplin bagi murid-murid-Nya,
dengan memberikan contoh, seperti dalam bagaimana menggunakan
waktu, menggunakan uang, dan hidup berdoa secara tekun. Dia pun
menyatakan bahwa kepentingan orang lain mesti didahulukan,
sebagaimana terlihat bagaimana Yesus melayani orang yang datang
kepada-Nya meskipun Ia seringkali belum sempat makan (bd. Markus
3:20-21). Bilamana murid-murid-Nya degil, seringkali Ia
berterus-terang menegur mereka dengan keras (bd. Markus 8:14-21). Bilamana
murid-murid ingin membalas kejahatan dengan kejahatan, Dia
menyatakan sikap mengasihi dan mengalihkan perhatian mereka
kepada tugas lain (bd. Lukas 9:51-56).
Yesus pun menyatakan agar murid-murid-Nya belajar hidup secara
tertib dalam arti memelihara kesucian hidup agar senantiasa
merasakan kehadiran Allah (bd. Matius 5:8). Bagi Yesus, orang
dewasa harus mendisiplin anggota tubuhnya -- tangan, kaki, mata
-- agar tidak membawa keburukan bagi orang lain terutama
"menyesatkan" anak-anak di bawah asuhan mereka (Matius 18:8-10).
Sebab dia sendiri melarang murid-murid mengabaikan atau
meremehkan anak-anak kecil (Matius 19:13-15). Tidak jarang pula
Yesus menyatakan bahwa Dia tetap mengasihi murid-murid-Nya
sekalipun mereka kurang cepat menangkap ajaran Sang Guru
(Yohanes 13,15).
- Alkitab mengajarkan bahwa Roh Kudus datang untuk menyatakan
kebenaran Ilahi bagi orang yang percaya kepada Yesus Kristus.
Dia hadir ke dunia untuk membuat orang insyaf akan dosa dan
kejahatannya lalu berbalik kepada Sang Kebenaran yang
memerdekakan yaitu Yesus Kristus (Yohanes 16:6-8,Yohanes 16:11-13). Roh
Kudus juga datang membuat orang memiliki hikmat hidup dan
kekuatan batiniah agar dapat hidup sesuai kehendak Allah. (Efesus
1:16,17; Efesus 3:16-18). Roh Kudus pun datang ke dalam hidup dan
persekutuan orang-orang percaya guna memberikan kekuatan di dalam
mengatasi kelemahan (Roma 8:2-6) serta buah kehidupan (Galatia
5:22-23)
Dalam Kisah Para Rasul tampak sekali bagaimana sikap dan tindakan
Roh Kudus dalam menegakkan disiplin. Ingatlah kasus Ananias dan
Safira karena ingin "mencari nama dan muka" lalu berdusta kepada
rasul Petrus (Kisah 5). Ingat pula kasus Simon tukang sihir di
Samaria yang ingin terkenal lalu hendak membeli kuasa Roh Kudus
dengan uang (Kisah 8). Roh Kudus tidak menginginkan sikap
pura-pura terjadi dalam kehidupan anak-anak Tuhan.
Surat Paulus kepada jemaat di Korintus cukup banyak menyinggung
masalah disiplin hidup, agar mereka tertib dalam kehidupan
bersama, kehidupan persekutuan, kehidupan memelihara tubuh dan
sejenisnya. Dia mengajak jemaat untuk terus sadar bahwa Roh
Kudus mendiami mereka sehingga mereka menghindarkan diri dari
segala godaan mencemarkan diri (1 Korintus 3:16; 1 Korintus 6:19-20). Mereka
harus menertibkan cara berpikir mereka sendiri agar tetap
memelihara suara hati yang jernih di dalam mengambil keputusan
dalam hidup kebersamaan dengan orang lain (1 Korintus 8:1-3).
Mereka harus mengendalikan diri dalam ibadah agar tidak
menonjolkan diri, mencari kemuliaan diri sendiri sehingga firman
Allah tidak diberitakan sebagai mana mestinya (1 Korintus 12-14).
Dari keterangan tersebut kita dapat mengetahui bahwa Allah Bapa,
Tuhan Yesus dan Roh Kudus selalu menegakkan kedisiplinan kepada
umatnya, agar umatnya memiliki sikap dan pemahaman yang benar di
dalam hidupnya sebagai anak-anak Allah serta taat kepada Tuhan
Allah. Selanjutnya, kolom Tips Mengajar edisi ini akan mengulas
mengenai tugas guru dan orangtua dalam mendisiplin anak dan
bagaimana cara mereka mendisiplin anak-anak.
Sumber: Disiplin sebagai Kebutuhan Anak, B. Samuel Sidjabat, M.Th., Ed.D., .
ArtikelPrinsip Praktis Mendisiplin Anak
- Disiplin harus bertujuan untuk menolong si anak dan bukan untuk
membuat anak menjadi frustasi.
- Disiplin haruslah membimbing dan mendidik si anak agar ia
sanggup membuat pilihan yang bijaksana. Dengan demikian anda
sedang menolong anak untuk dapat mendisplinkan dirinya sendiri.
- Disiplin harus bersumber pada hati yang penuh kasih pada diri
anak, sehingga meyakinkan dirinya bahwa dia adalah bagian dari
keluarga atau Sekolah Minggunya.
- Anda dan anak-anak perlu mengetahui bahwa disiplin itu merupakan
hal yang rahasia dan hanya anda dan dia yang mengetahuinya.
Untuk itu jangan mempermalukan anak di depan umum, karena hal
itu tidak akan berhasil dengan baik.
- Dengan mengampuni kesalahan anak, berarti anda juga membina
kepercayaan di dalam dirinya itu bahwa anda sudah mengampuni dia
dan sekarang semuanya sudah dilupakan.
- Pikirkan masalah yang akan timbul dan carilah jalan untuk
menghadapi hal itu sebelum konflik berkembang.
- Berikanlah pujian dan semangat kepada anak dan jangan memberikan
celaan ataupun ejekan.
- Dengarkan penjelasan seorang anak sebelum membuat keputusan
akhir, dan jelaskan keputusan anda mengapa anda terpaksa
memberikan hukuman kepada anak.
- Hukumlah dengan motif yang jelas, misalnya kebohongan harus
ditangani dengan tegas daripada gelas yang dipecahkan anak
tanpa disengaja.
- Pertimbangkan perbedaan anak-anak secara individu dan pilihlah
disiplin yang tepat bagi masing-masing anak.
- Tundalah pemberian hukuman yang keras sampai anda benar-benar
menjadi lebih tenang dan dapat menguasai diri. Keputusan yang
mendadak biasanya akan disesali.
- Jangan menakuti-nakuti anak. Hukumlah atau jangan menghukum.
- Tetapkan peraturan sesedikit mungkin, tapi laksanakan peraturan
yang sudah ditetapkan.
Sumber: Tujuh Kebutuhan Anak, John M. Drescher, , halaman 106 - 107, P.T. Gunung Mulia, Jakarta, 1992.
Tips MengajarBagaimana Cara Mendisiplin Anak?
James Dobson merupakan tokoh pendidikan anak yang terkenal dalam
mengemukakan berbagai prinsip efektif bagi guru Sekolah Minggu dan
orangtua dalam mendisiplin anak. Buku-bukunya yang mengemukakan
gagasan disiplin ini adalah Dare To Discipline (Berani Mendisiplin
- 1970) dan Discipline With Love (1983). Menurut Dobson, tujuan
disiplin bagi anak ialah agar mereka dapat belajar bagaimana cara
hidup bertanggung jawab. Prinsip Dobson yang dituangkan dalam
karyanya The New Dare to Discipline (1992) tentang cara mendisiplin
anak adalah sebagai berikut:
- Mengembangkan rasa hormat dalam diri anak terhadap guru dan
orangtuanya sendiri. Rasa hormat itu harus ditumbuhkan melalui
komunikasi yang akrab, lalu dikembangkan dan dipelihara dengan
menyediakan waktu untuk menjawab pertanyaan anak. Dengan begitu
anak belajar mengenai otoritas secara benar dan tepat.
- Memberikan hukuman atas tingkah lakunya yang jelas-jelas
memberontak atau menentang guru dan orangtua; melawan terhadap
aturan yang sudah diterangkan dan ditetapkan atau disetujui
sebelumnya. Hukuman fisik yang harus dikenakan bagi anak, pada
bagian "pantat" (spanking). Guru dan orangtua harus menjelaskan
mengapa ia melakukannya; dan jangan dilakukan hukuman jauh
setelah anak melupakan pelanggaran yang dibuatnya.
Menurut Dobson, kalau anak sudah berusia sembilan tahun tidak
tepat lagi memukulnya di bagian pantat, atau mengenakan hukuman
fisik pada bagian tubuh lainnya, tetapi paling-paling menekan
bagian tertentu dari bahunya untuk menyadarkan dirinya bahwa ia
bersalah.
- Mengendalikan diri agar tidak menyimpan amarah berkepanjangan.
Jangan menyimpan emosi benci terhadap anak manakala menghukumnya
secara fisik. Sebelum melakukan hukuman fisik orangtua harus
menghitung dalam hatinya angka satu hingga sepuluh guna meredakan
emosinya.
- Jangan berikan sogokan kepada anak, berupa benda atau hadiah,
agar ia berlaku tertib. Hal ini dapat menumbuhkan akar
materialisme.
Kiranya cuplikan dari artikel yang ditulis oleh Prof. Dr. B.S
Sidjabat yang berjudul Disiplin Sebagai Kebutuhan Anak ini dapat
menambah wawasan anda dan menolong anda dalam menegakkan
kedisiplinan pada murid-murid anda.
Serba SerbiPergi Ke Surga
Guru Sekolah Minggu tersenyum pada murid-muridnya dan bertanya,
"Siapa yang ingin pergi ke Surga, coba angkat tangan!"
Semua murid-murid di kelas itu mengangkat tangannya, kecuali seorang
anak kecil. Guru bertanya, "Kamu tidak ingin pergi ke Surga?"
Murid itu menjawab, "Tidak, bu Guru. Ibu menyuruh saya segera pulang
ke rumah, tidak boleh pergi kemana-mana."
Serba SerbiJangan Bicara Waktu Makan
Suatu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak sedang
makan malam bersama.
Anak : "Ayah, di..."
Ayah : "Diam! Sewaktu makan tidak boleh bicara!" Setelah selesai makan...
Ayah : "Nak, waktu makan tadi apa yang ingin kau katakan?"
Anak : "Ayah, di daun selada yang ayah makan tadi ada ulatnya!"
Dari Anda Untuk Anda
Dari: Feratina Immawati
>Terimakasih untuk e-BinaAnak. Banyak sekali yang saya dapatkan
>dari media ini. Tuhan memberkati. Ada yang ingin saya tanyakan
>yaitu mengenai persiapan acara natal Sekolah Minggu. Apa yang dapat
>guru Sekolah Minggu lakukan untuk mempersiapkan acara natal yang
>menarik, berkesan dan bermanfaat untuk anak-anak sekolah minggu.
>Mungkin ada tips khusus yang dapat membantu kita untuk
>mempersiapkan acara natal Sekolah Minggu.
Redaksi:
Terima kasih untuk perhatian anda pada e-BinaAnak. Memang sebaiknya
Natal dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya, paling tidak dua atau
tiga bulan sebelumnya. Untuk itu pada bulan Oktober nanti e-BinaAnak
merencanakan untuk membahas mengenai persiapan Natal. Oleh karena
itu bagi para pembaca yang memiliki bahan-bahan bagus mengenai
persiapan Natal, cerita Natal, drama Natal, atau aktivitas lain
seputar Natal yang menarik, berkesan dan bermanfaat untuk
anak-anak Sekolah Minggu silakan kirim ke Redaksi agar hal ini dapat
diteruskan kepada para pembaca e-BinaAnak lainnya.
|