Salam dari Redaksi
Salam sejahtera!!
Bagaimana kabar para pembaca semua? Kami berharap anda senantiasa
ada dalam lindungan Tuhan dan tetap setia melayani jiwa-jiwa kecil
yang Tuhan telah percayakan kepada kita.
Untuk melanjutkan pembahasan kita yang lalu tentang tugas guru,
maka kami tampilkan sebuah artikel yang ditulis oleh Paulus Lie,
dari salah satu buku yang diterbitkannya. Mudah-mudahan artikel
ini bisa menolong kita semakin menghayati tugas guru dan bagaimana
kita bisa mendidik anak-anak SM secara terencana.
Selamat membaca!
"Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi,
percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercaya, yang
juga cakap mengajar orang lain." (2 Timotius 2:2)
ArtikelMendidik Anak Sekolah Minggu Secara Terencana
Ini berarti: suatu tindakan terencana (yang dipersiapkan sebelumnya)
untuk mentransformasikan suatu pengetahuan (atau hal yang hendak
diajarkan) kepada anak, sehingga anak terbentuk menjadi pribadi
tertentu seperti yang diharapkan (yang tampak dalam kehidupannya
sehari-hari).
Perhatikan:
- Ulangan 6:1-9, guru diminta mengajarkan secara berulang-ulang,
agar anak-anak mencintai Allah setiap saat dimanapun mereka
berada.
- Matius 28:19-20, guru diharapkan mengajarkan segala sesuatu yang
diajarkan Tuhan Yesus, sehingga mereka menjadi murid Tuhan Yesus.
Seluruh usaha keras guru dalam mendidik atau mengajarkan
ajaran-ajaran itu adalah agar seluruh ajaran itu tertransformasi
dalam kehidupan sehari-hari anak-anak didiknya.
Artinya anak menjadi subjek yang diharapkan menjadi pribadi
mandiri yang mengasihi Allah dengan seluruh totalitas dirinya, dengan
cara hidup seperti yang Yesus ajarkan dan teladankan. Itu sebabnya
Calvin (reformator) menekankan pentingnya pengajaran jemaat, juga
untuk jemaat dewasa dalam kebaktian hari Minggu. Itu sebabnya nama
"SEKOLAH MINGGU", sangat tepat untuk kegiatan pendidikan Kristen bagi
anak-anak! Karena fungsi "sekolah" memang harus ada dalam sistem
pembinaan anak-anak!
Jadi pola hubungan guru-anak seharusnya adalah sebagai berikut:
Guru ===> - Mendidik/mengajar (sesuatu) ===> Anak SM
- Melatih anak (melakukan sesuatu)
- Mendiskusikan (sesuatu hal)
- Melakukan bersama anak (sesuatu hal)
- Memberi kesaksian (pergumulannya)
atau model hubungan guru-anak menjadi:
Subjek ===> (yang saling berbagi) ===> Subjek
Aktif Aktif
Fasilitator Adik seiman
Hayati Firman Hayati Firman
Guru dan anak saling berbagi perasaan, pergumulan, pikiran dan
pendapat masing-masing, sedemikian sehingga guru dapat memahami
"dunia" anak dan pergumulan mereka. Kemudian guru menyampaikan berita
Injil dalam "bahasa anak" dan sesuai dengan "dunia" dan pergumulan
anak-anak tersebut. Jadi dalam hal ini anak dibimbing oleh guru
(sebagai fasilitator) agar makin mengenal dan mencintai Tuhan Yesus.
Semua upaya pendidikan/pengajaran tersebut, haruslah
mempertimbangkan juga berbagai dimensi dalam perkembangan anak,
seperti dimensi: kognitif (pengetahuan), afektif (
penghayatan-perasaan), psikomotorik (ketrampilan fisik), umumnya ketiga hal itu
saling berkaitan (dan harus diperhatikan) jika dikehendaki hasil
pendidikan yang efektif dan memuaskan!
Biasanya guru (banyak Sekolah Minggu) hanya menekankan aspek
kognitif (atau aspek pengetahuan) saja dalam Sekolah Minggu, hal itu tampak dari
isi dan tujuan cerita guru dan tampak dari aktivitas kelas sesudah
cerita, perhatikan contoh berikut:
- Tujuan dan isi cerita guru pada umumnya hanya memberikan pengetahuan
atau informasi atau data-data kepada anak-anak Sekolah Minggu.
- Aktivitas kelas biasanya berupa tugas "mengingat" kembali informasi
yang sudah diberikan, misalnya:
- Siapakah tokoh-tokoh utama cerita hari ini? Dan hubungan
kekerabatan antar tokoh, misalnya: tokoh A "Siapa nama ayahnya?"
Berapa saudara? Berapa usianya? Apa kegemarannya?
- Dimanakah tempat terjadinya? Nama kota "X" artinya apa?
- Apa yang terjadi? Bagaimana urutan ceritanya?
Sedangkan aktivitas anak kecil sering berupa keterampilan
(psikomotoris) dalam mewarnai, menggambar, dan sebagainya. Untuk anak
7-9 tahun aktivitas sering berupa ketrampilan membuat hasta karya
(semacam slip atau pembatas Alkitab, hiasan dinding dan sebagainya).
Sedangkan anak kelas besar lebih sering ditekankan kemampuan daya
ingatnya, dengan berbagai aktivitas yang menekankan kecerdasan
pikiran.
Akibatnya anak-anak pun dinilai dari prestasi daya ingatnya, yang
paling pandai mengingat nilai paling tinggi dan sering disebut "anak
Tuhan yang baik." Apa benar kebaikan anak dapat diukur sesuai "daya
ingat" (kognitif)nya saja? Tetapi kenyataannya anak yang nilai daya
ingatnya bernilai baik, belum tentu moralnya baik, belum tentu
sopan-santunnya baik, belum tentu jujur dan sebagainya.
Demikian juga anak yang terampil berhasta karya, dan mendapat nilai
baik, belum tentu anak yang moral baik, beretika baik! Celakanya,
aktivitas hasta karya ini lebih diminati anak putri daripada anak
laki-laki, akibatnya anak laki-laki akan memiliki bobot nilai kurang
daripada yang putri, apakah ini berarti yang laki-laki kurang pandai?
Belum tentu! Karena bidang minat mereka bukan itu! Memang anak
laki-laki lebih suka berlari-lari, menyusun balok-balok, dsb. Lalu
untuk apa penilaian aktivitas anak di kelas (selama ini) jika aktivitas
itu tidak mencerminkan apa-apa? Bahkan terkesan diskriminatif (cenderung bersifat feminim).
Penulis khawatir ini juga penyebab mengapa Sekolah Minggu dan gereja secara kuantitas statistik
lebih banyak wanita daripada pria. Mungkinkah ada yang salah dalam aktivitas gereja?
Jelaslah ada yang kurang beres dengan sistem penilaian selama ini
dalam Sekolah Minggu kita. Bukankah anak seharusnya diharapkan lebih berprestasi
dalam soal moral, etika dan hal-hal yang berkaitan dengan perwujudan
ajaran Kristen dalam kehidupan. Seberapapun bodohnya anak itu,
seberapapun tidak terampilnya anak itu (secara psikomotoris), asalkan
ia mencintai Tuhan, anak yang jujur, sopan, bermoral, mengasihi
orangtua dan teman-temannya, ia adalah anak yang baik di hadapan
Tuhan.
Karena itu, sebenarnya tugas guru lebih pada pengajaran iman dan
pengajaran moral daripada pengajaran berbagai pengetahuan atau
ketrampilan. Jadi seharusnya lebih bersangkutan dengan dimensi afektif
(penghayatan) anak. Tentu saja iman dan moral yang baik juga perlu
ditunjang dengan pengetahuan (kognitif) dan dimensi psikomotorik juga.
Namun penghayatan merupakan pokok tekanan pengajaran di Sekolah Minggu. Pokok
ajaran Kristen (dalam Ulangan 6:4-5), yaitu agar anak mengasihi Allah
dengan totalitas hidupnya.
Jadi, tidak cukup anak mengerti/tahu (secara kognitif) tentang
Allah dan cerita-cerita Alkitab, tidak cukup anak terampil melipat
tangan dan tutup mata (saat berdoa). Lebih dari itu, anak harus sampai
pada penghayatan dan kesadarannya sendiri untuk mengasihi Allah dan
berdoa pada-Nya, dan memiliki cara hidup yang sesuai dengan ajaran-Nya
(dengan moral yang Yesus telah ajarkan). Dengan semangat mengasihi
Allah (secara total) semacam ini jugalah, kita menjadi GSekolah Minggu yang
melayani dan mengajar anak-anak. Namun sekarang muncul pertanyaan, Sekolah Minggu
model apa yang dapat memenuhi tujuan-tujuan pendidikan tersebut di atas?
Kita memerlukan sebuah model Sekolah Minggu, yang menekankan aspek
iman dan moral (wujud dari penghayatan iman kepada sesama) daripada
aspek pengetahuan saja. Sehingga produk hasil akhirnya adalah anak
terbentuk menjadi seorang anak Tuhan yang menghayati cintanya kepada
Allah yang sudah mengasihinya, dan seorang anak yang hidup dengan
moralitas Yesus, yaitu cara hidup/moral yang sesuai dengan ajaran
Yesus. Sekolah Minggu semacam ini sangat dibutuhkan oleh anak-anak, yang hidup di
tengah lingkungan masyarakat yang sering memberikan teladan moral
yang buruk dalam hal: keadilan, kejujuran, kebenaran, dan kasih.
Sekolah Minggu dengan tujuan "pembentukan" pribadi anak ini, sangat
sulit dibentuk oleh model Sekolah Minggu seperti yang sekarang (bentuk
tradisional), yang menjadikan anak hanya objek pasif saja. Jadi perlu
adanya model Sekolah Minggu yang membuat anak sebagai "subjek" yang
aktif, yang di-"pupuk" agar bertumbuh dalam segala hal ke arah Yesus
(Efesus 4:15). Model Sekolah Minggu semacam inilah yang diharapkan menjadi
sumbangan buku ini bagi dunia Sekolah Minggu.
Dan masih ada satu masalah lagi, yaitu bagaimana anak-anak dapat
bertumbuh, jika ia kurang tertarik dengan suasana kelasnya, kurang
tertarik dengan acaranya, atau bahkan tidak tertarik untuk datang ke
Sekolah Minggu? Karena itulah perlu dibentuk suatu model Sekolah
Minggu yang menarik bagi anak-anak dalam membimbing mereka menjadi
anak yang mencintai Tuhannya. Sekaligus membentuk mereka menjadi
manusia yang bermoral dan penuh kasih dalam praktik hidupnya.
Sumber: Teknik Kreatif dan Terpadu dalam Mengajar Sekolah Minggu, Paulus Lie, , halaman 64 - 67, Yayasan Andi, Yogyakarta, 1999.
Tips MengajarEtika Mengajar dengan Papan Tulis
Tersedianya papan tulis dalam ruang kelas belajar sangat membantu
guru dalam mengajar. Namun demikian tidak semua guru menyadari
bahwa mengajar dengan papan tulis ada etikanya. Berikut ini adalah
beberapa tips ketika mengajar dengan menggunakan papan tulis:
- Ketika anda sedang menggunakan papan tulis dalam mengajar, jangan
berdiri tepat di depan papan tulis, karena hal itu akan merintangi
pandangan anak-anak untuk melihat apa yang anda tulis di papan
tulis. Berdirilah sedemikian rupa sehingga anda tidak menghalangi
pandangan anak-anak.
- Gunakan kayu/tongkat penunjuk untuk menunjukkan apa yang anda tulis
di papan tulis, karena itulah cara terbaik agar tubuh anda tidak
menghalangi pandangan anak ketika melihat tulisan di papan tulis.
- Janganlah memenuhi papan dengan tulisan. Terlalu banyak tulisan
mengakibatkan papan menjadi tidak menarik dan membingungkan
anak-anak. Biarkan sebagian papan kosong secara proporsional, khususnya
bagian bawah papan karena anak-anak yang duduk di bagian belakang
tidak akan mungkin bisa melihat dengan jelas.
- Perhatikan agar tulisan anda cukup besar, dengan bentuk huruf yang
tegak, sehingga dapat dibaca jelas. Tidak harus sempurna tetapi
yang penting tulisan cukup tebal.
- Hapuslah tulisan yang sudah tidak diperlukan. Anak-anak tidak
dapat memusatkan perhatian pada banyaknya tulisan yang bercampur
aduk dengan tidak teratur.
- Jika anda menulis di "white board" (bukan papan tulis kayu yang
berwarna hitam), dianjurkan anda memakai pena dengan tinta warna
gelap (hitam biru tua), karena akan memberikan kontras yang jelas.
HumorDoa yang Lain?
Setelah mendengarkan anaknya yang masih kecil berdoa, ibu itu dengan
hati-hati menegur anaknya dan berkata bahwa doa itu berbicara dengan
Tuhan, bukan seperti ngobrol dengan teman.
Dengan kesal anak itu mengeluh:
"Tapi, mami... Kalau aku jadi Tuhan, aku pasti bosan mendengar doa
yang gitu-gitu terus setiap malam ...
Aku cuman pengin Tuhan menjadi temanku supaya aku bisa bercerita kepada
Dia tentang bonekaku, siapa tahu Tuhan pengin dengar doa yang lain ... !
Sumber: The Last Of The Good Clean Joke Books, Bob Phillips, .
Dari Anda Untuk Anda
Dari: Mersiana
>Shalom,
>Terimakasih untuk bina anak karena membantu guru
>dalam tehnik mengajar,namun pun demikian adakah
>dari bina anak yang menyediakan program training
>bagi guru sm? jika belum ada, adakah teman-teman
>yang mempunyai informasi mengenai training untuk
>guru sm? terimakasih,
Redaksi:
Kami sendiri tidak (belum) bisa mengadakan training bagi guru SM,
tenaganya yang nggak ada :( Namun kami mengundang para pembaca
e-BinaAnak yang tahu informasi ini bisa memberitahukan kepada
kami dan akan kami informasikan di e-BinaAnak yang akan datang.
Silakan rame-rame kirim info..... siapa tahu anda akan menjadi
berkat bagi yang lain...!!
|