Salam dari Redaksi
Salam sejahtera dalam Tuhan Yesus Kristus!
Puji syukur kepada Tuhan karena Milis Publikasi Elektronik
e-BinaAnak ini dapat diterbitkan bertepatan dengan Hari Doa Anak
sedunia, yaitu bulan Maret 2000. Pada bulan ini para pelayan Tuhan
dan badan-badan misi Kristen yang tergabung dalam pelayanan anak
sedang bersama-sama berdoa agar Tuhan membangkitkan semakin banyak
orang yang mau memberikan komitmen dan perhatian pada kebutuhan
rohani anak-anak di seluruh dunia.
Mengapa para pelayan anak mendapat perhatian besar? Karena para
pelayan anak (yaitu pengurus dan guru-guru Sekolah Minggu, pemimpin
dan pembina sel anak, dan mereka yang terlibat dalam pelayanan
anak) adalah orang-orang yang berperan besar dalam pendidikan
kerohanian anak. Merekalah orang-orang yang dipercaya untuk
membangun iman anak-anak. Dan bagi merekalah, e-BinaAnak
terpanggil, yaitu untuk ikut membekali para pelayan anak Indonesia,
di manapun mereka berada. Kerinduan kami adalah supaya melalui
tulisan-tulisan yang kami kirimkan, para pelayan anak dapat
meningkatkan kesungguhan dan kualitas pelayanannya bagi kemuliaan
nama Tuhan.
Usaha memberikan bekal kepada para pelayan anak ini adalah sesuai
dengan penyataan Alkitab bahwa Tuhan sendiri yang telah memilih
murid-muridNya dan memperlengkapi mereka dengan kemampuan khusus
untuk meningkatkan pelayanannya:
"Dialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun
nabi-nabi, baik pemberita Injil maupun gembala-gembala
dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang kudus
bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus,
sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan
pengetahuan yang benar tentang anak Allah, kedewasaan
penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan
kepenuhan Kristus." (Efesus 4:17-18)
Oleh karena itu marilah kita siapkan diri untuk diisi dan dibentuk
sesuai dengan FirmanNya !! :-) ....dan teach the little kids...
Selamat belajar dan melayani,
Redaksi
"Tetapi sekarang, ya Tuhan, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah
liat Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah
buatan tanganMu." (Yesaya 64:8)
ArtikelSejarah Sekolah Minggu
(dari Ulangan 6:4-7 sampai Kisah Robert Raikes)
Banyak sekali guru Sekolah Minggu dan para pembina anak yang belum
tahu cerita tentang bagaimana pelayanan Sekolah Minggu pertama kali
diselenggarakan. Oleh karena itu dalam edisi perdana, kami akan
menyajikan terlebih dahulu sebuah artikel tentang sejarah Sekolah
Minggu.
Kalau kita menelusuri kembali ke jaman Perjanjian Lama, maka
sebenarnya Alkitab telah memberikan perhatian yang serius terhadap
pembinaan rohani anak. Pada masa itu pembinaan rohani anak dilakukan
sepenuhnya dalam keluarga (Ulangan 6:4-7). Sejak sebelum usia 5 tahun
anak telah dididik oleh orang tuanya untuk mengenal Allah Yahweh.
Pada masa pembuangan di Babilonia (500 SM), ketika Tuhan menggerakkan
Ezra dan para ahli kitab untuk membangkitkan kembali kecintaan
bangsa Israel kepada Taurat Tuhan, maka dibukalah tempat ibadah
sinagoge dimana mereka dapat belajar Firman Tuhan kembali, termasuk
diantara mereka adalah anak-anak kecil. Orangtua wajib mengirimkan
anak-anaknya yang berusia di bawah 5 tahun ke sekolah di sinagoge.
Di sana mereka dididik oleh guru-guru sukarelawan yang mahir dalam
kitab Taurat.
Anak-anak dikelompokkan dengan jumlah maksimum 25 orang dan
dibimbing untuk aktif berpikir dan bertanya, sedangkan guru adalah
fasilitator yang selalu siap sedia menjawab pertanyaan-pertanyaan
mereka.
Ketika orang-orang Yahudi yang dibuang di Babilonia diijinkan pulang
ke Palestina, maka mereka meneruskan tradisi membuka tempat ibadah
sinagoge ini di Palestina sampai masa Perjanjian Baru. Tuhan Yesus
ketika masih kecil, juga sama seperti anak-anak Yahudi yang lain,
menerima pengajaran Taurat di sinagoge. Dan pada usia 12 tahun Yesus
sanggup bertanya jawab dengan para ahli Taurat di Bait Allah.
Tradisi mendidik anak-anak secara ketat terus berlangsung sampai
pada masa rasul-rasul (1 Tim 3:15) dan gereja mula-mula. Namun,
tempat untuk mendidik mereka perlahan-lahan tidak lagi dipusatkan di
sinagoge tetapi di gereja, tempat jemaat Tuhan berkumpul.
Tetapi sayang sekali pada Abad Pertengahan gereja tidak lagi
memelihara kebiasaan mendidik anak seperti abad-abad sebelumnya.
Bahkan orang dewasapun tidak lagi mendapatkan pengajaran Firman
Tuhan dengan baik.
Barulah pada masa Reformasi, gerakan pengembalian kepada pengajaran
Alkitab dibangkitkan lagi, dan pendidikan terhadap anak-anak mulai
digalakkan kembali, khususnya melalui kelas Katekismus. Untuk itu
hanya para pekerja gereja sajalah yang diijinkan untuk terlibat
dalam pembinaan. Namun sedikitnya orang yang terlatih untuk
mengajarkan kelas Katekismus ini menyebabkan pelayanan anak ini
menjadi mundur bahkan perlahan-lahan tidak lagi menjadi perhatian
utama gereja dan diadakan hanya sebagai prasyarat bagi anak-anak
yang akan menerima konfirmasi (baptis sidi).
Barulah pada abad 18, seorang wartawan Inggris bernama Robert
Raikes, digerakkan oleh rasa cinta kepada anak-anak, membuat suatu
gerakan yang akhirnya mendorong lahirnya pelayanan Sekolah Minggu!
Pada masa akhir abad 18, Inggris sedang dilanda suatu krisis ekonomi
yang sangat parah. Setiap orang bekerja keras untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya, bahkan anak-anak dipaksa bekerja untuk bisa
mendapatkan penghidupan yang layak. Pada saat itu wartawan Robert
Raikes, mendapat tugas untuk meliput berita tentang anak-anak
gelandangan di Gloucester bagi sebuah harian (koran) milik ayahnya.
Apa yang dilihat Robert sangat memprihatinkan sebab anak-anak
gelandangan itu harus bekerja dari hari Senin sampai Sabtu. Apa yang
dilakukan anak-anak pada hari Minggu itu? Hari Minggu adalah
satu-satunya hari libur mereka sehingga mereka habiskan untuk
bersenang-senang, tapi karena mereka tidak pernah mendapat pendidikan
(karena tidak bersekolah), anak-anak itu menjadi sangat liar, mereka
minum-minum dan melakukan berbagai macam kenakalan dan kejahatan.
Melihat keadaan itu Robert Raikes bertekad untuk mengubah keadaan.
Ia dengan beberapa teman mencoba melakukan pendekatan kepada
anak-anak tersebut dengan mengundang mereka berkumpul di sebuah dapur
milik Ibu Meredith di kota Scooty Alley. Di sana selain anak-anak
mendapat makanan, mereka juga diajarkan sopan santun, membaca dan
menulis.
Tapi hal paling indah yang diterima anak-anak di situ adalah mereka
mendapat kesempatan mendengar cerita-cerita Alkitab.
Pada mulanya pelayanan ini sangat tidak mudah. Banyak anak-anak itu
datang dengan keadaan yang sangat bau dan kotor. Namun dengan cara
pendidikan yang disiplin, kadang dengan pukulan rotan, tapi
dilakukan dengan penuh cinta kasih, anak-anak itu akhirnya belajar
untuk mau dididik dengan baik, sehingga semakin lama semakin banyak
anak datang ke dapur Ibu Meredith. Semakin banyak juga guru disewa
untuk mengajar mereka, bukan hanya untuk belajar membaca dan menulis
tapi juga Firman Tuhan. Perjuangan yang sangat sulit tapi melegakan.
Dan dalam waktu 4 tahun sekolah minggu itu semakin berkembang bahkan
ke kota-kota lain di Inggris, dan jumlah anak-anak yang datang ke
sekolah hari minggu terhitung mencapai 250.000 anak di seluruh
Inggris.
Mula-mula, gereja tidak mengakui kehadiran gerakan Sekolah Minggu
yang dimulai oleh Robert Raikes ini. Tetapi karena kegigihannya
menulis ke berbagai publikasi dan membagikan visi pelayanan anak
ke masyarakat Kristen di Inggris, dan juga atas bantuan John Wesley
(pendiri gereja Methodis), akhirnya kehadiran Sekolah Minggu
diterima oleh gereja. Mula-mula oleh gereja Methodis, akhirnya
gereja-gereja protestan lain. Ketika Robert Raikes meninggal dunia
thn. 1811, jumlah anak yang hadir di Sekolah Minggu di seluruh
Inggris mencapai lebih dari 400.000 anak. Dari pelayanan anak ini,
Inggris tidak hanya diselamatkan dari revolusi sosial, tapi juga
diselamatkan dari generasi yang tidak mengenal Tuhan.
Gerakan Sekolah Minggu yang dimulai di Inggris ini akhirnya menjalar
ke berbagai tempat di dunia, termasuk negara-negara Eropa lainnya
dan ke Amerika. Dan dari para misionaris yang pergi melayani ke
negara-negara Asia, akhirnya pelayanan anak melalui Sekolah Minggu
juga hadir di Indonesia.
Sumber: Pedoman Pelayan Anak, Ruth Lautfer, , halaman 191 - 194, Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, Malang, 1993. Pola Mengajar Sekolah Minggu, Mavis L. Anderson, , halaman 5 - 9, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993.
Tips MengajarAgar Anak Tidak Mudah Bosan di Kelas
Tahukah anda bahwa anak-anak perlu bergerak dan bermain? Akan
sangat sulit mengajak anak untuk bisa diam lebih dari 5 menit.
Oleh karena itu supaya anak tidak mudah bosan selama mendengarkan
cerita anda, selingilah cerita itu dengan berbagai aktivitas badan,
misalnya, menirukan suara-suara tertentu, mengangkat tangan,
melakukan gerakan tertentu yang sesuai dengan cerita anda, atau
bahkan dengan menyanyi lagu yang mendukung cerita anda. Buatlah
agar suasana kelas gembira dan penuh tawa, karena hal itu sangat
dibutuhkan untuk anak merasa aman dan diterima, dan pasti
anak-anak akan menjadi betah di kelas anda.
Serba SerbiMembuat Buku Data Anak Sekolah Minggu
Cara terbaik guru mengenal anak adalah dengan membuat buku catatan
tentang data-data dari anak-anak didiknya. Dengan data-data yang
dikumpulkan itu guru akan lebih mudah mengikuti perkembangan anak,
dan betul-betul mengenalnya secara pribadi.
Bagaimana caranya mendapatkan data-data anak tsb.?
- Lakukan kunjungan (visitasi) ke rumah anak dan bertemu dengan
orang tuanya.
- Lakukan wawancara dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada
anak.
- Lakukan wawancara dengan teman dekat anak untuk melengkapi data
yang kurang.
Data-data apa yang perlu dicatat?
- Nama anak dan Tanggal lahir.
- Nama orang tua Anak (berikan kesan yang anda dapatkan dari mereka).
- Jumlah saudara.
- Alamat rumah (berikan catatan tentang kondisi rumah).
- Nama sahabat atau teman dekatnya (catat juga kesan dari mereka).
- Permainan apa yang paling ia sukai.
- Warna apa yang paling ia sukai.
- Siapa orang yang paling ia kagumi.
- Penyakit apa yang sering mengganggunya.
- Apakah binatang kesayanannya.
- Nilai-nilainya di sekolah.
- Ketrampilan apa yang dikuasai (menggambar/menyanyi/dll.).
- Nyanyian apa yang paling disukai, dan mengapa?
- Aktivitas apa yang paling ia sukai.
|