Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Disiplin dalam Pelayanan dan Hidup Rohani


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Apa yang terlintas di pikiran Anda saat Anda mendengar kata "disiplin"? Tanpa memaksa otak untuk berpikir keras, dengan waktu yang relatif cepat, Anda sudah dapat menyimpulkan jawabannya. Ah, disiplin adalah sesuatu yang menjengkelkan, berat, dan Anda pasti enggan untuk melakukannya.

Ternyata kata "disiplin" seberat konsekuensi yang terkandung di dalamnya. Padahal banyak yang dapat kita peroleh dari perjalanan sebuah proses disiplin.

Lalu, bagaimana pandangan disiplin dari kacamata rohani? Jelas sekali bahwa disiplin merupakan salah satu pengajaran penting yang Yesus ajarkan kepada murid-murid-Nya dan kita. Disiplin yang Allah inginkan adalah untuk membawa kita masuk dalam hadirat kemuliaan-Nya dan untuk mengubah kita menjadi serupa dengan gambar Anak-Nya.

DISIPLIN KRISTUS

Pada masa pelayanan-Nya, Yesus tidak pernah mengajarkan kedisiplinan kepada murid-murid-Nya dengan membiarkan mereka berada dalam sebuah penderitaan. Setiap kali ada sebuah masalah, Dia memakai kesempatan itu untuk menegur murid-murid-Nya. Disiplin yang Dia berikan melalui setiap teguran, nasihat, maupun pengajaran, ditujukan-Nya untuk membawa murid-murid-Nya semakin mengenal Dia dan untuk memperlengkapi mereka dalam pelayanan mereka kelak.

Kepada kita saat ini pun Tuhan memberikan pengajaran, teguran, nasihat, dan jika perlu Dia mengijinkan terjadinya penderitaan, seperti sakit-penyakit, kerugian, dll., agar kita lebih didewasakan dengan cara Allah. Tujuan Allah mendisiplin manusia adalah agar mereka taat, hormat, dan semakin mengenal Dia.

Melalui firman-Nya kita dapat melihat fakta-fakta atau metode disiplin yang Dia terapkan kepada murid-murid-Nya. Di antaranya adalah saat Petrus diintimidasi oleh Iblis (Matius 16:22-23). Juga sewaktu Tuhan Yesus beserta murid-murid-Nya menghadapi angin ribut, saat murid-murid tidak percaya, khawatir, dan takut, Tuhan Yesus menegur mereka (Markus 4:40). Dan masih banyak lagi yang Kristus paparkan tentang kedisiplinan lewat firman-Nya, seperti dalam Markus 10:17-22, Lukas 9:51-56, Lukas 22:24-30, atau Yohanes 8:11.

Selain menerapkan beberapa metode disiplin dalam pengajaran-Nya, Yesus sendiri merupakan sosok yang memiliki disiplin tinggi untuk hidup rohani-Nya. Dia tidak pernah lari dari firman Allah setiap kali menghadapi guncangan-guncangan dalam pelayanan. Disiplin rohani-Nya amat terlihat dalam hal hubungan-Nya dengan Bapa. Dalam firman Tuhan, kita dapat melihat doa-doa yang Yesus panjatkan kepada Bapa-Nya di surga. Sejak kecil Dia sudah disiplin untuk bergaul dengan firman Tuhan. Dia juga bisa menguasai diri-Nya dari hal-hal duniawi untuk memenuhi kehendak Bapa-Nya.

DISIPLIN PELAYAN ANAK

Berkaca dari disiplin Kristus, para pelayan anak pun dapat menerapkan disiplin dengan baik dalam pelayanan dan hidup rohani-Nya. Seorang pelayan anak yang menerapkan disiplin dalam hidupnya dapat memiliki semangat yang menyala-nyala untuk melayani, walaupun banyak tantangan yang harus dihadapi dan mungkin dapat menyurutkan komitmen. Terkadang kegiatan belajar mengajar Anda rasakan makin lama makin membosankan, rekan kerja sepelayanan mulai tidak antusias dalam mengajar, sampai semangat yang mulai kendor. Hal ini tidak bisa dihindari oleh para pelayan anak sekolah minggu. Akan tetapi, dalam Roma 12:11 dan 2Korintus 4:8, terlihat bagaimana hati yang disiplin akan menolong kita untuk senantiasa melayani secara konsisten, berapi-api, dan terus memberikan kemajuan.

Beberapa nilai penting dari kedisiplinan di bawah ini kiranya menambah pemahaman Anda dan membantu para pelayan sekolah minggu untuk tetap menjaga kedisiplinan, baik dalam pelayanan, maupun disiplin rohaninya.

  1. Disiplin mengajarkan kita untuk taat.

    Layaknya seorang ayah, Allah mendisiplin anak-anak-Nya agar mereka lebih taat, hormat, dan semakin mengenal kehendak-Nya. Dalam Perjanjian Baru, penulis surat Ibrani menyatakan bahwa Allah mendisiplin umat-Nya agar kita taat kepada-Nya. Ia menyatakan disiplin sebagai bukti kasih-Nya, "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya" (Ibrani 12:5,6). Meskipun pada mulanya, Allah mendatangkan dukacita (lihat Ibrani 12:10, Ibrani 12:11), tetapi Dia menghajar kita demi kebaikan, dan supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Terkadang, setiap ganjaran yang Allah berikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Namun, dukacita tersebut justru menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.

    Jadi, jangan pernah melihat bahwa Tuhan selalu mendatangkan dukacita dan membiarkan kita tergeletak. Justru pada saat kita berada dalam keterpurukan, kita akan mengenal kasih Allah yang luar biasa dalam hidup kita.

  2. Disiplin adalah anugerah dari Allah.

    Disiplin dalam konteks ini adalah menyangkut kedisiplinan rohani. T. M. Moore menyatakan bahwa Allah memberikan anugerah disiplin (disiplin rohani) sebagai cara untuk menolong kita bertumbuh dalam kasih kepada-Nya dan kepada sesama kita.

    Tuhan Yesus Kristus pun menegakkan disiplin bagi murid-murid-Nya, dengan memberikan contoh tentang menggunakan waktu, uang, dan hidup berdoa yang tekun. Dia pun menyatakan bahwa kepentingan orang lain harus didahulukan, sebagaimana terlihat ketika Yesus melayani orang yang datang kepada-Nya, meskipun Ia sering kali belum sempat makan (band. Markus 3:20-21). Bilamana, murid-murid ingin membalas kejahatan dengan kejahatan, Dia menyatakan sikap mengasihi dan mengalihkan perhatian mereka kepada tugas lain (band. Lukas 9:51-56).

Para pelayan anak dapat mengaplikasikan disiplin hidup yang berkenan dalam bentuk doa, membaca firman Tuhan, penyembahan, waktu pribadi bersama Tuhan, memberi persembahan, berpuasa, diam di hadirat Tuhan, dan sebagainya. Hal tersebut akan membawa kita masuk semakin dekat dengan-Nya, yang tidak bisa didapatkan hanya dari kegiatan rutin sehari-hari. Memiliki disiplin rohani yang baik akan memampukan kita untuk melihat kemuliaan-Nya dan dapat memberi pembaharuan hidup setiap hari di dalam Yesus Kristus. Dalam hal apa sajakah para pelayan anak dapat memiliki disiplin rohani yang berkenan kepada Tuhan?

  1. Disiplin Doa

    Disiplin rohani dengan berdoa adalah cara yang Allah pakai untuk mengubah kita. Doa adalah nafas kehidupan kita. Doa yang dinaikkan sungguh-sungguh akan menciptakan dan mengubah hidup. "Doa yang rahasia, yang sungguh-sungguh, dan penuh percaya adalah sumber semua kesalehan pribadi," tulis William Carey. Meditasi memperkenalkan kita pada kehidupan batiniah, berpuasa merupakan sarana yang menyertainya, tetapi disiplin doa itu sendiri yang membawa kita memasuki pekerjaan roh manusia yang tertinggi dan terdalam.

  2. Disiplin Berpuasa

    Sebagai disiplin rohani, puasa harus berpusat pada Tuhan. Puasa hendaknya membantu kita untuk mengendalikan keinginan manusiawi kita. Puasa dapat mengungkapkan hal-hal yang menguasai, seperti sombong, marah, cemburu, dan takut. Sifat-sifat itu ada di dalam diri kita dan sifat-sifat itu akan muncul selama kita berpuasa.

  3. Disiplin Bergereja

    Disiplin penting lainnya adalah disiplin bergereja. Ada tujuh alasan mengapa kita harus terlibat dan mendisiplinkan diri untuk bergereja.

    1. Bergereja adalah cara kita untuk membentuk kesatuan umat Allah yang baru. Sebagai orang Kristen, kita adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.
    2. Gereja menempatkan kita pada jalan yang benar. Saat kita beribadah bersama saudara-saudara kita dalam Kristus, kita menangkap suatu pandangan yang nyata dari sudut pandang Allah. Mungkin saat kita menghadapi hari-hari kita dominasi duniawi banyak mengusai kita dan sudut pandang Allah sedikit terkaburkan. Waktu kita bergereja hal itu disingkapkan dan kita menjadi tahu tentang sebuah prioritas yang akan memimpin kita.
    3. Keikutsertaan dalam tubuh Kristus merupakan sarana untuk bertumbuh dan melayani. Gereja adalah tempat untuk menggunakan berbagai karunia rohani kita.
    4. Allah sudah memerintahkan kita untuk menjadi bagian dari masyarakat Kristen.
    5. Bergereja adalah persembahan kita kepada Tuhan dan kepada orang lain.
    6. Melibatkan diri dalam kehidupan gereja akan menghilangkan sifat individualisme kita -- sering mementingkan diri sendiri.
    7. Dengan terlibat di dalam kehidupan masyarakat Kristen, kita ikut serta dalam tiga fungsi pokok ibadah: pengucapan syukur, pengajaran, dan pertobatan.

Hendaknya disiplin rohani kita tidak hanya sebatas pada sebuah rutinitas saja dan bukan juga disiplin rohani yang kehilangan kuasanya untuk membawa kita bertatap muka dengan Allah.

Bagaimana para pelayan Kristus? Bagaimana kehidupan rohani Anda sejauh ini? Apakah teladan kedisiplinan Kristus sudah menjadi bagian dari kehidupan Anda? Kiranya Roh Kudus terus menyalakan api semangat dalam pelayanan Anda sebagai rekan sekerja Allah -- dalam pelayanan kepada anak sekolah minggu. Dan teladan kedisiplinan yang telah tertanam dalam kehidupan Anda, dapat dibagikan juga kepada anak-anak layan Anda. Tuhan Yesus memberkati.

Sumber bacaan Pendukung:
Sidjabat, B. Samuel. Disiplin sebagai Kebutuhan Anak, dalam
http://lead.sabda.org/?title=anak_disiplin.
Moore, T. M. Disiplin atau Rutinitas?, dalam
http://www.sabda.org/publikasi/e-reformed/054/.
Disiplin Bergereja, dalam http://pepak.sabda.org/27/may/2005/anak_disiplin_bergereja.

Kategori Bahan PEPAK: Guru - Pendidik

Komentar