Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK

Bagaimana Orang Dewasa Memahami Konsep Teologis Anak


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Edisi PEPAK: edisi 771 - Anak dan Teologi

Sungguh disayangkan, banyak orang dewasa telah kehilangan memori tentang bagaimana rasanya menjadi anak-anak. Mereka tidak dapat mengenang kembali perasaan menggebu-gebu yang dialami seorang anak ketika menantikan datangnya Natal -- sembari memandangi kado-kado misterius di bawah pohon Natal. Orang dewasa telah lupa akan masa ketika kata-kata tidak jelas maknanya, dan harus bertanya lagi dan lagi, "Apa artinya itu?" Salah satu tugas inti dari orangtua dan pengajar anak ialah menemukan kembali (mengingat kembali) dunia kanak-kanak. Hanya dengan demikianlah, seorang dewasa dapat memahami apa yang dilakukan anak sehingga mampu membimbing anak tersebut dengan bijaksana.

Dalam mengingat kembali dunia anak, orang dewasa menjadi sadar (mawas) akan cara pikirnya, terkait dengan kebenaran kristiani. Para guru yang melupakan hal ini sering kali menuntut anak-anak untuk menghasilkan lebih daripada batas kemampuannya. Alhasil, kepada anak, dunia dijabarkan menurut sudut pandang orang dewasa, dengan asumsi yang mereka bayangkan dan pikirkan sebagai orang dewasa. Oleh karena itu, Yesus Kristus yang digambarkan sebagai terang dunia, roti hidup, jalan, kebenaran, dan hidup -- semuanya merupakan konsep yang terlalu sulit untuk dipahami seorang anak kecil.

Orangtua dan guru dapat mengerti konsep berpikir anak dengan memperdalam pemahaman mengenai perkembangan anak. Memahami karakteristik mental, emosional, dan spiritual pada tiap tahap usia akan memberi kita pengertian yang mendalam. Pengertian ini dapat ditingkatkan dengan melakukan pengamatan terhadap anak pada beragam situasi. Dengan cara inilah, informasi yang telah diperoleh bisa diamati dalam kondisi kehidupan nyata.

Selain itu, untuk memahami dunia berpikir anak-anak, seorang dewasa harus mengembangkan disiplin, kemampuan menyimak dan menangkap percakapan anak. Kita harus memperhatikan pilihan kata-kata yang mereka gunakan. Mengamati bagaimana mereka bernyanyi, menghafal ayat, dan menceritakan kisah-kisah Alkitab akan sangat memberi pencerahan. Selagi kita mendengarkan bagaimana seorang anak memaknai berbagai peristiwa, kita akan melihat secara lebih utuh sampai di mana seorang anak memahami kebenaran Alkitab. Misalnya, ketika orang dewasa bertanya kepada anak kecil, "Mengapa?" kemungkinan anak itu akan menjawab "Karena," atau "Karena dia melakukannya". Hal ini menandakan bahwa seorang anak belum memiliki kematangan intelektual untuk mengerti logika sebab akibat. Dengan demikian, ia hanya menggunakan "karena" dalam jawabannya.

Gambar: Memahami anak

Di samping menyimak, orang dewasa harus berbicara dan menanyai anak-anak dalam situasi yang informal dan ramah. Menanyakan "Apakah dosa?" kepada seorang anak 8 tahun akan menunjukkan sampai di mana pengertiannya mengenai dosa. Apabila hendak memahami konsep teologis seorang anak, kita dapat mengajukan pertanyaan seperti "Coba ceritakan, apa yang kamu pikirkan tentang Tuhan", "Siapakah Yesus?" "Apa artinya lahir baru?" Kita harus sengaja menggunakan istilah yang biasa dipakai secara umum untuk melihat apakah mereka benar-benar mengerti: lahir baru, Injil, hati, kasih, berbagi, berdoa. Orang dewasa akan segera menangkap cakupan pemahaman yang dimiliki seorang anak. Semakin banyak seorang anak ditanyai, semakin tinggi pengertian kita akan potensi anak pada tingkatan-tingkatan usia tertentu.

Namun, kita harus waspada akan adanya 2 bahaya. Pertama, terlalu cepat mengambil kesimpulan dengan menyamaratakan karakteristik anak hanya berdasarkan pengamatan terhadap suatu kelompok yang kecil. Bercakap-cakap dengan beberapa anak usia sekolah dasar tidaklah cukup untuk membuat kesimpulan mengenai konsep teologis yang dimiliki semua anak kelas 1 sampai 3. Dalam satu kasus, mungkin semua anak berasal dari keluarga Kristen yang telah menerima bimbingan dengan baik, sedangkan dalam kasus lain, mungkin banyak anak yang baru sedikit menerima pendidikan kristiani. Hasilnya tentu akan sangat terlihat berbeda.

Bahaya lainnya ialah ketika orang dewasa menjadikan jawaban yang kurang meyakinkan sebagai indikator pengertian anak. Fakta-fakta Alkitab yang jarang disebut bukanlah bukti yang valid atas pemahaman konsep kristiani. Seorang anak harus menerima fakta objektif (fakta yang terkandung dari Alkitab sendiri - Red.), mempelajari artinya, lalu memahami apa maksud dari fakta tersebut bagi dirinya sendiri.

Cara lain untuk menemukan konsep teologis anak ialah dengan membuat mereka mengekspresikan pemikiran-pemikiran religius mereka dalam seni, musik, dan drama. Dengan memanfaatkan bentuk-bentuk tersebut, sering kali anak akan mengonseptualisasikan pengertian mereka secara deskriptif. Hasilnya terkadang lucu. Ketika diminta menggambar, seorang anak membuat gambar dua orang dewasa duduk di jok belakang mobil dan seorang di depan. Saat ditanya tentang apakah gambar tersebut, ia menjawab, "Itu adalah Tuhan yang sedang mengusir (drive out -- mengemudikan mobil) Adam dan Hawa dari taman Eden." Meski lucu, kisah ini dengan jelas mencerminkan pengertian seorang anak tentang peristiwa tersebut.

Orangtua dan pelayan anak harus menggunakan sebanyak mungkin bentuk untuk menemukan konsep yang dimiliki anak-anak mereka mengenai pemikiran alkitabiah. Dengan mengetahui di mana posisi seorang anak dalam tahap perkembangannya, kita dapat membimbing mereka melangkah kepada pemikiran yang lebih lanjut (lebih matang). Melalui pengamatan pribadi, orang dewasa akan menyadari betapa luasnya cakupan perbedaan antarindividu anak.

Terjadinya Miskonsepsi

Gambar: Miskonsepsi

Banyak anak memiliki pedoman dan konsep yang salah karena stimulasi berlebih atas tingkat intelektual mereka. Ada dua sumber, khususnya, yang bisa menjadi sangat berbahaya. Yang pertama ialah masukan informasi berlebih dari media massa. Pikiran anak akan terjejali oleh gambaran dan pemikiran yang tidak dapat diolahnya, sebab ia belum memiliki kemampuan untuk menata masukan-masukan tersebut. Dengan demikian, gagasan satu dan lainnya saling terhubung dengan tidak relevan sehingga dua pemikiran yang tidak sesuai terjadi secara bersamaan.

Hal lain yang menyebabkan stimulasi berlebih ialah orangtua atau guru yang terlalu berambisi sehingga mencampuradukkan kuantitas dengan kualitas. Dengan demikian, anak dipaksa menghafalkan banyak ayat Alkitab yang tidak ia pahami; dihadapkan pada segudang cerita, peristiwa, dan masalah yang tidak akan pernah dapat ia kuasai dan diajari lagu-lagu gereja yang mengandung pengajaran yang terlalu sukar untuk dipahami. Anak itu diberi masukan terlalu banyak atau terlalu sulit. Hal ini akan menghasilkan kebingungan dan salah mengerti (miskonsepsi). Prinsip yang jauh lebih baik ialah dengan memberi anak lebih sedikit informasi dan pengalaman yang dapat dicerna secara sehat. Adalah bijak untuk tidak memaksakan konsep teologis kepada seorang anak sebelum ia dapat memahaminya secara intelektual.

Anak-anak juga akan mengalami miskonsepsi karena mereka tidak memiliki cara yang akurat untuk memeriksa pengamatan dan kesimpulan mereka sendiri. Russel menekankan bahwa kesalahan konsep terjadi karena "terlalu yakin akan hasil pengamatan dan pemikiran konseptual". Pada dasarnya, seorang anak percaya begitu saja pada orang dewasa, mereka merasa bahwa apa pun yang dikatakan orang dewasa pastilah benar. Oleh sebab itu, jika mereka memproses informasi dengan tidak tepat, atau menerima pemikiran serta sikap yang salah dari orang dewasa, kecil kemungkinan mereka akan dapat memperbaiki kesalahan tersebut tanpa bimbingan orang dewasa.

Kesalahan konsep juga dapat terjadi ketika praduga yang menjadi dasar pembentuk konsep tersebut memang telah salah. Ini bisa merupakan hasil dari pengalaman masa kecil yang berlawanan dengan prinsip Alkitab. Seorang anak yang memiliki relasi ayah-anak yang menyimpang kemungkinan akan sulit membangun pemahaman akan relasi Bapa-anak dengan benar.

Miskonsepsi terjadi ketika alat peraga visual yang keliru dipakai dalam mengajarkan Alkitab. Salah satu buku cerita Alkitab yang terkenal menggambarkan Iblis dengan pakaian yang aneh, bertanduk, berekor, dan memegang garpu rumput. Gambar yang salah seperti itu akan membekas dalam benak seorang anak dalam waktu lama. Betapa banyak anak yang membayangkan malaikat bersayap karena gambar-gambar menampilkan malaikat seperti itu. Namun, apakah hal itu tepat secara alkitabiah?

Mendengar kata yang salah akan membuat anak menerima informasi tidak akurat bagi pembentukan konsepnya. Hal ini sering terjadi dalam lagu anak-anak ketika kombinasi dampak dari pengucapan tidak jelas yang dilakukan orang dewasa, paduan suara, maupun iringan musik mendistorsi atau mengaburkan kata-katanya. Seorang anak tidak mengerti saat mendengar lagu "Jesus loves me, the sigh no" (Yesus mengasihiku, jelas tidak - lirik asli: Jesus loves me, this I know - Red.). Di samping itu, lagu anak terkadang memiliki makna teologis yang membingungkan, atau terlalu simbolis. Bagi guru, cobalah tanyakan kepada murid-murid Anda apa yang mereka pahami dari lirik "Dialah bunga bakung di padang", Anda akan mendapatkan jawaban yang sangat menarik.

Miskonsepsi juga terjadi akibat percakapan dengan teman sebaya. Seorang anak bisa dengan mudah menerima kesan dan informasi yang salah dari teman bermain, khususnya yang tidak seiman. Jika anak-anak lain tidak diajari kebenaran Kristen, mereka dapat membawa anak Anda pada distorsi pengertian atau kekeliruan yang telah terintegrasi dalam memorinya mengenai topik yang bersangkutan.

Karena miskonsepsi bisa terjadi dengan mudah, prinsip-prinsip berikut ini harus dipraktikkan:

  1. Hindarilah mengajarkan konsep simbolis sebelum anak-anak mampu mengerti.
  2. Pertajam konsep teologis Anda sendiri sebelum mengajar anak-anak. Apa yang saya percayai tentang Roh Kudus? Bagaimana saya dapat menyampaikan kebenaran ini dengan cara yang sederhana dan tidak menyesatkan?
  3. Sesuaikan kata-kata dengan pengalaman dan pengenalan akan kata. Keduanya saling melengkapi dan memperjelas satu sama lain. Pengalaman mengekspresikan makna yang lebih dalam dari kata; sementara kata, meneguhkan pengalaman.
  4. Jangan ajarkan apa pun yang suatu hari nanti harus diabaikan.
  5. Berusahalah menerjemahkan konsep teologis menjadi prinsip-prinsip aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak mungkin saja menerima bahwa Allah Mahakuasa, tetapi mereka belum tentu tahu bagaimana menerapkan konsep tersebut dalam kehidupan mereka. Orangtua dapat menolong dengan mendemonstrasikan realitas kebenaran Kristen.
  6. Memperkaya, bukan menambah. Bantulah anak memperoleh pengertian yang lebih kaya mengenai kebenaran-kebenaran mendasar, ketimbang menambah daftar pengetahuan mereka. Misalnya, konsep kejujuran dapat dibangun lewat berbagai cara: situasi hidup, kisah-kisah yang berkenaan dengan kehidupan, kisah Alkitab, lagu, gambar, ayat-ayat Alkitab.
  7. Ajarkan konsep satu per satu.
  8. Sesuaikan informasi (yang diajarkan) dengan tingkat pemahaman anak.
  9. Kaitkan informasi dengan pengalaman anak, dengan cara yang memungkinkannya memeriksa dan memahami maknanya. (t/Joy)

Download Audio

Diterjemahkan dari:
Judul asli buku: : Childhood Education in the Church
Judul bab : Helping Children Develop Spiritually
Judul asli artikel : Children and Their Theological Concepts
Penulis : Robert E. Clark, Joanne Brubaker, Roy B. Zuck
Penerbit : Moody Press, Chicago 1986
Halaman : 357 -- 360

Kategori Bahan PEPAK: Pengajaran - Doktrin

Komentar