Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK

Bagaimana Anda Menjelaskan Tritunggal kepada Anak-Anak?


Jenis Bahan PEPAK: Tips

Edisi PEPAK: e-BinaAnak 775 - Anak dan Doktrin

Kemarin, seorang teman wartawan mengirim email untuk mengajukan pertanyaan, yang saya pikir banyak ditanyakan oleh orang tua Kristen. Bagaimana menjelaskan konsep Tritunggal Mahakudus kepada anak-anak?

Gambar: Simbol Tritunggal

Saya pikir, alasan mengapa pertanyaan ini bergema kepada begitu banyak orang tua adalah karena kita, orang dewasa, tidak dapat secara memadai menjelaskan doktrin itu sendiri. Kita dapat mengajarkan anak-anak ineransi/ketidakbersalahan Alkitab hanya dengan berkata, “Alkitab itu Benar.” Kita dapat menjelaskan sesuatu tentang penebusan dengan berkata, “Yesus membayar dosa-dosa kita dan Yang hidup untuk selama-lamanya.” Namun, Trinitas adalah masalah lain.

Saya pikir, kebanyakan dari rasa takut dan batu sandungan kita di sini berasal dari kesalahpahaman tentang apa itu Injil Kristen. Ya, agama Kristen masuk akal dan dapat dipahami (Carl Henry menegaskannya).

Akan tetapi, kekristenan bukan hanya tentang akal dan kecerdasan. Injil menunjuk pada jenis kebijaksanaan yang berbeda, yang membungkam mulut manusia (Yesaya 55:8; Yeremia 8:9; 1 Korintus 1:19-20).

Allah adalah Esa, dan Allah adalah tiga pribadi dalam hubungan yang kekal satu sama lain, hubungan yang kita diundang ke dalamnya. Itu tidaklah bersifat kontradiktif. Meski esa, Allah Bapa tidak sama dengan Allah Anak maupun Allah Roh Kudus, dan juga sebaliknya. Namun, siapa yang bisa menyederhanakan ini menjadi semacam rumus atau analogi yang mudah?

Terkadang, kita mencari analogi yang cepat untuk anak-anak karena kita ingin menyingkirkan anak-anak kita dari misteri mereka. Jika Tritunggal adalah penjelasan yang mudah (itu seperti shamrock [tanaman berdaun tiga - Red.]; itu seperti air, es, dan uap), kita dapat “beralih dari hal itu”. Kita takut, jika kita mengatakan bahwa Tritunggal dalam beberapa hal berada di luar pemahaman maka mereka tidak akan memercayai kita untuk menyatakan dengan yakin tentang kebenaran Injil.

Akan tetapi, Yesus memberi tahu kita ada sesuatu tentang cara memercayai yang dilakukan seorang anak yang seharusnya benar bagi kita semua. Kita harus, Yesus memberi tahu kita, menjadi seperti mereka jika kita benar-benar ingin memasuki kerajaan Allah. Pada satu sisi, adalah benar bahwa anak-anak sering kali bersifat terlalu harfiah. Saya ingat ketika masih kecil pernah berpikir bahwa “jiwa” adalah versi kecil dari diri saya yang terletak di salah satu ruang di hati saya (dan mengenakan seragam tentara, entah untuk apa).

Akan tetapi, sering kali anak-anak lebih terbuka terhadap misteri dan paradoks daripada orang dewasa. Anak-anak menjelajahi dunia di sekitar mereka dengan rasa heran yang besar. Mereka tidak memahami semuanya, dan mereka tahu bahwa mereka tidak memahami semuanya.

Itu adalah jenis ketidaktahuan yang diberkati, yang saya percaya Yesus hargai. Ketidaktahuan semacam itulah yang saya percaya dikehendaki oleh Yesus. Untuk percaya, Anda harus memercayai semua yang Allah katakan kepada Anda, tetapi Anda juga harus melihat-Nya -- bukan kepada pemahaman Anda sendiri -- sebagai Tuhan. Bahkan, untuk bisa melihat sedikit saja, kita harus mengetahui bahwa kita “melihat dalam cermin, suatu gambaran yang samar-samar” (1 Kor. 13:12).

Dengan demikian, kita harus dengan berani menyatakan kepada anak-anak kita, “Allah adalah Esa dan Allah adalah tiga (pribadi). Saya tidak dapat sepenuhnya menjelaskan semua hal itu karena sebesar itulah kebesaran dan sifat misterius Allah dan jalan-Nya. Bukankah itu luar biasa?”

Ketika anak Anda berkata, “Itu mengejutkan pikiranku,” janganlah menanggapi dengan raut khawatir, tetapi dengan binar di mata Anda. “Saya tahu!” katakan demikian. “Saya juga berpikir hal yang sama! Bukankah itu melampaui akal, dan hebat!”

Itu tidak mengakhiri pembicaraan, tentu saja. Itu hanya akan mengawalinya. Akan tetapi, kita memiliki beberapa triliun tahun dan seterusnya untuk menjelajahi kedalaman realitas Trinitas. Sebuah awal adalah apa yang kita butuhkan.

Dan, mempelajari tentang keesaan dan ketritunggalan Allah dengan rasa heran dan takjub adalah awal yang baik, saya pikir, untuk mulai memvaksinasi anak-anak kita dari jenis rasionalisme steril, baik Kristen maupun ateis, yang dapat menyebabkan semacam kehidupan biasa yang membosankan, putus asa, dan tragis. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Russell Moore
Alamat situs : https://www.russellmoore.com/2012/09/10/how-do-you-explain-the-trinity-to-children/
Judul asli artikel : How Do You Explain the Trinity to Children?
Penulis : Russel Moore
Tanggal akses : 23 Mei 2018

Komentar