Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Artikel: Belajar Aktif ("Active Learning")


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Kegembiraan dan kreasi merupakan aspek penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak. Namun, menjadikan proses belajar sebagai suatu kegembiraan dan proses kreatif, mensyaratkan penggunaan metode belajar yang beragam dan relevan dengan cara belajar anak. Untuk menjawab kebutuhan akan cara belajar serta mengembangkan lingkungan belajar yang kondusif ini, maka pendekatan proses belajar mengajar yang diperkenalkan di sini adalah active learning.

Mengapa Active Learning?

Proses PAK memuat berbagai aktivitas berupa aktivitas mental, fisik, pikiran, maupun emosi. Keaktifan mental, emosi, pikiran, ataupun fisik tersebut merupakan aspek utama dalam pendekatan active learning.

  1. Dalam PAK, anak-anak adalah subjek yang melakukan aktivitas-aktivitas sebagai proses belajar. Konsep ini jugalah yang dipakai dalam pendekatan active learning, yaitu proses belajar berangkat dari apa yang dapat anak pelajari melalui beragam aktivitas, bukan dari apa yang hendak diajarkan guru.
  2. Pendekatan active learning menawarkan cara belajar anak yang alamiah sebagai dasar merancang kegiatan-kegiatan belajar di kelas. Pendekatan ini juga lebih menekankan kerja sama dan kemitraan dalam bekerja ketimbang kompetisi yang cenderung membangun sikap individualis dan egosentris.
  3. Active learning mendorong terbentuknya keterampilan personal (kepercayaan diri, kemampuan memecahkan masalah, membuat keputusan, mengendalikan diri, dll.) dan interpersonal (berbagi, berkomunikasi, negosiasi, bermusyawarah, kerja sama, mendengarkan orang lain, dll.).
  4. Meningkatkan daya belajar anak melalui metode-metode kreatif, variatif, dan menyenangkan.
  5. Keaktifan merupakan hal yang penting dalam perkembangan alami anak. Melalui gerak, anak mengekspresikan dirinya. Ini merupakan langkah awal membentuk sebuah kesadaran (consciousness). Perkembangan motorik anak mendahului perkembangan sensorik mereka. Hal ini menunjukkan bahwa gerakan mengawali suatu kesadaran, dan kesadaran ini cenderung akan mendasari suatu tindakan. Active learning mengembangkan suatu proses kegiatan yang kondusif bagi ekspresi, tidak hanya ekspresi fisik, tetapi juga emosi/mental, spiritual, dan pikiran.

Jadi, tidak diragukan lagi pendekatan inilah yang akan membuat anak-anak yang Anda layani bergembira dalam bersekutu, beribadah, serta belajar, sehingga anak bisa dengan mudah berkata, "Aku senang pergi ke sekolah minggu!"

Tujuan:
Pelayan sekolah minggu memiliki peran penting dalam mengembangkan sebuah sekolah minggu yang dirindukan anak-anak. Ini karena pelayan sekolah minggu adalah mereka yang berada di garis terdepan dalam menciptakan suatu iklim sekolah minggu yang dinamis, menarik, kreatif, penuh kegembiraan, dan sukacita. Untuk itu, seorang pelayan sekolah minggu perlu memiliki pengetahuan-pengetahuan dan keterampilan-keterampilan tertentu. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan pelatihan untuk mengembangkan keterampilan pelayan sekolah minggu dalam melayani anak-anak. Pelatihan ini harus dirancang sesuai dengan prinsip-prinsip aktif, partisipatif, menyenangkan, kreatif, dan sederhana.

Aktif: Peserta melakukan kegiatan-kegiatan yang melibatkan keaktifan baik fisik maupun pikiran.

Partisipatif: Keterlibatan peserta tidak hanya secara fisik saja, tetapi juga dalam pikiran dan emosi. Pesertalah yang menjadi subjek proses belajar dalam pelatihan ini, sedangkan pemandu hanya berperan sebagai fasilitator.

Menyenangkan: Kegiatan demi kegiatan dirancang sedemikian rupa sehingga kegiatan tersebut menarik dan menyenangkan untuk dilakukan. Aktivitas yang dilakukan juga beragam dan dilaksanakan baik secara individu maupun dalam kelompok besar dan kecil.

Kreatif: Kegiatan dilakukan untuk merangsang kreativitas dan imajinasi peserta agar dapat mengembangkan ide-ide dan praktik-praktik yang bermanfaat.

Sederhana: Kegiatan-kegiatan bersifat sederhana, mudah dilakukan, tetapi kaya akan gagasan-gagasan penting. Kegiatan dalam tiap sesi pelatihan dirancang secara konsisten menggunakan pendekatan active learning. Di samping itu, kegiatan juga mempertimbangkan cara belajar orang dewasa, yang dijelaskan di bawah ini.

  1. Orang dewasa akan belajar dengan baik jika mereka secara sukarela memutuskan sendiri untuk mengikuti suatu pelatihan karena alasan-alasan tertentu. Mereka memiliki hak untuk mengetahui mengapa topik dan sesi dalam pelatihan yang akan mereka ikuti penting bagi mereka.
  2. Orang dewasa selalu memiliki tujuan ketika belajar, hal ini yang memotivasi mereka untuk belajar sesuatu. Namun, jika motivasi ini tidak mendapat dukungan, motivasi itu akan padam dengan sendirinya sehingga mereka lebih suka tidak hadir atau menghindar.
  3. Orang dewasa memiliki pengalaman-pengalaman yang dapat digunakan untuk saling menolong satu sama lain dalam belajar. Mendorong mereka untuk berbagi pengalaman akan membuat sesi-sesi Anda lebih efektif.
  4. Orang dewasa belajar secara optimal ketika terlibat dan berpartisipasi secara aktif.
  5. Orang dewasa belajar secara optimal ketika jelas bagi mereka bahwa pelatihan tersebut dekat dengan tugas-tugas dan pekerjaan-pekerjaan mereka. Mereka berpikir optimal ketika diberi fasilitasi untuk belajar dari realitas konkret mereka.

Apa dan bagaimana setelah pelatihan?

  1. Pelatihan sebagai Program Pengembangan Warga Gereja
    Program pelatihan PAK sekolah minggu diharapkan bukan hanya bersifat insidental semata. Namun, pelatihan tersebut diharapkan dapat menjadi suatu program berkelanjutan yang berkualitas dan membawa hasil nyata. Bagian ini membahas pelatihan dalam konteks pelatihan sebagai program pembinaan yang berkelanjutan. Sebagaimana suatu program perlu dipantau, maka setelah pelatihan dilakukan, susunlah jadwal bersama untuk monitoring (pemantauan) atau supervisi.
    1. Mendampingi Penerapan Hasil Pelatihan (Supervisi)
      Setelah pelatihan, pendampingan merupakan bagian yang sangat penting. Pendampingan ini dilakukan untuk:
      • Membantu peserta menerapkan apa yang dipelajari dalam pelatihan.
      • Meninjau pelaksanaan keterampilan yang baru dipelajari agar berjalan sesuai yang diharapkan.
      • Mendiskusikan tantangan yang dihadapi dan keberhasilan yang dicapai.
    2. Memotivasi pelayanan guru sekolah minggu.

    Pendampingan seperti ini harus dilakukan segera setelah pelatihan usai sehingga apa yang dipelajari dalam pelatihan masih segar dalam ingatan. Namun, pelaksanaan pendampingan secara menyeluruh dan berkelanjutan juga perlu dilakukan untuk mencapai tujuan yang lebih luas seperti:

    1. Mengembangkan daya kritis guru-guru sekolah minggu terhadap teologi dan tradisi yang sedang berlaku di PAK sekolah minggu.
    2. Menjadi wadah untuk mendiskusikan berbagai perkembangan di bidang PAK, khususnya sekolah minggu.
    3. Memonitor dan mengevaluasi manajemen PAK sekolah minggu yang dilaksanakan.
    4. Mengembangkan gagasan-gagasan inovatif dan penelitian untuk meningkatkan kualitas sekolah minggu.
  2. Metode Pendampingan/Supervisi
    Program pendampingan dapat memakai berbagai metode seperti kuesioner, diskusi, atau kombinasi keduanya. Meski demikian, ada rambu-rambu yang perlu diperhatikan dalam supervisi, seperti:
    1. Supervisi sangat baik jika dilakukan secara partisipatif, yaitu guru memperoleh kesempatan untuk mengungkapkan pendapat, pemikiran, keluhan, kebutuhan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar), dan gagasan-gagasannya untuk kemajuan bersama.
    2. Dalam supervisi jangan sampai guru merasa didikte, merasa gagal, merasa tidak dipahami dan merasa dilemahkan.
    3. Dalam supervisi, kerja keras guru harus dihargai sekalipun beberapa hal masih belum berjalan seperti yang diharapkan.
    4. Hubungan antara supervisor dan guru adalah hubungan mitra kerja untuk mencapai tujuan bersama. Karena itu, ketika bekerja, supervisor harus menjauhkan pikiran bahwa "saya lebih dan paling tahu", sedangkan guru juga tidak boleh berpikir bahwa "saya tidak tahu dan tidak bisa apa-apa".
  3. Hal-hal yang Perlu Menjadi Bahan Supervisi
    Supervisi SM dilakukan terhadap 4 hal berikut:
    1. Kegiatan belajar-mengajar (KBM), mencakup kegiatan apa yang dilakukan, bagaimana kegiatan berjalan, bagaimana lingkungan belajar, apa yang dilakukan guru, apa yang dilakukan anak, bagaimana guru mengatur manajemen kelas dan kegiatan, dsb..
    2. Administrasi kelas, mencakup persiapan guru mengajar dan rencana pembelajaran, daftar hadir, inventaris kelas, pengelolaan dana sekolah minggu, dll..
    3. Materi, mencakup, teologi yang berkembang, pelaksanaan kurikulum, pencapaian-pencapaian dalam pelajaran, dll..
    4. Perkembangan anak, mencakup perilaku anak dalam sekolah minggu, respons-respons anak, aspirasi dan pendapat anak terhadap sekolah minggu yang sejauh ini berlangsung, dll. Sebenarnya, bagian ini dapat dimasukkan dalam capaian-capaian pelajaran. Namun, untuk lebih mempertegas bahwa capaian pelajaran bukan hanya menyelesaikan bahan ajar sesuai kurikulum, melainkan memiliki tujuan perubahan perilaku dan sikap mental anak, maka supervisi terhadap perkembangan anak perlu dilakukan secara khusus. Data seperti ini juga diperlukan untuk konsultasi dengan orang tua anak.
  4. Siapa yang Melakukan Supervisi?
    Supervisi dilakukan oleh suatu tim, atau seseorang yang disepakati dan dipercayai mampu melakukan suatu supervisi secara baik dan berkompeten. Orang tersebut bisa salah seorang anggota Majelis Jemaat, bisa juga dilakukan oleh Pendeta, atau tim yang terdiri dari anggota Majelis Jemaat, Pendeta/Pengerja Gereja, anggota Komisi Sekolah Minggu, dan guru sekolah minggu secara bergantian.

Cara terbaik mempelajari Active Learning adalah dengan melakukannya. Hal-hal yang bersifat praksis lebih mudah dipahami dengan praktik langsung dan belajar dari pengalaman. Oleh karena itu, penulis bersama beberapa rekan telah membentuk suatu tim fasilitator yang bersedia memberikan informasi lebih jauh, merespons komentar, pertanyaan, dan juga memfasilitasi pelatihan jika dibutuhkan.

Diambil dan sunting dari:

Judul buku : Guruku Sahabatku
Judul asli artikel : Sekolah Minggu dan Active Learning
Penulis : Novelina Laheba
Penerbit : ANDI, Yogyakarta 2007
Halaman : 17 -- 20, 131 -- 134

Kategori Bahan PEPAK: Metode dan Cara Mengajar

Komentar