Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Blog SABDA


Syndicate content
melayani dengan berbagi
Updated: 42 weeks 6 days ago

#Ayo_PA! dalam Persekutuan Komisi Pemuda GKAI Betlehem Karanganyar

Tue, 05/31/2016 - 14:04

Dalam evaluasi presentasi PA untuk Generasi Digital di PPA Berea GKI Sorogenen, Ibu Yulia, Ketua YLSA, mendorong kami untuk melanjutkan kegiatan ini, yang kami namakan gerakan #ayo_PA!. Pada saat itu, kami semua yang mengikuti evaluasi juga sepakat untuk meneruskannya. Kami mendapat tugas untuk menghubungi gereja-gereja, persekutuan Kristen, sekolah Kristen, dan komunitas Kristen apa pun yang kami ketahui untuk memperkenalkan tentang #ayo_PA! ini.

Saya mendapat tugas untuk sharing kepada rekan-rekan pemuda di gereja saya sendiri, yaitu GKAI Betlehem. Saya menghubungi Sdr. Hosiana, seksi acara dari Komisi Pemuda GKAI Betlehem, dan mendapat respons yang baik. Setelah didiskusikan dengan Ketua Komisi Pemuda GKAI Betlehem, disepakatilah pada tanggal 20 Mei 2016, tim #ayo_PA! akan memberikan presentasi mengenai PA di era digitalini dan metode-metodenya kepada remaja dan pemuda GKAI Betlehem.

Seperti biasa, sebelum melakukan presentasi yang sebenarnya, masing-masing staf yang bertugas harus latihan minimal dua kali di depan teman-teman YLSA lainnya. Untuk acara di GKAI Betlehem ini, tim yang bertugas adalah saya, Ody, Hilda, Jono, dan Aji. Ody dan Hilda, yang akan menyampaikan presentasi sesi satu dan dua, berlatih dengan cukup keras. Hasilnya? Tentu saja, dengan latihan, masukan dari teman-teman, dan pertolongan Tuhan, mereka dapat melakukannya dengan baik pada hari H. Jono juga mempersiapkan dengan baik semua perlengkapan teknis yang diperlukan dalam acara tersebut. Sayangnya, kami tidak membawa layar dan LCD projector cadangan. Meski fasilitas itu ada di GKAI Betlehem, tetapi kurang maksimal karena jarak antara peserta dan layar LCD yang terlalu jauh. Ini jadi catatan penting bagi tim-tim selanjutnya. Sementara itu, saya bertugas sebagai MC yang mengarahkan acara berjalan sesuai rencana dan memastikan peserta bisa mengikuti setiap penjelasan dengan baik. Aji menolong Jono untuk melakukan dokumentasi acara dalam bentuk video.

Dalam acara tersebut, baik Hilda maupun Ody, terus menekankan pentingnya ber-PA bagi generasi digital dengan menggunakan setiap gadget yang mereka miliki untuk melakukan PA. Dimulai dari penjelasan Hilda di sesi pertama tentang generasi digital dan pertumbuhan rohani. Semua orang percaya, termasuk generasi digital yang Kristen, harus mengalami pertumbuhan rohani. Oleh karena itu, di tengah-tengah perkembangan teknologi ini, firman Tuhan yang adalah sumber pertumbuhan rohani harus menjadi hal utama yang diakses para generasi digital melalui gadget mereka. Dengan begitu, mereka bisa tetap teguh dalam iman kepada Tuhan ketika godaan duniawi untuk menjauh dari Tuhan membayangi mereka setiap hari. Mereka harus menggunakan HP mereka untuk makin mengenal Tuhan dan memuliakan Tuhan. Pada sesi kedua, ody kembali menekankan pentingnya PA. Alkitab adalah firman Tuhan yang melaluinya kita bisa mengenal Allah. Alkitab juga yang akan memberikan tuntunan ketika kita mengalami permasalahan dalam kehidupan. Tidak perlu bingung dengan metode karena ada banyak metode yang bisa digunakan untuk PA digital. Salah satunya adalah metode PA S.A.B.D.A (Simak, Analisa, Belajar, Doa/Diskusi, Aplikasi). Metode ini bisa digunakan untuk melakukan PA secara digital menggunakan Alkitab audio, aplikasi Alkitab, Alkitab PEDIA, Kamus Alkitab, dan Tafsiran. Kita juga bisa menggunakan sosial media sebagai sarana untuk berbagi firman Tuhan.

Ketika saya menanyakan kepada peserta, apakah mereka sudah biasa melakukan PA, baik secara pribadi maupun kelompok dalam gereja, hampir semua menjawab belum. Inilah tantangannya. Gereja atau institusi pendidikan Kristen sendiri tidak mendorong jemaat atau siswanya untuk melakukan PA. Makanan rohani bagi jemaat hanya diberikan seminggu sekali melalui khotbah pendeta. Atau, bagi siswa/mahasiswa Kristen, pengetahuan Alkitab hanya diberikan berdasarkan kurikulum yang berlaku untuk diajarkan, itu pun hanya kulit-kulitnya. Namun, kami bersyukur karena tantangan kami kepada peserta yang hadir untuk mereka memulai PA disambut dengan baik. Ada yang mengatakan bahwa mereka akan memulai PA itu dimulai dari diri mereka sendiri. Dan, ada juga yang berkomitmen untuk melakukan PA di kelompok kamar asrama mereka (karena peserta kebanyakan mahasiswa STT yang tinggal di asrama). Melalui gadgetnya, mereka dapat mengakses banyak sumber dan alat untuk melakukan PA dengan cara yang menyenangkan, mudah, tetapi tetap mendalam. Beberapa peserta sempat mengakui bahwa mereka tahu kalau PA itu penting, tetapi memang sulit diaplikasikan karena banyak alasan yang dicari-cari. Kiranya melalui presentasi tentang PA untuk Generasi Digital ini, kaum muda yang hadir dalam acara tersebut diterangi hatinya oleh Roh Kudus untuk makin mencintai Alkitab sehingga mereka makin memuliakan Allah setiap hari.

#Ayo_PA!

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Ulang Tahun Pertama di YLSA

Wed, 05/25/2016 - 12:36

Rabu, 18 Mei 2016, adalah kali pertama aku melewati hari ulang tahunku di SABDA dan kali kelima aku melewati hari ulang tahunku tidak bersama dengan orangtua dan adik-adikku. Ya, sejak 5 tahun lalu, aku kuliah di Surabaya dan karena kesibukan kuliah, aku sering tidak bisa pulang ke rumah tepat pada hari ulang tahunku. Akhir tahun 2015, aku bekerja di Solo, yang jaraknya lebih jauh lagi dari rumah. Namun, aku menyadari bahwa setiap tahunnya, aku tak pernah melewatinya tanpa Allah, Sang Pemberi hidupku. Ayat yang mengingatkanku adalah ini, "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu" (Yesaya 46:4).

Setiap ulang tahun, aku terus mengingatkan diriku bahwa waktuku untuk melayani Tuhan sudah berkurang 1 tahun lagi. Bersyukur, kalau setengah tahun ini, aku bisa melayani Tuhan di SABDA. Bertemu dengan teman-teman yang mempunyai hati untuk bekerja bagi Tuhan melalui teknologi di era digital ini.

Apa yang akan terjadi ke depan aku tidak tahu, tetapi aku tahu siapa yang pegang hari esok. Ada satu kalimat yang kuingat pernah diucapkan oleh teman sepelayanan di pelayanan mahasiswa sewaktu kuliah, "Tuhan tidak membawamu sampai sejauh ini hanya untuk meninggalkanmu." Ya, Allah yang sudah menyertaiku sampai sekarang, Allah yang sama jugalah yang akan menuntunku menjalani hari-hari ke depan. Soli deo Gloria!

Kategori: Pelayanan
Kata kunci:

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

SABDA MENCANANGKAN GERAKAN #AYO_PA!

Tue, 05/17/2016 - 11:26

Oleh: Aji + Yulia

Beberapa waktu ini, saya dan teman-teman di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) disibukkan dengan perancangan sebuah kampanye untuk gerakan mencintai dan memahami Alkitab yang dinamakan #Ayo_PA! Seperti namanya, kampanye ini pada intinya ingin mengajak orang percaya, khususnya kaum muda, untuk kembali memiliki kebiasaan ber-PA (pemahaman Alkitab), dengan fokus pada penggunaan alat digital, dalam hal ini adalah gawai smartphone. Kampanye ini dirasa mendesak karena pemakaian gawai smartphone sudah begitu marak, tetapi umumnya hanya untuk bersosialisasi, entertainment atau hal lain yang membuang banyak waktu, tak terkecuali oleh anak-anak Tuhan. Melalui kampanye #ayo_PA! YLSA tergerak untuk memberi pemahaman bahwa gawai seharusnya digunakan untuk pelayanan, terutama untuk belajar firman. Yang terutama, YLSA ingin mengampanyekan hal-hal yang bersifat lebih dasar seperti apa pentingnya melakukan PA dan bagaimana melakukannya dengan cara-cara yang relevan pada abad ini.

Seperti diketahui, teknologi terus berubah dari generasi ke generasi. Karena itu, cara-cara melakukan sesuatu tentunya tidak lagi sama dengan sebelumnya. Kampanye ini juga dibentuk atas dasar fakta bahwa banyak gereja sudah meninggalkan kebiasaan ber-PA dan pada saat yang sama mereka kehilangan anak muda dengan sangat cepat. Gereja sebagai tubuh Kristus yang dipimpin oleh Roh Kudus seharusnya menjadi organisme yang paling dinamis untuk bertumbuh, tetapi justru menjadi organisasi yang paling kaku dan sulit menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Tidak heran jika gereja menjadi tidak relevan dan tidak menarik bagi anak-anak muda. Dalam hal menelaah firman Tuhan, gereja hanya menggunakan metode khotbah sehingga menghasilkan jemaat yang tidak mandiri dan tidak bergairah dalam belajar firman Tuhan. Jika gereja tidak kembali kepada Alkitab dan tidak beradaptasi dengan kemajuan zaman, anak-anak muda zaman ini berpotensi besar menjadi generasi yang terhilang dari gereja.

Gerakan #ayo_PA! lahir dari pemahaman bahwa kemudahan akses Alkitab di mana pun dan kapan pun, tidak bisa menjadi tolok ukur kesadaran seseorang untuk cinta dan hidup sesuai dengan firman Allah. Orang-orang percaya masih perlu dibimbing, dimotivasi, dan diperlengkapi dengan metode dan alat-alat PA yang tepat dan relevan dengan zaman ini. Untuk melakukan kampanye ini, YLSA untungnya tidak perlu memulai dari nol karena sudah memiliki alat-alat aplikasi dan bahan-bahan pendukung seperti Alkitab elektronik, Kamus Alkitab, AlkiPedia, Alkitab audio, dan masih banyak lagi. YLSA juga telah membuka berbagai chat group dan media sosial yang dapat menjadi wadah berkomunitas dan berbagi firman Tuhan. Selain itu, YLSA juga telah menyediakan metode belajar Alkitab seperti S.A.B.D.A. (Simak, Analisa, Belajar, Doa + Diskusi, dan Aplikasi) yang membantu anak-anak Tuhan belajar firman Tuhan dengan cara yang terstruktur.

Seperti telah disebutkan di atas, kampanye #ayo_PA! berharap dimulai dengan menjangkau kalangan anak muda, walaupun bukan berarti jemaat umum tidak bisa ikut berbagian. Mengapa anak muda dulu? Alasannya sederhana, kita harus memulai dari satu titik untuk kemudian menyebar bersama-sama ke kelompok-kelompok yang lain. Namun lebih dari itu, remaja dan pemuda adalah kelompok yang paling mudah beradaptasi dengan teknologi ("digital native"). Kelompok ini juga kelompok yang paling lapar rohani dan paling dibutuhkan gereja. Mereka sudah sangat intuitif dalam menjalankan gawai sehingga tidak perlu lagi membuang waktu mengajarkan cara menggunakan alat-alatnya. YLSA bisa langsung memfokuskan diri pada pembelajaran PA dan metodenya. Selain itu, anak muda juga "lahir" di tengah-tengah maraknya media-media sosial sehingga untuk membagikan sesuatu atau "share" dengan teman-teman yang lain adalah hal yang natural bagi mereka. Semua ini tentunya menjadi modal besar untuk menyebarluaskan gerakan ini pada lebih banyak kalangan. Karena itu, jika berhasil dengan kaum muda, mereka bisa menolong generasi "digital immigrant" mengenal teknologi dan secara berdampingan bisa bersama-sama membangun tubuh Kristus belajar firman Tuhan.

Hal yang ironis dan yang menjadi tantangan justru terletak pada para pemimpin gereja (Penatua dan Majelis), hamba-hamba Tuhan, dan para mentor. Kemungkinan besar merekalah yang tidak siap karena mereka terlalu nyaman menjalankan pelayanan gereja dari puluhan tahun yang lalu sampai sekarang dengan cara yang sama. Ini tentunya menjadi kendala tersendiri mengingat merekalah yang seharusnya membimbing dan memimpin kaum muda. Untuk itu, satu poin penting yang perlu dicatat adalah bahwa kampanye #ayo_PA! tidak sekadar mengajarkan bagaimana ber-PA, tetapi bagaimana mengubah cara pandang pelayanan di era digital, khususnya para hamba Tuhan dan pemimpin gereja, sehingga dapat mengubah gereja untuk dapat lebih relevan dan antisipatif terhadap kebutuhan generasi yang akan datang. Perlu dipikirkan bagaimana melakukan pelatihan bagi para pemimpin atau "training for the trainers". Jadi, boleh disimpulkan bahwa kampanye #ayo_PA! adalah juga proyek multiplikasi trainer-trainer PA, yang selain mempraktikkan PA bagi diri sendiri, juga mengajarkan dan menularkan semangat ber-PA itu kepada orang lain yang akan kembali mengajarkannya kepada orang lain lagi.

Saat ini, YLSA tengah mempersiapkan bahan-bahan pelatihan dan mencoba metode-metode PA yang tepat untuk menjadi paket yang bisa diduplikasikan oleh siapa saja yang ingin ambil bagian dalam gerakan #ayo_PA! ini. Sudah dibentuk tim-tim staf YLSA yang akan menguji coba supaya menjadi lebih baik lagi. Selain itu, YLSA masih menyiapkan infrastruktur, seperti situs ayo-PA, komunitas-komunitas di berbagai media sosial, dan bahan-bahan penunjang lain yang dapat menolong keberhasilan gerakan #ayo_PA! Besar harapan kami, juga dapat diikuti oleh komunitas-komunitas lain sehingga memberi dampak luas bagi Kerajaan Allah.

Nah, jika Anda membaca blog ini dan berminat untuk bergabung dalam gerakan #ayo_PA! silakan kunjungi situs #Ayo_PA! < http://ayo-pa.org >. Anda juga dapat kontak kami di alamat email ylsa@sabda.org. Anda juga dapat bergabung dengan komunitas #ayo_PA! di sosial media berikut ini:
Facebook: Ayo PA < https://facebook.com/ayo.ayo.pa >
Twitter: @_ayo_pa < https://twitter.com/_ayo_pa >
Instagram: @Ayo PA < https://instagram.com/ayo.pa >

Mari bersama menjadi pembelajar Alkitab yang tekun dengan cara dan perangkat digital abad ini. Namun, yang terutama, kiranya kita semakin dibukakan oleh Roh Kudus dengan kebenaran firman Tuhan dan rindu hidup sesuai dengan kebenaran-Nya. #ayo_PA!

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

“May God Give You More Time to Change the World”

Tue, 05/17/2016 - 07:14

Oleh: Harjono

Kalimat di atas adalah kesan dari serangkaian ucapan selamat ulang tahun yang muncul dari postingan media sosial, chatting, SMS, dan ucapan langsung. Kalimat yang terinspirasi dari ucapan temanku yang adalah seorang penginjil ini sangat berkesan bagiku, terutama dalam menginjak usia 23 tahun ini.

Mbak Setya pernah sharing bahwa ketika ulang tahun, waktu seseorang semakin berkurang. Waktu terus berjalan dan tak bisa diputar balik, maka Alkitab mengajarkan, "Ajari kami menghitung hari-hari kami, supaya hati kami datang kepada hikmat" (Mazmur 90:12, AYT). Setiap hari, kita membutuhkan hikmat -- wisdom -- agar hari-hari kita tidak dilalui dengan sia-sia. Banyak kali, aku bergumul dengan dosa dan menjalani hidup dengan tidak memuliakan Tuhan, baik melakukan imoralitas, mementingkan hal-hal duniawi, malas membaca Firman, apalagi membagikannya. Begitu banyak waktu yang terpakai sia-sia karena dosa, dan itu menghambat pekerjaan Tuhan dalam hidupku.

Di sinilah, aku bersyukur dari ucapan ultah saudara-saudara seiman. Bukan sekadar ucapan selamat dan sukses, tetapi ada doa-doa yang terus mendorongku untuk setia kepada Tuhan dan berada di dalam-Nya. Penyertaan Tuhan tersampaikan dari kepedulian mereka, dan berulang kali meyakinkanku untuk setia pada Tuhan Yesus. Setia pada Tuhan itu susah, tetapi itulah hal yang paling indah. Karya kematian dan kebangkitan Yesus yang mengubah hidupku yang fana menjadi hidup kekal nan sejati dan kudus. Aku berharap dapat hidup terus menjadi saksi Kristus sampai akhir hayat. Aku rindu untuk membagi dan menghidupi firman Tuhan di sekitarku, keluarga, teman, apalagi mereka yang belum pernah mengenal Tuhan.

Aku tak akan bisa menjadi saksi jika tidak memahami Alkitab dengan benar. Pemahaman yang benar dan sehat adalah kunci untuk menjalani hidup sesuai kehendak Allah, bukan berdasarkan asumsi atau dorongan pribadi yang biasanya hanya berujung pada dosa dan kembali menyia-nyiakan waktu yang diberikan Tuhan. Kembali dari kalimat di atas, sebelum berpikir mengubah dunia, kenalilah Tuhan dari firman-Nya. Kamu akan mengalami perubahan yang jauh lebih besar dan sejati di dalam Yesus. #ayo_PA!

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

#Ayo_PA di PPA Sorogenen: PA untuk Generasi Digital

Wed, 05/11/2016 - 13:01

Oleh: Ayu*

Pada bulan Mei 2016, YLSA mulai mencanangkan gerakan #Ayo_PA. Gerakan ini bertujuan untuk menolong remaja dan pemuda Kristen menggunakan gadgetnya dengan benar, terutama untuk belajar firman Tuhan. Kegiatan pertama gerakan #Ayo_PA dilakukan dalam bentuk presentasi dan pelatihan singkat untuk melakukan PA dengan gadget kepada remaja di PPA GKI Sorogenen, Surakarta, pada tanggal 2 Mei 2016.

Acara di PPA GKI Sorogenen diprakarsai oleh Ibu Tutik, mentor PPA GKI Sorogenen. Beliau rindu agar anak-anak didiknya menggunakan gadget untuk memuliakan Tuhan dan mendalami firman-Nya. Kerinduan itu akhirnya disampaikan kepada YLSA dalam bentuk undangan untuk mempresentasikan tentang "PA untuk Generasi Digital" kepada anak-anak remaja di PPA GKI Sorogenen. Hal ini menjadi kesempatan bagi SABDA untuk memulai kegiatan #Ayo_PA untuk pertama kalinya.

Sebelumnya, kami membentuk satu kelompok yang ditugaskan merancang konsep acara dan presentasi yang akan disampaikan. Meski topik ini tidak asing bagi kami, tetapi ini kali pertama kami harus menyampaikannya kepada anak-anak remaja. Saya bersyukur, sebab meskipun saya masih baru, tetapi saya mendapat kesempatan untuk terlibat juga dalam pelayanan ini. Dari kelompok tersebut, kami menghasilkan outline presentasi, power point presentasi, infografis metode PA S.A.B.D.A, dan bahan-bahan pendukung lainnya. Teman-teman yang terlibat dalam kelompok ini adalah Hilda, Ariel, Amidya , Santi , Ibu Yulia, Harjono, Evie, dan saya sendiri.

Setelah melakukan dua kali latihan presentasi, pada tanggal 2 Mei 2016, berangkatlah saya, Evie, Ariel, dan Hilda ke GKI Sorogenen. Hari itu, saya mendapat tugas membuat dokumentasi dan operator, Hilda sebagai pemandu acara, Ariel untuk presentasi sesi satu, dan Evie untuk presentasi sesi dua. Karena tiba lebih awal di lokasi, kami punya banyak waktu untuk mempersiapkan tempat dan memberi tambahan informasi dalam file power point. Kami juga membuat satu slide tambahan yang menampilkan nama-nama aplikasi belajar Alkitab yang harus diinstal di HP peserta. Saya dan Ariel juga sudah siap dengan aplikasi-aplikasi di HP kami. Jika ternyata paket data dan wifi tidak bisa digunakan oleh peserta, kami masih bisa melakukan transfer file dengan bluetooth.

Sekitar pukul 14.50, kami sudah selesai menata ruangan dan produk SABDA. Akan tetapi, masalah muncul ketika kami mencoba menembakkan proyektor, tampilan PowerPoint tidak begitu jelas karena layar bersaing dengan cahaya dari jendela. Lalu, kami sepakat menggunakan LCD Projector yang kami bawa dari kantor dan menembakkan ke tembok yang tidak berdekatan dengan jendela. Kami juga terpaksa mengubah seluruh tatanan kursi agar peserta dapat melihat materi presentasi dengan baik. Dalam waktu singkat, layout ruangan yang baru sudah terbentuk. Nice teamwork!

Banyak dari peserta yang datang masih memakai seragam sekolah. Mereka berasal dari beragam Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan. Sekitar pukul 15.35, acara dibuka oleh Kak Glen dari PPA dengan doa. Tim SABDA kemudian memulai acara dipimpin oleh Hilda dengan memperkenalkan tentang SABDA dan tim yang datang saat itu. Kemudian, acara dilanjutkan dengan presentasi sesi pertama, yaitu presentasi mengenai "Generasi Digital" yang disampaikan oleh Ariel. Sesi pertama ini cukup menarik perhatian peserta karena peserta diperhadapkan dengan kondisi dan kebiasaan mereka sehari-hari sebagai digital native.

Slide tentang checklist "Are you a digital native" berhasil menarik perhatian peserta, dan berbagai respons pun bermunculan. Mulai dari senyum kecut, lirik kanan-kiri, sampai tertawa lebar. Selain menunjukkan pada peserta posisi mereka sebagai digital native, dalam sesi pertama ini peserta diingatkan tentang status mereka sebagai anak muda Kristen, sembari menjelaskan korelasi kedua hal tersebut. Wajah-wajah serius mulai bermunculan, apalagi saat diputarkan video tentang "Gadget vs Me" yang mengisahkan tentang pemuda yang masih selalu tergoda membuka akun media sosial saat ibadah berlangsung. "Yeah, we got the point!" Mereka mulai menyadari posisi mereka sekarang.

Kemudian, untuk mencairkan suasana, Hilda mengadakan "ice breaker" dengan meminta peserta menyusun potongan kertas yang berisi kata-kata dari ayat 2 Timotius 3:16 (AYT), dan meminta mereka mengirimkan ayat yang dimaksud melalui SMS ke Hilda. Ruangan mulai riuh, wajah-wajah tegang sebelumnya mulai mencair, diganti dengan rasa ingin tahu khas remaja. Suasana menjadi semakin riuh ketika mbak Evie memberitahukan cara yang sangat gampang dan cepat yang tidak mereka pikirkan, yaitu dengan menyalin ayat tersebut dari aplikasi Alkitab tanpa perlu mengetiknya. Wah, sesuatu yang tidak terpikirkan oleh mereka. "What a smart thing to start the second session", yang kontennya memang lebih berat.

Sesi kedua fokus pada pentingnya Pemahaman Alkitab (PA) dan cara-cara melakukannya di era digital ini. Sesi yang menurut prediksi saya akan berat dan membosankan bagi peserta ini ternyata berjalan lancar. Mbak Evie lebih tampil "all out" pada saat presentasi live dibanding pada saat latihan. Mencoba untuk membangun komunikasi dua arah dengan peserta ternyata cara yang sangat membantu peserta untuk tetap fokus. Dalam sesi ini, ditampilkan berbagai metode PA yang dapat dilakukan anak muda Kristen dengan medsos maupun gadget mereka. . Ada metode Anda Punya Waktu, Walking With God , dan metode S.A.B.D.A (Simak, Analisa, Belajar, Doa dan Diskusi, Aplikasi). Dengan melakukan simulasi menggunakan metode S.A.B.D.A, peserta dapat mengalami langsung bagaimana teknologi yang ada dalam gadget mereka dapat menolong mereka untuk memahami firman Tuhan. Dengan memahaminya, mereka dapat melakukannya dalam hidup sehar-hari. Meski hanya beberapa peserta yang membawa HP saat presentasi kemarin, kami berharap "cheatsheet" (berisi sumber-sumber bahan Kristen yang dapat diakses dengan gadget) yang kami bagikan dapat menolong mereka setelah pulang dari acara tersebut untuk melakukan PA dengan cara yang fun dan praktis dengan gadget mereka. Dengan begitu, para remaja ini akan semakin bertumbuh dengan benar di masa mudanya.

Doa penutup dari Ibu Tutik menutup pertemuan kami sore itu. Sebuah doa yang luar biasa menginspirasi saya secara pribadi, yang mengingatkan bahwa apa yang Tuhan taruh dalam hidup saya bisa dipakai untuk kemuliaan-Nya. Ini adalah pengalaman pertama saya untuk turut serta dalam pelayanan yang dilakukan SABDA. Sebuah pengalaman luar biasa yang memberi pelajaran tentang pentingnya teamwork untuk bekerja dengan "passion" dan kasih. Selain itu, kami juga dapat melihat dan merasakan bagaimana Tuhan menolong kami di setiap proses persiapan dan selama acara berlangsung.

Salam IT 4 God. Can't wait for the next event.

Categories: C3I, Indolead, PEPAK

Komentar