Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Agama dan Autis (Perspektif Kristen)


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Bagi beberapa keluarga, pengalaman bergereja sering kali merupakan tradisi yang diturunkan. Keluarga-keluarga lain mengenali kebutuhan mereka akan tempat berlindung secara rohani dan mengasuh untuk pertama kalinya dalam hidup mereka pada saat mereka memiliki anak atau pada masa-masa sulit lainnya. Contoh kasih "agape" atau kasih tak bersyarat yang Kristus berikan merupakan contoh tertinggi bagi pemahaman kita terhadap peran penerimaan di gereja. Sangat banyak orang tua dan saudara kandung,

Bagi beberapa keluarga, pengalaman bergereja sering kali merupakan tradisi yang diturunkan. Keluarga-keluarga lain mengenali kebutuhan mereka akan tempat berlindung secara rohani dan mengasuh untuk pertama kalinya dalam hidup mereka pada saat mereka memiliki anak atau pada masa-masa sulit lainnya.

Contoh kasih "agape" atau kasih tak bersyarat yang Kristus berikan merupakan contoh tertinggi bagi pemahaman kita terhadap peran penerimaan di gereja. Sangat banyak orang tua dan saudara kandung, begitu pula dengan penyandang autis itu sendiri, yang diminta untuk pergi atau merasa sangat tidak nyaman sehingga mereka kehilangan bagian hidup mereka yang paling berharga, dan pada saat mereka benar-benar membutuhkan pertolongan.

Perilaku-perilaku yang dikaitkan dengan autis sering kali menimbulkan tantangan untuk pengalaman keluarga gereja, sehingga saya sering kali bertanya-tanya sendiri: "Bila bukan gereja, lalu di mana seseorang bisa diterima apa adanya dengan kasih yang tak bersyarat dan mendapatkan perhatian?" Keluarga orang percaya perlu memiliki suatu gereja di mana seluruh anggota keluarganya digembalakan. Dengan menyatupadukan penyandang autis sebagai anggota gereja, dan dengan memberikan bantuan serta pendidikan yang luas untuk komunitas itu, gereja menjadi terbuka bagi seluruh keluarga dan pada gilirannya keluarga itulah yang memperkuat gereja melalui pengalaman-pengalaman iman yang dibagikan.

Tips untuk Mendukung Penerimaan

  1. Mulailah menghubungi.
    Pada umumnya, para orang tua ingin menghubungi pendeta atau guru sekolah minggu untuk memperkenalkan dan menyiapkan mereka untuk membagikan pengalaman keberhasilan kepada semua orang. Berikan informasi tentang tujuan-tujuan pendidikan dan diskusikan metode-metode komunikasinya.

  2. Diskusikan harapan-harapan Anda.
    Saat menghadiri kebaktian, ada baiknya berdiskusi dengan pemimpin kebaktian tentang apa yang dia harapkan. Dengan demikian, pemimpin kebaktian dapat menawarkan dukungan kepada keluarga itu, misalnya seseorang yang menemaninya saat orang tuanya harus menghadiri kebaktian atau menemani anak penyandang autis ke tempat yang nyaman saat dia mulai bosan.

  3. Siap sedialah.
    Kebanyakan orang tua yang berpengalaman tahu bahwa semua anak dan beberapa orang dewasa menjadi gelisah saat di gereja. Siap sedialah dengan benda-benda yang menyita konsentrasi, misalnya pita karet, gambar-gambar, buku-buku, atau suatu benda dengan fokus visual, yang bisa sangat membantu khususnya bila benda-benda itu memiliki pengaruh rohani untuk memerluas pengalaman penyembahan dengan cara yang berbeda. Benda-benda yang memberikan kenyamanan dan keamanan di rumah bisa pula disediakan di gereja.

  4. Cepatlah menyesuaikan diri.
    Karena ada anggapan yang mengatakan bahwa penyandang autis mengalami hal-hal secara menyeluruh, maka pemandangan, suara, dan bahkan bau dalam ruang ibadah atau ruang kelas harus diperhatikan. Mengunjungi ruang ibadah dan ruang kelas di gereja pada saat ruang tersebut kosong bisa memberi kesempatan kepada mereka untuk menggali berbagai hal dengan berbagai cara yang mungkin tidak bisa dilakukan bila ada banyak orang dalam ruangan itu. Dengan izin khusus, seseorang juga bisa belajar memainkan organ atau piano untuk melatih anak terhadap suara keras yang mungkin tiba-tiba atau kadang-kadang terdengar selama ibadah.

  5. Mengajar melalui contoh.
    Pemimpin ibadah bisa dengan sopan memperingatkan perilaku yang menganggu dengan kata-kata yang sederhana dan tidak kasar. "Senang sekali kamu bisa ikut ibadah hari ini, Tom," setelah mengatakan hal ini pemimpin ibadah bisa melanjutkan pelajaran lagi seolah-olah apa yang dilakukan oleh Tom tadi adalah hal yang wajar. Penerimaan dari pemimpin ibadah adalah hal yang sangat penting. Kepekaan dan perencanaan strategi gabungan adalah penting.

  6. Jalinlah hubungan dengan teman sebaya.
    Untuk menolong supaya hubungan dan persahabatan dapat bertumbuh, teman sebaya yang bertanggung jawab untuk mendampingi secara bergiliran bisa membantu menciptakan dukungan yang memadai bagi anak sambil membantu timbulnya suasana penerimaan.

  7. Bantulah setiap anak untuk merasa diterima.
    Beberapa orang dewasa atau anak-anak harus merasakan peran kepemimpinan yang hangat melalui sapaan kepada setiap anak dengan kontak mata: "Hai, ... (nama anak)", atau tepukan di bahu. Ini sering kali merupakan hal yang sederhana, namun perlu dilakukan untuk menyampaikan firman Tuhan. Usaha "bawah tanah" dalam menyapa menciptakan suasana penerimaan.

  8. Bersikaplah teguh.
    Akhirnya, keluarga harus tetap teguh dalam iman mereka bahwa kita semua memunyai tempat dalam pengalaman penyembahan. Bila ada satu anggota yang hilang, maka pengalaman anggota yang lain pun berkurang.

Anak-Anak dan Sekolah Minggu

Dalam menjadi bagian dari komunitas orang percaya, semua orang membutuhkan kesempatan untuk berpartisipasi secara aktif. Melakukan apa yang dilakukan orang lain dapat meningkatkan rasa diterima. Bagi anak-anak di sekolah minggu, ide-ide berikut ini biasanya bisa berhasil.

  1. Gunakan Alkitab.
    Doronglah anak supaya bisa membuka halaman Alkitab dengan benar. Gunakan petunjuk atau tuntunan bagi anak supaya dapat membaca seperti yang lainnya.

  2. Berikan kesempatan berpartisipasi.
    Berikan kesempatan pada anak untuk berpartisipasi saat berbagi atau mempelajari ayat hafalan. Anak penyandang autis diberi kesempatan untuk berpartisipasi dengan dibantu orang lain supaya dapat menyampaikan pesan. Tugas yang diberikan untuk dikerjakan di rumah bisa menyatakan pengalaman-pengalaman mereka, dan bila perlu bisa menjadi tambahan pokok doa.

  3. Berganti-ganti teman.
    Ingatlah untuk mendorong mereka supaya menjalin persahabatan dan berkenalan dengan berbagai teman dengan mengganti/tukar-menukar teman sebaya dan pendamping.

  4. Gunakan petunjuk-petunjuk yang bisa dilihat.
    Gunakan petunjuk tambahan yang bisa dilihat, misalnya gambar, selama menyampaikan cerita sesuai dengan tingkat usia mereka. Pelan-pelan, bila perlu ulangi cerita yang disampaikan sehingga bisa dipahami oleh anak.

  5. Doronglah untuk meniru.
    Doronglah, tetapi jangan memaksa, untuk meniru gerakan tubuh, misalnya menganggukkan kepala dan melipat tangan untuk berdoa, berdiri untuk menyanyi dan melihat orang yang sedang berbicara. Hal ini tentu saja berbeda pada setiap individu, tetapi ini bisa menolong untuk menciptakan sikap berdoa dan partisipasi.

Pemuda dan Partisipasi

Pemuda dan orang dewasa penyandang autis bisa berpartisipasi sebagian atau secara menyeluruh dalam berbagai cara, sama seperti pemuda dan orang dewasa lainnya yang tidak autis. Partisipasi dan pelayanan yang mendukung bagi orang lain adalah penting baginya dan masyarakat atau komunitas.

Saran-saran berikut ini didasarkan pada pendekatan yang diterapkan pada penyandang autis tertentu.

  1. Sapalah orang lain dengan senyuman dan bagikan buletin pelayanan.

  2. Kumpulkan buletin-buletin dan kertas-kertas yang tertinggal di bangku gereja setelah pelayanan, kembalikan ke ruang ibadah.

  3. Bawalah kantong persembahan untuk pelayanan berikutnya. Bawakan makanan kecil dan minuman untuk anak-anak di kelas prasekolah.

  4. Kumpulkan dan berikan daftar hadir murid sekolah minggu ke pengawas sekolah minggu.

  5. Bantulah mengirimkan kartu-kartu atau makanan ke rumah anak penyandang autis yang tidak bisa keluar rumah.

  6. Di hari libur bersama dengan para diakon, ikutlah dalam mengemas dan mengirimkan makanan dan mainan untuk orang-orang yang membutuhkan.

Natal

Orang Kristen merayakan kelahiran Kristus dengan banyak pertunjukkan, tradisi, dan ritual budaya. Menambah sejenis pelayanan penyembahan di gereja bisa memerkaya makna natal, sekaligus menjadikan perayaan itu lebih pribadi.

  1. Bicarakan aspek rohani dari masa natal melalui percakapan sehari-hari. Jelaskan kegiatan dan perayaan yang akan datang melalui metode yang lebih sederhana, misalnya melalui gambar, permainan peran, dan cerita.

  2. Bawalah barang tertentu yang bisa mewakili beberapa elemen dari perayaan liburan yang bisa diadakan selama ibadah. Barang itu bisa berupa "kain bedung", bintang yang bersinar, tokoh-tokoh pada masa kelahiran Kristus, atau kayu manis. Satu benda yang melambangkan suatu peristiwa bisa menjadi bagian dari keseluruhan pengalaman pada perayaan itu.

  3. Selama ibadah, tetaplah mengikuti alur pada buletin dan siapkanlah anak bila ada musik yang suaranya keras dan dramatis. Tutuplah telinga anak dan pelan-pelan bukalah telinga mereka, hal ini bisa menolong mereka. Namun, bersiap-siaplah bila usaha ini tidak berhasil; sesuatu yang dianggap musikal bagi seseorang, belum tentu berlaku bagi orang lain.

Memberi Hadiah -- Suatu Pendekatan yang Unik

Salah satu gereja yang saya kenal memunyai suatu perayaan yang menarik di awal Desember, di mana mereka berkumpul untuk mengenalkan talenta dan karunia rohani dari anggota-anggotanya -- sebuah nuansa tukar-menukar hadiah yang sedikit berbeda dari biasanya. Dari yang muda hingga yang tua, dengan talenta dari yang artistik dan musikal hingga karunia belas kasih dan keramahan, semuanya ada. Ini merupakan tradisi yang baik yang patut ditiru oleh gereja lain.

Sebagaimana halnya dengan penyandang autis, saya tahu ada orang yang memiliki perhatian penuh pada setiap detail yang bisa dilihat, yang bisa ditunjukkan dengan contoh-contoh gambar kesukaannya. Saya juga tahu orang lain yang memiliki senyum hangat yang pernah saya lihat. Teman saya ini juga menunjukkan sikap mementingkan kepentingan orang lain, dan menjadi seorang yang sangat ramah.

Tanggung Jawab Masyarakat

Memperkenalkan konsep bahwa tanggung jawab setiap jemaat merupakan tanggung jawab bersama, yang dipikul bersama. Inilah persekutuan yang benar. Partisipasi dan penerimaan atas penyandang autis seharusnya tidak dipikul oleh seseorang atau bahkan beberapa sukarelawan yang "dilatih" atau "diberi" tugas. Anak-anak dan pemuda akan membutuhkan tuntunan untuk bisa memudahkan penerimaan, demikian pula dengan orang dewasa. Perlahan-lahan, fokus pendampingan khusus seharusnya tidak diperlukan lagi karena setiap orang menerima tanggung jawab bersama.

Membutuhkan usaha dan niat untuk menolong penyandang autis menemukan karunianya. Tetapi dalam melakukan latihan ini, kita semua akan ditantang untuk fokus pada apa yang bisa dilakukan oleh individu tersebut. Dengan memberikan penerimaan terhadap satu individu, kita bisa menemukan kebutuhan setiap individu dalam keluarga dengan memberi kesempatan kepada mereka untuk berpartisipasi dalam komunitas orang percaya. (t/Ratri)

Diterjemahkan dan disesuaikan dari:

Judul Artikel:Religion and Autism (The Christian Perspective)
Penulis Artikel:Terri Connolly
Situs:www.autism-society.org Autism Society of Amerika

Kategori Bahan PEPAK: Anak - Murid

Sumber
Judul Artikel: 
Religion and Autism (The Christian Perspective)

Komentar