Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Menemukan Alasan Mengapa Sekolah Minggu Tidak Melakukan Evaluasi


Jenis Bahan PEPAK: Tips

Sampai sejauh ini tidak banyak Gereja yang melakukan evaluasi terhadap pelayanan Sekolah Minggu, baik evaluasi terhadap operasi pelaksanaan Sekolah Minggunya ataupun terhadap guru-guru Sekolah Minggunya. Ada berbagai macam alasan mengapa gereja segan melakukannya. Berikut ini adalah sebagian besar dari alasan-alasan tersebut:

1. Tuhan hanya menuntut kesetiaan bukan hasilnya

Dalam melakukan pelayanan banyak orang mengira bahwa Tuhan hanya mengharapkan kesetiaan kita saja, yang Tuhan harapkan adalah kita melakukan yang terbaik dan kita tidak perlu memikirkan hasilnya karena Tuhan sendiri yang akan menentukannya. Kedengarannya pernyataan di atas sangat rohani, tapi betulkah demikian? Jika kita tidak perlu memikirkan dan mengecek hasil pelayanan yang kita lakukan bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kita telah benar-benar melakukan yang terbaik bagi Tuhan? Oleh karena itu hati-hatilah dengan pernyataan di atas, jangan-jangan pernyataan bahwa "Allah hanya mengharapkan kesetiaan kita" hanya sekedar topeng untuk menutupi kemalasan atau pun keengganan kita dalam mencapai target yang seharusnya kita capai.

2. Yang penting adalah jumlah anak dan jumlah fasilitas

Hanya sedikit guru Sekolah Minggu yang merasa penting untuk memperhatikan keefektifan mereka dalam mengembangkan rohani anak-anak Sekolah Minggu, karena kebanyakan mereka lebih memperhatikan tentang jumlah anak yang datang dan pengembangan fasilitas-fasilitas yang mereka miliki. Kemajuan dalam dua hal tersebut memang memberikan semangat bagi para guru Sekolah Minggu untuk beberapa waktu, namun apakah hasil-hasil yang dicapai tersebut telah dapat memuaskan Tuhan? Apakah jumlah anak adalah satu-satunya hal yang menjadi tujuan pelayanan Sekolah Minggu kita? Dapatkah kita mengatakan bahwa pengajaran yang kita sampaikan telah mengubah hidup anak-anak Sekolah Minggu? Pertanyaan-pertanyaan tsb. tidak dapat dijawab dengan jumlah anak dan fasilitas yang ada di Sekolah Minggu.

3. Guru Sekolah Minggu adalah pelayan sukarela (volunteer)

Gereja segan meminta guru-guru SM untuk dievaluasi karena mereka tidak dibayar (sukarelawan), dengan demikian gereja merasa tidak pantas untuk meminta pertanggungjawaban atas tugas mereka. Guru-guru SM seharusnya melayani karena panggilan untuk melaksanakan misi dari Tuhan dan bukan untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Oleh karena itu kepentingan utama adalah untuk memuliakan Tuhan. Jika pelayanan guru tidak dievaluasi bagaimana kita tahu bahwa apa yang dilakukannya telah menghasilkan kemuliaan bagi Tuhan?

4. Hal-hal rohani tidak dapat diukur atau dinilai dengan angka

Karena pelayanan Sekolah Minggu adalah pelayanan rohani maka tidak perlu dievaluasi, karena bukankah hal rohani tidak bisa diukur. Hal ini ada sebagian benarnya, namun demikian ada bagian-bagian yang merupakan kerja manusia yang dapat diukur, misalnya: apakah guru sering terlambat? apakah guru mempersiapkan pelajaran dengan baik? apakah ada komunikasi yang efektif antara guru dan murid? dan sebagainya.

5. Janganlah saling menghakimi

Evaluasi (menilai) sering disalahartikan dengan menghakimi. Menuntut pertanggungjawaban dari seseorang yang melaksanakan tugas bukanlah menghakimi. Dalam pelayanan Tuhan Yesus juga dicatat bahwa murid-murid-Nya memberikan laporan tentang apa yang mereka lakukan di ladang pelayanan kepada Yesus (Lukas 10:17-20).

6. Tugas guru sudah terlalu banyak

Banyaknya energi guru yang dihabiskan guru dalam pelayanan sering kali justru menjadi bukti akan pentingnya evaluasi, karena dengan evaluasi kita bisa mencegah tugas-tugas guru yang kurang efisien. Evaluasi dimaksudkan untuk menolong guru agar bekerja lebih cerdik dan bukan bekerja lebih keras.

Kategori Bahan PEPAK: Pelayanan Anak Umum

Sumber
Judul Buku: 
Evaluate & Grow
Pengarang: 
Harold J. Westing
Halaman: 
9,10,13
Penerbit: 
SP Publications

Komentar