Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Mengatasi Tingkah Laku Agresif pada Anak


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

BAGAIMANA MENGATASINYA

Sebenarnya agresi merupakan kekuatan hidup (life force) dan energi yang bisa bersifat membangun dan juga menghancurkan. Kekuatan ini adalah sesuatu yang membuat bayi bisa memiliki dan memegang kehidupan dan yang bisa membuatnya berteriak atau menangis kalau ia sedang merasa lapar.

Sikap tegas keras kepala seorang anak kecil dalam usahanya mendapatkan apa yang diinginkannya, permainan mereka yang kasar, serampangan, jerit anak perempuan selagi kejar-kejaran, dan penggunaan sumpah-serapah dan kata-kata kasar pada anak-anak remaja, semua itu secara kasar dapat digolongkan dalam perilaku agresif.

Namun siapa yang tidak akan mengakui bahwa tindakan seperti itu adalah normal? Memang harus diakui, bahwa ada kebutuhan anak yang hanya dapat dipenuhi dengan berperilaku keras, bersemangat dan penuh nafsu menyerang terhadap benda, situasi atau orang-orang tertentu. Semua itu demi perkembangan normal si anak.

Agresi yang berlebihan banyak didapatkan pada anak yang orangtuanya bersikap terlalu memanjakan, terlalu melindungi, atau terlalu bersifat kuasa serta penolakan orangtua. Misalnya, hukuman badani seperti memukul dan kurang berhasilnya memberikan pengertian kepada anak mengenai tingkah laku yang tidak dapat dibenarkan.

Selama pertumbuhannya anak-anak itu memiliki kecenderungan yang wajar untuk berusaha menekan watak agresif mereka sedikit demi sedikit, kecuali bila pihak orangtua mereka justru mendorongnya ke arah itu. Dalam hal ini jelaslah bahwa sedikit sekali hubungan antara alat mainan dengan pengaruhnya terhadap perkembangan watak yang agresif pada kepribadian seorang anak.

Jika anak itu berusia sekitar satu atau dua tahun misalnya, dan mereka menjadi marah kepada yang lainnya, maka mereka akan saling gigit menggigit tanpa ragu-ragu lagi. Namun pada usia tiga atau empat tahun, mereka sudah mulai belajar bahwa sikap agresif itu tidaklah pantas. Namun meskipun demikian bisa saja mereka itu bermain-main perang-perangan sebagai jagoan yang menembak seorang Indian gadungan.

Mereka juga bisa bermain-main sambil membayangkan diri mereka menembak kedua orangtuanya, akan tetapi mereka hanya meringis saja kepada ayah atau ibunya sambil menyatakan sikap bahwa apa yang mereka lakukan itu tidaklah perlu diambil perduli secara sungguh- sungguh.

PELAMPIASAN EMOSI

Menurut Dra. Ny. Y. Singgih D. Gunarsa, psikolog, suatu bentuk lain dari pelampiasan emosi anak, terlihat dalam penyaluran agresi. Anak kelihatan agresif sekali dalam menghadapi "kekangan". Tujuan utama dari pada agresi yang berlebih-lebihan adalah penguasaan situasi, mengatasi suatu rintangan atau halangan yang dihadapinya atau merusak suatu benda. Agresi tersebut dapat disalurkan melalui perbuatan, akan tetapi bila tingkah laku tersebut dihalangi, maka akan tersalur melalui perbuatan, akan tersalur melalui kata-kata dan pikiran.

Seorang anak memang memiliki suatu bentuk primitif agresi seperti memukul dan menggigit. Sulitnya, ia tidak mengerti akibat tingkah laku yang kasar itu terhadap orang lain. Oleh karena itu ia membutuhkan bantuan orangtua untuk menyalurkan agresinya itu tanpa merugikan orang lain. Sedangkan membunuh sifat agresif pada anak, membuat dia "lumpuh".

Barangkali ia akan menjadi bulan-bulanan dalam pergaulan. Atau akan terjadi suatu ledakan kemarahan pada si anak. Sebaliknya penyaluran agresi yang sehat merupakan keseimbangan antara menahan dan mengungkapkan diri secara wajar. Tentu saja untuk menguasai 'teknik' ini, anak harus belajar sedikit demi sedikit.

Ada dua macam sebab yang mendasari tingkah laku agresif pada anak. Pertama, tingkah laku agresif yang dilakukan untuk menyerang atau melawan orang lain. Macam tingkah laku agresif ini biasanya ditandai dengan kemarahan atau keinginan untuk menyakiti orang lain. Kedua, tingkah laku agresif yang dilakukan sebagai sikap mempertahankan diri terhadap serangan dari luar.

Serangan dari luar ini tidak selalu berupa serangan dari orang lain, misalnya, teman bermain yang mencoba memukulnya, akan tetapi dapat juga berupa rintangan-rintangan yang dihadapinya dalam bermain, misalnya, kegagalan yang ditemuinya ketika sedang membuat tumpukan balok kayu, Jika menghadapi keadaan seperti ini, anak biasanya akan berteriak-teriak sebagai pernyataan rasa marahnya terhadap kegagalan yang dihadapinya.

HUKUMAN BADAN

Biasanya cara yang paling cepat dan tepat untuk mengatasi sikap agresif anak adalah dengan hukuman. Tetapi dari hasil analisa penelitian yang tak pernah berhenti, mereka berpendapat, bahwa disiplin yang diterapkan orangtua untuk mencegah sikap agresif, yang biasanya berupa hukuman badan, justru malah mengorbankannya. Pada kenyataannya anak yang terlalu sering menerima hukuman badan, sikap agresifnya cenderung semakin menjadi-jadi.

Menanggapi sikap agresif anak-anak, kita perlu melacak dua macam jalan keluarnya. Pertama, bagaimana mengurangi sikap agresifnya pada saat ini. Sedangkan jalan keluar yang lebih berjangka panjang adalah mencegah timbulnya sikap agresif dimasa yang akan datang. Apapun yang dipilih untuk menyalurkan dorongan agresifnya ini, tetap berarti bahwa dorongan agresif itu sendiri harus disalurkan dengan sebaik-baiknya. Perbuatan orangtua untuk setiap kali menyuruh diam anak-anak yang sedang bertengkar, atau menghukum anak setiap kali habis berkelahi dengan temannya adalah kurang bijaksana.

Bagaimana baiknya cara penyaluran yang dilakukan melalui kegiatan bermain, berolah raga atau berdiskusi, namun tetap saja hal itu tidak dapat menghabiskan energi yang mendorong perbuatan agresif.

Orangtua dianjurkan untuk tetap menerima dan memberi kesempatan pada anak untuk menyalurkan perasaan marahnya, selama penyalurannya tidak melampaui batas. Tentu saja orangtua tidak boleh mendiamkan anaknya yang memukul temannya hanya untuk melampiaskan kemarahan.

Penyaluran rasa marah dengan cara verbal, misalnya dengan berteriak atau memaki-maki, tentu masih dapat diterima. Asalkan ungkapan rasa marah tersebut tidak ditujukan untuk sengaja menyakiti perasaan orang lain.

Sebagai kesimpulan, jelaslah, bahwa agresi itu sebenarnya sangat perlu untuk kelangsungan hidup dan penjagaan atau penyelamatan diri sendiri. Dan juga mendorong seseorang untuk tumbuh dan berkembang. Namun juga perlu diingat, agresi ini akan bersifat destruktif jika digunakan untuk kebencian, merampas harta orang lain, menyerang orang lain atau diri sendiri (Self-Punishment).

Kategori Bahan PEPAK: Anak - Murid

Sumber
Judul Buku: 
Butir-Butir Mutiara Rumah Tangga
Pengarang: 
Alex Sobur
Halaman: 
130 - 133
Penerbit: 
BPK Gunung Mulia
Kota: 
Jakarta
Tahun: 
1987

Komentar