Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Pendidikan Musik pada ASM


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Dear rekan­rekan,

Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti seminar dan pelatihan di STT Jakarta (sekitar pertengahan September.) Mungkin ada di antara rekan-rekan yang mengikutinya. Ada beberapa hal yang menjadi catatan saya dan mungkin menarik buat dibagikan. Temanya adalah "Pendidikan Musik Pada ASM".

Kadangkala, sebagai GSM kita tidak mau tahu sifat anak, dan sering kali kita mengajar mereka menyanyi sesuai keinginan kita saja. Itulah yang menyebabkan kita gagal mengajar mereka, terutama dalam bernyanyi. Anak itu sifatnya aktif, pintar, senang bergerak. Dengan demikian, kita juga harus kreatif dalam mengajar.

Bagaimana agar kita dapat kreatif?

  1. Carilah lagu yang:
    1. sederhana (baik dalam bahasa, ritmik, melodi, maupun artinya);
    2. singkat, jelas, dan dapat dimengerti oleh mereka (jangan memberikan lagu yang kita sendiri sulit mengartikannya);
    3. menarik iramanya, tetapi tidak sulit dalam ritmiknya.

  2. Gunakan metode yang baik.
    1. Untuk anak umur tertentu (balita ke bawah), menyanyi tidaklah harus selesai. Kita boleh memenggal nyanyian tersebut sesuai batas umur. Namun, dengan diulangnya lagu tsb., otomatis mereka akan mengingatnya.
    2. Untuk lagu baru, jangan paksa mereka untuk mengikutinya.
      Biarlah GSM dulu yang menyanyi dan biarkan mereka mengikutinya dengan senandung mereka sendiri.
    3. Menyanyi tidak boleh dengan suara yang berteriak dan keras-keras karena akan merusak pita suara dan suara tidak akan terlatih dengan baik. (Ini juga berlaku pada orang dewasa.)
    4. Untuk nada-nada tinggi, sebaiknya GSM menyanyi dengan diafragma (dengan perut dikecilkan.)

  3. Irama suara kita juga perlu dimainkan (misalnya, untuk lagu yang berirama ceria, gunakan suara yang empuk dan ringan.)
  4. Demikian juga dengan alat musik. Mereka akan lebih senang bila diiringi oleh bunyi-bunyian tertentu. Masalahnya, tidak semua kelas punya gitar/kibor. Namun, kita dapat menggunakan gendang, perkusi, rebana, dan alat-alat lainnya. Itu tentu menarik buat mereka. Selain mereka belum pernah melihat sebelumnya, mereka dapat ikut memainkannya.
  5. Guru yang bergerak aktif. Jangan malu dan malas untuk bergerak. Anak akan tertarik dan melihat gurunya. Dengan demikian, mereka akan senang menyanyi karena ada yang ditiru. Demikian juga dengan ekspresi wajah kita. Memang sebagai GSM kita harus ceria dan tersenyum, tapi tidak semua lagu diyanyikan dengan tersenyum.
  6. Gunakan alat peraga untuk mendukung lagu. Akan lebih baik lagi jika kita menggunakan tubuh kita sebagai peraga karena mereka akan melihat langsung. Misalnya, lagu "Satu Orang Buta". GSM boleh duduk di lantai sebagai orang buta dengan wajah sedih dan tangan meminta-minta (sambil menyanyi tentunya.) Atau lagu "Hosana Bagi Raja Daud". Bawalah palem dan ekspresikan wajah kita, seakan menyambut tamu terhormat, sambil menari kegirangan.

Dengan kreasi-kreasi di atas, diharapkan anak-anak tidak menganggap bahwa ke sekolah minggu hanyalah satu rutinitas saja. Biarkanlah mereka tertarik pada isi acara kebaktiannya. Jangan biarkan kondisi dan situasi sekolah minggu yang sekarang ini sama dengan pada waktu kita kecil dulu. Sifat anak adalah ingin tahu sesuatu yang baru dari lingkungan sekitar mereka.

Ada yang mau mencoba mempraktikkannya?

Sekian dulu topik kali ini, lain kali kita nyambung lagi ya. Tolong bagikan juga ke rekan yang lain, supaya dapat berguna buat yang lain juga, terutama para guru sekolah minggu. Salam dalam kasih Kristus,

Kategori Bahan PEPAK: Kesaksian Guru

Sumber
Judul Buku: 
Milis Diskusi GSM-GKI
Pengarang: 
Monica

Komentar