Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Anak Dapat Memuji dan Menyembah Tuhan


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Memuji dan menyembah Tuhan bersama dengan anak adalah kehendak Tuhan. Pada masa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru anak memuji Tuhan. Firman Allah memberi kesaksian, bahwa dalam mulut bayi dan anak-anak, Allah telah menaruh puji-pujian. Pujian itu diteruskan oleh anak-anak di Bait Allah. Orang Farisi menjadi jengkel, karena mereka berseru dalam Bait Allah: "Hosana bagi Anak Daud!" (Lihat: Matius 21:15)

"Lalu mereka berkata kepada-Nya: "Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku dengar; belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji- pujian?"" (Matius 21:16)

MEMUJI KARENA KASIH

Kasih kepada Allah adalah dasar pujian dan penyembahan yang benar. Kita diciptakan untuk mengasihi Allah. Hukum yang terutama dan yang pertama berbunyi:

"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Lukas 10:27)

Memuji dan menyembah Allah senantiasa melibatkan seluruh eksistensi anak. Hati yang menyembah Allah harus tulus ikhlas; Jiwa/emosi yang menyembah Allah harus dalam kebenaran; Kekuatan/tubuh yang menyembah Allah harus penuh gairah; Akal budi/intelek yang menyembah Allah harus di dalam terang dan pimpinan Allah. Seluruh olah gerak dan pola pikir manusia seharusnya merupakan ibadah kepada Allah. (Lihat: Roma 12:1-2)

MEMUJI DAN MENYEMBAH TUHAN DI SEKOLAH MINGGU

Seluruh eksistensi manusia merupakan suatu persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Meskipun demikian, kehadiran Allah di SM/tempat pertemuan ibadah memberikan suatu suasana khusus. Dalam suasana khusus seperti ini, anak dapat dibawa untuk memuji dan menyembah Allah.

Dalam keseluruhan penyelenggaraan suatu kebaktian, anak dibawa untuk memuji dan menyembah Allah. Untuk itu guru/pemimpin dapat membimbing dan mengarahkan anak sejak awal hingga akhir kebaktian untuk menikmati hadirat Allah. Hadirat Allah dapat dirasakan dalam ibadah yang penuh sukacita, tertib/terpimpin, dengan nyanyian syukur dan puji-pujian. (Lihat: Mazmur 100:1-5)

AKIBAT ANAK MEMUJI TUHAN

Hati anak disiapkan pada saat nyanyian dan pujian pertama dinaikkan, hal-hal yang masih mengganggu dan memberatkan hati anak mulai hilang/dilupakan. Hati setiap anak disatukan di hadirat Tuhan dan mulai siap dan terbuka untuk Firman-Nya

Anak mengerti bahwa sesungguhnya hanya Allah yang patut disembah. Pusat pujian dan penyembahan mereka adalah Allah yang hidup, bukan manusia atau patung-patung dan berhala-berhala yang mati. (Lihat: Ulangan 5:6-10)

Anak dilatih untuk menghormati ibadah dan kehadiran Allah dalam suatu kebaktian/SM. Anak dibawa untuk mengekspresikan kasih mereka kepada Allah dengan kata-kata doa/nyanyian.

Ada nyanyian yang menunjang pokok cerita. Dengan menyanyikan lagu tersebut anak-anak lebih mendalami pesan Firman Tuhan yang baru mereka dengar. Kadang-kadang sebuah nyanyian menjadi suatu doa untuk meresponi Firman Tuhan yang diberitakan. Contohnya lagu: "Mari Masuk"; "Terimakasih Tuhan"; dll.

Dengan pujian dan penyembahan anak dikuatkan dalam menghadapi pengaruh lingkungan yang penuh dengan kata kotor/makian, keluhan, olokan, ejekan, fitnah, lagu duniawi yang porno dan penuh pemberontakan, bahkan pemujaan terhadap tokoh khayalan, seperti Batman, Superboy, Spiderman, Robocop dll.

Nyanyian yang dipelajari di SM dapat dinyanyikan anak secara spontan, baik di jalan, di rumah maupun di tempat bermain. Itu menjadi kesaksian bagi orangtua, saudara-saudara, teman, dan siapa saja yang mendengarnya. Anak pun akan benar-benar merasakan suasana rohani dan berkat rohani, sehingga semakin mencintai Tuhan dan senang berbakti.

CARA MENGAJAR NYANYIAN BARU

Untuk mengajar nyanyian tidak dibutuhkan suara yang bagus, melainkan ketrampilan dan ketepatan dalam mengajar. Ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam mengajar nyanyian:

  1. Menguasai lagu dan syair.
    Seorang guru perlu menguasai lagu dengan irama yang tepat, juga kata-kata dan artinya. Bila lagu itu sudah menjadi kesukaan bagi guru, maka ia tidak akan mengalami banyak kesulitan dalam mengajarkannya kepada anak.

  2. Menyanyi di depan kelas.
    Sebaiknya guru mulai mengajarkan nyanyian baru dengan menyanyikannya untuk anak. Hal menyanyi di depan kelas tidaklah mudah. Namun dengan keyakinan dan penguasaan lagu yang benar, guru tidak usah malu dan dapat dengan rileks menyanyikannya.

  3. Jelaskan kata-kata yang sulit.
    Anak dengan sendirinya akan meniru dan ikut menyanyi dengan guru, walupun belum mengerti kata-kata atau isi nyanyian itu. Mungkin anak tidak bertanya, namun guru yang bijaksana akan mengambil sedikit waktu sesudah nyanyian dinyanyikan satu atau dua kali untuk menerangkan kata-kata yang sulit dan pesan dari nyanyian itu. Misalnya kata "anak dalam malaf" dalam lagu "Malam Kudus".

  4. Diulang-ulang hingga mahir.
    Prinsip mengulang-ulang sangat baik dalam mengajarkan nyanyian. Karena dengan demikian anak dapat menghafal/menguasai lagu itu dengan baik. Untuk itu guru menyanyikan terlebih dahulu secara lengkap, supaya anak mendapat gambaran yang menyeluruh. Kemudian guru menyanyikan baris demi baris dan ditiru/diikuti oleh anak- anak. Selanjutnya guru menyanyi bersama anak dengan suara lebih keras dan pada pengulangan berikutnya suara guru lebih pelan. Akhirnya, biarkan anak menyanyi sendiri dan guru mendengarkan saja.

  5. Kesalahan diperbaiki.
    Kadang-kadang dalam satu bagian lagu, not-notnya agak sulit, sehingga dinyanyikan dengan tidak tepat. Bagian yang sulit itu bisa diulangi dengan lebih lambat sampai dapat dinyanyikan dengan tepat. Jangan biarkan anak pulang dengan membawa nyanyian baru yang salah. Koreksi dan perbaikan senantiasa perlu, sehingga lagu yang dipelajari dapat dinyanyikan sebagaimana seharusnya. Hal ini membutuhkan kesabaran.

  6. Menyanyi dengan gerakan.
    Di kalangan anak-anak prinsip meniru dapat diterapkan dan sangat disenangi. Menyanyi dengan gerakan akan lebih menghidupkan makna lagu itu bagi anak, hal ini sesuai dengan perkembangan fisik dan emosi mereka.

  7. Menguasai irama/ketukan.
    Ada lagu yang berirama mars, walts, dll., atau lebih dikenal dengan ketukan 2/2, 3/4, 4/4, 6/4, 6/8. Bila guru kurang paham dengan irama-irama tertentu, dapat bertanya kepada orang yang lebih mahir.

  8. Suara.
    Jangan mengijinkan anak menyanyi dengan suara terlalu nyaring atau dipaksakan. Tolonglah anak untuk dapat menghayati isi nyanyian dan menyanyi dengan menjiwainya.

  9. Teks ditulis.
    Mengajar nyanyian lebih mudah jikalau teks lagunya ditulis. Teks lagu dapat ditulis pada papan tulis/white board, kertas manila, kertas sampul, lembaran OHP, dll.

  10. Teks ditulis dan dihias dengan simbol/gambar.
    Ada lagu yang mempunyai kata-kata yang bisa dilukis dalam bentuk simbol atau gambar, sehingga memberi kesan yang lebih dalam daripada jika hanya ditulis dengan huruf saja.

  11. Variasi dalam pilihan.
    Seorang guru SM harus memilih nyanyian-nyanyian yang hendak dinyanyikan dalam sepanjang kebaktian. Pada permulaan kebaktian biasanya guru memilih lagu yang semangat dan segar. Kemudian lagu yang lebih "slow" untuk mengantar anak dalam suasana penyembahan yang penuh hikmat dan siap untuk mendengar ceritera. Sesudah ceritera disampaikan, dipilih nyanyian untuk memperdalam ceritera atau nyanyian yang memberi kesimpulan untuk berespons.

  12. Selektif dalam memilih nyanyian.
    Ada banyak nyanyian yang bagus, baik dan dapat dipertanggung- jawabkan secara teologis serta edukatif. Namun ada juga lagu yang tidak mempunyai dasar teologis dan tidak mendidik. Misalnya lagu dengan teks:
    "Hei, hei, hei lihat saya, saya pakai mahkota. Mahkota dari sorga, karena rajin ke gereja."
    Nyanyian ini selain berisi pujian kepada diri sendiri, juga tidak benar secara teologis. Mahkota dijanjikan bukan kepada orang yang rajin ke gereja (SM), melainkan kepada mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus dan setia sampai mati.
KESIMPULAN

Menyanyi dan menyembah Tuhan bersama anak berarti memuliakan Tuhan. Mengajarkan nyanyian kepada anak dan mengembangkan ketrampilan mereka dalam memuji Tuhan adalah suatu tugas yang mulia, dan menambah kesukaan dalam proses belajar mengajar di SM. Karena nyanyian pujian adalah milik Tuhan, maka bagi Dialah pujian untuk selama-lamanya. Amin!

Kategori Bahan PEPAK: Aktivitas dan Ketrampilan Anak

Sumber
Judul Buku: 
Pedoman Pelayanan Anak 2
Pengarang: 
Ruth Lautfer & Anni Dyck
Halaman: 
95 - 102
Penerbit: 
Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia
Kota: 
Malang
Tahun: 
1993

Komentar