Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Drama: Yesus Telah Bangkit


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Berikut ini adalah bahan yang kami ambil dari majalah KITA edisi 47 tahun 1997 yang bisa dipakai untuk menampilkan sebuah drama kecil untuk melengkapi renungan/cerita PASKAH di Sekolah Minggu anda. Beberapa hal yang perlu dipersiapkan:

  1. Pilihlah 5 anak untuk memerankan tokoh-tokoh Prajurit, Maria dan Magdalena, Kleopas, Tomas dan Petrus. Sebaiknya pilih anak-anak yang memiliki suara cukup keras. Mintalah mereka menghafalkan naskah yang menjadi bagian mereka dan ajarkan bagaimana memerankannya.
  2. Hiasilah panggung dengan sederhana sebagai background untuk menggambarkan suasana kebangkitan Kristus (Mis., salib yang dihiasi dengan mawar, kubur yang kosong, dll.)
  3. Perlu dipersiapkan sebuah renungan/cerita singkat PASKAH oleh guru Sekolah Minggu sebelum drama ini ditampilkan atau bisa juga membuat naskah narator yang cocok untuk menjelaskan masing-masing adegan yang dikatakan oleh tokoh-tokoh dalam drama ini.
  4. Drama singkat ini baik untuk dilakukan anak-anak umur 7-11 tahun.
Drama:

Paskah adalah hari yang istimewa. Bagi orang Yahudi, Paskah adalah hari peringatan terbebasnya mereka dari perbudakan bangsa Mesir. Tetapi bagi orang Kristen, Paskah diperingati sebagai tanda terbebasnya orang percaya dari perbudakan dosa dan kematian. Tuhan Yesus Kristus sudah bangkit dan menang atas dosa. Peristiwa Tuhan Yesus yang bangkit ini telah disaksikan langsung oleh beberapa orang yang dicatat dalam Alkitab. Mereka adalah prajurit yang menjaga kubur Yesus tetapi telah disuap untuk tutup mulut, lalu Maria dari Magdala yang mendatangi kubur Yesus bersama teman-teman perempuannya, lalu Kleopas, Tomas, dan Petrus. Saat ini kita akan mengundang mereka hadir di tempat ini. Kita akan menanyakan kepada mereka, apa kesan yang mereka rasakan saat melihat Tuhan Yesus bangkit dan menemui mereka. Mari kita tanyakan kesan-kesan mereka. (-- Undanglah anak-anak yang memerankan tokoh-tokoh ini ke tempat yang telah dipersiapkan.)

1. Prajurit yang tutup mulut (Matius 27:62-66, 28:1-15)

("Seorang Malaikat Tuhan turun dari langit dan penjaga-penjaga itu gentar ketakutan")

Aku tak pernah lupa peristiwa yang amat aneh itu, aku dan teman-temanku bertugas mengawal kubur Yesus, yang sudah mati disalib. Kami berjaga dengan waspada, karena imam-imam kepala sudah mengingatkan kemungkinan murid-murid Yesus akan mencuri mayat Guru mereka. Tapi di hari ketiga terjadi gempa bumi yang amat dahsyat. Dan sungguh! Aku melihat malaikat turun dari langit menggulingkan batu kubur itu. Aku tak bohong! Aku melihat sendiri wajahnya bersinar-sinar seperti kilat. Aku dan teman-temanku jatuh pingsan. Setelah siuman kami segera pergi mengadukan ini kepada imam-imam kepala. Tapi mereka melarang kami menceritakan hal ini dan kami memperoleh banyak uang untuk tutup mulut.

2. Maria dari Magdala (Markus 16:1-8)

("Kamu mencari Yesus. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini.")

Pagi itu aku, dan Maria ibu Yakobus serta Salome pergi ke kubur Yesus. Kami sudah menyiapkan rempah-rempah untuk meminyaki mayatNya. Tapi kami mendapati batu kubur sudah terguling dan mayat Yesus tidak ada di sana. Tiba-tiba kami melihat malaikat yang menyilaukan muncul dan berkata, jangan takut. Yesus tak ada di sini Ia sudah bangkit." Kami segera lari keluar dengan rasa takut dan gembira yang amat sangat. Segera peristiwa itu kami ceritakan kepada murid-murid yang lain.

3. Kleopas (Lukas 24:13-35)

("Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia.")

Sore itu aku dan temanku pergi ke Emaus, desa kecil dekat Yerusalem. "Seorang laki-laki (kami belum tahu bahwa itu Yesus) bergabung bersama kami dan ia menjelaskan segala sesuatu mengenai Mesias dari Alkitab. Hati kami begitu bergelora mendengar perkataanNya. Rasanya kami tidak mau berpisah dengan Dia. "Tinggallah dengan kami," desakku. "Hari sudah malam." Ia setuju. Waktu makan malam, Ia memecahkan roti dan membagikannya kepada kami. Di situlah aku dan temanku baru sadar bahwa Ia adalah Yesus! Ya, Yesus sudah bangkit, dan ia sudah bersama-sama dengan kami sejak tadi! Tapi seketika Ia lenyap dari pandangan kami. Akhirnya malam itu juga kami kembali ke Yerusalem untuk menceritakan kejadian istimewa ini kepada murid-murid yang lain.

4. Tomas (Yohanes 20:24-29)

("Jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.)

Waktu teman-temanku mengatakan bahwa Yesus sudah bangkit, aku tak percaya. "Kalau aku tak berjumpa sendiri denganNya, aku tak percaya perkataan kalian." Seminggu kemudian saat kami berkumpul bersama, Yesus muncul! Aku terbelalak melihatNya. Dan... "Tomas!" panggilNya. "Ini lubang di tangan dan lambungKu. Percayalah." Aku tersungkur di hadapanNya. "Ya Tuhanku!" Bagaimana mungkin aku tak percaya kebangkitanNya! Aku malu sekali ...

5. Petrus (Yohanes 21:1-9)

("Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.")

Hatiku amat resah, sejak aku menyangkal Yesus tiga kali. Apalagi setelah Ia bangkit, aku bertambah sedih, aku malu bertemu dengan Tuhan. Memang telah dua kali Yesus menampakkan diri kepada kami. Dalam dua pertemuan itu, aku tak berani menatapNya. Aku malu dan merasa amat bersalah! Tapi di tepi danau, Yesus kembali menjumpai kami dan sarapan bersama. Setelah itu, Ia memanggilku secara khusus. "Simon, apakah engkau mengasihi Aku? tanyaNya sampai tiga kali. "Ya, Tuhan, aku sungguh mengasihiMu. Aku mau menjadi hambaMu," janjiku kepadaNya. Aku gembira Ia tidak marah padaku. Ia mengampuni kesalahanku. Terimakasih Tuhan, aku berjanji tak akan pernah menyangkal namaMu lagi!

Nah itulah kesan-kesan mereka tentang kebangkitan Yesus! Sayang kita tidak ada bersama mereka waktu itu, ya?! Walau begitu kita tidak perlu merasa rugi, sebab Tuhan Yesus telah berfirman: "Berbahagialah kita yang tidak melihat namun percaya." (Yohanes 20:29). Kita perlu bersyukur, karena melalui kebangkitan Tuhan Yesus, kita telah diselamatkan, beroleh pengampunan, menjadi ahli warisNya dan beroleh hidup yang kekal di dalam Tuhan.

Kategori Bahan PEPAK: Perayaan Hari Raya Kristen

Sumber
Judul Buku: 
KITA - Majalah Kristen untuk Anak-anak
Halaman: 
4 - 6
Penerbit: 
Lembaga Reformed Injili Indonesia
Tahun Edisi: 
1997
Nomor Edisi: 
47

Komentar